“Ya kalau pesenam aerobic ya memang seperti itu. Kalau bawa-bawa kipas itu namanya penari bukan pesenam. Kalau penampilan seperti penari dimenangkan? Ya jurinya diduga ada apa-apa,” ungkap warga Candisari itu, sembari tertawa pendek.

Ikut Meramaikan Maksimal

SS Peri Kawi yang berasal dari Kelurahan Wonotingal, Kecamatan Candisari, Kota Semarang ini memang dari awal hanya ingin berpartisipasi dan meramaikan kegiatan lomba senam itu secara maksimal, agar kegiatan yang diadakan oleh SS K86 sukses.

“Tapi kalau memang dapat juara ya Alhamdulillah. Yang jelas kita sudah ikut meramaikan semaksimal mungkin. Jika dapat juara ya alhamdulilah,” ungkap Emi Kustiningaih, koordinator SS Peri Kawi ini, saat dimintai tanggapan pelaksanaan lomba senam yang diikuti kelompoknya, kepada awak media.

blank
Para personel dengan nomor peserta 07 dengan instruktur senam Desi Dea, berpose bersama menghilangkan tekanan psikis (grogi) sebelum tampil di lapangan Jangli, Candisari, Kota Semarang Minggu (30/1/2022). Foto : Dok Istw

Sedang persiapan yang dilakukan untuk mengikuti lomba, lanjutnya, hanya sekitar 2-3 minggu sebelum lomba, dengan instruktur senam juga dari warga RT 05 sendiri.

Disampaikan pula oleh Emi, SS Peri Kawi sudah berdiri hampir dua tahun lalu dan hanya berlatih di dalam kampung, dengan memanfaatkan ruang pos kampling warga yang berukuran kecil dan kurang memadai untuk berlatih senam.

“Kalau kegiatan rutin senam kami seminggu dua kali. Tiap Rabu dan Jum’at sore. Dengan iuran tiap kali datang Rp 10 ribu dan kostumnya tidak memaksakan, biar tidak menjadi beban peserta tapi tetap sehat,” ungkap Emi.

Absa