<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PSG Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/psg/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 May 2026 10:41:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>PSG Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Buncah Sejarah dari Puskas Arena</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/05/30/buncah-sejarah-dari-puskas-arena</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2026 10:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Budapest]]></category>
		<category><![CDATA[Hongaria]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>
		<category><![CDATA[liga inggris]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[Puskas Arena]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=561993</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // akan lahirkah sejarah?/ pastilah dia membuncah/ siapa pun pemenangnya/ eksotika final terpoles dengan rekor/ di luar kebahagiaan/ dan kesedihan// (Sajak “Final Eropa”, 2026) APA pun yang terjadi malam nanti, Puskas Arena di Budapest, Hongaria, bakal menorehkan sejarah. Akan ada buncah kebahagiaan, mungkin pula air mata kesedihan. Apakah juara bertahan Paris [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/30/buncah-sejarah-dari-puskas-arena">Buncah Sejarah dari Puskas Arena</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-561994 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// akan lahirkah sejarah?/ pastilah dia membuncah/ siapa pun pemenangnya/ eksotika final terpoles dengan rekor/ di luar kebahagiaan/ dan kesedihan//</em><br />
<strong>(Sajak “Final Eropa”, 2026)</strong></p>
<p><strong>APA</strong> pun yang terjadi malam nanti, Puskas Arena di Budapest, Hongaria, bakal menorehkan sejarah. Akan ada buncah kebahagiaan, mungkin pula air mata kesedihan.</p>
<p>Apakah juara bertahan Paris St Germain yang kembali mengangkat piala? Atau Arsenal yang untuk kali pertama memenangi trofi Si Kuping Besar?</p>
<p>Artinya, itulah pula sejarah yang siap diukir dua pelatih energetik dari negeri yang sama, Spanyol: Luis Enrique (PSG), dan Mikel Arteta (Arsenal).</p>
<p>Jika Les Parisiens mampu mempertahankan gelar, berarti inilah klub kedua setelah Real Madrid yang sukses melakukan <em>back to back</em> Liga Champions setelah tahun lalu juara. Real bahkan tercatat tiga kali berturut-turut juara pada 2016, 2017, dan 2018 di era pelatih Zinedine Zidane.</p>
<p>Sedangkan bagi Mikel Arteta, jika berhasil memenangi final, ini akan menobatkannya sebagai pelatih pertama yang mengantar Meriam London sebagai penguasa Eropa. Pada 2006, Arsenal yang menjejak partai puncak, di bawah arahan Arsene Wenger dikalahkan oleh Barcelona racikan Frank Rijkaard.</p>
<p><strong>Pertunjukan</strong><br />
Selain menjanjikan pertarungan taktik dan pertunjukan para bintang, eksotika partai final di Budapest malam nanti membawa sejumlah catatan tambahan tentang rekor, sejarah, dan garansi aksi-aksi tak terlupakan. Baik PSG maupun Arsenal sama-sama dikawal skema taktik dengan pilar-pilar berpenggawa kelas dunia.</p>
<p>Hampir di setiap posisi, Les Parisiens dan Meriam London menjanjikan kualitas paripurna. Walaupun PSG lebih dijagokan, namun Arsenal juga memiliki kelebihan-kelebihan yang seharusnya bisa dioptimalkan sebagai peluang meraih gelar.</p>
<p>Secara <em>head to head</em>, kedua klub sudah dua kali bertemu, yakni di semifinal Liga Champions 2025. Ketika itu, PSG dua kali menang, kandang dan tandang 2-1 dan 1-0.</p>
<p>Suka atau tidak suka, ketika keduanya kembali bersua &#8212; kali ini di partai pamungkas &#8212; akan ada motivasi dahsyat pembuktian, determinasi untuk keluar sebagai sang pemenang.</p>
<p><strong>Impresivitas Vs Set-piece</strong><br />
Diperkirakan bakal muncul momen-momen menarik: impresivitas serangan bergelombang PSG versus<em> set-piece</em> bola mati, terutama sepak pojok Arsenal.</p>
<p>Luis Enrique berkelimpahan materi kelas dunia dalam skema <em>starting eleven</em>-nya. Sebut saja di barisan penggempur ada peraih Ballon d&#8217;Or 2025, Ousmane Dembele, “Messi Georgia” Khvicha Kvaratskhelia, Bradley Barcola atau Desire Doue. Mereka ditopang oleh gelandang visioner Vitinha, Joao Neves, dan Fabian Ruiz yang bakal menjadi ancaman bagi ketangguhan kiper David Raya.</p>
<p>Lini pertahanan PSG dikawal oleh kapten tim Marquinhos, Achraf Hakimi, Willian Pacho, dan Nuno Mendes. Sebagai benteng terakhir kiper Matvey Safonov atau Lucas Chevalier.</p>
<p>PSG sangat mengandalkan impresivitas sayap Kvaratskhelia dengan dribel-dribel dan seni mencetak gol hebat, serta pergerakan Dembele dan Doue sebagai<em> finisher</em> mematikan. Overlapping Hakimi yang sering memberi umpan-umpan silang juga menjadi pertunjukan tak kalah menarik.</p>
<p>Sedangkan parade bintang Arsenal terbaca dari kiper tangguh David Raya, bek Jurrien Timber, William Saliba, Gabriel Magalhaes, dan Riccardo Calafiori.</p>
<p>Arteta punya barisan gelandang anggun Martin Zubimendi, Declan Rice, dan Martin Odegaard. Di lini penyerang ada Bukayo Saka, Gabriel Martinelli, dan Viktor Gyokeres. Bisa pula Arteta merotasinya dengan Mikel Merino, Kai Havertz, atau Eberechi Eze.</p>
<p><strong>“Corner FC”</strong><br />
Betapa pun rancak permainan Arsenal dengan intensitas penguasaan bola, namun Arteta juga melengkapinya dengan pragmatisme “mesin pembunuh” yang dipersiapkan matang. Arsenal sempat mendapat banyak sindiran sebagai “Corner FC” karena banyak mengintensifkan peluang dari<em> set-piece</em> sepak pojok untuk menciptakan gol.</p>
<p>Bagi Arsenal, sejatinya ini adalah kelebihan tersendiri di tengah “idealisme” permainan yang mengalir indah. Dan, tentu sisi-sisi ini yang juga menjadi perhatian Luis Enrique sebagai sikap antisipatif bagi PSG.</p>
<p>Ya. Pertandingan pamungkas Liga Champions tahun ini memang menjanjikan pertunjukan yang “semuanya ada”. Pelatih cerdas dengan strategi kuat, parade bintang, dan determinasi yang menggambarkan betapa sepak bola terkemas sebagai sebuah visi yang jauh melebihi batas-batas lapangan dan lingkungan stadion.</p>
<p>Dari dua klub ini, dia &#8212; sepak bola &#8212; serasa menjadi bagian dari ekosistem kehidupan itu sendiri. Ada etos kerja, keindahan, keterampilan, pilihan, juga pragmatisme&#8230;</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> <strong>&#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/30/buncah-sejarah-dari-puskas-arena">Buncah Sejarah dari Puskas Arena</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kvaratskhelia, Mutiara yang Makin Menemukan Makna</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/05/16/kvaratskhelia-mutiara-yang-makin-menemukan-makna</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 May 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Bayern Muenchen]]></category>
		<category><![CDATA[Khvicha Kvaratskhelia]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Pamungkas]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=559733</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dialah senyatanya/ mutiara tersembunyi/ dari “antah berantah” sepak bola/ berproses mematangkan diri/ di liga-liga dunia/ akankah dia menemukan makna/ sebagai sang penentu/ dan legenda?// (Sajak “Kvaratskhelia’’, 2026) PARTAI pamungkas Liga Champions 2026 di Budapest, Hongaria, akhir bulan ini akan mengetengahkan aneka “pertunjukan” sepektakuler. Dua klub yang berlaga mewakili berbagai ceritera [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/16/kvaratskhelia-mutiara-yang-makin-menemukan-makna">Kvaratskhelia, Mutiara yang Makin Menemukan Makna</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-559735 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// dialah senyatanya/ mutiara tersembunyi/ dari “antah berantah” sepak bola/ berproses mematangkan diri/ di liga-liga dunia/ akankah dia menemukan makna/ sebagai sang penentu/ dan legenda?//</em><br />
<strong>(Sajak “Kvaratskhelia’’, 2026)</strong></p>
<p><strong>PARTAI</strong> pamungkas Liga Champions 2026 di Budapest, Hongaria, akhir bulan ini akan mengetengahkan aneka “pertunjukan” sepektakuler. Dua klub yang berlaga mewakili berbagai ceritera tentang nama besar, kualitas, eksotika sepak bola, dan impresivitas. Para bintang yang bertebaran di dua tim finalis itu, serta proyeksi taktik apa yang akan disuguhkan oleh dua pelatih eksepsional yang ada di balik performa tim, Luis Enrique dari Paris St Germain, dan Mikel Arteta dari Arsenal.</p>
<p>Yang tak kalah menyita perhatian, kini nama &#8212; yang agak sulit dieja dan dilafalkan &#8212; Khvicha Kvaratskhelia ikut masuk dalam daftar keniscayaan keelokan partai final. Dia bisa menjadi pembeda.</p>
<p>Siapa Khvicha Kvaratskhelia?</p>
<p>Ya, dari negeri yang dianggap “antah berantah” dalam sepak bola, siapakah nama-nama yang tercatat mendunia dan mencercahkan cahaya?</p>
<p>Dulu mungkin layak disebut George Oppung Weah, peraih Ballon d’Or 1995 dari Liberia, yang dimatangkan di Paris St Germain dan AC Milan dengan performa individual yang superlatif. Dan, kini, dari Georgia, selama tiga tahun terakhir muncul nama fenomenal yang dipercaturkan kalangan sepak bola elite: Khvicha Kvaratskhelia. Boleh dibilang, dia adalah pemain terbesar Georgia sepanjang masa.</p>
<p>Selama memperkuat Napoli (2022-2025), dia berkembang di bawah pelatih Luciano Spaletti. Kini dia menjadi andalan Paris St Germain dalam polesan Luis Enrique. Aksi-aksinya menerbitkan “teror” ketakutan bagi pertahanan lawan. Dribelnya tak terhentikan, umpan silangnya memanjakan, <em>skill</em>-nya yang di atas rata-rata adalah ancaman bagi para pemain belakang. Pergerakan tanpa bolanya juga efektif.</p>
<p>Tak berlebihan, Khvicha disebut-sebut mampu mengubah jalannya pertandingan. Legenda Edgar Davids tak ragu memosisikannya sebagai pemain sayap terbaik dunia saat ini.</p>
<p>Dia menjadi “pertunjukan” paling memukau di setiap fase Liga Champions musim ini. Aksi-aksi Kvaratskhelia diharapkan memuncak di partai final, akhir bulan ini.</p>
<p>Publik sepak bola akan tersuguhi determinasi, dribel eksepsional, manuver-manuver tak terbendung ketika menusuk dari sayap, dan keindahan teknik gol melengkung yang presisi. Dia benar-benar menjadi pembeda.</p>
<p>Seharusnya ada Lamine Yamal, yang bahkan memberi harapan lebih besar, tetapi Barcelona sudah tersisih di babak perempat final dari Atletico Madrid. Kini posisi Yamal dalam bursa Ballon d’Or 2026 juga ada di bawah peluang Kvaratskhelia. Apalagi dia masih berkeniscayaan membawa PSG mempertahankan gelar.</p>
<p><strong>“Kvaradona”</strong><br />
Ketika masih memperkuat Napoli, dia dijuluki Kvaradona, karena gaya dribel yang menyerupai kehebatan legenda “Sang Dewa” Napoli, Diego Armando Maradona. Di Napoli, sejauh ini yang disebut sebagai legenda penerus Maradona adalah Gianfranco Zola yang pernah mendapat julukan mediatika, “Marazola”.</p>
<p>Seperti yang dipertunjukkan dalam semifinal <em>leg</em> pertama melawan Bayern Munchen, Kvaratskhelia benar-benar unjuk kemampuan. Areal operasinya di sektor sayap kiri dengan dribel tak terhentikan mengobrak-abrik pertahanan Bayern Muenchen. Akurasi umpan dan gol presisinya memperlihatkan kelas sebagai pemain dunia.</p>
<p>Di bawah arahan Enrique, Kvaratskhelia makin matang dalam berkontribusi ke tim. Dia mencatat rekor sebagai pemain PSG pertama yang menciptakan gol di empat laga beruntun fase gugur Liga Champions.</p>
<p>Kvaratskhelia membuat satu gol dalam kemenangan PSG 2-0 atas Liverpool di <em>leg</em> pertama perempatfinal Liga Champions, 9 April lalu. Dia menyambar umpan terobosan, melewati bek dan kiper lawan, lalu mengirim bola ke gawang yang kosong. Aksi-aksinya ketika menghancurkan Bayern Muenchen juga memperlihatkan kematangan yang luar biasa.<br />
Dia “mutiara” yang makin menemukan makna dan peran.</p>
<p><strong>Tiga Kali Man of the Match</strong><br />
Kvaratskhelia menjadi pemain pertama PSG yang mencetak empat gol di empat laga beruntun fase gugur Liga Champions. Rinciannya, satu gol ke gawang AS Monaco pada <em>leg</em> kedua <em>playoff</em> babak 16 besar, tiga gol di dua <em>leg</em> 16 besar kontra Chelsea, lalu satu gol ke gawang Liverpool di<em> leg</em> pertama perempatfinal.</p>
<p>Dia meraih trofi <em>Man of the Match</em> dari tiga laga terakhir di Liga Champions. “Pemain sayap yang lincah itu menciptakan beberapa peluang, juga memberikan beberapa kontribusi defensif yang baik,” tulis UEFA Technical Observer Group. Di sepanjang Liga Champions musim ini, Khvicha Kvaratskhelia sudah mengemas total 10 gol dan empat <em>assist</em> dari 12 laga. Artinya, rata-rata setiap satu laga dia menyumbang satu G/A alias gol atau <em>assist</em>.</p>
<p>Dia menjadi andalan PSG sejak kedatangannya di musim dingin 2025 dari Napoli. Sayap kiri 25 tahun itu total sudah mengemas 21 gol dan 16 <em>assist</em> dari 71 laga di seluruh ajang.</p>
<p>Pemain Georgia kelahiran 12 Februari 2000 itu diperkirakan bakal semakin matang bersama Les Parisiens, dan apabila bisa mempertahankan trofi Si Kuping Besar musim ini, bukan tidak mungkin penghargaan individual yang lebih luas bisa dia raih.</p>
<p>Memang ada Harry Kane yang menjadi mesin gol Bayern Muenchen, atau bintang-bintang muda yang bersinar seperti Michael Olise (Bayern), Lamine Yamal (Barcelona), Desire Doue (PSG), atau Ousmane Dembele (PSG) yang juga tetap produktif, namun pemain kelahiran Tbilisi ini benar-benar mengukuhkan peran sebagai pengubah jalannya pertandingan bagi PSG.</p>
<p>Bisakah Khchiva Kvaratskhelia unjuk kehebatan di final liga Champions nanti? Pelatih Arsenal Mikel Arteta pasti telah menyiapkan taktik untuk mereduksi peran eks pemain Rubin Kazan ini. Dan, justru pada momen ini akan muncul pertunjukan menarik: seberapa kreatif Sang Kvaradona mampu mengatasi semua aral dengan kematangannya?</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em><strong> &#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/16/kvaratskhelia-mutiara-yang-makin-menemukan-makna">Kvaratskhelia, Mutiara yang Makin Menemukan Makna</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Arteta, Setelah Sekian Lama&#8230;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/05/09/arteta-setelah-sekian-lama</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 May 2026 10:00:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Budapest]]></category>
		<category><![CDATA[Final Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Meriam London]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Si Kuping Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Sindrom]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=558445</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // setinggi apakah puncak pencapaian Arsenal?/ ukuran Liga Champions?/ atau ukuran Liga Primer?/ jika ukurannya adalah trofi/ bagaimana dengan performa?/ jika ukurannya adalah gelar/ bisa apa Arteta dan pasukannya?// (Sajak “Filosofi Arteta”, 2026) SETELAH begitu lama menatah sejarah, inikah saatnya Arsenal bakal meraih puncak? Atau, Meriam London kembali mengulang kisah kelam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/09/arteta-setelah-sekian-lama">Arteta, Setelah Sekian Lama&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-558453 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/05/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// setinggi apakah puncak pencapaian Arsenal?/ ukuran Liga Champions?/ atau ukuran Liga Primer?/ jika ukurannya adalah trofi/ bagaimana dengan performa?/ jika ukurannya adalah gelar/ bisa apa Arteta dan pasukannya?//</em><br />
<strong>(Sajak “Filosofi Arteta”, 2026)</strong></p>
<p><strong>SETELAH</strong> begitu lama menatah sejarah, inikah saatnya Arsenal bakal meraih puncak?</p>
<p>Atau, Meriam London kembali mengulang kisah kelam 2006, ketika kalah dari Barcelona dalam partai puncak yang digadang-gadang menjadi final ideal di Stade de France, Paris?</p>
<p>Ketika itu, di bawah Arsene Wenger, Arsenal membawakan orkestrasi sepak bola indah, mengalunkan irama rancak nan memesona. Sedangkan Barcelona dalam racikan taktik Frank Rijkaard menjelma sebagai tim dengan impresivitas sepak bola menyerang yang memukau.</p>
<p>Intentitas permainan elok kedua klub membuat final Liga Champions ketika itu betul-betul ditunggu sebagai “final ideal”.</p>
<p>Filosofi permainan Mikel Artela telah mengalahkam racikan strategi Diego Simeone di semifinal dengan agregat 2-1. Kini ditunggu, apakah “Arteta-ball” bisa menuntaskan final Liga Champions melawan Paris St Germain, yang di semifinal lainnya menundukkan Bayern lewat gol rata-rata Muenchen 6-5.</p>
<p><strong>Filosofi Arteta</strong><br />
Apa yang sebenarnya menarik dari permainan Arsenal, sehingga musim ini terjanjikan final yang diperkirakan indah melawan juara bertahan PSG?</p>
<p>Di bawah arahan Luis Enrique, Les Parisiens tampil stabil dan memiliki pilar-pilar hebat di setiap posisi. PSG juga mengetengahkan sepak bola menyerang dan permainan rancak. Duo penyerangnya, Khvicha Kvaratskhelia dan Ousman Dembele menjadi jaminan ketajaman sebagai ancaman bagi pertahanan lawan.</p>
<p>Kvaratskhelia adalah pemain asal Georgia yang menjadi andalan dalam menyusur dan mengacak-acak sayap, sedangkan Dembele peraih Ballon d’Or 2025 merupakan kekuatan lain PSG di sektor sayap dengan dua kaki sama-sama mematikan. Enrique juga masih punya amunisi lain, Desire Doue dan Achraf Hakimi dengan uman-umpan silang efektif.</p>
<p>Lalu di mana sebenarnya kekuatan Arsenal?</p>
<p>Permainan Arsenal terorganisasi dalam dominasi penguasaan bola, yang memberi struktur pertahanan solid dan intensitas. Ketika kehilangan bola, para pemain segera menekan balik lawan dan menghentikan transisi mereka.</p>
<p>Pelatih Liverpool Arne Slot pernah memberi apresiasi kepada Mikel Arteta. Dia memuji kemampuan pria Spanyol ini dalam meracik strategi dan taktik yang sangat fleksibel. Dia melihat bagaimana Arsenal mampu beradaptasi dengan berbagai gaya permainan, baik menyerang maupun bertahan. Hal ini menunjukkan kedalaman taktik dan kemampuan adaptasi yang bagus.</p>
<p>Filosofi sepak bola Mikel Arteta berakar pada dominasi kontrol permainan, keunggulan posisi, dan intensitas tinggi, yang sering dijabarkan melalui taktik berbasis penguasaan bola (<em>possession-based</em>), serangan terstruktur dari lini belakang, <em>pressing</em> ketat, serta perhatian detail pada situasi bola mati &#8212; terutama dari momen tendangan sudut &#8212; untuk mencetak gol. Ketajaman Arsenal antara lain ditopang oleh pendekatan pragmatis, memadukan fleksibilitas taktis dengan disiplin pertahanan.</p>
<p>Dengan melaju ke final Liga Champions, Mikel Arteta meraih capaian baru dalam karier kepelatihannya. Dia bangga menjadi bagian dari Arsenal bersama dengan para pemain dan suporter menciptakan sejarah bagi klub.</p>
<p>“Kami tahu betapa (pencapaian) ini begitu berarti buat semua orang, kami memberikan segalanya, para pemain melakukan pekerjaaan yang luar biasa dan setelah 20 tahun dan untuk kedua kali dalam sejarah, kami kembali lagi ke final Liga Champions,” ucapnya.</p>
<p>Yang juga membuat Arteta gembira adalah kualitas anak asuhnya saat menghadapi Atletico Madrid dengan level permainan yang tinggi. “Kita tahu betapa sulit dan menantang level lawan di semifinal. Atletico, mereka adalah tim yang luar biasa, cara mereka bersaing, solusi yang mereka punya, jawaban atas segala yang Anda coba lakukan, benar-benar luar biasa. Alasan mereka ada di sana, mereka telah melakukan tugas yang besar, dan perbedaannya tipis,” ungkapnya.</p>
<p>Arteta yang sudah menangani Arsenal sejak 2019 pun menanggapi pertanyaan soal kemampuan anak asuhnya bersaing di level Eropa secara bertahap, dari tidak masuk Liga Champions, kemudian memijak Europa League, dan kemudian kembali ke turnamen nomor satu antarklub Eropa, hingga meraih final.</p>
<p>“Itu sangat berat dan sulit, tetapi sekali lagi, kami punya keinginan dan ambisi yang sama untuk klub ini, dan kemudian memang ada sedikit keberuntungan, segala sesuatu harus berjalan sesuai keinginan Anda.”</p>
<p>“Kami telah mencurahkan begitu banyak kerja keras, semangat, dan keyakinan ke dalam hal yang kami lakukan hari ini dan kami mendapat kesempatan untuk menjalani hari yang luar biasa di Budapest dalam beberapa pekan ke depan,” ucap mantan pemain Arsenal itu (<em>cnnidonesia.com</em>, 6 Mei 2026).</p>
<p>Pada sisi lain, Luis Enrique meyakini, PSG sudah lebih kuat, dan hal itu terlihat dari kondisi stabil performa klub asuhannya itu di sepanjang perjalanan menuju final Liga Champions.</p>
<p>Dua pria Spanyol di final Eropa: siapa yang bakal berjaya? Enrique yang mampu mempertahankan gelar, atau Arteta yang mencetak sejarah bagi Arsenal?</p>
<p>Apa pun, ini adalah representasi dari dua wajah filosofi sepak bola yang sama-sama berkarakter impresif. PSG dengan kemenyatuan yang terbentuk cukup panjang, dan Arsenal dengan kolektivitas yang menjadi kekuatan Arteta.</p>
<p><strong>Menatah Sejarah</strong><br />
Arsenal, bagaimanapun telah menjejak satu tahap: ada harapan bakal mengukir sejarah. Selain untuk kali pertama mengangkat trofi Si Kuping Besar, juga memenuhi hasrat menjuarai Liga Primer yang sejak 2004 tak pernah diraih.</p>
<p>Kini, Meriam London juga memupuk mimpi, menjauhi “kutukan”: meredup dan diliputi “sindrom nyaris” di saat-saat menentukan. Termasuk ketika lolos ke final 2006, dan tiga musim mendekat ke juara Liga Primer tetapi akhirnya merasakan pahitnya kegagalan.</p>
<p>Dan, melawan PSG dalam final Eropa di Budapest nanti ini adalah kesempatan untuk membuat sejarah&#8230;</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan<a href="http://Suarabaru.Id"> Suarabaru.Id</a></em><strong> &#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/05/09/arteta-setelah-sekian-lama">Arteta, Setelah Sekian Lama&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Luis Enrique, “Jodoh” Si Tangan Dingin</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/06/07/luis-enrique-jodoh-si-tangan-dingin</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2025 10:00:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Ligan Champions]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Treble Winner]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=478173</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // percayalah/ pelatih berjalan dalam takdir/ chemistry dan jodoh/ ia bisa menemukan cahaya/ bisa pula masuk ke kegelapan&#8230;// (Sajak “Jodoh Sang Pelatih”, 2025) BARU saja sepak bola memanggungkan rupa-rupa wajah. Dari kesuksesan, torehan rekor, sejarah baru, hingga pilihan jalan, dan muram keterpurukan. Kita menemukannya dari para pelatih yang selama satu musim [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/07/luis-enrique-jodoh-si-tangan-dingin">Luis Enrique, “Jodoh” Si Tangan Dingin</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-478175 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/06/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/06/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/06/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/06/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// percayalah/ pelatih berjalan dalam takdir/ chemistry dan jodoh/ ia bisa menemukan cahaya/ bisa pula masuk ke kegelapan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Jodoh Sang Pelatih”, 2025)</strong></p>
<p><strong>BARU</strong> saja sepak bola memanggungkan rupa-rupa wajah. Dari kesuksesan, torehan rekor, sejarah baru, hingga pilihan jalan, dan muram keterpurukan. Kita menemukannya dari para pelatih yang selama satu musim bergelut dengan tim masing-masing di sejumlah liga.</p>
<p>Akhir pekan kemarin, Luis Enrique mengukir sejarah baru. Dia menjadi pelatih kedua dalam sejarah yang mampu mengantar tim meraih <em>treble</em> di dua liga yang berbeda, setelah Pep Guardiola. Kedua pelatih yang sama-sama berasal dari Spanyol itu menampilkan kisah sukses dari klub yang sama, Barcelona, lalu melengkapinya di liga yang berbeda. Pep di Liga Primer, dan Enrique di Ligue 1.</p>
<p>Setelah mengantar Barcelona meraih tiga gelar (La liga, Copa del Rey, dan Liga Champions) pada musim 2008-2009, Pep mempersembahkan <em>treble</em> untuk Manchester City pada 2022-2023. Raihan itu disamai oleh Enrique, yang setelah mengantar Barca membukukan tiga gelar pada 2014-2015 kini meraihnya bersama Paris St Germain.</p>
<p>PSG meraih <em>treble</em> setelah mengangat trofi Si Kuping Besar di Stadion Allianz Arena, Munich, dengan mengalahkan Internazionale Milan 5-0, skor terbesar dalam sejarah final Liga Champions.</p>
<p>Enrique benar-benar “berjodoh” dengan Les Parisiens. Pendekatan filosofis, implementasi taktik, dan cara mengelola pemain muda memberikan dampak nyata bagi kolektivitas bermain PSG. Sejumlah tim dengan pengalaman lebih kuat bisa disisihkan dalam perjalanan meraih juara.</p>
<p><strong>Paradoks Nasib</strong><br />
Ya, selain jejak sukses Pep dan Enrique, jalan pelatih bisa disimak dari kisah Antonio Conte dan Ruben Amorim. Nasib memberi sebuah paradoks ekstrem: satu dengan trofi dalam genggaman, satu lagi dengan akhir yang muram.</p>
<p>Dua pekan silam, Conte mengantar Napoli meraih <em>scudetto</em> Liga Seri A, sedangkan Amorim mengarungi musim dengan realitas keterbenaman Manchester United. Klub sarat prestasi di Liga Primer dan Eropa ini, untungnya, masih selamat dari petaka degradasi, walaupun mengakhiri musim dengan hasil terburuk sepanjang sejarah.</p>
<p>Sejak direkrut pada 11 November 2024, Amorim 41 kali memimpin MU. Di Liga Primer dia mencatat 16 kali menang, 8 kali seri, dan 17 kali kalah, walaupun kiprahnya di Liga Europa termasuk mentereng. MU delapan kali menang, dua kali seri, dan sekali kalah (di laga final).</p>
<p>Sementara itu, dengan membawa Napoli meraih trofi, Antonio Conte menambah deret prestasi. Napoli menjadi klub ketiga yang dia antar meraih <em>scudetto</em>, setelah Juventus dan Internazionale Milan. Napoli memastikan juara musim 2024-2025 setelah mengalahkan Cagliari 2-0 di Stadio Diego Armando Maradona pada Sabtu 24 Mei 2025. Partenopei mengumpulkan 82 poin, unggul satu angka dari Inter Milan di urutan kedua.</p>
<p><strong>Tangan Dingin</strong><br />
Sepak bola juga mencatat tangan dingin Arend Martijn “Arne” Slot, pelatih asal Belanda yang menggantikan Juergen Klopp sebagai arsitek Liverpool. Pada musim pertamanya, Slot mengantar Liverpool menjuarai Liga Primer 2024-2025, mengulang capaian Klopp pada 2019-2020.</p>
<p>Slot yang pernah mengantar Feyenoord juara Eredivisie 2022-2023 dan meraih Piala KNVB 2023-2024 semula tak terlalu diperhitungkan bisa meneruskan jejak Klopp yang memberi delapan trofi untuk The Reds. Kini, Slot tertantang untuk mengejar raihan pendahulunya yang mempersembahkan gelar Liga Champions dan Piala Dunia Antarklub.</p>
<p>Sementara itu, Antonio Conte bisa menenemukan <em>chemistry</em> cepat bersama Napoli. Dia tak butuh waktu lama untuk meracik taktik untuk klub yang pada musim 2023-2024 hanya menempati urutan ke-10 klasemen. Dia mengonstruksi orkestrasi permainan Napoli dengan rekrutan fungsional. Romelu Lukaku dan Scott McTominay menjadi kunci keyakinan formasi permainan dalam setiap laga.</p>
<p>Pria kelahiran Lecce itu baru direkrut pada awal musim. Dia sempat tak melatih, setelah musim sebelumnya menukangi Tottenham Hotspur. Presiden Napoli, Aurelio de Laurentiis mengambil langkah tepat memilih Conte.</p>
<p>Sebelumnya, pelatih ekspresionis itu mengantar Juventus tiga kali menjuarai Liga Seri A pada 2011-2012, 2012-2013, dan 2013-2014. Lalu pada 2020-2021 mengarsiteki Internazionale Milan meraih juara.</p>
<p>Dia tercatat sebagai satu-satunya pelatih yang mampu mengantar tiga klub berbeda menjadi juara. Total dia telah 10 kali merasakan <em>scudetto</em>. Lima kali saat menjadi pemain, dan lima kali sebagai pelatih. Dia pernah menjadi <em>allenatore</em> Italia pada 2014-2016, dengan membawa <em>Gli Azzurri</em> lolos ke perempatfinal sebelum dikalahkan Jerman lewat adu penalti.</p>
<p>Pada musim 2016-2017, ketika memulai petualangan di Liga Primer, Conte mengantar Chelsea menjadi juara Liga Primer, namun dia gagal pada periode berikut. Lalu selama dua musim, 2021-2023, dia tidak berhasil membawa Tottenham Hotspur bersaing di level atas.</p>
<p><strong>“Jodoh”</strong><br />
Dan, bukankah Anda merasakan, terkadang pelatih dan klub yang ditangani bergerak seperti ikhtiar merakit jodoh? Sehebat apa pun reputasi seorang pelatih, acapkali tidak cocok dengan klub tertentu. Didatangkan dengan harapan tinggi, ternyata dia menemui kegagalan, tak mampu menjadi jawaban untuk meningkatkan performa tim.</p>
<p>Anda tentu menyimak Manchester United. Sejak Alex Ferguson pensiun, berapa nama yang datang silih berganti di Old Trafford?</p>
<p>Dari David Moyes, Ryan Giggs (karteker), Jose Mourinho, Louis van Gaal, Ole Gunnar Solskjaer, Michael Carrick (karketer), Ralf Rangnick, Erik Ten Hag, Ruud van Nistelrooy (karteker), hingga kini Ruben Amorim. Tak satu pun yang memberi hasil sesuai reputasi MU.</p>
<p>Artinya, MU belum “berjodoh” dengan Amorim. <em>Chemistry</em>, yang disimbolkan dengan racikan taktik dari filosofi yang diyakini Amorim, belum bisa disatukan dengan “pikiran” dan “tindakan” tim. Dan, inikah jalan takdir yang membedakan dari Arne Slot di Liverpool dan Antonio Conte bersama Napoli?</p>
<p>Kemenyatuan pelatih dengan klub tak jarang juga ditentukan oleh waktu. Manajemen klub sering secepat itu memecat pelatih ketika dia masih berikhtiar menerapkan filosofi. Bukankah, pelatih sekaliber Alex Ferguson pun butuh waktu lama: dari tahun 1986 sejak dia direkrut, baru pada 1990 MU meraih trofi juara Piala FA? Kita juga mencatat Arsene Wenger yang menukangi Arsenal dari 1996 hingga 2018.</p>
<p>Pep Guardiola, sejak direkrut pada 2016 oleh Manchester City, sudah tujuh tahun di markas Etihad. Atau Gian Piero Gasperini, dari 2016 sampai sekarang masih menangani Atalanta dan membawa klub ke percaturan elite Liga Seri A. Disebut-sebut, musim depan Gasperini bakal berlabuh di AS Roma.</p>
<p>Juergen Klopp, yang datang ke Anfield pada 2015, memutuskan berhenti dari Liverpool pada 2024. Christian Streich juga mencatat waktu cukup lama, 11 tahun untuk melatih Freiburg, sama dengan Diego Simeone yang lebih dari 11 tahun identik dengan Atletico Madrid.</p>
<p>Yang lebih lama adalah Frank Schmidt, arsitek FC Heidenheim selama 16 tahun. Pelatih 46 tahun itu mulai menangani tim pada 17 September 2007. Saat ini, dia tercatat sebagai pelatih terlama yang menangani tim di liga kelas atas Eropa.</p>
<p>“Rekatan kimiawi” dari lama waktu bersama tim akan menjadi salah satu kunci, seperti antitesis kecenderungan main pecat manajemen tim terhadap pelatih yang dianggap gagal. Antitesis inilah yang boleh jadi akan menyatukan “perjodohan” seorang pelatih dengan sebuah klub.</p>
<p>Transformasi filosofi ke taktik tim akan melahirkan karakter dalam performa permainan, seperti yang bisa dilihat dari karakter The Citizens dalam racikan Pep Guardiola, Atletico Madrid dengan Diego Simeone, dan pernah terasa dari penampilan Arsenal sebagai gaya Arsene Wenger, atau MU dengan Alex Ferguson.</p>
<p>Maka akan ada saat, permainan Napoli diidentikkan dengan karakter Antonio Conte, dan saat itulah orang berhak menilai, Conte “berjodoh” dengan Partenopei, atau Conte memang punya <em>chemistry</em> dengan Napoli. Sama dengan PSG, menemukan rekatan “jwa” dengan Luis Enrique yang membawa mereka ke percaturan elite Eropa&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/07/luis-enrique-jodoh-si-tangan-dingin">Luis Enrique, “Jodoh” Si Tangan Dingin</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Filosofi “Pemberani” ala Pochettino Menuju “Standar Chelsea”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/07/22/filosofi-pemberani-ala-pochettino-menuju-standar-chelsea</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jul 2023 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[harry-kane]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Mauricio Pochettino]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=353441</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // usung dan hadirkanlah keberanian/ untuk sebuah perubahan/ raihlah cahaya/ yang dulu kalian pancarkan/ ke seantero liga dan Eropa// (Sajak &#8220;Standar Chelsea&#8221;, 2023) &#8220;SELALU, jadilah pemberani. Saya suka menjadi seorang pemberani. Dari mana saya mendapatkan gagasan bahwa kita harus menekan? Ini tentang kepribadian Anda, jatidiri di lapangan. Jika Anda pemberani dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/22/filosofi-pemberani-ala-pochettino-menuju-standar-chelsea">Filosofi “Pemberani” ala Pochettino Menuju “Standar Chelsea”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-353443 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/07/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/07/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/07/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// usung dan hadirkanlah keberanian/ untuk sebuah perubahan/ raihlah cahaya/ yang dulu kalian pancarkan/ ke seantero liga dan Eropa//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Standar Chelsea&#8221;, 2023)</strong></p>
<p>&#8220;<strong>SELALU</strong>, jadilah pemberani. Saya suka menjadi seorang pemberani. Dari mana saya mendapatkan gagasan bahwa kita harus menekan? Ini tentang kepribadian Anda, jatidiri di lapangan. Jika Anda pemberani dalam hidup, tidak mungkin Anda berperilaku berbeda di lapangan&#8230;”</p>
<p>Filosofi Mauricio Pochettino itu, yang dicatat oleh <em>Wikipedia</em>, tercermin dalam impresivitas gaya bermain Tottenham Hotspur era 2014-2019, melekat sebagai standar klub London Utara itu.</p>
<p>Cepat, ofensif, dengan “sinar” yang identik memusat pada dua penggawanya, sang kapten hebat Harry Kane dan gelandang serang berkualitas elite, Son Heung-min.</p>
<p>Dari semua aspek, kepemimpinan Pochettino menghadirkan Tottenham Hotspur yang menakutkan. Hanya satu kekurangannya: The Lilywhites belum menghasilkan trofi liga. Pencapaian puncaknya adalah Liga Champions saat kalah dari Liverpool dalam All Premier League Final 2019, dan urutan kedua klasemen Liga Primer 2017.</p>
<p>Walaupun memberi gelar juara Ligue 1 dan Piala Prancis, Poch gagal mengusung “standar Spurs” itu di Paris St Germain dalam kebersamaan yang hanya semusim pada 2022.</p>
<p>Spirit klub yang berbeda dalam daya kompetisi tidak pas untuk transformasi kultur pemberani Poch yang penuh jiwa petualangan eksperimental. PSG yang mengandalkan kekuatan finansial dalam perekrutan pemain, berbeda dalam karakter mengarungi tekanan tantangan kompetisi.</p>
<p><strong>Pemulihan Standar</strong><br />
Nah, apakah Chelsea bakal menjadi pelabuhan yang tepat bagi pria Argentina kelahiran 1972 itu?</p>
<p>The Blues sarat prestasi liga di era Jose Mourinho (2004-2007), Carlo Ancelotti (2016), dan Antonio Conte (2017), membendaharakan trofi Liga Champions lewat karteker Roberto Di Matteo pada 2012, dan Thomas Tuchels 2021, juga menjuarai Liga Europa di tangan Rafael Benitez 2015 dan Maurizio Sarri 2019. Jejak cemerlang itu berbeda dari Tottenham Hotspur yang kering gelar.</p>
<p>Chelsea tidak berperforma seimpresif Spurs, namun klub ini adalah “entitas dengan otot kuat”, dengan karakter dan kultur pemenangan yang dibangun oleh Mourinho sejak 2004. Kultur itu berpadu dengan semangat ambisius investasi Roman Abramovic, yang menghasilkan stuktur tim dengan fondasi bintang-bintang dunia.</p>
<p>Poch datang ke Stamford Bridge ketika Chelsea sedang mengalami kesenjangan dengan masa lalu. Musim 2022-2023 bagai menghapus semua elemen kekuatan yang melekat di klub tersebut. Nyaris tak terlihat sisa-sisa tradisi dan keunggulan.</p>
<p>Kepemilikan klub beralih ke Todd Boehly, sedangkan pelatih Frank Lampard gagal memulihkan arah menuju standar Chelsea. Sederet pemain berkaliber elite &#8212; dalam stok menumpuk &#8212; tak terorkestrasi sebagai kekuatan yang semestinya.</p>
<p>Chelsea betul-betul jadi medioker justru ketika Arsenal dan Manchester United &#8212; dua klub dengan problem pemulihan serupa &#8212; mulai “menemukan bentuk” dan “arah”.</p>
<p>Pochettino hadir dengan kesadaran tuntutan meluruskan kembali standar sebelumnya, ketika konstelasi kekuatan di Liga Primer juga bergerak dinamis.</p>
<p>Manchester City makin menegaskan keberadaan sebagai kekuatan utama Liga Primer dan Eropa. MU mulai meggeliat di bawah Erik ten Hag, sedangkan Arsenal tinggal mengelola konsistensi dalam sentuhan impresif Mikael Arteta. Liverpool juga sedang menyusun kembali puzzle kekuatan yang tampak kacau pada musim lalu.</p>
<p>Satu lagi, Newcastle United yang di-<em>back up</em> dana besar dari Pangeran Mohamed bin Salman lewat Public Investment Fund menunjukkan penyegaran yang tampaknya bakal diikuti transfer-transfer penting. Belum lagi klub-klub yang semula tak terlalu diperhitungkan seperti Brighton and Hove Albion juga mengetengahkan impresivitas yang mencengangkan.</p>
<p><strong>Sentuhan Poch</strong><br />
Bayangkanlah, bagaimana nanti Mauricio Pochettino memberi sentuhan dan mentransformasikannya kepada Chelsea?</p>
<p>Cukupkah materi pemain yang tersisa membantu Poch menyusun puzzle standar Chelsea? Atau dia akan menyegarkannya dengan skuad yang betul-betul baru?</p>
<p>Chelsea telah menjual sejumlah pemain utama seperti Kai Havertz, N’Golo Kante, Kalidou Koulibaly, Ruben Loftus Cheek, Mason Mount, Christian Pulisic, Mateo Kovacic, dan Edouard Mendy. Mereka berperan ketika meraih Liga Champions 2021.</p>
<p>Beberapa pemain muda yang diperkirakan bersinar pada musim kemarin, gagal mengangkat standar performa klub. Dari Mykhailo Mudrick, Enzo Fernandes, hingga Noni Madueke. Dan, kini The Blues mendatangkan striker berpaspor Prancis dari RB Leipzig, Christoper Nkunku.</p>
<p>Legenda Chelsea yang kurang bersinar sebagai pelatih, Frank Lampard, memperkirakan masa depan terang bagi The Blues di bawah Pochettino.</p>
<p>Di tengah gebyar renovasi klub-klub Liga Primer musim 2023-2024, kiprah Chelsea berpayung “filosofi sang pemberani” menumbuhkan rasa penasaran baru. Apabila klub ini bangkit, dipastikan rivalitas Liga Primer bakal makin memanas.</p>
<p>Ya, kira-kira seimpresif apa sepak terjang Enzo Fernandes dkk di panggung panas Liga Primer?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/22/filosofi-pemberani-ala-pochettino-menuju-standar-chelsea">Filosofi “Pemberani” ala Pochettino Menuju “Standar Chelsea”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Camp Nou Memuncaki Dongeng Lionel Messi?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/05/13/mungkinkah-camp-nou-memuncaki-dongeng-lionel-messi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 May 2023 10:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Ballon d'Or]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Camp Nou]]></category>
		<category><![CDATA[Les Parisiens]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[MLS]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Greatest of All Times]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=336751</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // inikah saat dia kembali ke habitat sejati?/ sejauh dia pergi/ jalan sejarah akan menuntun/ ke dongeng abadi&#8230;// (Sajak “Dongeng Leo Messi”, 2023) PERTAUTAN Lionel Messi dengan Barcelona adalah dongeng tentang gravitasi hati berkekuatan spiritual telepati. Kemungkinan klimaks kembalinya La Pulga ke Camp Nou memang masih menunggu apa yang akan terjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/05/13/mungkinkah-camp-nou-memuncaki-dongeng-lionel-messi">Mungkinkah Camp Nou Memuncaki Dongeng Lionel Messi?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-336760 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// inikah saat dia kembali ke habitat sejati?/ sejauh dia pergi/ jalan sejarah akan menuntun/ ke dongeng abadi&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Dongeng Leo Messi”, 2023)</strong></p>
<p><strong>PERTAUTAN</strong> Lionel Messi dengan Barcelona adalah dongeng tentang gravitasi hati berkekuatan spiritual telepati.</p>
<p>Kemungkinan klimaks kembalinya La Pulga ke Camp Nou memang masih menunggu apa yang akan terjadi di pengujung perikatan dengan Paris St Germain, 30 Juni nanti, namun gambaran tidak adanya sinyal perpanjangan kontrak dengan Les Parisiens adalah kata lain keniscayaan “Messi bersiap balik ke habitat”. Dalam perkembangan terakhir, friksi dengan manajemen Les Parisiens atas “pembangkangan” sang pemain terhadap larangan pergi ke Arab Saudi sebagai Duta Wisata memicu disharmoni tersendiri.</p>
<p>Ketika dua musim lalu dia (terpaksa) meninggalkan Catalunya sebagai konsekuensi penataan struktur gaji Barcelona, banyak yang menyayangkan apabila peraih tujuh Ballon d’Or itu menutup karier di luar Barcelona.</p>
<p>Bukankah sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan pemuncakan karier Messi tak lepas dari perjalanan Blaugrana? Sebaliknya, kemonceran cahaya Barca juga tak terpisahkan dari kontribusi hebat Leo Messi.</p>
<p>Itulah realitas intrinsik kekuatan gravitasi yang saling mengikat. Telepati dan “spiritualitas” kosmis tampaknya menyatukan rasa dua entitas itu.</p>
<p>Dalam ungkapan narasi respek, Messi belum tentu sedahsyat sekarang andai tidak melewati proses pembentukan diri di La Masia dan Barca. Sebaliknya, sejarah klub tersebut dari 2006 hingga 2014 pun bisa jadi tidak semoncer itu tanpa keberadaan Messi.</p>
<p>Logika profesional dalam industri sepak bola akan mengabaikan nilai-nilai “rasa”: seorang pemain memilih pindah ke klub mana pun, lalu kapan mengakhiri karier dan di mana. Di balik itu, ada kosmologi <em>chemistry</em> yang tak mudah diabaikan, ketika daya hidup industrial berkembang dengan nilai-nilai respek.</p>
<p>Pun, bukankah budaya pop akan memosisikan estetika nilai dari relasi manusia dengan ekosistemnya? “Ceruk” itu menjadi bagian eksploratif dalam magnet mediatika.</p>
<p>Begitu pun kisah besar relasi Leo Messi dengan Barcelona, yang sarat dengan elemen-elemen ceruk industrial.</p>
<p><strong>Penahbisan GOAT</strong><br />
“Penahbisan” Messi sebagai The Greatest of All Times (GOAT) menemukan momen justru ketika dia berstatus sebagai pemain Paris St Germain. Dia meraih pengakuan yang sejatinya bernilai mediatik itu ketika mengantar Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar.</p>
<p>Dengan level kebugaran yang sudah berbeda karena faktor usia, Messi mengemas performa dengan kelebihan lain, sebagai “pusat pelayanan” berupa <em>assist</em> dan pengaruh terhadap ritme dan konfidensi para pemain yang mengelilinginya, baik di PSG maupun di tim nasional Albiceleste.</p>
<p>Raihan gelar puncak di Qatar pun mengakhiri spekulasi panjang tentang siapa yang lebih baik: dia atau mendiang Diego Maradona? Juga tuntas menjawab perdebatan yang bagai tak berujung tentang siapa lebih jago: Messi, atau Cristiano Ronaldo?</p>
<p>PSG ikut “menikmati” sukses Messi di Qatar, walaupun Barcelona-lah yang realitasnya membubungkan nama La Pulga.</p>
<p>Sejak momen indah Qatar 2022 itu, menjelang berakhirnya kontrak, muncul empat opini spekulasi tentang masa depan Messi. Akankah dia bertahan di Parc des Princes? Bertualang ke MLS untuk relaksasi menjelang pensiun? Memenuhi pinangan Al Hilal di Liga Pro Saudi dengan gaji selangit? Atau kembali ke Camp Nou dengan segala konsekuensinya?</p>
<p>Spekulasi terakhir itu sempat gencar diwartakan bakal berlangsung. Dan, pastilah Barcelonistas lebih menyukai pilihan tersebut, meskipun tak semudah itu prosesnya. Messi harus bersedia menerima gaji jauh lebih rendah dari yang dulu dia terima. Penyesuaian itu terkait dengan kondisi finansial Barca dan keseimbangan gaji pemain yang harus sesuai ketentuan La Liga dan UEFA.</p>
<p>Messi juga harus siap tidak lagi menjadi “pemimpin”, karena ban kapten sudah melilit di lengan Sergio Busquets dengan wakil Jordi Alba.</p>
<p>Lalu apakah Messi tak tergiur tawaran spektakuler Al Hilal? Di ujung karier Messi bisa meraup gaji Rp 6,5 triliun per musim sebagai rekor bayaran; namun menurut info terbaru, istri Messi &#8212; Antonella Rocuzzo &#8212; tidak bersedia tinggal di Saudi.</p>
<p><strong>Kisah Tiki-Taka</strong><br />
Di luar spekulasi-spekulasi itu, kembali ke Barcelona adalah keniscayaan yang bagai dongeng impian. Memang ada konsekuensi-konsekuensi manajerial dan tim yang harus dihadapi Leo Messi, juga Barcelona, bagaimanapun dongeng salah satu pemain terhebat dalam sejarah itu tak lepas dari kisah tim seelok Barca dengan permainan <em>tiki-taka</em>-nya.</p>
<p>Pelatih Pep Guardiola seolah-olah menciptakan taktik bermain yang “menyentral” untuk dan dari Messi. Semua bermain untuk Messi, sekaligus menjadikan Messi sebagai pusat gravitasi yang menghidupkan permainan Barca. Artinya, Messi juga bekerja untuk semua.</p>
<p>Dengan rekor gol, <em>assist</em>, dan aksi-aksi eksepsional, Leo Messi ibarat sosok “lakon” dalam dongeng indah tentang Barcelona. Dalam penghayatan kosmis, telepati itu membentuk “kolaborasi spiritual” yang entah kapan bisa terulang dalam sejarah hidup sebuah klub dengan ikon abadi seorang pemain.</p>
<p>Kita sama-sama menanti Lionel Andres Messi kembali ke habitat sejati. Usianya sudah 35 &#8212; senjakala bagi pemain bola &#8211;, namun cahaya karisma, nalar <em>skill</em>, tanggung jawab, dan eksistensi sebagai pemimpin dan pembeda masih akan menoreh warna yang tak sembarang bintang mampu memberikan&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/05/13/mungkinkah-camp-nou-memuncaki-dongeng-lionel-messi">Mungkinkah Camp Nou Memuncaki Dongeng Lionel Messi?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kegembiraan Messi, Penikmatan Messi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/09/24/kegembiraan-messi-penikmatan-messi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Sep 2022 10:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Christope Galtier]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Neymar]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=280510</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sebagian dari sepak bola adalah kegembiraan/ ekspresi jiwa-jiwa yang nyaman/ sepak bola bukan pembawa beban/ ruang yang menyuntuki kehidupan&#8230;// (Sajak “Kegembiraan Sepak Bola”, 2022) BEGITULAH ketika seorang seniman sepak bola merasa sudah menemukan habitatnya. Ia hidup, dan bermain dalam atmosfer kenyamanan, kegembiraan; dan ujungnya: penikmatan. Anda tentu menandai untuk siapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/24/kegembiraan-messi-penikmatan-messi">Kegembiraan Messi, Penikmatan Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-280511 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-3-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-3.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// sebagian dari sepak bola adalah kegembiraan/ ekspresi jiwa-jiwa yang nyaman/ sepak bola bukan pembawa beban/ ruang yang menyuntuki kehidupan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Kegembiraan Sepak Bola”, 2022)</strong></p>
<p><strong>BEGITULAH</strong> ketika seorang seniman sepak bola merasa sudah menemukan habitatnya. Ia hidup, dan bermain dalam atmosfer kenyamanan, kegembiraan; dan ujungnya: penikmatan.</p>
<p>Anda tentu menandai untuk siapa narasi itu. Lionel Andres Messi.</p>
<p>Ya, semula banyak yang menganalisis, Messi hanya bisa “tune in” di klub abadinya, Barcelona.</p>
<p>Pada musim pertama di Paris St Germain, Messi terlihat “kagok”, kurang nyetel dengan dua jagoan yang sudah terlebih dahulu berumah di sana: Kylian Mbappe dan Neymar Junior. Jarang terlihat aksi-aksi sirkusnya, minim kontribusi gol, dan mampat produktivitas tendangan bebas yang menjadi salah satu <em>trade mark</em>-nya.</p>
<p>Hanya beberapa umpan kunci untuk melayani Mbappe dan Neymar, yang menandai statusnya sebagai mahahintang dengan tujuh trofi Ballon d’Or. Tak sedikit yang menyebut, masa emas La Pulga sudah berlalu, dan ia hanya mampu memperlihatkan sisa-sisa seperti halnya Cristiano Ronaldo.</p>
<p>Waktu bergulir, realitas yang ditunggu pun hadir: ketika para bintang sudah berancang-ancang tampil di Piala Dunia Qatar, November nanti, Leo Messi bergerak dalam tren naik yang signifikan.</p>
<p>Gol-gol penting mulai dibendaharakan. Umpan-umpan kunci mengalir. Performanya makin menonjol sebagai dirigen PSG yang “nyeni”, matang, dan karismatis.</p>
<p><strong>Sentuhan Galtier</strong><br />
Rupanya, pelatih Christope Galtier mampu menyentuh dan mengeksplorasi urat kegembiraan Messi.</p>
<p>Di era Mauricio Pochettino, ketika Si Kutu masih beradaptasi dengan kondisi yang serbabaru di Les Parisiens, elemen-elemen kehebatannya terasa belum tuntas terungkap. Bahkan nyaris tak terlihat.</p>
<p>Kini, cobalah simak kembali performa kapten tim nasional Argentina itu ketika PSG berhadapan dengan Lyon, akhir pekan lalu. Anda tentu melihat Leo Messi yang “semeriah” pada puncak kejayaannya di Barcelona. Dia betul-betul kembali “gacor”.</p>
<p>Dribel ajaibnya muncul lagi, mengacak-acak pertahanan Lyon. Visi <em>positioning</em>-nya menonjol. Umpan-umpannya cerdik “membaca ruang”. Pun tembakan-tembakan <em>placing</em> ke gawang lawan. Bahkan <em>free kick</em>-nya yang bagai punya mata juga muncul.</p>
<p>Inilah Messi yang sesungguhnya. Sang “alien”, yang seperti catatan legenda Belanda Marco van Basten, hanya “dianugerahkan” untuk hadir kepada kita dalam 50 atau 100 tahun sekali.</p>
<p>Performa brilian itu dilalui Messi dalam beberapa laga terakhir PSG, baik di Ligue 1 maupun Liga Champions ketika menundukkan Juventus dan Maccabi Haifa.</p>
<p>Faktor pelatih Galtier-kah? Karena <em>chemistry</em> yang kini makin terasa bersama Mbappe dan Neymar? Lantaran telah betul-betul “move on” dari Barcelona? Atau termotivasi Piala Dunia 2022 yang semakin dekat?</p>
<p>Saya ingat bagaimana analisis legenda Manchester United, Eric Cantona kira-kira 15 tahun lalu tentang Messi, “Biarkan dia bersenang-senang, seperti anak-anak yang bermain, maka semua kehebatannya akan muncul”.</p>
<p>Frank Rijkaard dan Pep Guardiola merupakan sosok yang paham bagaimana memberi atmosfer kegembiraan kepada Messi. Demikian pula Luis Enrique. Dan, di antara deret pelatih lainnya di Barca hingga Pochettino di PSG, aura “happy football” Messi itu baru muncul lagi di penggal awal kepemimpinan Galtier.</p>
<p>Yang kini menonjol dari permainannya adalah kematangan dan penikmatan bermain. PSG pun benar-benar menemukan sosok yang mereka semati predikat GOAT, Greatest of All Times.</p>
<p><strong>Qatar 2022</strong><br />
Hal terfokus yang kini ditunggu sepak bola dunia adalah penampilan Messi bersama Albiceleste di Qatar 2022. Sihir apa yang bakal dia berikan?</p>
<p>Dunia menanti kegembiraan Leo Messi dalam ekspresi orkestrasi Tim Tango yang diracik Lionel Scolani.</p>
<p>Ketika rival abadinya, Cristiano Ronaldo mulai memperlihatkan tren pemudaran bersama MU, dan Messi justru mengalami buncah ekspresionalnya yang luar biasa, apa yang kira-kira bakal dia sajikan di ajang yang disebut-sebut sebagai Piala Dunia terakhirnya?</p>
<p>Dan, sekadar saran dari saya untuk para pembaca: cobalah Anda meluangkan waktu untuk menyimak performa PSG dengan jenderal yang tampak makin matang: nikmati <em>show</em> dribel atraktif, umpan-umpan presisi, keanggunan kepemimpinan sang jenderal, pun <em>free kick</em> yang bagai di-<em>remote control</em>.</p>
<p>Satu sisi lainnya, kematangan Messi dilengkapi dengan sikap dewasa “ngemong” egoisitas Kylian Mbappe yang tak jarang mengecewakan rekan duetnya yang lebih senior, Neymar Junior.</p>
<p>Leo, Leo, Leo! Messi, Messi, Messi&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah &#8212;</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/24/kegembiraan-messi-penikmatan-messi">Kegembiraan Messi, Penikmatan Messi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Pangeran Merasa Raja</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/08/27/ketika-pangeran-merasa-raja</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2022 10:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Kylian Mbappe]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Neymar]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Wayne Rooney]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=273794</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // betapa kasihan dia yang tak paham/ tentang sindrom kebesaran/ dia rasa dia raja/ dia rasa paling perkasa/ betapa mengibakan/ dia bersombong sendirian/ di luas lapangan&#8230;// (Sajak “Sindrom Bintang”, 2022) SYAHDAN, sebuah kerajaan bernama Paris St Germain&#8230; Negeri itu dipimpin seorang raja. Lionel Messi namanya, dengan Mahapatih bernama Neymar Junior. Sang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/08/27/ketika-pangeran-merasa-raja">Ketika Pangeran Merasa Raja</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-273807 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/BOLA-BOLA-LOGO-3-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/08/BOLA-BOLA-LOGO-3.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// betapa kasihan dia yang tak paham/ tentang sindrom kebesaran/ dia rasa dia raja/ dia rasa paling perkasa/ betapa mengibakan/ dia bersombong sendirian/ di luas lapangan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Sindrom Bintang”, 2022)</strong></p>
<p><strong>SYAHDAN</strong>, sebuah kerajaan bernama Paris St Germain&#8230;</p>
<p>Negeri itu dipimpin seorang raja. Lionel Messi namanya, dengan Mahapatih bernama Neymar Junior. Sang Putra Mahkota, Kylian Mbappe banyak berinisiatif mengambil peran operasional pemerintahan.</p>
<p>Sebagai calon raja yang digadang-gadang meneruskan Sang Maharaja, Pangeran Mbappe sering tidak bisa mengendapkan ambisinya. Seakan-akan mencegah Raja dan Mahapatih memperlihatkan karisma. Dia mendikte rakyat agar lebih mendengar apa pun yang dia titahkan.</p>
<p>Raja Leo Messi mahfum, namun tetap berusaha melayani Putra Mahkota. Wibawanya tak sedikit pun tergoyahkan.</p>
<p>Demikian pula, Patih Neymar cukup sabar meladeni, meskipun sebenarnya dia pun berkarakter temperamental. Faktanya, kemampuan olah teknis Mahapatih tak di bawah Sang Pangeran. Dan, itulah yang menciptakan kesan, Kerajaan Les Parisien punya tiga matahari.</p>
<p>Belakangan, luap ambisi Putra Mahkota Mbappe banyak disorot. Ketika untuk kali kesekian berusaha mereduksi peran Mahapatih Neymar dan Maharaja Leo Messi, seorang penggawa kerajaan, Sergio Ramos terang-terangan unjuk perlawanan.</p>
<p>Diam-diam, Pangeran pun mulai tidak disukai para prajurit kerajaan. Sikap “kenegarawanan” Messi dan Neymar tampak dalam kondisi seperti ini. Keduanya tetap berusaha menyatukan harmoni tim. Sampai pada sebuah titik, dalam peperangan melawan Kerajaan Lille, pekan lalu, kematangan Sang Raja akhirnya berhasil melumerkan kecongkakan Pangeran Mbappe. Pangeran berperan, Mahapatih juga unjuk kontribusi.</p>
<p><strong>Sindrom Kebesaran</strong><br />
Ada apa sebenarnya dengan Putra Mahkota? Tidak sadarkah dia telah menyulut api disharmoni?</p>
<p>Jangan-jangan, Pangeran Mbappe punya kompleks kejiwaan sebagai sosok yang merasa paling hebat di lingkungannya?</p>
<p>Tak cukup bersabarkah dia menunggu saat menjadi raja?</p>
<p>Entah pula lantaran kedengkian kepada Messi dan Neymar, dia sempat menyulut respons negatif dengan menyebut kualitas sepak bola Amerika Latin di bawah Eropa. Empat Piala Dunia terakhir, katanya, dikuasai tim-tim Eropa.</p>
<p>Dia sering disebut sebagai “CEO bayangan” yang berhak menentukan kebijakan rekrutmen pemain di PSG: siapa yang didatangkan harus atas anggukan kepalanya.</p>
<p>Terlepas dari kenyataan Messi dan Neymar punya lebih punya orbit bintang, Mbappe merasa lebih berkuasa untuk menjadi pusat, pada masa sekarang dan masa depan Les Parisiens.</p>
<p>Maka mengapa dia bertarik ulur dalam rencana kepindahan ke Real Madrid pada musim lalu, sebagian terjawab karena ingin tetap punya kekuasaan di PSG, yang di Madrid dia takkan bisa berperilaku seperti itu.</p>
<p>Bersikap buruk terhadap Neymar dan berperilaku tidak hormat kepada Messi adalah kesalahan fatal. Takkan berguna dia berkonfrontasi dengan kedua senior itu hanya untuk mendapat pengakuan sebagai “real king” di Parc des Princes.</p>
<p><strong>Tak Menghormati Messi</strong><br />
Benar kata Wayne Rooney, legenda Inggris yang mengomentari perkembangan sikap Mbappe, “Dalam usia sama, 23, Messi sudah meraih segalanya. Tetapi Mbappe? Tidak menghormati Messi adalah kekeliruan”.</p>
<p>Ya, setidak-tidaknya orang akan membandingkan: jadilah bintang seperti Messi; yang tetap santun di puncak kematangan, yang tidak suka mengonfrontasi kawan maupun lawan, yang tetap rendah hati kepada siapa pun.</p>
<p>Catatan Mbappe berkebalikan dari respek orang kepada Messi. Maka walaupun banyak menjadi penentu bagi kemenangan-kemenangan PSG, dari berbagai sisi dia masih jauh dari <em>positioning</em> karisma La Pulga.</p>
<p>Bisa dan maukah Sang Pangeran belajar dari kejadian-kejadian terkini?</p>
<p>Lihatlah itu, Messi dan Neymar yang berusaha mengendapkan perasaan dengan tetap bersikap “ngemong”. Kurang apa keduanya menyesuaikan diri?</p>
<p>Lalu apa pula yang dia cari?</p>
<p>Atau Kylian Mbappe butuh orang yang “mengerti dirinya”, dengan balasan yang tak kalah provokatif dan intimidatif seperti cara lugas Sergio Ramos?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/08/27/ketika-pangeran-merasa-raja">Ketika Pangeran Merasa Raja</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>The Dream Team, Los Galacticos, Tiki-Taka, dan &#8220;Mimpi PSG&#8221;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/08/21/the-dream-team-los-galacticos-tiki-taka-dan-mimpi-psg</link>
					<comments>https://suarabaru.id/2021/08/21/the-dream-team-los-galacticos-tiki-taka-dan-mimpi-psg#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2021 10:00:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=191987</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sepak bola pun bisa menjadi kegelisahan impian/ tentang tim yang genit bersolek/ tentang lika-liku keindahan beradu gocek / tentang ambisi-ambisi/ di dalamnya tersimpan imajinasi/ juga ideologi/ pun petualangan lembut jiwa manusia-manusia//    (Sajak &#8220;Tim Impian&#8221;, 2021) WAKTU bisa menjadi penanda ambisi manusia untuk menciptakan perbedaan dan membuat sejarah. Dunia sepak [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/08/21/the-dream-team-los-galacticos-tiki-taka-dan-mimpi-psg">The Dream Team, Los Galacticos, Tiki-Taka, dan &#8220;Mimpi PSG&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-191989 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/08/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/08/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/08/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/08/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// sepak bola pun bisa menjadi kegelisahan impian/ tentang tim yang genit bersolek/ tentang lika-liku keindahan beradu gocek / tentang ambisi-ambisi/ di dalamnya tersimpan imajinasi/ juga ideologi/ pun petualangan lembut jiwa manusia-manusia// </em>   <strong>(Sajak &#8220;Tim Impian&#8221;, 2021)</strong></p>
<p><strong>WAKTU</strong> bisa menjadi penanda ambisi manusia untuk menciptakan perbedaan dan membuat sejarah. Dunia sepak bola pun mengenal kehendak-kehendak untuk membangun faktor pembeda, tentu dengan pilihan jalan membentuk tim yang bakal dikenang sejarah.</p>
<p>Media biasa menyodorkan label &#8220;Dream Team&#8221;. Media pula yang membuat label &#8220;Tim Super&#8221;. Atau orang Spanyol menyebutnya &#8220;Los Galacticos&#8221;, tim yang berisi manusia-manusia eksepsional dari galaksi lain.</p>
<p>Dari runutan waktu, New York Cosmos yang merupakan irisan sejarah Liga Sepak Bola Amerika Utara (NASL) berhak mengklaim diri sebagai awal &#8220;tim impian&#8221;, walaupun The Dream Team lebih melekat sebagai predikat AC Milan pada awal dekade 1990-an.</p>
<p>Ketika itu, pada 1970-an, para pesohor dan tokoh politik Amerika yang gila bola berambisi memindahkan pusat perhatian dunia ke negaranya. Puncak idenya: mendatangkan Pele! Tak mudah mewujudkannya, antara lain karena pemain bernama lengkap Edson Arantes do Nascimento itu meminta bayaran tinggi dan di-gendholi negara.</p>
<p>Lobi pun dilancarkan hingga ke tingkat petinggi negara. Menteri Luar Negeri Henry Kissinger yang maniak sepak bola mewakili Presiden Richard Nixon, mendekati pemerintah Brazil. Pernyataan Pele kepada Wakil Presiden Klub Cosmos Raphael de La Serra waktu itu pun, menjadi quote terkenal, “Ya Tuhan. Kalian benar-benar bisa melakukan apa saja. Aku akan ikut kalian, apa pun yang terjadi!”</p>
<p>Cosmos, yang pernah melawat ke Jakarta melawan Galatama Selection pada 1978, sukses mengumpulkan para bintang dan eks bintang dunia. Selain Pele ada Bogisevic, Beckenbauer, Theofilio Cubillas, Carlos Alberto, Johan Neeskens, Giorgio Chinaglia, dan bek agresif asal Iran, Eskandarian.</p>
<p>NASL tidak serta merta mampu menciptakan histeria, tetapi menyadarkan dunia bahwa Amerika mulai menyukai olahraga ini.</p>
<p>Sejarah bergulir ke dasawarsa 1990. AC Milan menjadi tim bertabur bintang. Klub ikon dari negeri calcio itu terinspirasi tim nasional bola basket AS. Julukan Dream Team disematkan media, karena berkumpul puncak-puncak kemampuan: Michael Jordan, Magic Johnson, Larry Bird, Charles Barkley, Carl Malone, Patrick Ewing, Chris Mullin, dan Scottie Pipen.</p>
<p>Gagasan pemilik Milan, Silvio Berlusconi, yang mengimajinasikan sepak bola sebagai wilayah tanpa batas, diwujudkan. Dia mendatangkan Ruud Gullit, Marco Van Basten, Frank Rijkaard, Zvonimir Boban, Dejan Savicevic, Jean-Pierre Papin, dan Marcel Desailly, yang memperkuat barisan pendekar lokal Franco Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Alessandro Costacurta, Carlo Ancelotti, Alberigo Evani, dan Roberto Donadoni.</p>
<p>Racikan taktik Arrigo Sacchi dengan filosofi pendek &#8211; rapat mendekonstruksi karakter sepak bola negatif Italia. Milan menjadi tim ofensif. Sentuhan Sacchi dilanjutkan Fabio Capello yang juga melawan kamus bertahan. Pada masa keemasan Tim Impian, Rossonerri menguasai Liga Seri A, Piala Super Italia, dua kali juara Piala Champions, dua Piala Super Eropa, dan dua Piala Intercontinental.</p>
<p>Capello mencatat rekor dalam rentang 19 Mei 1991 sampai 21 Maret 1993: membawa Milan tak terkalahkan dari 58 laga!</p>
<p>Di sela-sela kejayaan Milan, di Liga Prancis muncul Bernard Tapie, pengusaha yang berambisi menjadi wali kota. Dia menyulap Olympique Marseille menjadi kekuatan tandingan Milan. Caranya juga sama, merekrut pemain-pemain top dunia. Dari Alen Boksic, Abedi Pele, Rudi Voeller, Chris Waddle, Robert Prosinecki, Dragan Stoijkovic, Marcel Desailly, Basile Boli, hingga Jocelyn Angloma.</p>
<p>Franz Beckenbauer didatangkan sebagai Direktur Teknik, sedangkan Raymond Goethals menjadi arsitek tim. &#8220;Dream Team&#8221; OM tak bereksistensi langgeng, karena terinvestigasi mengatur pertandingan, walaupun kemenangan di Liga Champions 1-0 atas AC Milan tidak dibatalkan oleh UEFA.</p>
<p>Liga Prancis baru mengenal tim hebat beberapa tahun berikutnya lewat Paris St Germain pada awal dekade 1990-an. Tim ini sukses meroketkan George Weah, David Ginola, Thiago Silva, Edinson Cavani, dan Ronaldinho Gaucho.</p>
<p>Dan, tampaknya, era Tim Impian PSG akan dimulai lagi dengan kehadiran Lionel Messi sejak 10 Agustus lalu.</p>
<p><strong>Kiprah Los Galacticos</strong><br />
Membahas perkembangan PSG terkini tentu tak bisa lepas dari kisah tim-tim super yang bertabur pemain top.</p>
<p>Sulit membayangkan Manchester United berjaya meraih treble winner pada 1999 jika Alex Ferguson tidak punya pilar-pilar dahsyat. Dari kemaharajaan Eric Cantona, Setan Merah kemudian menderetkan nama-nama antara lain Roy Keane, Ryan Giggs, David Beckham, Denis Irwin, Jaap Stamp, Gary Neville, Philip Neville, dan Andy Cole. Toh tak ada yang melabeli Setan Merah sebagai Tim Impian</p>
<p>Di La Liga, walaupun media meramaikan sebutan &#8220;tim dari galaksi lain&#8221; terhadap Real Madrid, namun kiprah Barcelona dengan tiki-taka yang merajai rentang waktu 2006 hingga 2015 menjadi potret nyata tim super yang melengkapi diri dengan keindahan permainan. Keberadaan Ronaldinho, Deco, Messi, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Carles Puyol, Jordi Alba, Sergio Busquets, Javier Mascerano, Neymar Junior, dan Luis Suarez dalam runutan era merupakan skema hebat sebuah tim di bawah pelatih-pelatih hebat.</p>
<p>Sebelum Barca meraih puncak kejayaan, Madrid gila-gilaan membangun tim. Zinedine Zidane, Ronaldo Luis Nazario, Roberto Carlos, Ruud van Nistelrooy, David Beckham, Fernando Hiero, Guti Hernandez, Raul Gonzales, Antonio Cassano, dan Luis Figo membentuk Los Galacticos I.</p>
<p>Sedangkan dalam Galacticos jilid kedua, terkumpul nama-nama Gonzalo Higuain, Toni Kroos, Luka Modric, Mesut Oziel, Ricardo Kaka, Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Gareth Bale.</p>
<p>Sepak terjang Madrid dengan keberlimpahan kekuatan uang menghasilkan el clasico yang panas dengan Barcelona. Namun seiring dengan perjalanan waktu, ketika satu per satu pemain memasuki senja atau berpindah klub, Los Blancos tak lagi sedahsyat Galacticos I dan II.</p>
<p>Muncullah PSG yang membangun kekuatan di tengah realitas Ligue 1 tidak sekompetitif Liga Primer, La Liga, atau Liga Seri A. Nasser Al Khelaifi dari Qatar berinvestasi besar seperti halnya Syeckh Mansour untuk Manchester City dalam road map Eropa.</p>
<p>Bedanya, City bertarung di Liga Primer yang lebih keras. The Citizens juga sudah mampu membentuk filosofi permainan bersama Pep Guardiola sebagai ideolog sepak bola ofensif. Sedangkan PSG masih terus berproses menguji diri, meskipun telah menunjukkan lompatan dengan masuk final Liga Champions 2019-2020, dikalahkan Bayern Muenchen 1-0.</p>
<p><strong>PSG Era Leo Messi</strong><br />
Impian PSG menduetkan Neymar dengan Lionel Messi betul-betul menjadi kenyataan. Bahkan kini membentuk Trio MNM bersama Kylian Mbappe (apabila Mbappe tidak keburu diambil klub lain). Trio ini diperkirakan bakal lebih mengerikan ketimbang “Three Musketeers” Barcelona, MSN (Messi, Suarez, Neymar) pada 2013-2017.</p>
<p>Label PSG sebagai Dream Team saat ini rasanya melewati City, MU, Madrid, Barcelona, dan tim mana pun. Selain Trio MNM, pelatih Mauricio Pochettino punya Mauro Icardi, Angel Di Maria, Pablo Sarabia, Idrissa Gueye, Marco Verratti, Rafinha, Giorginio Wijnaldum, Ander Herrera, Sergio Ramos, Presnel Kimpembe, Achraf Hakimi, Abdou Diallo, Marquinhos, serta dua kiper tangguh Gianluigi Donnarumma dan Keylor Navaz.</p>
<p>Dibandingkan dengan era Ronaldinho dan Weah, Les Parisiens sekarang sudah lebih berpengalaman dalam petualangan Eropa. Pekerjaan Messi cs adalah membawa PSG keluar dari inferioritas Liga Prancis, untuk menjadi lebih kompetitif di Eropa.</p>
<p>Sedangkan Pochettino yang identik dengan sepak bola ofensif semasa bersama Tottenham Hotspur, tentu menjadi fokus sorotan: mampukah imajinasi dan skema taktiknya menyajikan tontonan impresif dengan modal &#8220;pasukan langit&#8221;?</p>
<p>Poch bertugas mewujudkan PSG sebagai &#8220;Real Dream Team&#8221;, bukan sekadar tim yang menjadi &#8220;mimpi-mimpi Paris&#8221;.</p>
<p><em>&#8212; Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan penulis buku &#8212;</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/08/21/the-dream-team-los-galacticos-tiki-taka-dan-mimpi-psg">The Dream Team, Los Galacticos, Tiki-Taka, dan &#8220;Mimpi PSG&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suarabaru.id/2021/08/21/the-dream-team-los-galacticos-tiki-taka-dan-mimpi-psg/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PSG dan Manchester City Berpacu Menjawab Rasa Penasaran</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/03/27/psg-dan-manchester-city-berpacu-menjawab-rasa-penasaran</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2021 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[PSG]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=159780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // di balik bundar bola/ tersimpan rasa tak terhingga/ memukim langkah yang terhambat/ membentang jalan yang tersumbat/ mengadang batas yang belum terkuak/ membentur tradisi-tradisi/ terkadang reputasi tak menuntaskan/ dan, rasa penasaran pun terus bertahan// (Sajak “Di Balik Bundar Bola”, 2021) SELALU tersaji laga akbar sebelum tiba pertandingan puncak. Media sering menyebutnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/03/27/psg-dan-manchester-city-berpacu-menjawab-rasa-penasaran">PSG dan Manchester City Berpacu Menjawab Rasa Penasaran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-159781 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/03/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/03/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/03/BOLA-BOLA-LOGO-3-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/03/BOLA-BOLA-LOGO-3.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /></strong></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// di balik bundar bola/ tersimpan rasa tak terhingga/ memukim langkah yang terhambat/ membentang jalan yang tersumbat/ mengadang batas yang belum terkuak/ membentur tradisi-tradisi/ terkadang reputasi tak menuntaskan/ dan, rasa penasaran pun terus bertahan//</em><br />
<strong>(Sajak “Di Balik Bundar Bola”, 2021)</strong></p>
<p><strong>SELALU</strong> tersaji laga akbar sebelum tiba pertandingan puncak. Media sering menyebutnya sebagai &#8220;final kepagian&#8221;, lalu terpaparlah realitas bakal ada tim favorit layak juara yang harus tersisih &#8220;sebelum waktunya&#8221;.</p>
<p>Seperti itulah hakikat kompetisi. Ada percampuran antara sistem yang telah disepakati, dengan faktor nasib yang seolah-olah harus dihadapi oleh kontestan tertentu. Dan, itu merupakan kenyataan, yang hasilnya harus diterima sebagai produk objektif kompetisi. Demikianlah antara lain sportmanship membentangkan maknanya.</p>
<p>Tak pelak lagi, laga besar yang akan tersaji dalam perempatfinal Liga Champions 2021-2021 pada pekan pertama April adalah Real Madrid versus Liverpool. Tentu kita tandai pula ulangan final musim lalu, Bayern Muenchen vs Paris St Germain.</p>
<p>Dari konstelasi &#8220;8 besar&#8221; itu, yang diam-diam menyita perhatian khusus dalam sisa kompetisi yang terus mengerucut adalah, perpacuan antara PSG dan Manchester City. Kedua klub terkondisi untuk menjawab rasa penasaran mereka selama ini.</p>
<p>Sama-sama mendapat dana jor-joran dari sang pemilik, dua klub tersebut belum mampu mewujudkan mimpi meraih kejayaan Eropa. PSG yang mayoritas sahamnya dikantungi oleh taipan Nasser Al-Khelaifi dari Qatar Sports Investments, mampu menembus partai pamungkas pada 2019-2020. Namun Neymar Junior dkk takluk 0-1 dari Bayern Muenchen yang punya tradisi Eropa lebih kuat. Secara materi lini per lini, PSG tak di bawah lawan. Hanya faktor jam terbang (tradisi) yang terkadang menjadi pembeda.</p>
<p>Sementara itu, Manchester City meraih hasil terbaik sebagai semifinalis pada 2015-2016, di era kepelatihan Manuel Pellegrini. Sama seperti PSG, City juga bermodal anggaran tak terbatas dari Sheikh Mansour Suleyman Al-Nahyan dari Dubai. Apabila The Citizens ingin menyamai capaian tim Pellegrini, harus mampu melewati Borussia Dortmund.</p>
<p>Perempatfinal lainnya mempertemukan FC Porto vs Chelsea, yang sama-sama punya sejarah juara. Di balik perhatian bola mania pada partai-partai <em>big match</em>, laga yang tidak terlalu menyita perhatian ini bukan tidak mungkin malah diam-diam bakal menjadi rute calon juara.</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>* * *</strong></span></p>
<p><strong>RASA</strong> penasaran PSG dan City, selain merupakan ungkapan geregetan investornya, juga menjadi pertaruhan reputasi kedua arsitek. Mauricio Pochettino, yang pernah mengantar Tottenham Hotspur melaju ke final 2018-2019 (kalah dari Liverpool), kini punya peluang untuk menebus kekecewaan lewat &#8220;mainan barunya&#8221;. Hanya, sebelum berpikir tentang final, pelatih asal Argentina itu harus mampu melewati Bayern yang merupakan klub paling stabil di Eropa saat ini.</p>
<p>Pep Guardiola tak kalah penasaran. Sejauh ini, bersama City dia bahkan belum berhasil menembus semifinal. Padahal dia punya reputasi hebat bersama Barcelona, dua kali meraih trofi Liga Champions pada 2008-2009 dan 2010-2011. Ketika menukangi Bayern Muenchen, hanya gelar-gelar lokal yang dia persembahkan, sama dengan pencapaiannya di Etihad.</p>
<p>Seperti Pochettino, untuk berbicara tentang gelar, Pep harus melewati tantangan Borussia Dortmund di perempatfinal. <em>Die Borussen</em> juga bukan lawan enteng. Sebagai kekuatan penting Bundesliga, tim asuhan Edin Terzic &#8212; yang menggantikan Lucien Favre &#8212; ini, memiliki keseimbangan materi pemain kelas satu.</p>
<p>Klub yang sering menjadi sandungan Bayern Muenchen ini terkenal sebagai &#8220;kawah candradimuka&#8221;-nya calon-calon bintang besar. Kita mengenal antara lain Mario Goetze, Matts Hummels, Robert Lewandowski, dan Shinji Kagawa, sebagai alumni Dortmund.</p>
<p>Kini, nama-nama Erling Burt Haaland, Jadon Sancho, Thomas Meunier, Marco Reus, atau Emre Can, merupakan sebagian dari jaminan soliditas juara 1996-1997 dan finalis 2012-2013 itu. Tradisi Dortmund di pentas ini jauh lebih baik ketimbang City.</p>
<p>Artinya, Pep Guardiola mesti fokus terlebih dahulu meladeni Dortmund sebelum memikirkan penuntasan rasa penasarannya. Setelah itu baru memikirkan menyamai capaian Pellegrini, lalu melewatinya, kemudian &#8220;menyelesaian urusan&#8221; kegagalan meraih trofi Eropa pasca-kesuksesan bersama Barca.</p>
<p>Pelatih Everton Carlo Ancelotti menyebut, dengan kekuatan di semua lini dan variasi taktiknya, City merupakan klub terbaik dunia saat ini. Penilaian ini menggambarkan realitas performa Pasukan Etihad, yang selain di Liga Champions, juga masih bertahan sebagai calon juara Liga Primer, Piala FA, dan Piala Liga.</p>
<p>Pada bagian lain, laga Liverpool kontra Real Madrid menyajikan gengsi kecerdasan Juergen Klopp vs Zinedine Zidane. Kedua klub sama-sama sedang mencari pelampiasan terhadap performa di panggung liga. Madrid masih lebih baik, bersaing di urutan ketiga klasemen La Liga, ketimbang Liverpool yang tertatih-tatih mengamankan zona Liga Champions.</p>
<p>Pertarungan di era kesenyapan sepak bola lantaran beradaptasi dengan protokol kesehatan pandemi covid-19 ini, rasa-rasanya tetap menghadirkan atmosfer panas. Ada target-target, pertaruhan reputasi, ikhtiar mendobrak rasa penasaran, hingga menaklukkan rekor dan sejarah&#8230;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/03/27/psg-dan-manchester-city-berpacu-menjawab-rasa-penasaran">PSG dan Manchester City Berpacu Menjawab Rasa Penasaran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>