Oleh: Amir Machmud NS
// setinggi apakah puncak pencapaian Arsenal?/ ukuran Liga Champions?/ atau ukuran Liga Primer?/ jika ukurannya adalah trofi/ bagaimana dengan performa?/ jika ukurannya adalah gelar/ bisa apa Arteta dan pasukannya?//
(Sajak “Filosofi Arteta”, 2026)
SETELAH begitu lama menatah sejarah, inikah saatnya Arsenal bakal meraih puncak?
Atau, Meriam London kembali mengulang kisah kelam 2006, ketika kalah dari Barcelona dalam partai puncak yang digadang-gadang menjadi final ideal di Stade de France, Paris?
Ketika itu, di bawah Arsene Wenger, Arsenal membawakan orkestrasi sepak bola indah, mengalunkan irama rancak nan memesona. Sedangkan Barcelona dalam racikan taktik Frank Rijkaard menjelma sebagai tim dengan impresivitas sepak bola menyerang yang memukau.
Intentitas permainan elok kedua klub membuat final Liga Champions ketika itu betul-betul ditunggu sebagai “final ideal”.
Filosofi permainan Mikel Artela telah mengalahkam racikan strategi Diego Simeone di semifinal dengan agregat 2-1. Kini ditunggu, apakah “Arteta-ball” bisa menuntaskan final Liga Champions melawan Paris St Germain, yang di semifinal lainnya menundukkan Bayern lewat gol rata-rata Muenchen 6-5.
Filosofi Arteta
Apa yang sebenarnya menarik dari permainan Arsenal, sehingga musim ini terjanjikan final yang diperkirakan indah melawan juara bertahan PSG?
Di bawah arahan Luis Enrique, Les Parisiens tampil stabil dan memiliki pilar-pilar hebat di setiap posisi. PSG juga mengetengahkan sepak bola menyerang dan permainan rancak. Duo penyerangnya, Khvicha Kvaratskhelia dan Ousman Dembele menjadi jaminan ketajaman sebagai ancaman bagi pertahanan lawan.
Kvaratskhelia adalah pemain asal Georgia yang menjadi andalan dalam menyusur dan mengacak-acak sayap, sedangkan Dembele peraih Ballon d’Or 2025 merupakan kekuatan lain PSG di sektor sayap dengan dua kaki sama-sama mematikan. Enrique juga masih punya amunisi lain, Desire Doue dan Achraf Hakimi dengan uman-umpan silang efektif.
Lalu di mana sebenarnya kekuatan Arsenal?
Permainan Arsenal terorganisasi dalam dominasi penguasaan bola, yang memberi struktur pertahanan solid dan intensitas. Ketika kehilangan bola, para pemain segera menekan balik lawan dan menghentikan transisi mereka.
Pelatih Liverpool Arne Slot pernah memberi apresiasi kepada Mikel Arteta. Dia memuji kemampuan pria Spanyol ini dalam meracik strategi dan taktik yang sangat fleksibel. Dia melihat bagaimana Arsenal mampu beradaptasi dengan berbagai gaya permainan, baik menyerang maupun bertahan. Hal ini menunjukkan kedalaman taktik dan kemampuan adaptasi yang bagus.
Filosofi sepak bola Mikel Arteta berakar pada dominasi kontrol permainan, keunggulan posisi, dan intensitas tinggi, yang sering dijabarkan melalui taktik berbasis penguasaan bola (possession-based), serangan terstruktur dari lini belakang, pressing ketat, serta perhatian detail pada situasi bola mati — terutama dari momen tendangan sudut — untuk mencetak gol. Ketajaman Arsenal antara lain ditopang oleh pendekatan pragmatis, memadukan fleksibilitas taktis dengan disiplin pertahanan.
Dengan melaju ke final Liga Champions, Mikel Arteta meraih capaian baru dalam karier kepelatihannya. Dia bangga menjadi bagian dari Arsenal bersama dengan para pemain dan suporter menciptakan sejarah bagi klub.
“Kami tahu betapa (pencapaian) ini begitu berarti buat semua orang, kami memberikan segalanya, para pemain melakukan pekerjaaan yang luar biasa dan setelah 20 tahun dan untuk kedua kali dalam sejarah, kami kembali lagi ke final Liga Champions,” ucapnya.
Yang juga membuat Arteta gembira adalah kualitas anak asuhnya saat menghadapi Atletico Madrid dengan level permainan yang tinggi. “Kita tahu betapa sulit dan menantang level lawan di semifinal. Atletico, mereka adalah tim yang luar biasa, cara mereka bersaing, solusi yang mereka punya, jawaban atas segala yang Anda coba lakukan, benar-benar luar biasa. Alasan mereka ada di sana, mereka telah melakukan tugas yang besar, dan perbedaannya tipis,” ungkapnya.
Arteta yang sudah menangani Arsenal sejak 2019 pun menanggapi pertanyaan soal kemampuan anak asuhnya bersaing di level Eropa secara bertahap, dari tidak masuk Liga Champions, kemudian memijak Europa League, dan kemudian kembali ke turnamen nomor satu antarklub Eropa, hingga meraih final.
“Itu sangat berat dan sulit, tetapi sekali lagi, kami punya keinginan dan ambisi yang sama untuk klub ini, dan kemudian memang ada sedikit keberuntungan, segala sesuatu harus berjalan sesuai keinginan Anda.”
“Kami telah mencurahkan begitu banyak kerja keras, semangat, dan keyakinan ke dalam hal yang kami lakukan hari ini dan kami mendapat kesempatan untuk menjalani hari yang luar biasa di Budapest dalam beberapa pekan ke depan,” ucap mantan pemain Arsenal itu (cnnidonesia.com, 6 Mei 2026).
Pada sisi lain, Luis Enrique meyakini, PSG sudah lebih kuat, dan hal itu terlihat dari kondisi stabil performa klub asuhannya itu di sepanjang perjalanan menuju final Liga Champions.
Dua pria Spanyol di final Eropa: siapa yang bakal berjaya? Enrique yang mampu mempertahankan gelar, atau Arteta yang mencetak sejarah bagi Arsenal?
Apa pun, ini adalah representasi dari dua wajah filosofi sepak bola yang sama-sama berkarakter impresif. PSG dengan kemenyatuan yang terbentuk cukup panjang, dan Arsenal dengan kolektivitas yang menjadi kekuatan Arteta.
Menatah Sejarah
Arsenal, bagaimanapun telah menjejak satu tahap: ada harapan bakal mengukir sejarah. Selain untuk kali pertama mengangkat trofi Si Kuping Besar, juga memenuhi hasrat menjuarai Liga Primer yang sejak 2004 tak pernah diraih.
Kini, Meriam London juga memupuk mimpi, menjauhi “kutukan”: meredup dan diliputi “sindrom nyaris” di saat-saat menentukan. Termasuk ketika lolos ke final 2006, dan tiga musim mendekat ke juara Liga Primer tetapi akhirnya merasakan pahitnya kegagalan.
Dan, melawan PSG dalam final Eropa di Budapest nanti ini adalah kesempatan untuk membuat sejarah…
— Amir Machmud NS; wartawan Suarabaru.Id —













