SEMARANG (SUARABARU.ID) – Program penanganan stunting harus dilaksanakan serentak agar SDM Indonesia menjadi unggul seperti yang selalu didengungkan pemerintah. Indonesia unggul, tangguh.
“Semboyan makanan 4 sehat 5 sempurna, sejak 2018 diganti menjadi B2SA, pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman,” kata Enong Wulan Juni S.Kel dari Dinas Ketahanan Pangan, Kamis 23 September 2021.
Kepada anggota KWT Puspitasari yang sebagian di antaranya juga menjadi kader Posyandu, dan Pendamping Ibu Hamil, Enong Wulan mengharapkan hendaknya juga memperhatikan lingkungan. “Masalah protein, lemak, karbohidrat, sayur, buah ibu-ibu sudah paham. Perlu juga memperhatikan lingkungan. Menghindarkan air dari tercemarnya limbah yang tidak sehat,” tandasnya.
Sebelumnya Sunarti dari Dinas Pertanian menjelaskan tentang pembasmi hama atau pestisida. “Pembentukan Kelompok Wanita Tani salah satu tujuannya adalah untuk kesehatan, yaitu membiasakan memakan buah, sayur yang bebas dari pembasmi hama dibuat dari bahan kimia demi kesehatan. Selain sehat juga lebih hemat karena memanen tanaman sendiri. Sisi lain, juga menumbuhkan hobi bertanam. Saat awal pandemi banyak bermunculan penggemar tanaman hias, kini mulai beralih pada tanaman pangan,” kata Sunarti
Kelompok Wanita Tani Puspitasari dibentuk pada 2018 atas prakarsa Atik Setiyati, guru di SMAN yang tertarik ketika mendengarkan ceramah penyuluh lapangan pertanian di tempat ia mengajar. Selain memberi manfaat hasil tanamannya berbagai sayur dan buah yang sehat, juga makin mengakrabkan warga.
“Diatur siapa petugas piket, dan apa yang harus dilakukan setiap harinya. Bersyukur pernah menjadi juara lomba, menjadi tutor cara menanam di KWT lain,” kata Aryani ketua KWT Puspitasari.
Indonesia Urutan Keempat
Perlu diketahui, penanganan permasalahan stunting atau gagal tumbuh menjadi program nasional beberapa instansi pemerintah. Indonesia berada pada urutan keempat di dunia dan kedua di Asia Tenggara dalam stunting.
Sebesar 30% atau setara 7 juta balita atau rata-rata 1 dari 3 anak balita mengalami stunting. Tahun 2018 jumlah turun sekitar 7% dari tahun 2013. Jumlah stunting tahun 2019 sebesar 27,67%, bisa ditekan dari 37,8 %, sementara toleransi maksimal stunting dari WHO harus kurang dari 20%.
Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kemen PPPA Venetia R Dannes mengatakan, stunting adalah gagal tumbuh anak balita karena kekurangan gizi secara kronis atau infeksi terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), 270 hari pada kehamilan dan 730 pada dua tahun pertama, mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak dari standar usia.
Akibat lebih jauh, katanya, berkurangnya IQ secara signifikan mengakibatkan rendahnya pencapaian sekolah, penghasilan rendah di masa depan. “Negara akan menanggung biaya 2 – 3% dari domestik bruto atau sekitar 300 triliun rupiah,” kata Venetia.
Humaini