blank
Anak seorang alumni Wapahhi yang ikut dalam kegiatan penanaman mangrove

JEPARA (SUARABARU.ID) – Masyarakat Desa Bulak Baru, Kecamatan Kedung terus didera kecemasan. Pasalnya setiap tahun terus terjadi abrasi. Bahkan dalam lima tahun terakhir ini, bibir pantai yang telah terkikis abrasi  mencapai  150 m dengan panjang sekitar 1,5 km. Kini jarak pantai dengan pemukiman tinggal sekitar 750 m.

Desa ini memang  memiliki kisah pilu pada tahun 1984. Seluruh desa tenggelam dan harus pindah ketempat yang sekarang  hingga berubah nama desa Bulak Baru.  Penyebabnya adalah abrasi . Sebelumnya desa ini bernama Desa  Bulak.

blank
Penanaman mangrove oleh WAPALHI Unisnu di Pantai Bulak Baru.

Tidak ingin kisah sedih itu terulang kembali  Wahana Pencinta Alam dan Lingkungan Hidup (WAPALHI) Fakultas Syari’ah dan Hukum UNISNU Jepara   melaksanakan kegiatan revitalisasi hutan mangrove untuk  yang ketiga kalinya. Kegiatan tersebut diikuti  50 orang yang meliputi anggota dan alumni WAPALHI, serta Sispala Desa Bulakbaru. Ikut hadir dalam acara Bhabinkamtibnas, wakil dekan Hudi  serta Petinggi Bulak Baru.

Ketua Wapalhi, Arif Rahman Hakim menjelaskan penanaman ini akan mampu menciptakan hutan mangrove yang benar-benar kuat. “Kegiatan penanaman ini akan berkelanjutan dan selalu rajin merawat bibit agar bermanfaat bagi desa Bulak Baru,” ujar Arif Rahman Hakim

Sementara Petinggi Desa Bulak Baru, Purwoko mengaku sangat mendukung kegiatan revitalisasi ini. “ kami beharap dengan penanaman mangrove dapat menjadi penahan abrasi,” ujarnya

Sebelumnya, WAPALHI juga melaksanakan serangkaian kegiatan lain seperti pembibitan, webinar nasional, dan juga slametan. Meski dalam situasi pandemi, semua kegiatan tetap berjalan lancar dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Untuk kegiatan tersebut Wapalhi mendapatkan bantuan bibit sebanyak 5000 bibit dari BPDASHL Pemali Jratun Jawa tengah, 2000 dari DLHK Kabupaten Jepara, dan 1000 Bibit yang dihasilkan dari pembibitan WAPALHI FSH UNISNU.

Hadepe