<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>manchester city Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/manchester-city/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Jun 2026 05:45:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>manchester city Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tak Ada yang Abadi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/06/tak-ada-yang-abadi-2</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 10:00:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Abadi]]></category>
		<category><![CDATA[Etihad]]></category>
		<category><![CDATA[Kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[Legenda]]></category>
		<category><![CDATA[liga inggris]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tersamai]]></category>
		<category><![CDATA[Trofi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=563002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak ada yang abadi/ begitulah kehidupan ini bergerak/ sebagai keniscyaan/ begitu pun Pep Guardiola/ dia sadar yang abadi hanya rasa/ dan, ia hanya meninggalkan cinta/ untuk Manchester City/ yang juga membangun rekatan/ dengan rasa yang baru// (Sajak “Pep Guardiola”, 2026) BENAR kata Pep Guardiola, “Tidak ada yang abadi. Jika ada, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/06/tak-ada-yang-abadi-2">Tak Ada yang Abadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-563004 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak ada yang abadi/ begitulah kehidupan ini bergerak/ sebagai keniscyaan/ begitu pun Pep Guardiola/ dia sadar yang abadi hanya rasa/ dan, ia hanya meninggalkan cinta/ untuk Manchester City/ yang juga membangun rekatan/ dengan rasa yang baru//</em><br />
<strong>(Sajak “Pep Guardiola”, 2026)</strong></p>
<p><strong>BENAR</strong> kata Pep Guardiola, “Tidak ada yang abadi. Jika ada, aku pasti sudah di sini. Yang abadi adalah perasaan, orang-orang, kenangan, dan cinta yang kumiliki untuk Manchester City-ku&#8230;”</p>
<p>Kalimat filosofis itu juga tergubah sebagai ungkapan keniscayaan dalam salah satu lagu Ariel (waktu itu masih di album Peterpan “Sebuah Nama, Sebuah Cerita”, 2008), <em>Tak Ada yang Abadi</em>. Simaklah ini, <em>//Takkan selamanya tanganku mendekapmu/ Takkan selamanya raga ini menjagamu/ Seperti alunan detak jantungku/ Tak bertahan melawan waktu&#8230;//</em></p>
<p>Begitulah narasi indah Pep untuk mengungkapkan makna perpisahan. “Betapa indah waktu yang telah kita lalui bersama, Jangan tanya alasan kepergianku. Tidak ada alasan, tetapi jauh di lubuk hatiku, aku tahu ini waktuku&#8230;”</p>
<p>Sepuluh tahun. Mungkin bukan waktu yang lama, tetapi itulah durasi paling panjang dalam jejak kepelatihan Pep di sebuah klub, mulai dari Barcelona (2008-2012), hingga Bayern Muenchen (2013-2016). Dan, di klub itulah dia membendaharakan 20 trofi mulai dari Liga Primer, Piala FA, Community Shield, Piala Liga, Liga Champions, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antarklub FIFA. Dia tak kalah berjajar dengan manajer legendaris Manchester United Alex Ferguson.</p>
<p><strong>Cepat atau Lambat</strong><br />
Cepat atau lambat, momen perpisahan itu pasti akan terjadi. Sejak pertengahan musim lalu, sudah beredar rumor Pep Guardiola akan meninggalkan Etihad. Panggantinya juga sudah disebut-sebut, Enzo Maresca yang waktu itu diberhentikan oleh Chelsea. Maresca bukan nama baru bagi City, karena dia pernah menjadi staf kepelatihan Pep di Manchester Biru.</p>
<p>Kebetulan, prestasi Maresca juga tidak buruk saat dipecat The Blues. Dia mengantar Chelsea meraih Liga Konferensi UEFA 2024-2025 dan Piala Dunia Antarklkub FIFA 2025. Hanya karena disharmoni dengan manajemen, dia digantikan oleh Liam Rosenior yang hanya bertahan sekitar 100 hari di Stamford Bridge.</p>
<p>Bukan tidak mungkin, posisi Pep akan diisi oleh Enzo Maresca, atau nama yang juga muncul, Vincent Kompany. Dengan demikian, The Citizens tidak akan mengalami turbulensi adaptasi taktik, karena racikan Maresca juga senada dengan filosofi Pep, dan Kompany memahami inti taktik Pep Guardiola.</p>
<p>Seharusnya, Pep masih menyisakan kontrak selama setahun di Etihad, namun dia memutuskan berhenti lebih cepat. Entah ke mana nanti dia bakal berlabuh. Santer disebut dia bakal menuju Liga Pro Arab Saudi, atau banyak juga yang memperkirakan dia tertarik menerima tawaran melatih tim nasional Italia.</p>
<p>Yang pasti, dia adalah legenda hidup. Di klub mana pun baik Barcelona, Bayern Muenchen, maupun Manchester City, dia merevolusi permainan menjadi serasa “ideologi”. Basis taktik penguasaan bola (<em>ball possession</em>) dan <em>pressing</em> tinggi, serta penempatan posisi yang mewujud indah sebagai “koreografi” <em>tiki-taka</em> menjadi ciri khas Pe Guardiola.</p>
<p>Hanya di Bayern Muenchen dia dikritik tidak cocok dengan filosofi sepak bola Jerman yang lebih condong ke <em>speed and power game</em>. Gaya ini dinilai tidak cocok dengan mentalitas Bundesliga, dianggap memperlambat tempo dan rentan terhadap serangan balik. Toh bukankah sesungguhya Pep juga tidak bisa dipandang gagal di Bayern, karena mendominasi trofi domestik (tujuh gelar), dan hanya tidak berhasil mengangkat trofi Eropa?</p>
<p>Sebelumnya, di Barcelona dia menyempurnakan <em>attacking football</em> warisan sang “ideolog” Akademi La Masia Johan Cruyff dengan <em>pressing</em> dan dominasi penguasaan bola.</p>
<p>Filosofinya berpusat pada dominasi <em>ball possession</em>, dan permainan posisional. Tim Pep mengontrol pertandingan melalui operan pendek yang akurat, melakukan <em>pressing</em> ketat saat kehilangan bola, dan mendoktrinkan formasi cair untuk membongkar pertahanan lawan sekaligus menciptakan estetika bermain, semacam orkestrasi. Pada masanya, Barcelona menjadi gambaran sentuhan taktik Pep.</p>
<p>Pada pertengahan musim 2025-2026 Liga Primer, The Citizens sempat kehilangan kendali permainan, dan beberapa kali mengalami kekalahan dari lawan “yang tidak-tidak”. Namun haruslah diakui kemampuan Pep Guardiola dalam memulihkan mentalitas tim. Hingga menjelang pekan-pekan pamungkas liga, City bisa bangkit bahkan bersaing dengan Arsenal dalam perpacuan gelar, sampai akhirnya, selisih poin yang tipis menyelamatkan Meriam London untuk meraih trofi.</p>
<p>Musim ini, City memang gagal di liga, namun membendaharakan dua trofi: Piala FA dengan mengalahkan Chelsea di final, dan Piala Liga (Carabao Cup), menundukkan Arsenal.</p>
<p><strong>Vincent Kompany</strong><br />
Selain Maresca, figur lain yang banyak disebut menjadi calon pengganti Pep adalah Vincent Kompany, eks kapten yang kini mengarsiteki Bayern Muenchen. Pada saat aktif sebagai pemain, dia pernah terpilih sebagai Pemain Terbaik 2012 Liga Primer. Juga menempati urutan ke-23 dari 100 pemain terbaik dunia yang dirilis oleh The Guardian.</p>
<p>Berkat 11 tahun memperkuat City dari 2008 hingga 2019, Kompany paham betul kultur dan lekak-lekuk Manchester Biru. Dia membawa Bayern hingga ke semifinal Liga Champions sebelum dikalahkan oleh Paris St Germain. Karismanya mampu mengatasi ego para bintang di ruang ganti.</p>
<p>Pelatih kelahiran Brussel, Belgia ini dikenal kaya variasi taktik. Dia juga visioner, memahami skema permainan yang diwariskan Pep Guardiola untuk dikembangkan sebagai metode taktik ala Kompany.</p>
<p>Siapa pun yang dipilih manajemen City, tentu dengan kalkulasi matang untuk meneruskan jejak matang Pep Guardiola.</p>
<p>Tak ada yang abadi. Cepat atau lambat, tidak bisa tidak, orang terbaik pasti akan berlalu. Kenangan Pep Guardiola tak akan terhapus di Etihad. Jejak itu terukir pada 20 tanda yang menghias lemari perbendaharaan trofi Manchester City. Dia telah menjadi legenda, yang mungkin bahkan tak tersamai&#8230;</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> <strong>&#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/06/tak-ada-yang-abadi-2">Tak Ada yang Abadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Arsenal, dalam Ancaman Keberulangan Kisah?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/25/arsenal-dalam-ancaman-keberulangan-kisah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2026 10:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[mikel arteta]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=555879</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // akan terjadikah keberulangan kisah?/ dari tiga musim terakhir/ Arsenal hampa tangan/ ketika gelar sudah di depan/ kini masih ada etape mendebarkan/ perpacuan dengan Manchester City/ di akhir perjalanan&#8230;// (Sajak “Keberulangan Arsenal”, 2026) ARSENALKAH, atau Manchester City? Pilihan siapa calon juara, ibarat adu mental di etape terakhir perburuan trofi Liga Primer [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/25/arsenal-dalam-ancaman-keberulangan-kisah">Arsenal, dalam Ancaman Keberulangan Kisah?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-555881 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// akan terjadikah keberulangan kisah?/ dari tiga musim terakhir/ Arsenal hampa tangan/ ketika gelar sudah di depan/ kini masih ada etape mendebarkan/ perpacuan dengan Manchester City/ di akhir perjalanan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Keberulangan Arsenal”, 2026)</strong></p>
<p><strong>ARSENALKAH</strong>, atau Manchester City?</p>
<p>Pilihan siapa calon juara, ibarat adu mental di etape terakhir perburuan trofi Liga Primer musim 2025-2026. Dari pertemuan yang bagaikan “final” di Etihad, dua pekan lalu, City menang 2-1 dan makin memangkas jarak poin klasemen, plus dengan menabung satu laga lebih banyak.</p>
<p>Benar-benarkah perpacuan ini akan berlangsung sampai akhir, dan bukan tidak mungkin ditentukan oleh selisih gol? Ini tentu terkait dengan daya tahan mental.</p>
<p>Tiga musim sebelumnya, Meriam London yang memimpin klasemen hingga pekan-pekan terakhir juga terlepeset oleh “ketidaktahanan” serupa. Dua kali kalah berpacu dari The Citizens, dan sekali tak ungkulan melawan Liverpool.</p>
<p>Sejumlah pundit &#8212; Alan Shearer misalnya &#8212; menilai, seperti dalam tiga musim sebelum ini, Arsenal mulai memperlihatkan tanda-tanda kerapuhan mendekati tahap akhir. Dan, selalu begitu yang terjadi pada lap menentukan.</p>
<p>Simaklah catatan ini. Pada 2022-2023, dengan 84 poin Arsenal menempati posisi kedua, kalah bersaing dari Manchester City yang meraih 89 poin. Kisah berulang musim 2023-2024. Arsenal kalah tipis (91-89) dalam klasemen akhir dari Manchester City, lalu pada 2024-2025, dengan angka 74, Bukayo Saka dkk kalah bersaing dari Liverpool (84), setelah sempat tampil menjanjikan dan optimis juara di separuh musim.</p>
<p>Musim ini, perpacuan di etape terakhir dimulai dengan kemenangan City atas Chelsea di pekan ke-32. Di Stamford Bridge, London, 12 April silam, tim racikan Pep Guardiola itu menang meyakinkan 3-0. Padahal sebelum ini, pada pertengahan musim, The Citizens sempat kehilangam fokus dan konsistensi.</p>
<p>Hasil itu membuat City kini mengemas 64 poin dari 31 laga di peringkat dua klasemen Liga Inggris. Ditambah hasil positif melawan Burnley 23 April lalu, Pasukan Etihad kini punya selisih poin yang cukup untuk bersaing merebut trofi.</p>
<p>The Citizens kini menggeser Arsenal dari puncak klasemen saat musim tersisa lima laga. Manchester City punya staristik bagus saat memimpin klasemen ketika musim sudah mendekati akhir.</p>
<p>Erling Haaland punya jumlah poin (70) dan selisih gol (37), sama dengan Arsenal. Namun, mereka unggul produktivitas gol (66). Dalam statistik, City tidak pernah gagal juara ketika memuncaki klasemen setelah memainkan 33 pertandingan atau lebih. Pep Guardiola menilai, setiap laga dari lima pertandingan tersisa akan menjadi seperti final.</p>
<p>Bagaimanapun, persaingan kini menjadi makin terbuka. Kontrol berada di Manchester City untuk menentukannya. Kondisi <em>on fire</em> The Citizens bakal makin menjadi-jadi dan menemukan momentum.</p>
<p>Arsenal butuh 16 poin dari 5 laga sisa (maksimal 86 poin), sementara City harus menyapu bersih sisa laga untuk juara.</p>
<p>Dalam jadwal sisa, Arsenal menghadapi lima laga, yakni melawan Newcastle United (kandang), Fulham (kandang), West Ham United (tandang), Burnley (kandang), dan Crystal Palace (tandang).</p>
<p>Sedangkan Manchester City punya lima laga sisa, yakni melawan Southampton (kandang), Everton (tandang), Brentford (kandang), Bournemouth (tandang), Crystal Palace (kandang), dan Aston Villa (kandang).</p>
<p><strong>Dari Tendangan Sudut</strong><br />
Kompetisi yang sehat memang menggambarkan rivalitas ketat, seperti yang terjadi selama empat musim terakhir di Liga Primer. Tiga klub berkejaran di ujung musim. Sementara Arsenal berjuang sejak empat tahun terakhir untuk membuktikan konsistensi performanya, dan terbukti selama tiga tahun belakangan belum berhasil merasih puncak. Kondisi ketat juga berlangsung di kompetisi Eropa lainnya, yakni Liga Seri A dan La Liga.</p>
<p>Arsitek Arsenal, Mikel Arteta, sampai tak lagi memedulikan standar penampilan Meriam London. Dia banyak disindir gol-gol timnya lebih banyak lahir dari tendangan sudut, dan bukan dari <em>open play</em>. Dengan standar performa imprevisitas yang mengalir, dan dalam tiga musim sebelumnya dipuja-puji sebagai “Arteta-ball”, sekarang menjadi lebih pragmatis.</p>
<p>Apakah perubahan filosofis ini merupakan respons “buntu” Arteta atas tuntutan ekosistem Arsenal, yang tak juga mampu merealisasi trofi, sejak terakhir kali klub London itu menjuarainya pada 2003-2004?</p>
<p>Kita tunggu bagaimana <em>ending</em> dari perpacuan Arsenal yang sedang gelisah, dan Manchester City yang tengah “on fire” justru di ujung musim. Apakah Arteta yang bakal mengukir sejarah dan pecah telur trofi, atau Pep Guardiola yang bisa membuktikan mampu mengelola kematangan tim juara?</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em><strong> &#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/25/arsenal-dalam-ancaman-keberulangan-kisah">Arsenal, dalam Ancaman Keberulangan Kisah?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Panggung Arsenal, Inikah Waktunya?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/03/07/panggung-arsenal-inikah-waktunya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2026 10:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Newcastle United]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[Tottenham Hotspur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=547950</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // saatnyakah mereka merayakan/ panggung Eropa?/ raihan yang selalu lepas/ justru pada saat diunggulkan?/ sudah sampaikah waktunya?// (Sajak “Arsenal dan Eropa”, 2026) PANGGUNG juara bagi Arsenal, inikah waktunya? Atau mereka harus kembali ke sejarah kusam: terpuruk justru pada saat diunggulkan? Drawing Liga Champions di Nyon, Swiss sepekan silam menghadirkan jalur yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/03/07/panggung-arsenal-inikah-waktunya">Panggung Arsenal, Inikah Waktunya?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-547953 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/03/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/03/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/03/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1-150x35.webp 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// saatnyakah mereka merayakan/ panggung Eropa?/ raihan yang selalu lepas/ justru pada saat diunggulkan?/ sudah sampaikah waktunya?//</em><br />
<strong>(Sajak “Arsenal dan Eropa”, 2026)</strong></p>
<p><strong>PANGGUNG</strong> juara bagi Arsenal, inikah waktunya? Atau mereka harus kembali ke sejarah kusam: terpuruk justru pada saat diunggulkan?</p>
<p>Drawing Liga Champions di Nyon, Swiss sepekan silam menghadirkan jalur yang disebut-sebut bakal memuluskan prediksi laju Arsenal. Ketika sejumlah raksasa Eropa berbaku hantam dalam <em>big match</em> di babak 16 besar, Meriam London bertemu lawan yang diperkirakan relatif bisa diatasi, Bayer Leverkusen.</p>
<p>Enam belas tim, yang terdiri dari delapan unggulan dan delapan non-unggulan, diundi untuk menentukan lawan di fase gugur. <em>Leg</em> pertama 16 besar akan digelar 10-11 Maret, dan <em>leg</em> kedua 17-18 Maret.</p>
<p>Kali ini, Arsenal kembali diunggulkan, walaupun seperti biasa “dikepung” oleh kekuatan-kekuatan bertradisi juara seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, Chelsea, juga juara bertahan Paris St Germain, dan Manchester City.</p>
<p>Pertemuan keras akan berlangsung antara Real Madrid versus Manchester City, PSG menghadapi Chelsea, Newcastle United bersua Barcelona. Liverpool juga kembali bertemu Galatasaray setelah sebelumnya sempat kalah di fase liga. Tottenham Hotspur ditantang Atletico Madrid, sementara Arsenal melawan Bayer Leverkusen.</p>
<p><strong>Relatif Lebih Ringan</strong><br />
Di antara enam wakil Inggris, Arsenal punya jalur yang relatif lebih ringan. Chelsea harus menghadapi PSG, Manchester City ditantang Real Madrid, Tottenham berjumpa Atletico Madrid, Liverpool melawan Galatasaray, dan Newcastle kembali menghadapi Barcelona.</p>
<p>Terakhir kali, Arsenal bertemu Bayer Leverkusen pada 2002, dan menang 4-1. Leverkusen kini cenderung kurang stabil setelah ditinggal oleh pelatih Xabi Alonso, dan sejumlah pemain pilar. Sementara The Gunners sedang dalam performa apik di berbagai ajang.</p>
<p>Sesuai bagan, jika lolos ke perempatfinal, Declan Rice dkk akan bertemu dengan pemenang Bodo/Glimt vs Sporting CP. Apabila menang, calon lawannya di semifinal adalah pemenang antara Barcelona vs Newcastle yang harus berebut tiket dengan pemenang Atletico Madrid vs Tottenham Hotspur.</p>
<p>Dengan skema itu, diperkirakan Arsenal minimal mampu lolos ke semifinal, menyamai bahkan melampaui capaian musim lalu. Pada Liga Champions 2024-2025, tim racikan Mikel Arteta itu masuk semifinal sebelum kalah dari PSG dengan agregat 1-3. PSG kemudian menjadi juara.</p>
<p>Dari enam wakil Inggris, hanya Liverpool, Chelsea, dan Manchester City yang pernah meraih trofi Liga Champions. Liverpool enam kali juara, Chelsea dua kali, dan Manchester City satu kali.</p>
<p>Lalu siapa yang paling berpeluang juara?</p>
<p>Opta, mesin statistik sepak bola, merilis prediksinya, bahwa Arsenal-lah yang berpeluang terbesar, dengan 27,4 persen. Menyusul kemudian Bayern Munich (14,3 persen), Liverpool (12,8 persen), Manchester City (10,8 persen), Barcelona (7,7 persen), dan Chelsea (6,8 persen). Real Madrid justru terlempar dari enam besar, berada di peringkat kesembilan dengan 2,8 persen, di bawah PSG (4,6 persen).</p>
<p>Sedangkan Newcastle United justru berada di atas PSG dan Madrid, dengan persentase peluang juara sebesar 4,7 persen.</p>
<p><strong>Tidak Mudah</strong><br />
Tentu pelatih Mikel Arteta menyadari, peluang untuk gagal di Liga Champions lebih besar ketimbang sukses. Dalam sejarah, Arsenal hanya satu kali menembus final Liga Champions yakni pada 2006, namun kalah 1-2 dari Barcelona dalam laga yang disebut-sebut sebagai “final ideal”.</p>
<p>Musim lalu, mereka melaju sampai ke semifinal. Dengan konfidensi tinggi karena sukses menundukkan Real Madrid di perempatfinal, Arsenal malah dikalahkan PSG yang akhirnya juara.</p>
<p>Mungkinkah Arteta bisa mengubah sejarah Arsenal dengan menjadi juara Liga Champions, dalam kesempatan terbaik musim ini?</p>
<p>Pencapaian terbaik Arsenal di pentas Eropa dicatat dalam ajang dengan level lebih rendah, yakni Piala Inter-Cities Fairs pada 1970, dan Piala Winners’Cup pada 1994 &#8212; gelar terakhir diakui oleh UEFA. Arsenal tampil di Piala Super Eropa 1994, dan kembali hadir di partai puncak Piala Winners’Cup tahun berikutnya.</p>
<p>Hampir tiap tahun, setidak-tidaknya selama empat musim terakhir, Arsenal selalu dijagokan untuk berbicara banyak di Liga Champions. Ketika tahun ini kembali difavoritkan, tentu beralasan karena mereka memiliki model tampilan impresif bukan hanya di Liga Primer, tetapi juga di ajang yang lain.</p>
<p>Wajar apabila para pengamat berpikir, “Inikah waktunya mereka berjaya?”</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> <strong>&#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/03/07/panggung-arsenal-inikah-waktunya">Panggung Arsenal, Inikah Waktunya?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Arsenal dan Kerikil Terakhir</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/02/28/arsenal-dan-kerikil-terakhir</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2026 10:00:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[La Masia]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Meriam London]]></category>
		<category><![CDATA[mikel arteta]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=546447</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tinggal seurat/ rasanya seperti mendaki/ curam dalam puluhan musim/ selalu ada kerikil/ tajam mengganggu/ di tikungan terakhir&#8230;// (Sajak “Titik Rawan Sang Meriam”, 2026) BENARKAH Arsenal sudah melewati fase rawan lewat kemenangan 4-1 atas Tottenham Hotspur dalam Derby London, pekan lalu? Konfiden tentu boleh-boleh saja, bahkan harus; namun Sang Meriam London [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/02/28/arsenal-dan-kerikil-terakhir">Arsenal dan Kerikil Terakhir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-546452 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/02/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/02/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.webp 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/02/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1-150x40.webp 150w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tinggal seurat/ rasanya seperti mendaki/ curam dalam puluhan musim/ selalu ada kerikil/ tajam mengganggu/ di tikungan terakhir&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Titik Rawan Sang Meriam”, 2026)</strong></p>
<p><strong>BENARKAH</strong> Arsenal sudah melewati fase rawan lewat kemenangan 4-1 atas Tottenham Hotspur dalam <em>Derby</em> London, pekan lalu?</p>
<p>Konfiden tentu boleh-boleh saja, bahkan harus; namun Sang Meriam London tetap tak boleh abai dari pengalaman tiga musim terakhir: ketika optimisme meraih trofi berubah menjadi “kutukan” kegagalan yang belum juga terurai.</p>
<p>Kemenangan atas Spurs memang terasa memberi secercah harapan, setelah sebelumnya Mikhael Odegaard dkk hanya mampu mencatat hasil seri 1-1 melawan Brentford, dan 2-2 melawan Wolverhampton Wanderers. Mentalitas tim besutan Mikel Arteta itu dibuktikan dengan ketenangan yang mengantar untuk mengalahkan Spurs.</p>
<p>Hanya, laga terakhir yang melegakan itu tidak bisa disebut sebagai kerikil utama yang mengganggu. Ada sejumlah tantangan lain yang dihadapi oleh Mikel Arteta untuk benar-benar menuntaskan misinya.</p>
<p>Sejumlah pundit – misalnya Alan Shearer &#8212; menilai, seperti dalam tiga musim sebelum ini, Arsenal mulai memperlihatkan kerapuhan mendekati tahap akhir. Para analis rupanya melihat dua hasil imbang yang dinilai sebagai “kegugupan” menghadapi laga-laga terakhir. Maka, pada satu sisi, kemenangan atas The Lilywhite bisa menjadi jawaban.</p>
<p>Pada 2022-2023, dengan 84 poin Arsenal menempati posisi kedua, kalah bersaing dari Manchester City yang meraih 89 poin. Musim 2023-2024, Arsenal kalah tipis (91-89) dalam klasemen akhir dari Manchester City, lalu pada 2024-2025, dengan angka 74, Bukayo Saka dkk kalah bersaing dari Liverpool (84), setelah sempat tampil menjanjikan di separuh musim.</p>
<p>Kini, fase rawan itu pasti bakal dihadapi dalam partai-partai berikutnya. Agar konsisten dengan fokus akhir, kerikil mentalitas merupakan kendala yang menjadi prioritas untuk disingkirkan. Konsisten menjaga fokus, konsisten tidak terganggu cedera pemain, konsisten tidak kehilangan poin, dan konsisten untuk tidak membuat kesalahan-kesalahan elementer dalam laga-laga terakhir.</p>
<p><strong>Ketat sampai Akhir</strong><br />
Fokus menatap gelar juara tampaknya kembali memantapkan Arsenal. Yakin dengan diri sendiri, tak tergantung hasil tim-tim lain. Pesaing utamanya, Manchester City, yang tertinggal lima poin, punya “tabungan” satu laga, dan ini akan memperketat suasana rivalitas hingga 10 pertandingan sisa.</p>
<p>Kondisi ini, tampaknya menjadikan laga-laga mendekati akhir musim bakal semakin ketat: betapa trofi liga diraih dengan tidak mudah. Dan, inilah yang akan memberi nilai lebih bagi skuad Arteta, andai mereka mampu menghadirkan sejarah dari penantian panjang sejak terakhir kali juara pada 2004. Di bawah Arsene Wenger, mereka tak terkalahkan sepanjang musim, atau yang dikienal sebagai “The Invincible”.</p>
<p>Di era Liga Primer, Arsenal punya catatan impresif tiga kali juara (1997-1998, 2001-2002, 2003-2004), dan 14 kali meraih trofi FA sebagai rekor di Inggris.</p>
<p>Realitas terkini, mereka sudah terlalu lama menunggu. Hingga selesainya era Arsene Wenger (1996-2018), belum satu trofi liga pun yang terbukukan, baik pada masa kepelatihan Unai Emery (2018-2019), maupun Freddie Ljungberg (2019) hingga Mikel Arteta sejak 2019.</p>
<p>Pada 2026 ini, mereka sudah kehilangan 11 poin dari delapan laga. Sebelum mengalahkan Tottenham Hotspur, dalam dua laga terakhir, dua kali bermain imbang.</p>
<p>Arsenal punya sisa 10 pertandingan, dan masih diunggulkan untuk menjadi juara. Laga yang bakal menjadi <em>big match</em> dan menentukan adalah ketika bertandang ke Etihad untuk menghadapi Manchester City, 18 April mendatang. Dalam pertemuan di Emirates, kedua tim bermain imbang 1-1.</p>
<p><strong>Pembuktian Arteta</strong><br />
Pembuktian kapasitas Mikel Arteta juga menjadi poin menarik tersendiri di balik jalan yang ditempuh The Gunners. Jika sukses meraih trofi, pelatih asal Spanyol itu akan menjajari nama-nama besar Pep Guardiola, Juergen Klopp, Arsene Wenger, atau Jose Mourinho.</p>
<p>Karakter bermain yang dia hadirkan telah memberi kesegaran lewat atraktivitas performa Arsenal dalam tiga musim terakhir. Gabriel Martinelli cs dia racik sebagai tim eksplosif yang bermain menyerang dan enak ditonton.</p>
<p>Dalam beberapa segi, Arteta tampak mengadopsi permainan ofensif ala mentornya, Pep Guardiola. Sebelum berlabuh di Emirates, dia memang pernah tiga tahun (2016-2019) mendampingi sang genius sebagai asisten di Manchester City.</p>
<p>Arteta juga dikenal sebagai pengagum Jose Mourinho. Dia pernah merasakan sentuhan Mou, yang waktu itu menjadi staf di Barcelona B pada 1999. Arteta masih menjadi pemain di Akademi La Masia. Dia mengenal Mou sejak usia 15 tahun, dan mengagumi kemampuan pria Portugal itu dalam membentuk budaya klub.</p>
<p>Pelatih kelahiran 26 Maret 1982 ini, sejak 2019 memoles Arsenal menjadi lebih impresif dengan menjaga keseimbangan lini pertahanan, gelandang, dan penyerang. Musim kini, keputusannya mendatangkan Viktor Gyokeres dari Sporting CP mulai membuahkan hasil. Penyerang asal Swedia itu, yang semula lambat beradaptasi, kini menjadi salah satu sumber gol, termasuk ketika pekan lalu mengalahkan Tottenham Hotspur.</p>
<p><strong>Popularitas</strong><br />
Populatitas Mikel Arteta, harus diakui juga terangkat oleh dinamika yang dihadapi Arsenal dalam tiga musim terakhir, dari tim yang dijagokan meraih gelar akhirnya malah gagal di saat-saat akhir.</p>
<p>Banyak yang mengkritik Arteta belum berhasil menanamkan mentalitas juara, namun realitas “konsistensi” Arsenal dalam persaingan juara pada sisi lain juga membuktikan bahwa dari kapasitas teknis Meriam London ini menjadi kekuatan elite Liga Primer. Yang belum melengkapi adalah kekuatan mental meraih trofi.</p>
<p>Jalan memang masih panjang bagi pelatih muda itu, namun sorotan yang pasti mengikuti adalah seperti apa hasil Arsenal musim ini: apakah bisa mematahkan “kutukan” selalu <em>runner up</em> selama tiga musim sebelumnya, atau bisa pecah telur sebagai pelatih yang sukses mempersembahkan trofi.</p>
<p>Apa kerikil terakhir yang harus dia singkirkan, Mikel Arteta pasti sudah memahami&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/02/28/arsenal-dan-kerikil-terakhir">Arsenal dan Kerikil Terakhir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MU Masih Terus Berspekulasi, “Diakah Orangnya?”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/24/mu-masih-terus-berspekulasi-diakah-orangnya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2026 10:00:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Impresif]]></category>
		<category><![CDATA[Klasemen Sementara]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Narasi]]></category>
		<category><![CDATA[Stadion Olf Trafford]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=540980</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // pencarian bergulir tanpa batas/ satu per satu angkat tangan/ satu per satu pula angkat kaki/ dan, setiap tiba orang baru/ pertanyaan pun mengapung/ dalam harapan yang terhubung/ : diakah orangnya?// (Sajak “Manchester United”, 2026) MICHAEL Carrick, diakah orangnya? Narasi yang mempertanyakan “apakah dia orang yang cocok“, pastinya muncul setelah Manchester [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/24/mu-masih-terus-berspekulasi-diakah-orangnya">MU Masih Terus Berspekulasi, “Diakah Orangnya?”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-540982 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// pencarian bergulir tanpa batas/ satu per satu angkat tangan/ satu per satu pula angkat kaki/ dan, setiap tiba orang baru/ pertanyaan pun mengapung/ dalam harapan yang terhubung/ : diakah orangnya?//</em><br />
<strong>(Sajak “Manchester United”, 2026)</strong></p>
<p><strong>MICHAEL</strong> Carrick, diakah orangnya?</p>
<p>Narasi yang mempertanyakan “apakah dia orang yang cocok“, pastinya muncul setelah Manchester United tampil impresif di Stadion Olf Trafford, akhir pekan lalu.</p>
<p>Penampian pertama Michael Carrick sebagai manajer interim sungguh menjanjikan. Bruno Fernandes dkk membenamkan tetangganya, Manchester City 2-0, dan merangkak ke zona Liga Champions di peringat keempat klasemen liga.</p>
<p>Ya, suksesi kepelatihan MU sejak 2013 seperti spekulasi yang hingga sekarang belum juga berhenti, mengulang pertanyaan klasik sejak 13 tahun silam, “Diakah orangnya?”</p>
<p>Sejak manajer tersukses &#8212; Sir Alex Ferguson &#8212; pensiun, MU tak pernah berhenti mengapungkan harapan untuk menemukan kembali jalan kejayaan. Dari David Moyes, Ryan Giggs (interim), Louis van Gaal, Ole Gunnar Solskjaer, Michael Carrick (interim), Jose Mourinho, Ralf Rangnick, Erik ten Hag, Ruud van Nistelrooy (interim), hingga yang terakhir: Ruben Amorim, dan dilanjutkan pelatih interim Darren Fletcher.</p>
<p>Ke-11 nama itu hadir dengan beban pembuktian, juga spekulasi, antara keyakinan dan keraguan, antara kemampuan dan kenyataan, antara coba-coba dan kemungkinan.</p>
<p>MU adalah salah satu contoh klub yang mengalami fase penyurutan prestasi drastis setelah masa-masa kegemilangan pada era pelatih tertentu, dari 1990 hingga 2013. Catatan 13 kali juara di era Liga Primer (sejak 1992), dan 20 trofi Liga Inggris menjadi rekor yang belum tertandingi.</p>
<p><strong>Cakra Manggilingan?</strong><br />
Filsafat Jawa mengenali fenomena naik-turun itu sebagai Cakra Manggilingan. Inilah logika pusaran roda: kadang di atas, kadang di bawah. Pusaran manajemen memaknai kondisi ini sebagai refleksi kebelumcocokan figur pelatih dengan klub yang ditangani. Atau katakanlah, belum mampu mengurai persoalan yang sebenarnya sedang menyelimuti MU, dan bagaimana menerapkan jalan keluarnya. Belum ditemukan solusi dalam pergulatan proses, antara tesis, antitesis, dan sintesis.</p>
<p>Maka ketika Michael Carrick yang dipilih sebagai pelatih interim menjanjikan “selain kemenangan juga permainan yang enak dinikmati”, semua orang yang berkepentingan dengan MU kembali dibuai harapan. Juga mungkin bersikap skeptis, bersiap-siap untuk kembali diempas kekecewaan.</p>
<p>Orang bisa berpikir, “Main seadanya pun tidak masalah, yang penting menang”. Atau “Bermain sederhana tak apa-apa, tetapi bisa mengembalikan wibawa”. Atau berpikir seperti ideolog yang konsisten, “Menang, dari hasil permainan impresif”. Atau, mungkin dengan harapan minimalis, “Yang penting bisa kembali ke atmosfer elite”.</p>
<p>Bagi Michael Carrick, menerima tantangan melatih MU bagaimanapun adalah sebuah keberanian. Bukankah telah sekian nama besar yang harus menghadapi kenyataan pahit?</p>
<p>Mantan pemain The Red Devils 2006-2013 itu telah lima kali meraih trofi liga, dua kali Piala FA, sekali Liga Champions, sekali Liga Europa, dan sekali trofi dunia antarklub. Catatan ini tidak menjamin dia punya resep “cespleng” untuk mengembalikan MU ke panggung elite. Deret prestasi itu lebih ke “brand”, bahwa Carrick cukup memahami budaya juara bekas klubnya.</p>
<p>Nah, bisakah budaya juara memberi asupan modal kepada pelatih kelahiran Wall Send, Tyne and Wear, Inggris 44 tahun lalu itu dalam menangani Bruno Fernandes dkk?</p>
<p>Semasa bermain, Carrick dinilai punya kualitas unik. Dia punya peran vital dalam setiap pertandingan, namun selalu ada “di bawah bayang-bayang”. Dia konduktor orkestrasi yang menjadi pusat dan diteladani, sebagai pemimpin yang membuat respek rekan-rekannya, tetapi bukan tokoh yang menjadi sorotan utama.</p>
<p>Dia dikenal punya kecerdasan taktik, umpan akurat, dan kemampuan mengatur tempo permainan. Alex Ferguson memercayai eks pemain Tottenham Hotsur (2004-2006) itu sebagai jangkar, yang dengan konsisten dia perankan.</p>
<p><strong>Punya Modal</strong><br />
Michael Carrick punya modal dalam kiprahnya sebagai pelatih interim. Saat meneruskan tugas Ole Gunnar Solskjaer hingga akhir musim 2020-2021, dia mendampingi MU dalam tiga laga. MU mencatat dua kemenangan dan sekali imbang. MU menang 2-0 atas Real Villareal di ajang Liga Champions, dan 3-2 atas Arsenal di Liga Primer. Hasil imbang 1-1 diperoleh ketika melawan Chelsea.</p>
<p>Artinya, lima tahun lalu, pendekatan taktik Carrick bisa menyatu dengan skema MU. Dia punya modal untuk diterapkan dengan kondisi skematika baru ketika memimpin Brian Mbeumo cs, yang diawali di Old Trafford, pada pekan lalu.</p>
<p>Dalam perjalanan 11 pelatih pasca-Ferguson, sudah beragam taktik dan karakter permainan yang diterapkan untuk Setan Merah. Terakhir, “komplikasi” antara kekukuhan taktik Ruben Amorim dengan <em>mindset</em> jajaran manajemen klub berujung pemecatan pelatih asal Portugal itu ketika kontraknya baru akan berakhir 2027.</p>
<p>Carrick memang hanya manajer interim hingga musim ini berakhir. Tentu kinerjanya akan dinilai: apakah dia layak dipermanenkan, atau bernasib sama dengan 10 pelatih lain yang sudah mencoba membedah penyakit MU dari 2013 hingga sekarang.</p>
<p>Ucapan Ralf Rangnick, pelatih yang dikenal sebagai arsitek permainan <em>gegenpressing</em> masih mengiang, bahwa MU butuh “operasi jantung” untuk mengurai permasalahannya. Apakah bedah jantung itu sudah dilakukan? Apakah langkah-langkah Erik ten Hag dan Ruben Amorim sudah masuk dalam konsep bedah total Rangnick? Terbukti, para manajer setelah <em>coach</em> asal Jerman itu tidak juga mampu memperbaiki keadaan.</p>
<p>Theatre of Dream yang melekat sebagai predikat untuk Stadion Old Trafford menyiratkan betapa kuat impian dan harapan fans MU untuk sebuah kebangkitan yang lama ditunggu.</p>
<p>Apakah “kebangkitan MU” memang menunggu kehadiran sosok seperti Michael Carrick? Atau dia bakal memperpanjang daftar mereka yang berjalan gontai meninggalkan Old Trafford?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/24/mu-masih-terus-berspekulasi-diakah-orangnya">MU Masih Terus Berspekulasi, “Diakah Orangnya?”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bara yang Disuburkan oleh Kemasan Media</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/17/bara-yang-disuburkan-oleh-kemasan-media</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2026 10:00:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Aura Permusuhan]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Bundesliga]]></category>
		<category><![CDATA[Derby Milan]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[Rivalitas]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=539767</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // api tak kunjung padam/ terus membara/ dalam label klasik/ Real Madrid versus Barcelona/ : sepanjang media menyajikan/ memperpanjang perseteruan/ menjadikannya permusuhan abadi// (Sajak “El Clasico”, 2026) SIAPAKAH yang mempersubur rivalitas, perseteruan panas antara Real Madrid dan Barcelona? Pertanyaannya sama, ketika kita menyadari ada “api” yang terus menyala, atau dinyalakan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/17/bara-yang-disuburkan-oleh-kemasan-media">Bara yang Disuburkan oleh Kemasan Media</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-539768 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// api tak kunjung padam/ terus membara/ dalam label klasik/ Real Madrid versus Barcelona/ : sepanjang media menyajikan/ memperpanjang perseteruan/ menjadikannya permusuhan abadi//</em><br />
<strong>(Sajak “El Clasico”, 2026)</strong></p>
<p><strong>SIAPAKAH</strong> yang mempersubur rivalitas, perseteruan panas antara Real Madrid dan Barcelona?</p>
<p>Pertanyaannya sama, ketika kita menyadari ada “api” yang terus menyala, atau dinyalakan untuk mengobarkan aura permusuhan, misalnya antara dua Manchester: United dan City, atau Manchester Merah dan Manchester Biru.</p>
<p>Di Liga Seri A, ada laga Derby Milan yang sarat gengsi: Internazionale Milan versus AC Milan, atau di Bundesliga antara Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund dengan label Der Klassiker. Atau dalam skala tertentu, di Liga Super Indonesia kita mengenal laga panas Persib Bandung vs Persija Jakarta, dan Persebaya Surabaya vs Arema Malang.</p>
<p>Siapa yang menyalakan, siapa pula yang merawat, dan siapa menyuburkannya?</p>
<p>Dasar-dasar perseteruan memang sudah ada dari latar sejarah kedua kubu, yang disadari atau tidak, menarik minat media untuk mengolah, mengeksploitasi, menjadi sajian yang terkemas dalam sebuah daya tarik, dan ujungnya: viral. Sudut pandangnya memberi realitas ada pertentangan berbasis elemen-elemen penyubur penuh emosi, primordi, mungkin pula politik, yang menciptakan <em>magnitude</em>.</p>
<p>Media mengolah setiap potensi pertemuan panas itu dengan indikator-indikator yang terkait dengan perkembangan terkini, pemicu, dan langkah-langkah kedua klub menyiapkan diri ke laga terbaru. Bahkan dengan <em>framing</em> yang dipilih menonjolkan<em> angle-angle</em> tertentu.</p>
<p>El Clasico Real Madrid vs Barcelona, misalnya, bergerak dengan dinamika yang digiring oleh opini media, sejak 1929. Duel ini, sama seperti laga-laga klasik di sejumlah liga, membara dengan berbagai indikator latar belakang dan representasi penyulutnya. Latar politik Spanyol di belakang kedua klub juga “menyuarakan” emosi tersendiri pada setiap pertemuan mereka. El Clasico berlatar belakang perlawanan bangsa Catalan yang direpresentasikan oleh Barelona terhadap kekuasaan diktatorial Jendeal Franco di Ibu Kota Spanyol, Madrid.</p>
<p><strong>“Perang Propaganda”</strong><br />
Di ranah media, Madrid disokong oleh <em>AS</em> dan <em>Marca</em>, sedangkan Barcelona didukung <em>Sport</em> dan <em>Mundo Deportivo</em>. Keempat media ini sering terlibat adu opini yang beraksen “perang propaganda” demi menciptakan berita-berita bombastis dan viral, yang tentu berpengaruh dalam politik pemberitaan dengan <em>framing</em> masing-masing.</p>
<p>Peran media dalam penyuburan representasi identitas sebuah klub, benar-benar tercermin dari pemberitaan tentang El Clasico. Sangat terasa bagaimana tensi laga klasik ini dieksploitasi. Duel ini menjadi fenomena global, yang oleh setiap media diapungkan menjadi bagian terpenting dalam sepak bola internasional. Penggemar Barca dan Madrid di seluruh dunia punya cara sendiri dalam meng-<em>up date</em> perkembangan klub yang didukungnya.</p>
<p>Sepekan lalu, baru saja kita simak final Piala Super Spanyol di Stadion Raja Abdullah, Jeddah, Arab Saudi, mengetengahkan El Clasico yang dimenangi 3-2 oleh Barcelona.</p>
<p>Superioritas Barca begitu terasa di partai puncak itu. Pada sisi lain “luka” Madrid makin menganga. Penegasan dominasi Les Cules tergambar dari lima pertemuan terakhir. Di La Liga (26 Oktober 2025) Real Madrid 2-1 Barcelona; La Liga (11 Mei 2025) Barcelona 4-3 Real Madrid; final Copa del Rey (24 April 2025) Barcelona 3-2 Real Madrid; final Piala Super Spanyol (12 Januari 2025) Real Madrid 2-5 Barcelona; dan La Liga (26 Oktober 2024) Real Madrid 0-4 Barcelona.</p>
<p>Sejak pertemuan pertama dua raksasa Spanyol itu pada 1929, Real Madrid masih unggul satu strip dengan 106 kali menang, Barcelona membukukan 105 kemenangan, dan seri 52 kali. Kedua klub akan kembali bertemu pada 10 Mei 2026 mendatang.</p>
<p><strong>Lebih Meyakinkan</strong><br />
Menjelang keberangkatan ke Jeddah, Barcelona didukung oleh rekor <em>head to head</em> yang lebih meyakinkan. Mereka mengemas empat kemenangan dari lima pertemuan sejak awal 2024-2025. Namun dalam laga terakhir di Santiago Bernabeu, Oktober silam Blaugrana kalah 1-2 di hadapan fans Madrid.</p>
<p>“Kekalahan di liga itu sangat sulit buat kami, rasanya menyakitkan, tetapi sekaligus menjadi motivasi tambahan untuk pertandingan besok,” kata bek serba bisa Barca, Eric Garcia di laman resmi klub.</p>
<p>Bagi dia, momen final Piala Super itu adalah kesempatan untuk membalas, namun yang terpenting adalah memenangi trofinya. “Jika kami bisa memperbaiki aspek-aspek yang kurang bagus di Bernabeu, maka saya yakin kami akan mendapatkan hasil yang bagus,” ucapnya. (<em>detik.com</em>, 11 Januari 2026).</p>
<p>Setelah kekalahan di Bernabeu itu, Barca memenangi 12 dari 14 laga berikutnya di semua kompetisi dengan hanya sekali kalah. Eric Garcia dkk membukukan sembilan kemenangan berturut-turut, termasuk saat menggulung Athletic Bilbao 5-0 di semifinal Piala Super Spanyol.</p>
<p>Dan, langsung atau tidak langsung, hasil El Clasico terakhir itu memicu pemberhentian Xabi Alonso, hanya kurang dari 24 jam setelah Real Madrid kalah dari Barcelona di final Piala Super Spanyol.</p>
<p>Pelatih yang didatangkan dari Bayer Leverkusen untuk menggantikan Carlo Ancelotti itu baru memimpin tim dalam 34 laga, memberi 24 kemenangan, 4 kali imbang, dan 6 kali kalah di semua kompetisi. Hasil yang tidak buruk, sebenarnya, mencatat 70 persen lebih kemenangan.</p>
<p>Momen ini menggambarkan, betapa persaingan Madrid dengan Barca bisa memberi tafsir emosional yang sangat cepat, antara lain dalam menilai kapasitas seorang taktikus. Alonso dan para pemain tidak menduga akan ada keputusan manajemen Los Blancos sedrastis itu.</p>
<p>Hubungan Xabi Alonso dengan sejumlah pemain memang kurang harmonis, namun pemberhentian itu, bagaiamanapun cukup mengejutkan. Dan, yang dijadikan momentum rupanya adalah El Clasico.</p>
<p>Ya, setiap pertemuan menambah catatan sejarah yang makin menegangkan. Setiap laga bakal menyemaikan bara dendam baru. Luka pun makin memperdalam rivalitas. Dan, oleh media, setiap elemen pertandingan bisa dijadikan indikator yang mempersubur ketegangan, baik menjelang, pada saat, maupun setelahnya.</p>
<p>Di seluruh dunia, media mem-<em>blow up</em>-nya dalam daya tarik mediatika, dengan beragam elemen yang menjadikan El Clasico sebagai pusat. Dari statistik, kisah pemain utama dan bintang baru, transfer-transfer kontroversial, statemen, hingga berbagai potensi sentuhan emosional.</p>
<p>Ke depan, bara perseteruan itu tampaknya tidak akan mereda. Media tetap memosisikan duel klasik itu sebagai daya tarik sepak bola yang tak hanya berpusar tentang olahraga ini. Dia &#8212; El Clasico &#8212; menjadi ekosistem dalam kehidupan masyarakat yang mengetengahkan drama politik, representasi identitas sebuah komunitas, dan aneka drama sepak bola. Dalam laga ini, olahraga hanya menjadi bagian dari subsistem, selebihnya adalah representasi kehidupan manusia.</p>
<p>Dan, El Clasico menjadi makin membara dalam kemasan pemberitaan media&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.id">Suarabaru.id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/17/bara-yang-disuburkan-oleh-kemasan-media">Bara yang Disuburkan oleh Kemasan Media</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak Ada yang Tahu Apa yang Akan Terjadi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/12/27/tak-ada-yang-tahu-apa-yang-akan-terjadi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2025 10:00:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Enzo Maresca]]></category>
		<category><![CDATA[Impresif]]></category>
		<category><![CDATA[liga inggris]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Citizens]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=536433</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak ada yang abadi/ begitukah sepak bola/ bergerak mobil dalam dinamikanya/ hanya bisa diperkirakan/ apa yang akan terjadi esok/ dan, siapa pula yang merancangnya/ pada saat ini?// (Sajak “Pep Guardiola”, 2025) TAHUN 2016, ketika Pep Guardiola tiba di Manchester dari Bayern Muenchen, bukankah saat itu terkesankan: tiba-tiba dia menggantikan Manuel [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/27/tak-ada-yang-tahu-apa-yang-akan-terjadi">Tak Ada yang Tahu Apa yang Akan Terjadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-536435 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak ada yang abadi/ begitukah sepak bola/ bergerak mobil dalam dinamikanya/ hanya bisa diperkirakan/ apa yang akan terjadi esok/ dan, siapa pula yang merancangnya/ pada saat ini?//</em><br />
<strong>(Sajak “Pep Guardiola”, 2025)</strong></p>
<p><strong>TAHUN</strong> 2016, ketika Pep Guardiola tiba di Manchester dari Bayern Muenchen, bukankah saat itu terkesankan: tiba-tiba dia menggantikan Manuel Pellegrini yang sebenarnya juga mampu mengemas performa Manchester City sebagai kekuatan elite baru Liga Primer?</p>
<p>Pria kelahiran Santiago, Chile itu bahkan menjadi manajer non-Eropa pertama yang meraih trofi Liga Inggris pada 2013-2014.</p>
<p>Cerita sembilan tahun silam itu, sama dengan yang sekarang terwacanakan. Bakal datang orang baru yang menggeser Pep dari kursi kepelatihan The Citizens, dan sang pengganti itu tidak jauh-jauh amat: Enzo Maresca dari Chelsea. Masa depan Pep pun tiba-tiba dispekulasikan.</p>
<p>Dulu tak banyak yang memperkirakan, Manuel Pellegrini bakal mudah tergeser. Waktu itu berkembang analisis, Manchester City mendatangkan Pep Guardiola demi mempercepat proses merajai liga dan Eropa dengan permainan yang lebih impresif. Sedangkan sekarang, diduga Maresca didatangkan untuk sebuah proyek penyegaran. Pep &#8212; yang telah membawa City merajai liga dan mempersembahkan gelar Eropa pada 2022-2023 &#8212; dinilai mulai memasuki atmosfer kejenuhan, sudah tidak memiliki lagi tantangan yang hendak diraih.</p>
<p>Lalu, apakah musim 2026-2027 nanti pergeseran itu benar-benar akan terjadi?</p>
<p>Ya, ketika kontrak Pep baru akan berakhir 2027, tiba-tiba saja muncul rumor Enzo Maresca menjadi kandidat kuat manajer City. Media-media Inggris menspekulasikan Maresca sebagai pengganti Pep. Pria kelahiran Italia itu pernah menjadi pelatih City U23 dan asisten Pep. Direktur Olahraga Manchester City, Hugo Viana disebut-sebut telah bertemu dengan Maresca.</p>
<p>Bersama Chelsea, pencapaian Maresca cukup bagus. Pelatih 45 tahun itu memberi trofi Conference League dan juara Piala Dunia Antarklub 2025. Dia tengah berjuang mengembalikan kejayaan The Blues di liga.</p>
<p>“Penting untuk memahami alasan di balik adanya berita ini,” kata Maresca dengan tafsir samar. Apakah kalimat ini ditujukan untuk manajemen Chelsea, sehingga dia punya posisi tawar yang kuat?</p>
<p>Spekulasi itu kencang berembus, justru ketika kedua klub sedang bersaing di papan atas dengan Arsenal. Di pihak lain, Pep dengan bijak menyatakan tidak bisa menjamin apakah musim depan bakal bertahan di Etihad. Menurutnya, apa pun bisa terjadi dalam sepak bola. Bagi dia, yang terpenting adalah menjaga performa agar Erling Haaland dkk bisa sebaik mungkin menuntaskan musim.</p>
<p>Seperti ditulis oleh <em>The Athletic </em>(<em>detik.com</em>, 20 Desember 2025), Pep mengatakan, “Saya kan masih di sini. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Sepak bola bisa berubah setiap saat, bahkan jika saya punya kontrak 10 tahun, atau enam bulan”.</p>
<p>Pelatih asal Spanyol itu telah enam kali memberi gelar liga kepada City, di antaranya empat musim berturut-turut pada 2020-2021, 2021-2022, 2022-2023, dan 2023-2024, ditambah gelar-gelar lain Piala FA, Piala Liga, Community Shield, lalu juga Liga Champions, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Atarklub FIFA.</p>
<p>Sebelum berkarier di Etihad, Pep juga cemerlang bersama Barcelona dan Bayern Muenchen. Dia dikenal sebagai “ideolog” sepak bola menyerang, menyempurnakan <em>total football</em> Johan Cruyff dengan <em>possession football</em> ala Barca yang terkenal sebagai <em>tiki-taka</em>.</p>
<p>Kebersamaannya dengan The Citizens sejak 2016, bagaimanapun menghadirkan fakta, Manchester Biru telah menjadi kekuatan elite Liga Primer. Dan, di balik kejeniusannya, cepat atau lambat dia bisa diliputi atmosfer kejenuhan, “kehilangan tantangan”, dan diperkirakan membutuhkan suasana baru.</p>
<p>Apakah dia menjadi simbol realitas bahwa tidak ada yang abadi di sepak bola? Akan selalu terjadi pergerakan, pergeseran, dan mobilitas dalam dinamika industri kompetisi. Atau yang dalam ungkapan Pep Guardiola, “Dalam sepak bola, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi?”</p>
<p>Apalagi, di dunia kepelatihan profesional, kita memahami mereka bagai berjalan di titian rambut dibelah tujuh. Penuh risiko dan keniscayaan antara mencapai kesuksesan, atau masuk ke lorong keterpurukan.</p>
<p>Ya, hari ini Pep masih di Etihad. Hari ini Maresca juga masih di Stamford Bridge. Tak ada yang tahu, esok mereka akan berlabuh di mana…</p>
<p><strong>&#8212;</strong> <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> <strong>&#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/27/tak-ada-yang-tahu-apa-yang-akan-terjadi">Tak Ada yang Tahu Apa yang Akan Terjadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Rencana Tak Berjalan Semestinya</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/11/29/ketika-rencana-tak-berjalan-semestinya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2025 10:00:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[adaptasi]]></category>
		<category><![CDATA[Arne Slot]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Juergen Klopp]]></category>
		<category><![CDATA[Konfiden]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Reds]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=510239</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak selalu/ cerita berjalan seperti rencana/ ada kelokan dan realitas/ yang mengubahnya/ kadang dengan ekstremitasnya// (Sajak “Slot dan Liverpool”, 2025) KETIKA menggantikan Juergen Klopp pada musim 2024-2025, Arne Slot terlihat sebagai sosok konfiden yang diberkahi kemudahan. Liverpool tak mengalami kesulitan beradaptasi dengan manajer baru. The Reds mulus meraih trofi Liga [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/29/ketika-rencana-tak-berjalan-semestinya">Ketika Rencana Tak Berjalan Semestinya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-510244 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-4-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-4-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-4-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-4.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak selalu/ cerita berjalan seperti rencana/ ada kelokan dan realitas/ yang mengubahnya/ kadang dengan ekstremitasnya//</em><br />
<strong>(Sajak “Slot dan Liverpool”, 2025)</strong></p>
<p><strong>KETIKA</strong> menggantikan Juergen Klopp pada musim 2024-2025, Arne Slot terlihat sebagai sosok konfiden yang diberkahi kemudahan. Liverpool tak mengalami kesulitan beradaptasi dengan manajer baru.</p>
<p>The Reds mulus meraih trofi Liga Primer. Sementara para rival seperti Manchester City dan Manchester United terpuruk. Arsenal dan Chelsea lagi-lagi tak cukup tahan bersaing di klasemen atas untuk berebut juara.</p>
<p>Maka ketika Slot dan Liverpool memperkuat diri dengan sejumlah rekrutan mahal &#8212; seperti Florian Wirtz dan Alexander Isak &#8212; mengawali musim 2025-2026, hampir semua orang berpikir klub kota pelabuhan itu bakal menjelma menjadi kekuatan tak terlawan. Terbayangkan, <em>superteam</em> Liverpool di tangan manajer sekualitas Arne Slot bakal makin <em>nggegirisi</em> di Liga Primer dan Liga Champions.</p>
<p>Nyatanya, pekan lalu Liga Primer mengetengahkan warna pilu. Liverpool melewati laga dengan catatan buruk seperti 60 tahun yang lalu. Pada 22 November di Stadion Anfield yang dikenal “angker”, sang juara bertahan dilibas Nottingham Forest 0-3.</p>
<p>Hasil itu mengulangi catatan buruk pada pekan sebelumnya di Etihad, ketika Mohamed Salah dkk takluk 0-3 di tangan tuan rumah Manchester City. Dan, pada 27 November kemarin, mereka melengkapi keterpurukan dengan kekalahan 1-4 dari PSV Eindhoven di Anfield, dalam <em>matchday</em> 5 Liga Champions.</p>
<p>Statistik mencatat, untuk kali pertama sejak 60 tahun terakhir, Liverpool kalah lebih dari 3 gol dalam dua laga beruntun di Liga Inggris. Terakhir kali The Reds mengalaminya pada April 1965 ketika diarsiteki manajer legendaris, Bill Shankly. Dalam status sebagai juara bertahan, Liverpool kalah 0-3 beruntun dari West Bromwich Albion dan Tottenham Hotspur.</p>
<p>Musim ini, Liverpool sudah sembilan kali kalah dari 12 pertandingan terakhir di semua ajang. Di Liga Inggris, mereka enam kali kalah dari 12 laga. Kekalahan dari Forest memerosotkan Liverpool ke posisi 11 klasemen sementara dengan 18 poin, di bawah Manchester United (18 poin) yang belum memainkan <em>matchday</em> ke-12. Kekalahan keenam dari 12 pertandingan di Liga Primer menempatkan mereka di posisi ke-11 klasemen dengan 18 poin. Ini menjadi kekalahan keenam dari tujuh pertandingan terakhir di seluruh ajang. Kalau ditambah dengan hasil buruk melawan PSV, lengkap sudah kebabakbeluran Pasukan Anfield.</p>
<p>Kata pelatih Arne Slot, “Kami punya banyak pemain bagus. Menjadi tugas saya mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Untuk saat ini saya tidak bisa. Itulah mengapa saya bilang ini tanggung jawab saya,” ujar Slot seperti dikutip <em>BBC Sport</em> (<em>detik.com</em>, 23 November 2025).</p>
<p><strong>Tak Berjalan</strong><br />
Pernyataan Slot mengisyaratkan ada “kesenjangan” antara rencana (<em>game plan</em>) dengan yang tersaji di lapangan. Antara realitas Liverpool memiliki para pemain terbaik di posisinya, dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan skema Slot. Artinya, ada renana yang tak berjalan semestinya.</p>
<p>Apa yang dihadapi Arne Slot sebenarnya juga dialami oleh para taktikus lain. Apakah itu Ruben Amorim, Enzo Maresca, Mikael Arteta, juga Pep Guardiola. Maka kita menyaksikan liga-liga Eropa seperti panggung yang mengetengahkan adu rencana, adu taktik, dan adu kejeniusan, yang kemudian tersaji sebagai produk “sesuai rencana”, “mediokritas capaian”, atau “kegagalan”.</p>
<p>Lalu apakah Arne Slot bisa disebut gagal untuk menyatukan puzzle-puzzle potensi yang seharusnya menghasilkan kehebatan sebuah tim? Jangan buru-buru memvonis pelatih asal Belanda itu, karena jangan-jangan ini adalah hukum alam kompetisi dengan segala kalkulasi yang tak bia dihitung secara matematis.</p>
<p>Slot tidak mau banyak berdalih atas periode buruk ini. Baginya, ada satu hal yang menjadi biang. Yakni Liverpool “dihukum” oleh kegagalan mereka memaksimalkan banyak peluang yang didapat.</p>
<p>Dengan <em>ball possession</em> 75-25, lebih dari 30 menit di babak pertama Virgil van Dijk dkk menekan penuh Forest, namun peluang-peluang di awal yang didapat Alexis Mac Allister dan Milos Kerkez, tak tertuntaskan sebagai gol.</p>
<p>Dia mengakui, belum pernah melihat timnya menciptakan peluang sebanyak itu. Tentu sulit dipahami, di tengah banyak kesempatan, setiap kali diserang lawan, malah begitu mudah kebobolan. Artinya, selain tumpulnya lini penyerang, realitas kerapuhan lini pertahanan juga menjadi problem bagi The Reds dalam tiga laga terakhir.</p>
<p>Dinamika kompetisi memang menciptakan kondisi yang terkadang tidak dipahami oleh tim-tim besar. Semua persiapan skematika, kedalaman skuad, dan <em>game plan</em> sudah dimatangkan, namun tak jarang tim-tim medioker dan yang kurang masuk hitungan malah menciptakan hasil “yang tidak-tidak”.</p>
<p>Frasa “yang tidak-tidak” itu menggambarkan kondisi psikologis kompetisi yang tak jarang diwarnai oleh kejutan-kejutan. Dalam logika permainan, boleh jadi yang berlangsung adalah keberhasilan menerapkan<em> counter tactic</em>, sehingga tim-tim yang dipandang sebagai “anak bawang” bisa meredam permainan tim-tim yang lebih mapan.</p>
<p>Apakah Liverpool masuk dalam logika dinamika ini? Semakin rasa percaya diri hilang karena kekalahan demi kekalahan yang menyusul, bakal semakin terasa betapa sulit bangkit dari situasi semacam ini.</p>
<p>Para manajer seperti Arne Slot mungkin sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti ini, namun tampaknya dia membutuhkan cukup waktu untuk mencerna dan mengurai solusi. Kekalahan telak 1-4 dari PSV di Anfield menjadi bagian dari gambaran betapa Slot dihadapkan pada situasi yang tidak mudah&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/29/ketika-rencana-tak-berjalan-semestinya">Ketika Rencana Tak Berjalan Semestinya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pep Guardiola dalam “Rekor Gila”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/11/15/pep-guardiola-dalam-rekor-gila</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2025 10:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Alex Ferguson]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pele]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=507249</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // apa lagi yang diincar/ untuk mempertajam catatan/ capaian baru/ eksepsionalitas tak tersamai/ sebagai pengecualian/ dengan para kompetitor// (Sajak “Pep Guardiola”, 2025) MANUSIA rekor. Sebutan itu layak disampirkan kepada sejumlah tokoh sepak bola dengan tingkat pengecualian tiada tara. Katakanlah, Anda akan menoleh ke sejarah lama untuk mengenang Edson Arantes Do Nascimento [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/15/pep-guardiola-dalam-rekor-gila">Pep Guardiola dalam “Rekor Gila”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-507251 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// apa lagi yang diincar/ untuk mempertajam catatan/ capaian baru/ eksepsionalitas tak tersamai/ sebagai pengecualian/ dengan para kompetitor//</em><br />
<strong>(Sajak “Pep Guardiola”, 2025)</strong></p>
<p><strong>MANUSIA</strong> rekor. Sebutan itu layak disampirkan kepada sejumlah tokoh sepak bola dengan tingkat pengecualian tiada tara.</p>
<p>Katakanlah, Anda akan menoleh ke sejarah lama untuk mengenang Edson Arantes Do Nascimento alias Pele. Lalu memosisikan Diego Maradona, Zinedine Zidane, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan kini Pep Guardiola, setelah sebelumnya kita juga tidak mungkin meninggalkan nama Alex Ferguson.</p>
<p>Eksepsionalitas itu tak hanya terkait dengan kemampuan untuk membedakan nama-nama itu dari yang lain, namun membawa warna kepada dunia sepak bola lewat catatan dan angka-angka. Bagai cerita, tetapi nyata.</p>
<p>Dan, Minggu dinihari lalu, ketika Manchester City menjamu Liverpool di Stadion Etihad, catatan berbeda itu dibuat oleh Pep Guardiola. Dia melengkapi diri sebagai “manusia rekor”, masuk “klub 1.000”, pelatih yang memimpin tim dalam laga yang ke-1.000. Pria Spanyol itu mengukirnya bersama tiga klub &#8212; Barcelona, Bayern Muenchen, Manchester City &#8212; sejak 2007.</p>
<p>Ke-1.000 laga Pep itu dicatat bersama Barcelona B (42 laga), Barcelona (247), Bayern Muenchen (161), dan The Citizens (549). Dalam 18 karier kepelatihannya, dia membukukan 36 trofi, termasuk 12 gelar dari tiga liga yang berbeda. Pep mengukir 716 kemenangan atau sebanyak 71 persen.</p>
<p>Laga ke-1.000 itu menjadi makin berkesan bagi Pep, karena ditandai dengan kemenangan 3-0 City atas Liverpool.</p>
<p><strong>Apresiasi Alex Ferguson</strong><br />
Pelatih legendaris Manchester United, Alex Ferguson secara khusus memberi ucapan selamat dan apresiasi kepada Pep Guardiola. “Saya sangat senang menyambut Anda bergabung dengan League Managers Assosiation Hall of Fame 1.000 club yang bergengsi”, kata Sir Alex, seperti dikutip <em>ESPN</em> (<em>detik.com</em>, 8 November 2025).</p>
<p>Ferguson mencatat lebih dari 2.000 pertandingan, termasuk ketika menangani Manchester United (1986-2013) dengan 49 trofi (38 bersama MU). Manajer asal Skotlandia itu memuji capaian Pep Gardiola, “Cinta dan hasrat Anda yang mendalam terhadap sepak bola selalu begitu nyata. Anda patut bangga atas dampak tak terlupakan nyang terus Anda berikan di dunia sepak bola global”.</p>
<p>Selain Sir Alex, nama lain yang termasuk “klub 1.000” adalah Brian Clough yang identik dengan Nottingham Forest, dan Sir Matt Busby yang dikenal sebagai legenda Liverpool.</p>
<p>Pep mengaku kaget sampai ke catatan tersebut. Dia tidak pernah mengira bisa mendapatkan kemenangan sebanyak itu, dengan persentase yang besar selama berkarier. “Kami sudah melakukan banyak hal luar biasa di Barcelona, Bayern Munich, dan di sini. Luar biasa. Sangat sulit meraihnya,” ucap dia.</p>
<p>Dengan tetap merendah, Pep mengakui, level tersebut dicapai berkat bantuan para pemain top di setiap tim yang ditangani. Setelah itu, dia menekankan kesuksesan itu pada fondasi kerja keras, dedikasi, cinta, semangat, dan untuk tidak kalah dari siapa pun.</p>
<p><strong>Genius</strong><br />
Pep Guardiola dikenal sebagai pelatih genius, mengembangkan filosofi <em>pressing football</em> yang diwariskan oleh mentornya, Johan Cruyff. Saat legenda Belanda itu mengarsiteki Barcelona, Pep bermain sebagai “murid” yang menyerap pemikiran tentang taktik dan filosofinya.</p>
<p>Ketika meneruskan tugas Frank Rijkaard sejak 2007, konsep bermain Barca dipertajam lebih dari <em>pressing football</em>. Pep mendoktrinkannya mirip “ideologi”. Permainan Blaugrana beraksen <em>possession football</em>, yang kemudian dikenal sebagai<em> tiki-taka</em>. Skema taktik menyerang ini bertumpu pada umpan-umpan pendek cepat dengan penguasaan intens bola, mengendalikan permainan, dan mencari celah pertahanan lawan.</p>
<p>Barca begitu superior dari 2007 hingga 2012. Pep menerapkan filosofi itu di Bayern Muenchen (2013-2016). Die Bayern dominan di Bundesliga, namun kurang sukses di Eropa. Para legenda klub mengkritik,<em> tiki-taka</em> ala Barcelona tidak cocok diterapkan sebagai karakter bermain di Bayern. Ketika pindah ke Manchester City pada 2016, dia mengubah klub itu menjadi kekuatan utama Liga Primer, bertumpu pada <em>possession football</em> yang mirip karakter Barcelona.</p>
<p>Kiranya benar apa kata Alex Ferguson, filosofi sepak bola Pep punya dampak global yang takkan terlupakan. Ketika mengilas balik Barcelona 2007-2012, publik sepak bola dunia bakal mencatatnya sebagai warisan yang tidak ada duanya.</p>
<p>Tim nasional Spanyol pun, kendati diarsiteki oleh para pelatih yang tak berlatar belakang Barcelona, cenderung menampilkan performa <em>tiki-taka</em> sebagai karakter permainan La Furia Roja, terutama ketika meraih trofi Euro 2008 (Luis Aragones), juara dunia 2010 dan Euro 2021 (Vicente del Bosque), dan kampiun Euro 2024 (Luis de la Fuente)&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/15/pep-guardiola-dalam-rekor-gila">Pep Guardiola dalam “Rekor Gila”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Si 007 Mulai Bisa Tersenyum</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/10/25/si-007-mulai-bisa-tersenyum</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2025 10:00:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Bayer Leverkusen]]></category>
		<category><![CDATA[Bundesliga]]></category>
		<category><![CDATA[Florian Wirtz]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Viktor Gyokeres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=503367</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // terbebanikah dia/ oleh banderol harga tinggi/ atau karena masalah adaptasi?/ liga yang berbeda/ atmosfer yang tak sama/ oo, dunia tak boleh kehilangan/ di mana pun dia berada/ ayo, tersenyumlah Florian Wirtz&#8230;// (Sajak “Beban Florian Wirtz”, 2025) SENYUM mulai menebar di wajah Florian Wirtz. Dua assist dia kontribusikan untuk gol-gol Cody [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/10/25/si-007-mulai-bisa-tersenyum">Si 007 Mulai Bisa Tersenyum</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-503375 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/10/logo-bola-bola-2.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/10/logo-bola-bola-2.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/10/logo-bola-bola-2-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// terbebanikah dia/ oleh banderol harga tinggi/ atau karena masalah adaptasi?/ liga yang berbeda/ atmosfer yang tak sama/ oo, dunia tak boleh kehilangan/ di mana pun dia berada/ ayo, tersenyumlah Florian Wirtz&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Beban Florian Wirtz”, 2025)</strong></p>
<p><strong>SENYUM</strong> mulai menebar di wajah Florian Wirtz. Dua <em>assist</em> dia kontribusikan untuk gol-gol Cody Gakpo dan Dominic Sloboszlai dalam kemenangan 5-1 Liverpool atas Eintracht Frankfurt dalam laga Liga Champions, Kamis dinihari lalu.</p>
<p>Setidak-tidaknya, ini menjadi jawaban setelah dia didiskusikan panjang-lebar oleh para pandit: mengapa “mejan” dalam sejumlah laga Liverpool. Dia bahkan sempat diberi julukan “agen 007”, sindiran menyedihkan bahwa dalam tujuh pertandingan dia masih nir gol dan nir <em>assist</em>.</p>
<p>Gelandang serang Liverpool yang didatangkan dari Bayer Leverkusen dengan banderol Rp 2,5 triliun itu sempat memecahkan rekor Liga Primer, sebelum diperbarui oleh Alexender Isak dengan Rp 2,8 triliun ketika diboyong dari Newcastle United.</p>
<p>Publik Anfield diliputi harapan besar: bakal muncul cahaya baru yang berkilau dari penampilan Wirtz. Pemain 22 tahun itu diperkirakan bakal makin menyolidkan Liverpool dengan skema ideal yang nyaris tanpa celah.</p>
<p>Realitasnya, predikat 007 itu harus dia hadapi, dalam tujuh laga sejak berkostum The Reds, belum mengontribusikan apa pun. Performanya dianggap rata-rata. Apakah karena terbebani oleh harga transfer, atau tak cukup siap beradaptasi dengan Liga Primer yang menuntut fisik lebih keras, beda atmosfer dari Bundesliga?</p>
<p>Tujuh partai tanpa peran menonjol jelas memprihatinkan bagi Wirtz, salah satu bakat terbesar Jerman. Bersama talenta muda Jerman lainnya, Jamal Musiala, Florian Wirtz menyedot parhatian dunia. Jamal sedang dalam proses pemulihan cedera lantaran bertabrakan dengan kiper Paris St Germain (waktu itu) Gianluigi Donnarumma yang kini memperkuat Manchester City.</p>
<p>Pekan lalu, Wirtz tentu menambah beban psikologis bagi dirinya sendiri ketika diturunkan sebagai pengganti, bermain hanya 28 menit ketika menghadapi Manchester United. Tekanan yang bertambah berat, mengingat performa Liverpool yang sedang buruk hingga pekan kedelapan liga. The Reds kalah 1-2 di kandang sendiri.</p>
<p>Akhirnya, momen untuk menunjukkan siapa Wirtz sebenarnya diperlihatkan dalam laga melawan Eintracht Frankfurt. Di Stadion Deutsche Bank Park, dia tampil dengan penuh konfidensi, memberi dua umpan berujung gol kepada Gakpo dan Szoboszlai. Bahkan, dia berkesempatan mencetak gol pertamanya, andai Mohamed Salah tidak “egois”: mau memberinya umpan pada pengujung pertandingan.</p>
<p><strong>Melengkapi Puzzle</strong><br />
Di Liverpool, Wirtz diproyeksikan untuk melengkapi puzzle bintang yang disusun oleh sang arsitek, Arne Slot. Namun, sejauh ini, dalam amatan legenda Manchester United Wayne Rooney, pengidola Lionel Messi itu justru mengganggu keseimbangan tim (<em>detik.com</em>, 30 September 2025).</p>
<p>Rooney menilai Wirtz justru bagai duri dalam daging di skuad The Reds. “Ini sulit baginya. Saya rasa itu tidak dapat disangkal, dan dia akan mencari tahu sendiri untuk mencoba memperbaikinya,” kata Rooney dalam wawancara dengan <em>Sport Bible</em>.</p>
<p>Musim ini, Liverpool melengkapi lini depan yang benar-benar baru, dan tentu semua ingin bermain bagus. “Mereka bersaing untuk masuk ke tim, dan saya pikir Wirtz mungkin tidak bermain sebaik itu, tetapi dia memiliki banyak kemampuan”.</p>
<p>“Saya akan memilih (Hugo) Ekitike dan (Alexander) Isak. Saya pikir Wirtz justru merusak keseimbangan permainan Liverpool, tetapi dia pemain top, dan saya yakin dia akan semakin baik,” jelasnya.</p>
<p>Wirtz sempat memberi <em>assist</em> dalam laga Community Shield melawan Crystal Palace, ketika Liverpool kalah adu penalti 2-3. Dia belum mengontribusikan gol di liga, dan dikritik karena bermain terlalu dalam.</p>
<p>Legenda The Reds asal Jerman, Dietmar Hamann sebelumnya menyatakan, kualitas Wirtz tak perlu diragukan, tetapi masalah adaptasi menjadi kunci. “Dia belum nyetel. Jelas biaya transfer dia sangat besar, tetapi saya rasa dia adalah pemain luar biasa, pemain tangguh,” ujarnya kepada <em>Sports Mole</em> (<em>liputan6.com</em>, 11 September 2025).</p>
<p>Hamann mengingatkan agar Wirtz segera bangkit. “Saya sama sekali tidak ragu bahwa dia akan sukses di Inggris, tetapi dia harus matang dengan cepat. Permainan di sini berbeda. Di sini segalanya lebih cepat, lebih menuntut fisik, dan dalam empat performa sejauh ini, bisa dibilang dia hanya rata-rata,” tegasnya.</p>
<p>Situasi tentu semakin rumit bagi Wirtz dengan kembalinya beberapa pemain kunci Liverpool dari cedera. Persaingan di lini tengah dan lini depan kian ketat, membuat posisi Wirtz bisa saja terancam jika dia tidak segera menunjukkan kualitas terbaiknya.</p>
<p><strong>Pusat Harapan</strong><br />
Bersama Viktor Gyokeres (Arsenal), dan Alexander Isak, Florian Wirtz menjadi buruan utama dalam bursa transfer musim ini. Tentu banyak yang membayangkan, dia bakal menjadi pusat orkestrasi Liverpool, seperti yang dia perankan di Bayer Leverkusen. Bayern Muenchen kalah dari Liverpool dalam perburuan tanda tangan Wirtz.</p>
<p>Gyokeres sempat mengalami situasi yang sama seperti Wirtz, belum memperlihatkan kemenonjolan peran sebagai pembeda dalam permainan Arsenal, walaupun perlahan tapi pasti pemain asal Swedia itu mulai bangkit dalam laga Liga Champions melawan Atletico Madrid yang dimenangi Arsenal 4-0.</p>
<p>Sedangkan Isak, yang didatangkan dari Newcastle United juga dengan banderol tinggi, bahkan lebih tinggi dari Wirtz juga menghadapi kondisi serupa. Belum memperlihatan ketajaman seperti yang diharapkan klub dan fans.</p>
<p>Di klub lain, harapan juga dibuncahkan seperti itu. Manchester United menaruh asa besar kepada Benjamin Sesko untuk mempertajam lini depan bersama Bryan Mbeumo dan Matheus Cunha. Bandingkan dengan klub Liga Seri A, Napoli yang tampaknya menemukan keberhasilan dalam menyusun puzzle. Kevin de Bruyne langsung memperlihatkan kualitasnya sebagai pemberi <em>assist</em>, dan Rasmus Hojlund dimanjakan oleh “layanannya”. Absennya Romelu Lukaku yang menepi karena cedera pun bisa tergantikan oleh kehadiran Hojlund yang “terbuang” dari Manchester United.</p>
<p>Keping puzzle yang pas juga dirasakan oleh Everton. Sang pelatih, David Moyes benar-benar menemukan berkah dengan kehadiran Jack Grealish yang dipinjam dari Manchester City. Grealish yang bagai terbuang dari The Citizens, kini menjadi sosok penting bagi Everton.</p>
<p>Lalu mengapa Florian Wirtz kesulitan nyetel dengan puzzle lain yang disusun oleh Arne Slot? Penilaian Wayne Rooney tidak salah: sejauh ini Wirtz masih mengganggu keseimbangan skema The The Reds. Analisis Dietmar Hammann juga tidak keliru, bahwa adaptasi Wirtz dengan karakter Liga Primer belum tuntas.</p>
<p>Menurut saya, terasa tergesa-gesa jika memvonis Viktor Gyokeres dan Florian Wirtz sebagai pembelian flop di Arsenal dan Liverpool. Akan ada saat Gyokeres sangat membantu Arsenal, dan Wirtz benar-benar menjadi pusat mesin bagi permainan Liverpool. Tetapi tentu adaptasi itu punya batas untuk disimpulkan sebagai sukses atau gagal.</p>
<p>Kasper Hjulmand, pelatih Bayer Leverkusen menilai, Florian Wirtz menghadapi ekspektasi tidak logis di Liverpool. Menurut dia, mustahil ada pemain yang langsung tokcer sejak hari pertama setelah pindah ke klub dan liga yang baru (<em>detik.com</em>, 15 Oktober-2025).</p>
<p>“Ayolah, dia kan baru datang di sana,” ucap pelatih asal Denmark itu kepada <em>Sport Bild</em>. “Percayalah, dia akan membuktikan diri kepada semua orang. Bahkan kepada para ahli di Inggris. Saya yakin”.</p>
<p>Hjulmand menilai, Florian adalah pemain dengan kualitas luar biasa. “Kita semua tahu seberapa cepat segalanya di dalam sepak bola. Kalau dia mencetak dua gol bagus di dalam dua pertandingan berikutnya, orang-orang akan bilang, ’Sekarang dia sudah datang’. Itu akan sama kelirunya dengan kritik baru-baru ini”.</p>
<p>Jadi, waktukah yang tampaknya akan memaparkan realitas? Setidak-tidaknya, wajah Florian Wirtz sudah mulai mengaurakan senyum konfidensi&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/10/25/si-007-mulai-bisa-tersenyum">Si 007 Mulai Bisa Tersenyum</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>