blank
Dwi Yunita Sari, S.Pd dan para siswa yang telah menghasilkan karya “Kau, Aku & Seragam Biru,"

Oleh: Hadi Priyanto

Sebagai guru, apa yang ingin Anda berikan kepada siswa ketika mereka menamatkan sekolah? Apakah hanya cukup selembar ijazah dan buku rapot yang kini tak lagi mengenal angka merah? Atau Anda ingin mereka juga dapat menorehkan  sebuah sejarah?.Pertanyaan inilah yang harusnya menggelitik batin para pendidik.

Amat disayangkan jika bertahun-tahun menempuh pendidikan, tapi tidak sebuah karya pun  dapat diprasastikan. Padahal, semua guru mengamini jika setiap siswa pasti punya minat, punya bakat, tak terkecuali  passion  menulis, untuk menghasilkan sebuah karya.

Lantas, mengapa sebagian guru, memilih diam dan acuh, bahkan ketika tahu tunas-tunas bangsa ini butuh tempat untuk mengaktualisasikan diri. Pertanyaan serta pemikiran seperti ini juga yang kerap menggelitik nurani Dwi Yunita Sari, S.Pd seorang guru IPA dari SMP Negeri 3 Kedung Kabupaten Jepara.

Keinginannnya untuk bisa membantu para siswa mengembangkan minat dan bakat mereka terutama dalam bidang kepenulisan, memantik semangat agar siswanya turut mengahasilkan  karya kebanggaan.

blank
Pelncuran buku dan diskusi sastra puisi yang akan menghadirkan Keynot Speaker, R. Sarjono

Bu Yunita, begitulah perempuan kelahiran Palembang ini kerap disapa, dari awal semester gasal di tahun pelajaran 2021/2022 ia sudah melakukan screening terhadap minat sekaligus kemampuan siswanya dalam menulis. Namun, dengan segenap kesibukannya ide pembuatan proyek buku antologi bagi  siswa baru terwujud di pertengahan semester.

Untuk mendapatkan tim yang solid dalam proyek ini, perempuan yang kini tengah menempuh studi magisternya mengadakan seleksi. Melalui pemanfaatan google formulir ia memberikan kesempatan kepada seluruh siswa agar ikut terlibat dengan mengirimkan satu naskah puisi karya sendiri. Seleksi pertama menghasilkan ratusan peminat yang kemudian disaring kembali untuk mengikuti seleksi kedua. Masih melalui sistem daring, seleksi tahap ketiga dilakukan dengan meminta siswa yang lolos untuk kembali membuat puisi dengan aturan jauh diperketat.

Dari hasil tiga tahap penyeleksian diperoleh lima belas siswa yang dirasa mumpuni. Selanjutnya kelima belas siswa dibimbing secara intensif tentang bagaimana langkah sekaligus tips dan trik dalam menulis puisi.

Guru IPA dengan pengabdian lebih dari 15 tahun ini melakukan pembimbingan  seorang diri di tengah tumpukan kesibukannya mulai dari tahap dasar, secara online dikarenakan kondisi pandemi Covid-19. Seiring waktu, tiga siswa gugur akibat kekurangsiapan dalam menghadapi target kepenulisan.

Sebagai pembimbing, perempuan yang telah berhasil mencetak puluhan karya ini mencoba untuk terus mengobarkan jiwa resilience dalam timnya. Namun, ia juga tidak akan terus memaksa jika ada bagian dari tim yang sudah tidak dapat dipertahankan.

Singkatnya dalam dua minggu tim berhasil membuat puluhan karya puisi bertema sekolah. Meski demikian, guru yang sekaligus menjabat sebagai kurikulum ini juga selalu menekankan akan pentingnya keaslian karya. Dia tidak bisa mentolelir plagiasi karya dengan alasan apapun, sehingga selalu memastikan karya yang masuk bebas dari unsur plagiarisme.

Usai melalui tahapan editing, karya ke dua belas siswa pun di bukukan. Permasalahan selanjutnya adalah mengenai pendanaan. Proyek ini swadana, murni inisiatif dari sang pembimbing. Sejak awal dirinya menyadari bila tidak mungkin mengharapkan bantuan apapun secara materi dari sekolah mengingat fasilitas serta keuangan sekolah yang kurang memadai, kendati sekolah senantiasa memberikan dikungan secara moril.

Untuk itu, berkoordinasi dengan tim adalah solusi terbaik. Dari hasil delibrasi akhirnya dicetuskan ide  “Celengan Karya”. Solusi yang meminta anggota tim untuk menyisihkan dana sebesar seribu rupiah perhari dalam tenggat waktu hampir dua bulan untuk kemudian  ditukar dengan buku karya mereka sendiri.

Ternyata cara ini pada akhirnya bukan hanya mampu menjadi solusi praktis tapi juga semakin memperdalam rasa memiliki  atas karya yang telah diperjuangkan, terlebih ketika melihat binar mata bangga saat harus memecah celengan mereka dan menukarnya dengan buku karya sendiri.

Butuh waktu lebih dari sebulan hingga manuskrip ini bermetamorfosa menjadi sebuah buku antologi yang bertajuk “ Kau, Aku & Seragam Biru”. Namun, sebagai pembimbing, perempuan ini tidak puas berhenti begitu saja. Ia kembali membekali siswa binaannya agar mampu memasarkan hasil karya sendiri.

Dengan penggunaan aplikasi Canva serta beberapa video marker, ia melatih timnya untuk mendesain promosi buku  tentunya dengan tampilan menarik yang dapat menyasar berbagai kalangan. Dari sini, ide-ide kreatif siswa kembali dikembangkan, keberanian dan rasa percaya diri siswa kembali digelorakan.

Para siswa ini diajari agar berani menjadi seorang entrepreneur dengan memanfaatkan segenap kemampuan digital natif sekaligus interaksi sosialnya untuk hal-hal positif. Diluar dari ekspektasi, ternyata kemampuan siswa dari sekolah pinggiran yang notabenenya sering dipandang sebelah mata oleh sebagian pihak justru mampu membuktikan bahwa mereka juga layak diperhitungkan. Melalui program ini mereka mulai mampu menciptakan pangsa pasar sendiri sehingga laba cukup mampu menutup biaya produksi.

Tentunya, tidak mudah menjaga motivasi dan konsistensi dari anggota tim. Namun pada akhirnya para siswa berhasil menuangkan buah pikiran dengan karakter khas remajanya. Sungguh, bagi seorang Dwi Yunita Sari, S.Pd tidak harus menjadi guru bahasa untuk mencintai sastra, dan  tidak harus hebat untuk dapat memiliki karya.

Dia selalu menanamkan pada timnya bahwa tak ada karya yang salah, tak ada karya yang tak indah. Karena keberhasilan mencipta merupakan kemampuan metakognitif tingkat tinggi dalam sebuah tahapan belajar. Dan buku ” Kau, Aku & Seragan Biru” merupakan kebanggaan yang akan turut di bawa pulang bersama ijazah serta rapot tanpa angka merah ketika nanti para siswa ini harus melepas seragam putih birunya untuk melangkah ke jengjang yang lebih tinggi.

Ini merupakan kebanggaan yang kelak akan terus menjadi cerita, bahwa diusia belia kedua belas siswa imajinatif ini mampu menjadi inspirasi dan turut berkontribusi dalam mengembangkan literasi negeri. (*)