<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sunan muria Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/sunan-muria/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jan 2026 14:43:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>sunan muria Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jembatan Portal Wisata Colo Kudus Ambrol, Dua Kendaraan Jatuh ke Jurang</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/09/jembatan-portal-wisata-colo-kudus-ambrol-dua-kendaraan-jatuh-ke-jurang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2026 14:26:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Jembatan Ambrol]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[portal wisata colo]]></category>
		<category><![CDATA[sunan muria]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=538578</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Bencana alam berupa longsor jembatan terjadi di jalur wisata Colo, tepatnya di sebelah barat Portal Wisata Makam Sunan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jumat (9/1/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan dua kendaraan terseret material longsoran, namun dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa. Kapolsek Dawe AKP Budianto menjelaskan, longsor dipicu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/09/jembatan-portal-wisata-colo-kudus-ambrol-dua-kendaraan-jatuh-ke-jurang">Jembatan Portal Wisata Colo Kudus Ambrol, Dua Kendaraan Jatuh ke Jurang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID)</strong> – Bencana alam berupa longsor jembatan terjadi di jalur wisata Colo, tepatnya di sebelah barat Portal Wisata Makam Sunan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jumat (9/1/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan dua kendaraan terseret material longsoran, namun dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa.</p>
<p>Kapolsek Dawe AKP Budianto menjelaskan, longsor dipicu hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Dawe sejak pagi hari. Kondisi tersebut diperparah dengan angin kencang yang menyebabkan struktur tanah di sekitar tebing jalan menjadi labil.</p>
<p>“Hujan deras yang berlangsung cukup lama membuat tanah di sekitar jembatan tergerus air dan kehilangan daya ikat. Akibatnya, jembatan tidak mampu menahan beban dan akhirnya longsor,” jelas AKP Budianto di lokasi kejadian.</p>
<p>Saat longsor terjadi, terdapat dua kendaraan yang tengah terparkir di atas jembatan, yakni sebuah mobil Suzuki Ertiga dan truk tangki Isuzu Elf. Kedua kendaraan tersebut ikut terseret material longsoran. Beruntung, para pengemudi hanya mengalami luka ringan dan berhasil dievakuasi oleh petugas gabungan.</p>
<p>Pasca kejadian, jajaran Polsek Dawe bersama Satlantas Polres Kudus dan unsur terkait segera mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). Petugas melakukan pengamanan lokasi, pengaturan arus lalu lintas, serta memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak mendekati area longsor guna mengantisipasi potensi longsor susulan.</p>
<p>Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo turut meninjau langsung lokasi longsor untuk memastikan proses penanganan berjalan sesuai prosedur serta mempercepat koordinasi lintas instansi, terutama mengingat jalur tersebut merupakan akses menuju kawasan wisata makam Sunan Muria.</p>
<p>“Kami pastikan pengamanan lokasi berjalan maksimal dan koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan agar penanganan dampak longsor dapat berlangsung cepat dan tepat,” ujar AKBP Heru.</p>
<p>Hingga Jumat malam, kondisi di sekitar lokasi longsor masih dalam pemantauan petugas. Sementara itu, akses jalan di sekitar jembatan dibatasi demi keselamatan pengguna jalan dan menghindari risiko longsor lanjutan.</p>
<p><strong>Ali Bustomi</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/09/jembatan-portal-wisata-colo-kudus-ambrol-dua-kendaraan-jatuh-ke-jurang">Jembatan Portal Wisata Colo Kudus Ambrol, Dua Kendaraan Jatuh ke Jurang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tradisi Guyang Cekathak Sunan Muria Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/10/14/guyang-cekathak-desa-colo-jadi-warisan-budaya-tak-benda-nasional</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2025 01:06:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[desa colo]]></category>
		<category><![CDATA[guyang cekathak]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten kudus]]></category>
		<category><![CDATA[kecamatan dawe]]></category>
		<category><![CDATA[pelana kuda sunan muria]]></category>
		<category><![CDATA[sunan muria]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi guyang cekathak]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[warisan budaya takbenda]]></category>
		<category><![CDATA[warisar budaya tak benda]]></category>
		<category><![CDATA[wbtb]]></category>
		<category><![CDATA[wbtb nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=501345</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Kudus. Tradisi Guyang Cekathak Kangjeng Sunan Muria yang berasal dari Desa Colo, Kecamatan Dawe, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Penetapan tersebut diumumkan setelah sidang Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda yang digelar pada Jumat (10/10) lalu. Tradisi yang erat kaitannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/10/14/guyang-cekathak-desa-colo-jadi-warisan-budaya-tak-benda-nasional">Tradisi Guyang Cekathak Sunan Muria Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID)</strong> – Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Kudus. Tradisi Guyang Cekathak Kangjeng Sunan Muria yang berasal dari Desa Colo, Kecamatan Dawe, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.</p>
<p>Penetapan tersebut diumumkan setelah sidang Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda yang digelar pada Jumat (10/10) lalu. Tradisi yang erat kaitannya dengan peninggalan Sunan Muria itu kini menjadi salah satu identitas budaya penting bagi masyarakat Kudus.</p>
<p>Plh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Jatmiko Muhardi, menyambut gembira keputusan ini. Ia menyebut, pengakuan tersebut menjadi hadiah istimewa bagi Kudus yang baru saja memperingati Hari Jadi ke-476 pada September 2025.</p>
<p>“Guyang Cekathak merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga di Desa Colo. Ini menjadi bukti bahwa warisan leluhur kita tetap hidup di tengah masyarakat,” ungkap Jatmiko, Selasa (14/10).</p>
<p>Menurut Jatmiko, keberhasilan tradisi Guyang Cekathak lolos sebagai WBTB tak lepas dari nilai sejarah, keaslian, dan keberlanjutan pelestarian yang masih dijaga masyarakat.</p>
<p>Ia berharap, pengakuan nasional ini menjadi semangat baru bagi warga Kudus untuk terus nguri-nguri (melestarikan) warisan budaya lokal.</p>
<p>“Kami berharap masyarakat semakin bangga dan berkomitmen menjaga tradisi leluhur, termasuk Guyang Cekathak sebagai identitas budaya Kudus,” pungkasnya.</p>
<figure id="attachment_501346" aria-describedby="caption-attachment-501346" style="width: 681px" class="wp-caption alignleft"><img class="size-full wp-image-501346" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/10/78899829-E895-49A9-8EAC-D3FE1548D6A5.jpg" alt="" width="681" height="351" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/10/78899829-E895-49A9-8EAC-D3FE1548D6A5.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/10/78899829-E895-49A9-8EAC-D3FE1548D6A5-400x206.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/10/78899829-E895-49A9-8EAC-D3FE1548D6A5-150x77.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-501346" class="wp-caption-text">Cekathak atau pelana kuda Kangjeng Sunan Muria. foto: ist</figcaption></figure>
<p><strong>Makna dan Asal Usul Guyang Cekathak</strong></p>
<p>Tradisi Guyang Cekathak sudah ada sejak masa hidup Sunan Muria. Tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal 19 bulan September yang merupakan puncak dari musim kemarau.</p>
<p>Juru kunci makam Sunan Muria H Bambang Budi Irianto mengatakan tradisi ini dulunya tradisi Guyang Cekathak awalnya memiliki dua istilah yakni Guyang Cekathak dan Sedekah Sendang Rejoso.</p>
<p>“Dulu kalau kita woro-woro ke masyarakat, istilahnya sedekah belik yang kemudian disebut juga sedekah sendang. Nah, pada kelanjutannya tradisi ini kemudian disebut Guyang Cekathak dan Sedekah Sendang Rejoso,”kata Budi.</p>
<p>Sementara, sesepuh Yayasan Makam dan Masjid Sunan Muria H Mastur mengatakan nama Guyang Cekathak sendiri berasal dari kata guyang yang berarti memandikan, dan cekathak yang mengacu pada pelana atau tapak kuda milik Sunan Muria.</p>
<p>“Dahulu yang dimandikan adalah kudanya langsung, namun setelah kuda tersebut tiada, masyarakat melanjutkan tradisi dengan memandikan pelana kudanya sebagai simbol keberkahan,” jelasnya.</p>
<p>Kuda sebagai alat transportasi menyiratkan bahwa Sunan Muria semasa hidupnya adalah tokoh yang selalu berbaur kepada masyarakat dalam menyampaikan dakwahnya.</p>
<p>Hingga kini, tradisi Guyang Cekathak masih rutin dilaksanakan sebagai simbol doa memohon hujan dan menjaga hubungan spiritual dengan peninggalan wali penyebar Islam di Kudus itu. Peninggalan berupa pelana kuda Sunan Muria pun masih terawat baik di Desa Colo.</p>
<p><strong>Ali Bustomi</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/10/14/guyang-cekathak-desa-colo-jadi-warisan-budaya-tak-benda-nasional">Tradisi Guyang Cekathak Sunan Muria Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bus Peziarah Terbakar di Jalur Kudus–Colo, Penumpang Selamat</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/09/27/bus-peziarah-terbakar-di-jalur-kudus-colo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2025 09:54:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Bus Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[bus peziarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bus terbakar]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[sunan muria]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=498409</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Sebuah bus pariwisata yang mengangkut peziarah mengalami insiden kebakaran di Jalan Kudus–Colo tepatnya di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, pada Sabtu (27/9/2025) sekitar pukul 14.10 WIB. Bus diketahui terbakar akibat korsleting pada instalasi kelistrikan di bagian sistem pengapian. Bus berjenis Mercedes-Benz dengan nomor polisi AA 7759 OD milik PT Sari Gede [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/09/27/bus-peziarah-terbakar-di-jalur-kudus-colo">Bus Peziarah Terbakar di Jalur Kudus–Colo, Penumpang Selamat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID)</strong> – Sebuah bus pariwisata yang mengangkut peziarah mengalami insiden kebakaran di Jalan Kudus–Colo tepatnya di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, pada Sabtu (27/9/2025) sekitar pukul 14.10 WIB. Bus diketahui terbakar akibat korsleting pada instalasi kelistrikan di bagian sistem pengapian.</p>
<p>Bus berjenis Mercedes-Benz dengan nomor polisi AA 7759 OD milik PT Sari Gede Putra Bangsa, Kebumen, itu dikemudikan oleh Dedi Suryadi (39), warga Cilacap. Saat kejadian, bus baru saja turun dari Terminal Colo dan melintas di turunan Desa Kajar.</p>
<p>Kapolsek Dawe AKP Budianto menjelaskan, kebakaran bermula ketika sopir melihat lampu indikator speedometer mati. Sopir kemudian menghentikan kendaraan dan memeriksa kondisi mesin.</p>
<p>“Saat dicek, terlihat asap hitam keluar dari sistem pengapian yang kemudian memicu api. Sopir bersama kernet langsung meminta seluruh penumpang turun dan menjauh dari bus untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” terang AKP Budianto.</p>
<p>Dengan bantuan warga sekitar, api akhirnya berhasil dipadamkan sebelum meluas. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.</p>
<p>Selain Dedi Suryadi, bus juga dikemudikan secara bergantian oleh Dibyo Trihatmoko (46), warga Pringsewu, Lampung, serta dibantu kernet bernama Mulyadi (49), warga Lampung Tengah.</p>
<p>AKP Budianto menegaskan bahwa seluruh penumpang selamat dalam insiden ini. “Tidak ada korban jiwa, hanya kerugian materiil berupa kerusakan pada bus,” ujarnya.</p>
<p>Atas kejadian tersebut Kapolsek mengimbau agar seluruh pengusaha transportasi maupun sopir bus rutin melakukan pengecekan kondisi kelistrikan dan mesin kendaraan sebelum beroperasi.</p>
<p>“Perawatan dan pemeriksaan berkala sangat penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, apalagi jalur Kudus–Colo merupakan kawasan wisata yang ramai dilalui kendaraan besar,” tambah Kapolsek Dawe.</p>
<p><strong>Ali Bustomi</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/09/27/bus-peziarah-terbakar-di-jalur-kudus-colo">Bus Peziarah Terbakar di Jalur Kudus–Colo, Penumpang Selamat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PWI-LS Kudus Gelar Aksi Desak Usut Perusakan Nisan Makam Sunan Muria</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/08/10/pwi-ls-kudus-desak-usut-pembongkaran-nisan-makam-sunan-muria</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Aug 2025 05:29:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[aksi protes Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Kudus terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[makam sunan muria]]></category>
		<category><![CDATA[pembongkaran nisan Sunan Muria]]></category>
		<category><![CDATA[perusakan cagar budaya]]></category>
		<category><![CDATA[polres kudus]]></category>
		<category><![CDATA[PWI-LS Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah Walisongo]]></category>
		<category><![CDATA[sunan muria]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Religi Kudus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=489456</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Puluhan anggota Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) Kudus menggelar aksi protes menuntut pengusutan dugaan perusakan nisan Makam Sunan Muria, Minggu (10/8/2025). Sekitar 80 peserta aksi memasang spanduk protes di sejumlah titik strategis di Kabupaten Kudus, dimulai dari kawasan Masjid Agung Kudus. Salah satu spanduk bertuliskan, “Habib Yahudi Kembalikan Nisan Sunan Muria [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/08/10/pwi-ls-kudus-desak-usut-pembongkaran-nisan-makam-sunan-muria">PWI-LS Kudus Gelar Aksi Desak Usut Perusakan Nisan Makam Sunan Muria</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID)</strong> – Puluhan anggota Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) Kudus menggelar aksi protes menuntut pengusutan dugaan perusakan nisan Makam Sunan Muria, Minggu (10/8/2025).</p>
<p>Sekitar 80 peserta aksi memasang spanduk protes di sejumlah titik strategis di Kabupaten Kudus, dimulai dari kawasan Masjid Agung Kudus. Salah satu spanduk bertuliskan, “Habib Yahudi Kembalikan Nisan Sunan Muria dan Sejarah Sunan Muria Seperti Semula”.</p>
<p>Tidak hanya itu, massa juga membentangkan spanduk di pintu Jalan Habib Jakfar yang berada di samping Masjid Agung. Spanduk tersebut memuat pernyataan bahwa penamaan jalan tersebut melanggar Perda Nomor 13 Tahun 2020 serta dua Keputusan Bupati Kudus terkait penataan nama jalan.</p>
<p>Jalan Habib Jakfar sebelumnya bernama Jalan Masjid Agung. Perubahan nama dilakukan oleh Bupati Kudus saat itu yakni Hartopo sekitar setahun setelah wafatnya Habib Jakfar.</p>
<p>Baca juga:</p>
<p><strong><a href="https://suarabaru.id/2025/06/18/pwi-ls-desak-makam-habib-jafar-dibongkar">PWI-LS Kudus Desak Bangunan Makam Habib Ja’far Dibongkar, Sebut Langgar Aturan Desa</a></strong></p>
<p><strong><a href="https://suarabaru.id/2025/06/19/profil-pwi-ls-kudus-tuntut-bongkar-makam-habib-jafar">Berikut Profil dan Kepengurusan PWI-LS Kudus, Organisasi yang Tuntut Pembongkaran Makam Habib Ja’far Alkaff</a></strong></p>
<p>Usai aksi di Alun-alun Kudus, rombongan bergerak ke kawasan wisata religi Makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Di lokasi tersebut, spanduk serupa dipasang di pintu masuk portal dan area Pangkalan Ojek Sunan Muria.</p>
<p>Koordinator aksi, Kunarto Marzuki, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan desakan kepada Polres Kudus agar segera menindaklanjuti laporan dugaan perusakan nisan makam Sunan Muria.</p>
<p>“Kami melapor ke Polres Kudus sejak 5 Mei 2025. Nisan asli yang merupakan benda cagar budaya kini sudah hilang, diganti dengan nisan baru. Ini bukan sekadar penggantian, tapi upaya pembelokan sejarah perjuangan Walisongo,” ujarnya.</p>
<p>Menurut Kunarto, pihaknya telah menyerahkan bukti-bukti, termasuk keterangan dari Balai Arkeologi dan Balai Pelestari Cagar Budaya.</p>
<p>PWI-LS Kudus uga sempat membuat heboh dengan mendesak pembongkaran makam Habib Jakfar yang berada di pemakaman umum Desa Ploso, Kecamatan Jati. Desakan tersebut lantaran bangunan tersebut melanggar Peraturan Desa Ploso yang melarang adanya pengkijingan di lokasi makam tersebut.</p>
<p>PWI-LS selama ini dikenal aktif menyuarakan isu terkait Baalawi atau Habib, dan menolak klaim bahwa Habib adalah keturunan Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Sebelumnya, organisasi ini juga terlibat ketegangan dengan massa pendukung Habib saat pengajian Habib Rizieq di Pemalang.</p>
<p><strong>Ali Bustomi</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/08/10/pwi-ls-kudus-desak-usut-pembongkaran-nisan-makam-sunan-muria">PWI-LS Kudus Gelar Aksi Desak Usut Perusakan Nisan Makam Sunan Muria</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketua DPRD Kudus Komitmen Terus Lestarikan Tradisi Sewu Kupat Sunan Muria</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/04/19/tradisi-sewu-kupat-sunan-muria-kudus-pelestarian-budaya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2024 01:08:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan lokal Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata budaya Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Pelestarian budaya Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sunan Muria]]></category>
		<category><![CDATA[Sewu Kupat Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[sunan muria]]></category>
		<category><![CDATA[Syawalan Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Idul Fitri Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Sewu Kupat Sunan Muria]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=409797</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Sebagai wujud pelestarian budaya, Ketua DPRD Kabupaten Kudus H. Masan, SE, MM mendukung tradisi Sewu Kupat Sunan Muria terus dilestarikan. Selain sebagai bentuk silaturahmi antar warga, tradisi tersebut juga sebagai bentuk sikap tawadlu terhadap Sunan Muria sebagai salah satu Waliyullah dan penyebar agama Islam di Kudus. Pernyataan Masan tersebut disampaikan saat menghadiri [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/19/tradisi-sewu-kupat-sunan-muria-kudus-pelestarian-budaya">Ketua DPRD Kudus Komitmen Terus Lestarikan Tradisi Sewu Kupat Sunan Muria</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID)</strong> – Sebagai wujud pelestarian budaya, Ketua DPRD Kabupaten Kudus H. Masan, SE, MM mendukung tradisi Sewu Kupat Sunan Muria terus dilestarikan. Selain sebagai bentuk silaturahmi antar warga, tradisi tersebut juga sebagai bentuk sikap tawadlu terhadap Sunan Muria sebagai salah satu Waliyullah dan penyebar agama Islam di Kudus.</p>
<p>Pernyataan Masan tersebut disampaikan saat menghadiri tradisi Sewu Kupat Sunan Muria yang dilaksanakan pada Rabu, (17/4) lalu di Taman Ria Colo, Dawe, Kudus. Masan yang hadir mendampingi Bupati Kudus dua periode H Musthofa, terlihat cukup antusias menyapa langsung masyarakat yang hadir.</p>
<p>Hadir pula dalam kegiatan tersebut Pj Bupati Kudus H Hasan Chabibie, Kapolres Kudus AKBP Dydit Dwi Susanto, Komandan Kodim 0722 Kudus, Letkol Inf Andreas Yudhi Wibowo, seluruh Kepala Desa di wilayah Kecamatan Dawe, serta sejumlah pimpinan OPD.</p>
<p>“Tradisi Sewu Kupat Sunan Muria ini bukan hanya tradisi biasa, tapi sebuah bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas limpahan berkah hasil bumi yang melimpah,”tandasnya.</p>
<p>Ketua DPRD Kudus menyampaikan tradisi ini digelar untuk menjaga dan mempererat silaturahmi serta pelestarian budaya yang dibentuk dengan kolaborasi atas kreatifitas kearifan lokal.</p>
<p>“Tradisi ini digelar untuk mempererat silaturahmi antara masyarakat dengan pemerintah desa. Sebagai hal terpenting yang perlu diwujudkan yakni melestarikan budaya yang terbentuk atas kreatifitas kearifan lokal dari masyarakat” ungkapnya.</p>
<p>Di sisi lain, Ketua DPRD Kudus mengajak masyarakat “Nguri-uri budoyo jowo” melestarikan budaya peninggalan Sejarah seperti Tradisi Sewu Kupat Sunan Muria ini. Masan berkomitmen akan terus melanjutkan tradisi Sewu Kupat Sunan Muria ini agar terus lestari hingga nanti.</p>
<p>“Apakah itu ada anggaran dari pemerintah daerah atau tidak, saya berkomitmen untuk terus melestarikan tradisi ini,”tandasnya.</p>
<figure id="attachment_409799" aria-describedby="caption-attachment-409799" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="wp-image-409799 size-full" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/sewu-kupat.jpg" alt="" width="681" height="388" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/sewu-kupat.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/sewu-kupat-400x228.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/sewu-kupat-150x85.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-409799" class="wp-caption-text">Tradisi Sewu Kupat Sunan Muria. foto: Ali Bustomi</figcaption></figure>
<p>Tradisi Sewu Kupat Sunan Muria merupakan salah satu tradisi Syawalan yang diselenggarakan setiap tahun pada hari ke – 7 usai Hari Raya Idul Fitri. Ribuan warga selalu membanjiri kegiatan tradisi tersebut.</p>
<p>Tradisi kupatan di Kawasan Makam Sunan Muria ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Namun, berkat inisatif Bupati Kudus H Musthofa di tahun 2008, tradisi ini dikembangkan menjadi salah stu destinasi wisata yang lebih menarik.</p>
<p>Banyak warga yang percaya tradisi ini mendatangkan keberkahan tersendiri. Ini tak lepas dari sosok Sunan Muria yang menjadi salah satu Walisongo yang dipercaya memiliki karomah tersendiri.</p>
<p>H Musthofa selaku Bupati Kudus kurun waktu periode 2008-2018 turut mengamini keberkahan dalam tradisi Sewu Kupat Sunan Muria. Sebagai penggagas tradisi tersebut, Musthofa bahkan membeberkan sejumlah rahasia dalam tradisi tersebut.</p>
<p>Menurutnya, tradisi Sewu Kupat Sunan Muria bukan hanya tradisi biasa, tapi sebagai ungkapan ketawadluan masyarakat Kudus terhadap Sunan Muria. Keberkahan tradisi tersebut, bahkan sudah dibuktikan oleh Musthofa sendiri.</p>
<p>“Saya dua kali jadi bupati dan dua kali jadi anggota DPR RI. Dulu ada Dandim yang hadir dalam tradisi ini, sekarang sudah berpangkat bintang dua. Belum lagi banyak yang lainnya,”tandasnya.</p>
<p><strong> Ads-Ali Bustomi</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/19/tradisi-sewu-kupat-sunan-muria-kudus-pelestarian-budaya">Ketua DPRD Kudus Komitmen Terus Lestarikan Tradisi Sewu Kupat Sunan Muria</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berziarah ke Makam Sunan Muria, Jangan Lupa Oleh-Oleh Ganyong dan Parijatha</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/03/30/berziarah-ke-maka-sunan-muria-jangan-lupa-oleh-oleh-ganyong-dan-parijatha</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Mar 2023 02:08:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Col]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Sunan Muria]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[sunan muria]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata ziarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=325995</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Ziarah merupakan bagian dari tradisi budaya, termasuk juga bagi orang Jawa. Ziarah adalah bentuk penghormatan kepada leluhur, kepada tokoh, ulama yang dinilai banyak jasanya dalam pengembangan agama, misalnya para wali. Satu di antara para wali yang makamnya menjadi tujuan para peziarah adalah Sunan Muria yang berlokasi di Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Makam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/03/30/berziarah-ke-maka-sunan-muria-jangan-lupa-oleh-oleh-ganyong-dan-parijatha">Berziarah ke Makam Sunan Muria, Jangan Lupa Oleh-Oleh Ganyong dan Parijatha</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID) – </strong>Ziarah merupakan bagian dari tradisi budaya, termasuk juga bagi orang Jawa. Ziarah adalah bentuk penghormatan kepada leluhur, kepada tokoh, ulama yang dinilai banyak jasanya dalam pengembangan agama, misalnya para wali.</p>
<p>Satu di antara para wali yang makamnya menjadi tujuan para peziarah adalah Sunan Muria yang berlokasi di Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Makam Sunan Muria berada di sebuah kompleks masjid berjarak 18 kilometer di sebelah utara Kota Kudus.</p>
<p>Sunan Muria adalah salah satu dari Sembilan sunan penyebar agama Islam di Jawa. Nama asli Sunan Muria adalah Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga. Setiap hari, makam Sunan Muria tidak pernah sepi dari peziarah.</p>
<p>Colo adalah sebuah lokasi di ketinggian di lereng Gunung Muria. Peziarah membutuhkan upaya yang kuat untuk bisa mencapai Masjid Sunan Muria dan berziarah ke makamnya. Maklum saja, lokasi masjid itu berada di puncak Gunung Muria yang mempunyai ketinggian 1.600 mdpl.</p>
<p>Masjid Sunan Muria diperkirakan dibangun pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Pada masa itu, Sunan Muria berdakwah menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Muria. Selanjutnya dia mendirikan pesantren dan sebuah masjid di puncak gunung itu.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2023/03/29/watu-putih-destinasi-yang-harus-diampiri-bila-ke-borobudur">Watu Putih, Destinasi yang Harus Diampiri Bila ke Borobudur</a></strong></span></p>
<p>Masjid Sunan Muria sudah banyak berubah bentuk dari aslinya karena mengalami beberapa kali pemugaran. Hanya beberapa bagian saja yang masih menyisakan peninggalan dari Sunan Muria di antaranya pondasi masjid, umpak batu, tiang atau pilar penyangga masjid, dan mihrab yang menjorok ke dalam.</p>
<p>Selain itu ada pula bedug yang sudah berumur lebih dari satu abad. Bedug itu dibuat dari kayu jati pada tahun 1884 Masehi. Di atas bedug ini terdapat ukiran naga dan ayam jantan yang menyimbolkan perpaduan budaya antara Jawa dan Tionghoa.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/03/30/berziarah-ke-maka-sunan-muria-jangan-lupa-oleh-oleh-ganyong-dan-parijatha">Berziarah ke Makam Sunan Muria, Jangan Lupa Oleh-Oleh Ganyong dan Parijatha</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kepekaan Sosial Sunan Drajat  yang Patut Ditiru</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/03/18/kepekaan-sosial-sunan-drajat-yang-patut-ditiru</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Mar 2023 14:41:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[ganjar pranowo]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Raden Fatah]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Sunan Drajat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunan Kalijaga]]></category>
		<category><![CDATA[sunan muria]]></category>
		<category><![CDATA[walisongo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=323307</guid>

					<description><![CDATA[<p>LAMONGAN (SUARABARU.ID)&#8211; Menehana teken marang wong kang wuto, menehana mangan marang wong kang luwe, menehana busana marang wong kang wudo, menehana ngiyup marang wong kang kudhanan. Empat ungkapan Sunan Drajat itu, jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kurang lebih bermakna, &#8216;berilah tongkat pada orang buta, berilah makan pada orang yang lapar, berilah pakaian pada orang telanjang, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/03/18/kepekaan-sosial-sunan-drajat-yang-patut-ditiru">Kepekaan Sosial Sunan Drajat  yang Patut Ditiru</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LAMONGAN (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; <em>Menehana teken marang wong kang wuto, menehana mangan marang wong kang luwe, menehana busana marang wong kang wudo, menehana ngiyup marang wong kang kudhanan</em>.</p>
<p>Empat ungkapan Sunan Drajat itu, jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kurang lebih bermakna,<em> &#8216;berilah tongkat pada orang buta, berilah makan pada orang yang lapar, berilah pakaian pada orang telanjang, berilah tempat berteduh pada orang yang kehujanan&#8217;</em>.</p>
<p>Siapapun yang berziarah ke makan Sunan Drajat, bisa membaca karena termaktub di dinding cungkup makamnya, di kawasan Drajat, Lamongan, Jawa Timur. Kalimat-kalimat itu merupakan bagian terakhir dari tujuh ajaran anggota Walisongo, yang memiliki nama Muhammad Qosim ini.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2023/03/18/polres-tegal-kota-sita-ribuan-petasan">Polres Tegal Kota Sita Ribuan Petasan</a></strong></p>
<p>Tujuh ajaran berbahasa Jawa itu, kini termaktub pada bagian atas gapura yang jadi pertanda perbedaan ketinggian di komplek pemakaman Sunan Drajat di Lamongan.</p>
<p>Dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang berziarah pada Sabtu (18/3/2023) ini, harus menghentikan langkahnya setiap melintasi gapura-gapura itu. Dia membaca sesaat, lalu berbincang dengan beberapa pengurus makam.</p>
<p>&#8221;Tujuh ajaran itu saya kira akan tetap relevan di segala zaman. Apalagi ajarannya sangat sarat makna,&#8221; tutur Ganjar.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2023/03/18/pemancing-asal-sukoharjo-meninggal-di-waduk-gajahmungkur-wonogiri">Pemancing Asal Sukoharjo, Meninggal di Waduk Gajahmungkur Wonogiri</a></strong></p>
<p>Sunan Drajat memang dikenal sebagai anggota Walisongo yang memiliki kepekaan sosial sangat tinggi. Sehingga metode dakwah yang digunakan menggunakan kalimat yang mudah dipahami masyarakat. &#8221;Dan tujuh ajaran itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Jika dirunut, tujuh ajaran Sunan Drajat itu adalah, memangun resep <em>tyasing sasoma</em> (selalu membuat senang hati orang lain). <em>Jroning suka kudu éling lan waspada</em> (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada). <em>Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah</em> (dalam perjalanan untuk mencapai cita-cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan).</p>
<p>Lalu,<em> Mèpèr Hardaning Pancadriya</em> (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu). <em>Heneng-Hening-Henung</em> (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur). Dan yang terakhir, <em>Mulya guna Panca Waktu</em> (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan shalat lima waktu).</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2023/03/18/sunan-giri-ulama-sekaligus-seniman">Sunan Giri, Ulama Sekaligus Seniman</a></strong></p>
<p>&#8221;Jadi beliau mentransformasikan ajaran-ajaran itu kepada kita. Agar dalam kondisi apapun, suka maupun duka, selalu ingat pada Allah, minimal lewat shalat lima waktu,&#8221; ungkap.</p>
<p>Ziarah di makam Sunan Drajat ini, merupakan titik keempat dalam rangkaian nyadran Walisongo, yang dilakukan Ganjar Pranowo bersama istrinya Siti Atikoh. Setelah dari makam Sunan Drajat, Ganjar dan istri bergeser ke makam Sunan Bonang di Tuban.</p>
<p>Berlanjut ke makam Raden Fatah, Sunan Kalijaga, Sunan Muria kemudian di makam Sunan Gunungjati di Cirebon. Dari seluruh rangkaian itu, Ganjar dan istri bakal menyelesaikan nyadran di makam orang tuanya.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/03/18/kepekaan-sosial-sunan-drajat-yang-patut-ditiru">Kepekaan Sosial Sunan Drajat  yang Patut Ditiru</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ayam Bakar yang Paling Ueeeenaaaak Itu Ada di Colo</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/01/09/ayam-bakar-yang-paling-ueeeenaaaak-itu-ada-di-colo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2021 02:59:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[ayam bakar mbok yanah colo]]></category>
		<category><![CDATA[curug montel]]></category>
		<category><![CDATA[gunung muria]]></category>
		<category><![CDATA[ojek colo]]></category>
		<category><![CDATA[sunan muria]]></category>
		<category><![CDATA[walisongo]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kudus]]></category>
		<category><![CDATA[wisata ziarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=138769</guid>

					<description><![CDATA[<p>Reportase Widiyartono R COLO adalah sebuah desa di Kecamatan Dawe, kaki Gunung Muria Kudus. Jarak dari kota Kudus menuju lokasi ini kurang dari 20 km, yang bisa ditempuh dengan kendaraan dalam waktu sekitar setengah jam. Ya, Colo memang dikenal sebagai tujuan wisata religi, khususnya ziarah ke makam Sunan Muria, atau Raden Mas Said. Maka pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/01/09/ayam-bakar-yang-paling-ueeeenaaaak-itu-ada-di-colo">Ayam Bakar yang Paling Ueeeenaaaak Itu Ada di Colo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Reportase <strong>Widiyartono R</strong></p>
<p><strong>COLO </strong>adalah sebuah desa di Kecamatan Dawe, kaki Gunung Muria Kudus. Jarak dari kota Kudus menuju lokasi ini kurang dari 20 km, yang bisa ditempuh dengan kendaraan dalam waktu sekitar setengah jam. Ya, Colo memang dikenal sebagai tujuan wisata religi, khususnya ziarah ke makam Sunan Muria, atau Raden Mas Said.</p>
<p>Maka pada saat normal di luar pandemi seperti saat ini, banyak dijumpai bus-bus membawa peziarah dari berbagai tempat yang parkir di kawasan wisata Colo. Meski saat pandemic seperti sekarang, tetap masih ada yang berkunjung ke sana, meskipun tidak meluap seperti biasa.</p>
<p>Colo memang tepat peziarahan, khususnya bagi umat Islam. Tetapi selain itu, tempat ini memang unik. Lokasinya di ketinggian, udara relatif sejuk pada siang hari, tetapi sangat dingin pada waktu malam. Untuk sekadar “ngadhem”, Colo merupakan lokasi yang cocok.</p>
<p>Terlebih di sana juga ada hotel milik pemda yang bi dijadikan tempat beristirahat. Di hotel ini juga sering diadakan kegiatan seperti rapat, pelatihan, <em>workshop</em>, dan lain-lain.</p>
<p><strong>Jeruk Pamelo</strong></p>
<p>Ada yang unik bila kita berkunjung ke Colo. Setelah masuk dan membayar tiket, kemudian kita akan melewati kawasan yang biasa digunakan untuk parkir bus-bus pembawa wisatawan. Di situ ada masjid, dan di sekitarnya banyak sekali pedagang.</p>
<p>Yang dijual sangatlah khas Colo, misalnya <em>ganyong</em> sejenis umbi-umbian keluarga yang termasuk kana seperti bunga puspanyidra. Umbi yang berasa manis dengan serat-serat kasar ini dijajakan sudah dalam keadaan matang.</p>
<p>Selain <em>ganyong </em>ada juga kimpul atau talas yang juga dijual sudah dalam keadaan matang. Jadi kalau kita beli, bisa langsung kita nikmati. Bagi orang kota, jenis makanan ini jelas sangat jarang dijumpai. Maka, ini adalah sebuah sensasi bila kita menikmatinya di Colo.</p>
<p>Dagangan lainnya ada petai. Nah, petai menjadi buah tangan bagi yang berkunjung ke Colo. Bentuknya yang panjang, bijinya besar, apalagi yang tua. Ah, sangat mantap untuk disantap di rumah sebagai teman makan ayam goreng, campuran nasi goreng, atau masakan lainnya.</p>
<p>Ada juga kulit pohon pakis, dalam ukuran tertentu, yang konon dipercaya bisa menjadi pengusir tikus. Bentuknya yang eksotis bagaikan ukiran, potongan kayu pakis ini juga bisa digunakan sebagai hiasan. Kemudian yang juga selalu ada di Colo adalah pisang tanduk atau orang Jawa meyebutnya <em>gedhang gebyar</em>.</p>
<figure id="attachment_138778" aria-describedby="caption-attachment-138778" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-138778" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2930.jpg" alt="" width="681" height="511" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2930.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2930-400x300.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2930-150x113.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2930-100x75.jpg 100w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2930-180x135.jpg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2930-238x178.jpg 238w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-138778" class="wp-caption-text">Di pasar ini kita bisa membeli pisang tanduk, petai, dan buah-buah lainya termasuk jeeruk pamelo. Foto: Widiyartono R.</figcaption></figure>
<p>Yang juga sangat popular adalah jeruk pamelo. Ini semacam jeruk bali, dalam ukuran yang besar, rasanya manis, buahnya berwarna merah.</p>
<p>Nama &#8220;pamelo&#8221; sekarang disarankan oleh Kementerian Pertanian, karena ini bukan “jeruk bali” dan tidak ada kaitannya dengan Bali. Konon pula, kata <em>pamelo</em> ini disematkan pada jeruk itu, karena mengacu pada bintang film <em>Baywatch</em> Pamela Andersen yang dadanya besar seperti jeruk endemik Muria ini. Ah ada-ada saja….</p>
<p>Jeruk pamelo memang besar dan rasanya manis. Maka harganya pun, wow, tentu tidak murah. “Ini yang kecil-kecil dua puluh ribu. Yang agak besar tiga puluh lima ribu. Yang super tujuh puluh lima ribu,” ujar penjual di pasar buah yang ada di Colo.</p>
<p>Yang harganya 35 ribu rupiah, itu memang besar, tetapi ada “cacat” di kulitnya karena adanya serangan hama atau tumbuhnya tidak sehat. Tetapi yang super memang dijamin. Selain besar juga manis.</p>
<p>“Kalau milih jeruk seperti ini jangan cuma karena besarnya. Tetapi diangkat dan dirasakab beratnya. Kalau yang lebih berat, itu isi buahnya besar. Kalau ringan kebanyakan lapisan kulitnya,” ujar seorang pengunjung.</p>
<figure id="attachment_138775" aria-describedby="caption-attachment-138775" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-138775" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2939.jpg" alt="" width="681" height="511" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2939.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2939-400x300.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2939-150x113.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2939-100x75.jpg 100w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2939-180x135.jpg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2939-238x178.jpg 238w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-138775" class="wp-caption-text">Sajian ayam bakar dan pecel pakis Mbok Yanah ini, cocok sekali dinikmati di Colo yang sejuk. Foto: Widiyartono R.</figcaption></figure>
<p><strong>Ayam Bakar dan Pecel Pakis</strong></p>
<p>Yang paling sensasional, kalau berkunjung ke Colo ya makan pecel paku. <em>Lho, mosok</em> paku dimakan. Ya, pakis adalah tanaman jenis paku-pakuan. Jenis pakis tertentu, daunnya bisa dimasak. Kalau di Baturaden dimasak <em>oseng-oseng</em> dicamput <em>kamijara</em> atau sereh. Nah, di Colo dimacak pecel.</p>
<p>Ada sebuah warung namanya Mbok Yanah, yang menyediakan pecel pakis ini. Tetapi yang lebih menggetarkan lagi adalah ayam bakarnya. Tetapi maf-maaf kata, kalau Anda cuma berduaan saja disarankan jangan pesan ayam bakar di sini. Dijamin <em>nggak bakalan </em>habis.</p>
<p>“Kalau pesan ayam di sini harus satu ekor, ya kalau nggak habis kan bisa dibungkus dibawa pulang,” kata pemilik warung.</p>
<p>Maklum, pemilik warung memang tidak menyediakan potongan ayam. Jadi kalau kita ke sana, harus pesan ayam satu ekor utuh. Jadi kalau cuma berdua, ya sisanya dibungkus buat oleh-oleh. Rasa ayam bakarnya memang <em>mak nyussssss</em>. Manis gurih, disantap dengan nasi hangat dan pecel pakis. Pokoknya <em>uenaaak tenan.</em></p>
<p>Bila tidak pesan ayam, ada sih lauk lainnya seperti bakwan, tempe, atau kerupuk. Juga bisa pesan ayam goring tentu saja. Tetapi pecel pakis itu pasti turut disajikan.</p>
<figure id="attachment_138781" aria-describedby="caption-attachment-138781" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-138781" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2920.jpg" alt="" width="681" height="511" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2920.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2920-400x300.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2920-150x113.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2920-100x75.jpg 100w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2920-180x135.jpg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/01/DSCF2920-238x178.jpg 238w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-138781" class="wp-caption-text">Berfoto dengan latar belakang rumah-rumah di lereng Gunung Muria jangan dilewatkan sebagai kenang-kenangan. Foto: Widiyartono R.</figcaption></figure>
<p><strong>Rumah-rumah di Lereng</strong></p>
<p>Di Kabupaten Magelang ada tempat viral di Dusun Butuh, Kecamatan Kaliangkrik. Dusun Buuh namanya tenggelam berganti dengan Nepal van Java. Ya, rumah-rumah di lereng punggung Gunung Sumbing itu diimajinasikan oleh netizen seperti rumah-rumah di Nepal, di lereng Pegunungan Himalaya.</p>
<p>Di Colo, ada juga rumah-rumah eksotik yang berderet di lereng yang cukup tajam. Bila dipandang di pinggir jalan raya depan hotel milik pemda, memang jadi eksotik sekali. Hanya saja, tidak diwarna-warni seperti di Butuh, Kaliangkrik.</p>
<p>Pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang kawasan rumah di tebing tajam itu. Bila cuaca bagus, akan sangat indah. Kalau pun toh ada kabut, itu akan menambah sensasi di foto-foto kita.</p>
<p>Tetapi, bila berkunjung ke Colo memang harus hati-hati. Tukang ojek banyak sekali di sana, mengantar pengunjung yang berziarah ke makam Sunan Muria di puncak. Mereka adalah pengendara yang amat mahir, sehingga mengemudikannya pun cenderung ngebut. Cukup ngeri juga bagi pengunjung.</p>
<p>Ya, ayo kita ke Colo. Tetapi harap diingat, karena masih suasana pandemi maka tetap harus dijaga protocol kesehatan. Pakai masker, cuci tangan, dan yang penting <strong>jangan bergerombol, jangan berkerumun.</strong></p>
<p>Selamat berwisata.</p>
<p><em>Widiyartono R, wartawan suarabaru.id, pemerhati masalah pariwisata.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/01/09/ayam-bakar-yang-paling-ueeeenaaaak-itu-ada-di-colo">Ayam Bakar yang Paling Ueeeenaaaak Itu Ada di Colo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>