Th. Dewi Setyorin

Oleh : Th. Dewi Setyorini

Dalam rangka riset terkait dengan kepemimpinan di jajaran birokrasi Provinsi Jawa Tengah, saya melakukan interview kepada Ganjar Pranowo (GP) selalu gubernur Jawa Tengah. Sesi interview berlangsung sangat cair sesuai dengan gambaran saya mengenai beliau sebagai pribadi yang supel dan humble.

Hal ini menghapus segala predikat bahwa pejabat publik itu menjaga jarak, ingin selalu dihormati, dihargai, sulit ditemui dengan posedur protokoler yang rumit dan bertele-tele.

GP menjadi sebuah role model tentang bagaimana idealnya seorang pemimpin yang menampilkan dirinya terbuka dan apa adanya. Banyak hal yang disampaikannya terkait dengan pengalaman sebagai pimpinan.

Tak bisa dipungkiri bahwa GP adalah pribadi yang sama sebagaimana orang lain. Bedanya hanya masalah perannya saat ini sebagai H 1. Di luar itu, ia pribadi yang bisa diajak  bicara dan diskusi dengan pengetahuan yang luas.

Ini semua menunjukkan bahwa GP memiliki kematangan terkait dengan pengalamannya dalam berpolitik, cara pandang yang luas dan komprehensif. Ia matang dalam berorganisasi, relasinya luas, dan memaintenance relasi tersebut dengan sangat baik. Kesemua itu merupakan modalitas pribadi yang sangat penting dalam perannya kini dan kelak.

Ganjar Pranowo adalah sosok leader kekinian atau milenial. Ia cerdas membaca kehausan masyarakat akan sosok pemimpin yang tidak berjarak dan benar-benar menggambarkan era kini. Sosok yang memanfaatkan media sosial sebagai sebuah cara untuk merepresentasikan keberadaannya untuk dekat dengan masyarakat.

Kemauan untuk memanfaatkan media sosial pada dasarnya membutuhkan keberanian, kemauan, dan konsistensi. Tak mudah bagi seorang leader untuk merespon langsung pertanyaan, komentar, dan berbagai keluhan masyarakat.

Semua tentu membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Tentu saja dengan empati dan ketulusan. Ketiadaan empati dan ketulusan akan terbaca dalam cara merespon dan isi yang tertulis dari pola komunikasi yang dipakai. Hal ini yang menjadi keunikan GP, yaitu berusaha meresponnya sendiri dengan gaya bahasanya sendiri. Tentu tak mudah baginya di tengah berbagai kesibukan yang dimilikinya.

Pembicaraan mengalir dan menyinggung pada keaktifannya dalam media sosial (medsos). Saya bertanya apakah keaktifan tersebut terkait dengan imaje yang hendak dibangun dalam sebuah tujuan tertentu yang apapun itu pastinya sah saja, atau ada tujuan lain.

Dengan tegas dan lugas GP menjawab bahwa hal itu semata dilakukan sebagai bentuk untuk menjaga akuntabilitas personalnya. Tentu ini menarik karena tak mudah membangun akuntabilitas diri dalam konteks transparansi komunikasi dalam media sosial.

Arti Akuntabilitas Personal

Akuntabilitas menjadi kata kunci dalam peran seorang leader. Merujuk pada modul pendidikan dan pelatihan prajabatan golongan III, kata “akuntabilitas” memberikan pengertian sebagai kewajiban pertanggungjawaban yang harus dilakukan oleh individu sesuai dengan amanahnya.

Dalam kaitan dengan tugas ASN maka akuntabilitas memiliki tiga fungsi yaitu: menyediakan kontrol demokratis dengan menyediakan sistem yang melibatkan stakeholder yang lebih luas, mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

Akuntabilitas merupakan sebuah tuntutan yang harus dipenuhi oleh semua leadertanpa kecuali. Kemampuan mempertanggungjawabkan semua tindakan yang diambilnya merupakan sebuah amanah yang menyatu dengan peran dan fungsi seoang leader. Tak semua leader memilki kemampuan untuk tampil di depan mempertanggungjawabkan setiap tindakan dan diambil anak buahnya.

Yang terkadang justru terjadi adalah pemimpin lari meningalkan arena saat keputusan yang diambil salah dan melemparkan handuk ke anak buah.  Tentu saja tindakan ini tidak sinkron dengan sumpah dan janji yang pernah diucapkan saat menerima tampuk jabatan yang disandangnya.

Akuntabilitas merujuk pada kematangan diri seorang leader, yang dengan pengontrolan diri, keluasan pandangan, dan pengalaman baik teknis dan nonteknis, didukung keyakinan diri yang kuat, akan menjadi sebuah modalitas diri untuk terjun dalam kancah kehidupan yang maha luas dengan berbagai kompleksitas persoalannya.

Akuntabilitas akan selalu menunjuk pada diri pemimpin yaitu seberapa besar keberaniannya untuk showing up dan menyatakan diri sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap dampak dari kebijakan yang diambilnya.

Ketika seorang leader memiliki kemauan untuk mengkomunikasikan dirinya dalam komunikasi yang lebih luas melalui media sosial, maka sebenarnya ia sudah siap dengan berbagai konsekuensi terkait dengan setiap perilaku dan tindakan yang diambilnya.

Ia siap dipantau dari berbagai sudut pandang, dinilai dengan berbagai perspektif,  terkait dengan setiap kebijakan yang diambilnya. Hal ini tentu tak mudah karena dalam konteks ini maka kesiapan mental untuk membuka diri bukanlah sebuah perilaku yang gampang dilakukan.

Transparansi dan Komunikasi

Membangun akuntabilitas personal adalah tanggung jawab seorang pemimpin. Banyak faktor yang membuat seorang pemimpin tidak mampu menunjukkan akuntabilitasnya. Di antara berbagai faktor baik eksternal maupun internal, aspek psikologislah  yang seringkali menjadi hambatan bagi seorang leader.

Kelemahan dalam hal psikologis sebenarnya dapat diatasi dengan membangun pola komunikasi yang tepat. Dalam hal ini transparansi adalah kata kuncinya. Yang perlu dipahami adalah, transparansi dan komunikasi menjadi sebuah tanggung jawab sosial bagi para pejabat publik khususnya dalam bidang pemerintahan.

Dalam transparansi terkandung tanggung jawab meminimalisir kemungkinan penyimpangan yang terjadi karena fungsi kontrol sudah dipegang oleh masyarakat selaku konsumen dari setiap kebijakan yang dikeluarkan.

Saat seseorang memutuskan untuk membangun komunikasi yang transparan maka sebenarnya saat itu ia sudah sekian langkah lebih maju. Ia tak hanya mengkomunikasikan kepada publik siapa diri, apa kebijakannya, dan bagaimana tindakannya dilakukan.

Namun yang tak kalah penting, dalam komunikasi inilah ia meletakkan dasar kuat terhadap dirinya untuk menjalankan tugas sesuai dengan amanah yang disandangnya.

Ia menyediakan diri untuk dikontrol, dan pada akhirnya memberikan dirinya untuk diawasi terhadap berbagai kemungkinan penyimpangan yang bisa saja dilakukan termasuk kemungkinan dilakukan oleh para penanggung jawab di bawahnya.

Seorang leader yang menjaga penuh marwah tanggung jawab peran sebagai seorang leader akan sangat menjaga aspek akuntabilitas personalnya.  Ia membentengi dirinya untuk tidak menyalahgunakan kekuasaan termasuk kewenangan yang dimiliki sehingga apa yang dilakukannya sesuai dengan track yang diambilnya.

Baca Juga: Pemimpin di Era Pandemi

Dalam era saat ini, maka jalan yang paling mudah dan umum dilakukan adalah memanfaatkan media sosial. Berbagai platform digital disediakan tinggal memutuskan mana yang akan dipakai. Yang tak kalah penting untuk diingat bahwa saat ini segmentasi generasi sudah bergeser ke era milenial.

Mereka adalah pengguna internet aktif dan memanfaatkan berbagai platform instant yang memudahkan untuk menambah pengetahuannya. Kecerdasan leader untuk membaca arah ini akan sangat menguntungkannya karena ia akan menjadi lebih dekat dengan masyakaratnya.

Tanggung Jawab Sosial

Tantangan leader saat ini adalah menjaga akuntabilitas personalnya sebagai bentuk dari tanggung jawab sosial. Tak semata mereka yang bekerja di pelayanan publik atau pemerintahan, namun pada semua organisasi dan perusahaan bahkan lembaga sosial.

Tanggung jawab inilah yang akan menjadi dasar bagi seorang leader untuk mengukuhkan diri bahwa ia lahir dari masyarakat dan akan kembali pada masyarakat. Oleh karena itu dalam setiap tindakan yang diambil tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab kepada publik.

Akuntabilitas personal akan membangun tanggung jawab sosial. Setiap leader akan dihadapkan pada situasi pengambilan keputusan. Keputusan ini perlu ditimbang masak-masak dan tidak sekedar untuk memenuhi target organisasi atau target pribadi, namun yang terpenting justru tanggung jawab sosialnya.

Hal inilah yang akan selalu diingat oleh masyarakat dan menjadi nilai lebih dibanding leader yang lain. Kemampuan empati pada kebutuhan orang lain, kesediaan mendengar, dan membaur dengan masyarakat akan mampu memberikan kedekatan yang pada akhirnya membangun akuntabilitas personal dan sampai pada tanggung jawab sosial yang lebih hakiki.

Semoga semua leader menyadari hal ini.

(Th. Dewi Setyorini Psikolog, CEO of 3Ds Consultant, Semarang)

-->