KUDUS (SUARABARU.ID) – Dugaan banyak terjadi pelecehan seksual di kampus Universitas Muria Kudus mencuat menyusul statemen Ahmad Dakhilur Royan, aktivis BEM dalam aksi demo beberapa hari lalu.
Meski demikian, pihak Rektorat UMK secara tegas membantah apa yang disampaikan Royan tersebut.
Pernyataan Royan disampaikan saat berbicara kepada awak media di sela-sela aksi unjuk rasa memperingati Hari Pendidikan Nasional, di Alun-alun Simpang Tujuh, Senin (3/5) silam. Dalam kesempatan tersebut, Royan menyebut banyak terjadi pelecehan seksual di kampusnya.
“Ada beberapa kasus pelecehan seksual di beberapa bulan terakhir terjadi di UMK (Universitas Muria Kudus) sendiri. Korbannya ada dari pegawai UMK, ada dari mahasiswa UMK, ” papar Royan kepada para awak media.
Dari data yang ia dapat, sudah sejak April 2021, Royan mendapatkan aduan bahwa ada beberapa kasus pelecehan seksual yang terjadi di kampusnya. Tapi untuk jumlahnya, ia belum bisa memberikan kejelasan secara pasti.
Pernyataan Royan ini tentu saja memantik reaksi pihak Rektorat. Wakil Rektor I UMK, Sulistyowati menegaskan tidak ada kasus pelecehan seksual yang terjadi di kampusnya.
“Selama ini tidak ada laporan atau aduan sama sekali terkait kasus tersebut,”ujarnya.
Menurut Sulistyowati, jika aktivis mahasiswa menyampaikan ada banyak kasus yang terjadi, semestinya menggunakan data yang valid. Sebab, laporan pelecehan seksual harus disertai bukti seperti pengakuan korban, saksi atau alat bukti lainnya.
“Jika lontaran pernyataan tanpa bukti, itu kami kategorikan isu atau hoax saja,”tandasnya.
Atas pernyataan dari aktivis mahasiswanya tersebut, Sulistyowati menyatakan sudah menindaklajuti dengan melakukan klarifikasi kepada yang bersangkutan. Dan sejauh ini, tidak ada data yang bisa membuktikan pernyataan tersebut.
“Atas kejadian tersebut, tentu kami akan melakukan pembinaan kepada mahasiswa yang bersangkutan,”tandasnya.
Tm-Ab













