<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Johan Cruyff Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/johan-cruyff/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Feb 2024 09:06:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Johan Cruyff Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Xavi Terusik oleh Kekejaman “Rasa”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/02/10/xavi-terusik-oleh-kekejaman-rasa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Feb 2024 10:00:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Camp Nou]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Puppet Master]]></category>
		<category><![CDATA[Tiki-Taka]]></category>
		<category><![CDATA[Timnas Spanyol]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=398421</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // ke mana dia pergi?/ takkan ke mana-mana/ jiwanya ada di sini/ dia Barcelona/ ornamen kental Blaugrana/ ruh tiki-taka dalam genggam sejarahnya/ tak mampukah dia melawan tekanan rasa?// (Sajak “Xavi dan Barcelona”, 2024) XAVI Hernandez. Anda pasti percaya, dia memainkan peran sebagai “pengatur permainan” dengan penuh perasaan. Ruh Barcelona mengeram dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/10/xavi-terusik-oleh-kekejaman-rasa">Xavi Terusik oleh Kekejaman “Rasa”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-398424 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/02/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// ke mana dia pergi?/ takkan ke mana-mana/ jiwanya ada di sini/ dia Barcelona/ ornamen kental Blaugrana/ ruh tiki-taka dalam genggam sejarahnya/ tak mampukah dia melawan tekanan rasa?//</em><br />
<strong>(Sajak “Xavi dan Barcelona”, 2024)</strong></p>
<p><strong>XAVI</strong> Hernandez. Anda pasti percaya, dia memainkan peran sebagai “pengatur permainan” dengan penuh perasaan. Ruh Barcelona mengeram dalam jiwanya, <em>tiki-taka</em> bagai darah yang mengalir di nadinya.</p>
<p>Dia salah satu pemain yang secara gestural dan ekspresional mengeksplorasi sepak bola dengan rasa. Predikat mediatika sebagai “The Puppet Master” menunjukkan Xavi menghayati keberadaannya sebagai dinamo Barcelona, pun peran yang dia sandang di tim nasional Spanyol pada masanya.</p>
<p>Ya, tahukah Anda mengapa ia identik sebagai nyawa Barcelona?</p>
<p>Sang <em>play maker</em> ini adalah ornamen kental sejarah emas Barcelona. Puzzle terpenting yang memimpin orkestrasi <em>tiki-taka</em>. Dia atur ritme permainan Blaugrana. Dia terjemahkan taktik Pep Guardiola dengan kecerdasan di atas rata-rata.</p>
<p>Sebagai pemain, Xavi telah menjadi mesin penggerak <em>possession football</em> El Barca. Dia nikmati fungsi itu sebagai energi: hidupnya untuk Barca, atas nama penghayatan sepak bolanya.</p>
<p>Sekuat itu pulakah Xavi memikul peran sebagai pelatih?</p>
<p>Sekuat itukah “kebergantungan” antara Xavi dan Barcelona, ketika bicara soal “rasa”?</p>
<p>Dan, “rasa”-lah yang pada titik tertentu akhirnya mendorong Xavi Hernandez memutuskan pergi dari kursi kepelatihan Barcelona. Dia merasa menghadapi atmosfer tuntutan yang terlalu “kejam”. Hatinya ada di sini, namun logika tekanan tak kuasa dia hadapi. Ketika mengumumkan rencana pengunduran diri selepas musim 2023-2024, banyak yang terkejut, benar-benarkah dia akan berpisah dari klub yang telah membesarkan dan dibesarkannya?</p>
<p>Pernah ada semburat cahaya harapan, Xavi adalah representasi figur yang ditunggu di Camp Nou, yang diproyeksikan menjadi “penguasa” berikut setelah Johan Cruyff, lalu Pep Guardiola.</p>
<p>Pada awal karier kepelatihannya, pada 2019-2021 dia sukses mengarsiteki Al Sadd di Liga Qatar, membentuk klub tersebut sebagai “miniatur Barcelona” dengan aroma <em>tiki-taka</em>-nya. Sulit dibayangkan, sebuah klub Asia sukses dia besut bermain dengan dominasi penguasaan bola dan keelokan cita rasa.</p>
<p>Manajemen Barca, yang pada 2019-2020 kecewa terhadap kinerja Ronald Koeman, pun serta merta merekrutnya. Pada musim pertamanya, 2021-2022, dia memberi gelar La Liga dan Piala Super Spanyol. Banyak yang berpikir dia bakal sukses di “rumahnya”, juga mengembalikan citra keindahan sepak bola posesif Barcelona.</p>
<p><strong>Pekerjaan “Kejam”</strong><br />
Bahkan ketika suasana instabilitas mulai mendera performa Robert Lewandowski dkk pada musim 2022-2023, tak secepat itu para <em>cules</em> (fans Barca) mendapatkan kejutan rencana mundur. Selain badai cedera pemain, <em>tiki-taka</em> juga seperti “mejan”, sulit dibangkitkan lagi.</p>
<p>Ada sedikit cercah cahaya dengan munculnya Lamine Yamal, <em>wonderkid</em> berdarah Tunisia yang pada usia 16 sudah memperkuat La Furia Roja. Namun cedera pengatur serangan Gavi, penurunan performa Pedri Gonzales, dan Lewy yang tiba-tiba kehilangan “kegalakan” di pertengahan musim adalah sejumlah masalah yang mempengaruhi kinerja tim. Ilkay Gundogan tentu tak bisa bekerja maksimal dalam kondisi kepincangan tim .</p>
<p>Los Cules kepayahan dalam persaingan di La Liga, tertinggal jauh dari Girona dan Real Madrid. Lalu tersingkir di perempatfinal Copa del Rey, dan kalah di final Piala Super Spanyol. Harapan tersisa di Liga Champions, namun melihat konstelasinya, rasanya Barca sulit bersaing.</p>
<p>Xavi pun membaca tanda-tanda buram, meskipun manajemen Barca belum mempersoalkan capaian musim ini. Mengejutkan, karena tiba-tiba dialah yang mengumumkan rencana kepergian. Dengan nada pedih dia beralasan hasil kerjanya tak dihargai. Melatih Barca, katanya, adalah pekerjaan yang kejam dan tidak menyenangkan.</p>
<p>Seperti dikutip <em>ESPN</em>, dia menegaskan, “Ini membuat Anda merasa tidak berharga setiap harinya. Pep pernah mengatakannya kepada saya. Saya sendiri melihat bagaimana Luis Enrique menderita”.</p>
<p>Xavi melihat masalah terkait dengan tingkat tuntutan. “Anda tidak menikmatinya. Anda bermain untuk hidup Anda sepanjang waktu. Ini kejam. Pekerjaan yang sudah kami lakukan tidak cukup dihargai. Padahal kami datang pada 2021, salah satu momen tersulit dalam sejarah klub”.</p>
<p>Dia selalu mencoba menjelaskan, timnya sedang dalam masa pembangunan. Argumentasi bahwa Barca tidak memiliki skuad seperti pada era kejayaan 2010, selalu dikritik. “Ini tidak ada hubungannya dengan daya tahan terhadap tekanan. Saya datang ketika klub dalam situasi yang sangat sulit, dan saya kira pekerjaan kami tidak akan pernah dihargai,” ungkapnya.</p>
<p>Dia juga merasa, ketika memenangi trofi La Liga dengan selisih 10 poin dari Real Madrid pada 2022, dan ketika meraih Piala Super Spanyol pada 2023, sama sekali tidak ada elemen ekosistem klub yang menghargai. Bagi dia, masalah ini berhubungan dengan klub, lingkungan, dan tuntutannya.</p>
<p>Xavi adalah cermin realitas sikap klub yang membedakan perlakuan, antara ketika dia masih bermain dan menjadi kunci permainan, dengan saat dia menjadi pelatih yang harus meracik taktik dan strategi tim.</p>
<p>Ya, pernahkah kita mendengar Xavi mengeluhkan aroma “kekejaman” saat masih bermain? Ataukah nilai-nilai seperti tuntutan di lingkungan Los Cules mempengaruhi daya tahan Xavi sebagai seorang yang tumbuh, berkembang, dan hidup di dunia sepak bola?</p>
<p>Artinya, ada “rasa” yang lebih kuat mencekam pikiran. Ada usikan yang tak mampu dia lawan. Ada kenyataan yang dia pahami harus dihindari. Atau, jangan-jangan “komunitas” Barcelona yang tak pernah memahami Xavi dan gumpalan rasanya&#8230;</p>
<p>&#8212;<strong> Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/02/10/xavi-terusik-oleh-kekejaman-rasa">Xavi Terusik oleh Kekejaman “Rasa”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Barcelona, dalam Pergerakan Etalase Performa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/02/18/barcelona-dalam-pergerakan-etalase-performa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2023 10:00:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Supercopa de Espana]]></category>
		<category><![CDATA[Xavi Hernandez]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=316527</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // waktu membawa palu penentu/ ia bertahan dalam utuh sejarah/ ia berubah dalam tuntutan adaptasi/ atau bergerak atas nama revolusi// (Sajak &#8220;Ke Mana Tiki-Taka&#8221;, 2023) BARCELONA seharusnya tak tercegah untuk bertahan memuncaki klasemen dan mengangkat trofi La Liga, musim ini. Ya, seharusnya! Kata &#8220;seharusnya&#8221; ini beraksen &#8220;syarat&#8221;, yakni kebergantungan pada sejauh [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/02/18/barcelona-dalam-pergerakan-etalase-performa">Barcelona, dalam Pergerakan Etalase Performa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-316531 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// waktu membawa palu penentu/ ia bertahan dalam utuh sejarah/ ia berubah dalam tuntutan adaptasi/ atau bergerak atas nama revolusi//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Ke Mana Tiki-Taka&#8221;, 2023)</strong></p>
<p><strong>BARCELONA</strong> seharusnya tak tercegah untuk bertahan memuncaki klasemen dan mengangkat trofi La Liga, musim ini.</p>
<p>Ya, seharusnya!</p>
<p>Kata &#8220;seharusnya&#8221; ini beraksen &#8220;syarat&#8221;, yakni kebergantungan pada sejauh mana konsistensinya merawat &#8220;etalase performa&#8221;.</p>
<p>Dengan segala romantikanya, Xavi Hernandez telah membawa aura perubahan. Benar-benar bergerak: dari Barcelona yang tertatih-tatih dan &#8220;renta&#8221; di musim-musim terakhir, menjadi tim yang kembali tampak layak memanggul nama besar.</p>
<p>Pun, perubahan yang dia bawa seperti letikan api revolusi: dari Blaugrana yang lekat dengan citra keindahan tiki-taka, menjadi Azulgrana yang sesekali mengalirkan bola dalam alur pragmatis; tak elok-elok amat tetapi mematikan.</p>
<p>Xavi, sang arsitek, pada masanya adalah salah satu elemen terpenting seni sepak bola indah Barca dan Spanyol. Dia seniman dan pemimpin yang menggerakkan orkestrasi, mengatur irama permainan. Dialah poros kerancakan <em>possession football</em> warisan Johan Cruyff yang dikembangkan oleh Pep Guardiola.</p>
<p>Dia sempat mengarsiteki All Sadd di Liga Qatar, dan membentuk klub itu bercita rasa keindahan tiki-taka. Tangan dingin Xavi membangun citra kelayakan diri sebagai pelatih Barca masa depan; dan itu tak lama dilewati sesegera kegagalan Ronald Koeman untuk membawa perbaikan Pasukan Camp Nou.</p>
<p>Barca yang anjlok secara performa, psikologi, dan tradisi, perlahan-lahan dia bimbing kembali ke &#8220;jalan yang benar&#8221;, dia bawa membuka memori &#8220;cara menang&#8221;, dan &#8220;ingat jalan kejayaan&#8221;.</p>
<p>Xavi pun sempat mengalami fase meragukan pada musim lalu. Dalam 50 laga pertama, dia hanya menghadirkan 28 kemenangan, 11 seri, dan 11 kekalahan. Dan, itu dicatat sebagai raihan terburuk pelatih Barcelona sejak 2001.</p>
<p>Langkah-langkahnya jelas. Dia padukan penggawa-penggawa muda dengan rekrutan elite. Dimatangkannya Gavi, Pedri, Ferran Torres, Ronald Araujo, dan Ansu Fati. Direkrutnya Robert Lewandowski, Raphinha, Franck Kessie, Pablo Torres, Marcos Alonso, Andreas Christensen, dan Eric Garcia. Dipertahankannya Marc-Andre ter Stegen, Oesman Dembele, Sergi Roberto, Frenkie de Jong, Jordi Alba, Jules Kounde, dan Sergio Busquets.</p>
<p><strong>Perlahan tapi Pasti</strong><br />
Lewat dinamika performa dalam dua musim terakhir, perlahan-lahan Xavi mulai membawa pasukannya bersaing dalam perburuan gelar.</p>
<p>Memimpin klasemen dengan selisih 11 poin dari Real Madrid, Busquets dkk memperlihatkan soliditas barisan belakang, keseimbangan lini tengah dalam transisi menyerang dan bertahan, serta kedalaman skuad di lini serang. Lewandowski dan Raphinha memberi jaminan ketajaman Barca pada musim ini.</p>
<p>Barca-nya Xavi memang belum seelok masa-masa kejayaan tiki-taka. Sesekali kombinasi permainan menyerang nan aduhai itu muncul sebagai etalase dasar permainan Xavi, namun ia juga memberi keleluasaan ekspresional dengan bola-bola <em>direct</em> ke barisan penyerang.</p>
<p>Apakah ini &#8220;revolusi kecil&#8221;, atau sekadar konsekuensi untuk bersikap pragmatis? Dia paham tak mudah menemukan 11 pemain yang secara total mampu memainkan tiki-taka dalam kemurnian filosofinya?</p>
<p>Satu trofi, Supercopa de Espana 2023 sudah dibendaharakan. Pembuktian <em>progres</em> capaian Xavi dinanti di ujung musim La Liga nanti, setelah kegagalan pahit di panggung Liga Champions yang men-<em>down grade</em> Barcelona sebelum ini.</p>
<p>Lika-liku Barca mirip dengan &#8220;kasus serupa&#8221; di Liga Primer. Manchester United mengarungi perjalanan rumit. Setan Merah kehilangan &#8220;maqam&#8221; tradisi, jatuh bangun mengejarnya, dan di bawah Eric ten Hag perlahan-lahan mulai menemukan titik cerah untuk kembali&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/02/18/barcelona-dalam-pergerakan-etalase-performa">Barcelona, dalam Pergerakan Etalase Performa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>“Dokter” STY dan Diagnosis Penyakit Menahun Timnas</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/01/07/dokter-sty-dan-diagnosis-penyakit-menahun-timnas</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2023 10:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi La Masia]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Egy Maulana Vikri]]></category>
		<category><![CDATA[ILIJA Spasocevic]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[Piala AFF]]></category>
		<category><![CDATA[Ricky Kambuaya]]></category>
		<category><![CDATA[Shin Tae-yong]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=306143</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // untuk siapakah tiap tarikan napasmu?/ untuk siapa setiap gerak kakimu?/ untuk siapa pula pikiranmu?/ seluruh tubuh dan ideku/ dia bahasa kebersamaan/ dia hak karyaku/ dia hak karyamu/ tegaskanlah: aku adalah kita// (Sajak “Ego-ego Sepak Bola””, 2023) ILIJA Spasocevic sudah bergerak seirama dengan Ricky Kambuaya yang mendribel bola dalam bayangan seorang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/01/07/dokter-sty-dan-diagnosis-penyakit-menahun-timnas">“Dokter” STY dan Diagnosis Penyakit Menahun Timnas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-306166 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/01/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/01/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/01/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/01/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// untuk siapakah tiap tarikan napasmu?/ untuk siapa setiap gerak kakimu?/ untuk siapa pula pikiranmu?/ seluruh tubuh dan ideku/ dia bahasa kebersamaan/ dia hak karyaku/ dia hak karyamu/ tegaskanlah: aku adalah kita//</em><br />
<strong>(Sajak “Ego-ego Sepak Bola””, 2023)</strong></p>
<p><strong>ILIJA</strong> Spasocevic sudah bergerak seirama dengan Ricky Kambuaya yang mendribel bola dalam bayangan seorang bek Filipina. Spaso sudah dalam posisi siap menerima umpan di depan gawang Filipina, namun apa yang terjadi? Ricky memilih terus menggiring bola, yang akhirnya malah bisa diamankan bek lawan. Peluang emas pada menit ke-86 itu pun melayang percuma!</p>
<p>Bukan hanya Spaso yang kecewa. Raut geregetan juga ditunjukkan pelatih Shin Tae-yong. Dari awal dia mendoktrinkan banyak gol untuk menjaga peluang bersaing dengan Thailand dalam selisih produktivitas, sehingga bisa mengamankan posisi juara Grup A Piala AFF.</p>
<p>Insiden itu sekali lagi membuktikan pemain kita masih dihinggapi fenomena egoisme menyikapi peluang.</p>
<p>Dalam “struktur kans”, setidak-tidaknya tergambar tiga sikap yang seharusnya diputuskan oleh seorang pemain. Pertama, peluang emas yang memang “milik” dan sepatutnya dituntaskan oleh pemain. Kedua, dia mendapat kans emas, tetapi ada kawan yang berposisi lebih leluasa lagi, sehingga lebih pas apabila bola yang dia kuasai disodorkan sebagai assist kepada rekannya.</p>
<p>Ketiga, dia memaksa membawa bola meskipun sudah dalam posisi sulit, dan pada saat itu melihat kawan yang bisa membantu dan menanti sodoran bolanya. Akan tetapi hal itu tidak dia lakukan, sehingga bola pun hilang percuma, berpindah ke kaki lawan.</p>
<p><strong>Filosofi Cruyff</strong><br />
Saya ingat filosofi Johan Cruyff, maestro sepak bola menyerang yang meletakkan dasar-dasar etos simplifikasi kolektivitas di Akademi La Masia, Barcelona. Sepak bola, kata Cruyff, adalah permainan yang sederhana. Namun hal paling sulit dari permainan itu adalah bagaimana bermain sederhana.</p>
<p>Ricky Kambuaya adalah contoh, seperti juga beberapa kali diperlihatkan Egy Maulana Vikri di Piala AFF kali ini. Keduanya tidak melakukan hal “sederhana” untuk menciptakan hasil lebih produktif, akan tetapi malah memutuskan tindakan rumit.</p>
<p>Sepak bola adalah permainan kolektif. Apabila ada keyakinan untuk melakukan keputusan personal dalam mengeksekusi tindakan, hal itu harus dimodali kemampuan di atas rata-rata. Kalau Anda punya <em>skill</em> individu sekelas Lionel Messi atau Ronaldo Luis Nazario, silakan terobos dua-tiga pemain yang membuat barikade, dan Anda yakin bisa lewat.</p>
<p>Kalau tidak yakin akan hal itu, sikap kolektif-kolegial mengajarkan tentang filosofi “berbagi”. Berikan, sodorkan, arahkan, karena produk dari keputusan itu memberikan manfaat bersama kepada tim, bukan sekadar untuk “tebar pesona” yang akhirnya malah menguapkan peluang.</p>
<p>Anak-anak Tim Garuda mestinya bisa belajar dari sejumlah momen ketidakproduktifan sikap egoistis sejumlah pemain, yang “dipuncaki” oleh Ricky Kambuaya dalam laga melawan Filipina.</p>
<p>Di luar sikap egois sejumlah pemain, Shin Tae-yong menghadapi beberapa soal. Pada sebagian hal dia sudah bisa mentransformasikan perubahan. Dalam sejumlah diskusi saya selalu memberikan contoh performa Fachrudin Ariyanto dkk saat mengalahkan tuan rumah Kuwait 2-1 dalam Pra-Piala Asia di Kuwait City, 2022. Walaupun kalah 0-1 dari Yordania, Garuda tampil impresif, memperlihatkan ketangguhan mental, dan dalam laga selanjutnya menundukkan Nepal 7-0.</p>
<p>“Penyakit menahun” diperbaiki oleh <em>coach</em> Shin, antara lain problem daya tahan fisik ditambah intervensi asupan makanan. Lalu transisi permainan, yakni “persambungan” konsistensi dari menyerang dan diserang (bertahan), begitu pula sebaliknya. Juga ketidakfokusan menghadapi tendangan bebas dari situasi bola mati. Tak jarang, timnas kecolongan gol dari momen-momen seperti itu.</p>
<p>Kesalahan umpan yang pada segi-segi tertentu memerlihatkan kondisi “bingung” ditekan lawan, beberapa kali menerbitkan situasi sulit. Seperti proses lahirnya gol balasan Thailand di Grup A. Asnawi Mangkualam, yang <em>notabene</em> tertempa oleh atmosfer Liga Korea, membuat <em>back pass</em> lemah yang mempersulit Fachrudin. Bola direbut oleh Adisak Kraisom, yang menyodorkannya ke Bordin Phala. Bordin mengumpan ke Sarach Yooyen, yang dengan tendangan keras membobol gawang Nadeo Argawinata.</p>
<p>Tak sekali-dua situasi rawan dipicu oleh salah umpan. Dalam transisi antara menyerang ke bertahan situasi itu sering terjadi.</p>
<p><strong>Gestur Kecewa STY</strong><br />
Benarkah kekurangproduktifan timnas di Piala AFF &#8212; setidak-tidaknya dari jumlah peluang yang diciptakan &#8212; antara lain disebabkan oleh penyakit-penyakit itu?</p>
<p>Beberapa kali, Si “Dokter Korea” memperihatkan gestur kekecewaan. Misalnya ketika Hansamu Yama Pranata membuang peluang emas di depan gawang Brunei Darussalam, sejumlah kans Egy Maulana Vikri dan pengambilan keputusan Egy antara menggiring atau mengumpan, ketika Witan Sulaeman gagal memanfaatkan peluang ke gawang Thailand yang sudah kosong, dan terakhir Ricky Kambuaya memilih tidak memberi umpan ke Ilija Spasojevic yang sudah dalam posisi siap.</p>
<p>Ego yang tidak terkelola oleh pemahkotaan kolektivitas, pengambilan keputusan yang kurang bervisi kepentingan tim, dan salah umpan akut, adalah bagian dari “penyakit menahun” yang membutuhkan terapi kuat.</p>
<p>Dengan materi pemain yang dimiliki STY sekarang, apabila sebagian diagnosis penyakit itu bisa diterapi, rasanya kita cukup memiliki modal untuk bertarung dan berbicara di level Piala AFF.</p>
<p>Penanganan penyakit itu membutuhkan kerja sama penuh <em>chemistry</em> antara “sang pasien” dengan dokternya. Sepintar apa pun sang dokter, apabila si pasien tidak konsisten berdisiplin, terapi hanya akan berjalan sepihak.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/01/07/dokter-sty-dan-diagnosis-penyakit-menahun-timnas">“Dokter” STY dan Diagnosis Penyakit Menahun Timnas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Drama Berliku Mengantar Messi kepada &#8220;Takdir&#8221;&#8230;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/19/drama-berliku-mengantar-messi-kepada-takdir</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2022 01:23:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Alfredo Di Stefano]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Ferenc Puskas]]></category>
		<category><![CDATA[Franz Beckenbauer]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Platini]]></category>
		<category><![CDATA[pele]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia Qatar]]></category>
		<category><![CDATA[Ronaldinho]]></category>
		<category><![CDATA[Ronaldo Luis Nazario]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=301267</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS SEJUTA ungkapan takkan cukup menggambarkan kebahagiaan Lionel Andres Messi pada malam 18 Desember 2022 di Stadion Lusail, Doha, Qatar. Pastilah Anda paham, bukan hanya Messi, keluarganya, dan tim nasional Argentina yang menikmati kegembiraan. Para fans di seluruh dunia ikut lega, La Pulga telah melewati momen &#8220;jalan takdir&#8221;: akhirnya mengecup dan mengangkat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/19/drama-berliku-mengantar-messi-kepada-takdir">Drama Berliku Mengantar Messi kepada &#8220;Takdir&#8221;&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-301269 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1.jpg" alt="" width="150" height="195" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-1-115x150.jpg 115w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" />SEJUTA</strong> ungkapan takkan cukup menggambarkan kebahagiaan Lionel Andres Messi pada malam 18 Desember 2022 di Stadion Lusail, Doha, Qatar.</p>
<p>Pastilah Anda paham, bukan hanya Messi, keluarganya, dan tim nasional Argentina yang menikmati kegembiraan. Para fans di seluruh dunia ikut lega, La Pulga telah melewati momen &#8220;jalan takdir&#8221;: akhirnya mengecup dan mengangkat Piala Dunia, simbol kekuatan sepak bola sejagat.</p>
<p>Saya mencoba mengikuti pendapat Rene Higuita. Sebelum malam final, legenda kiper Kolombia itu mengajak, apa pun hasil laga puncak melawan Prancis, lebih baik nikmati saja penampilan terakhir Messi di Piala Dunia. &#8220;Belum tentu dalam satu abad berikut kita bisa menyaksikan pemain seperti Messi,&#8221; katanya.</p>
<p>Ungkapan kata &#8220;akhirnya&#8221; banyak menghias sebagai kesimpulan headline media-media dunia, bahwa Messi meraih takdir dalam pencapaian yang paripurna.</p>
<p><strong>Rumit dan Menegangkan</strong><br />
Kemenangan atas Prancis melalui drama adu penalti setelah babak reguler 2&#215;45 menit dan tambahan waktu 2&#215;15 menit menggambarkan, betapa rumit dan menegangkan final Qatar 2022.</p>
<p>Unggul 2-0 hingga turun minum, Prancis menyamakan 2-2, unggul lagi 3-2, disamakan lagi 3-3, lalu diakhiri dengan adu penalti. Messi memainkan peran sebagai pencetak gol, eksekutor, dan inspirator.</p>
<p>Saya mencoba meresapi pertandingan dalam getar-getar perasaan yang luar biasa mendegupkan jantung, mirip ketika pada 2021 Argentina dan Messi meraih Copa America di Stadion Maracana, Brazil, mengalahkan tuan rumah 1-0.</p>
<p>Terasakan betapa Messi tak henti memerankan diri menjadi pelayan orkestrasi permainan bagi rekan-rekannya. Pada sisi lain, 10 pemain Argentina juga berjuang hidup-mati untuk mewujudkan mimpi kaptennya meraih Piala Dunia.</p>
<p>Enzo Fernandez dkk bukan hanya bertarung untuk meraih trofi dunia ketiga bagi Argentina setelah 1978 dan 1986; dalam wujud drama dan kisah sepak bola mereka juga menyokong penuntasan rasa kepenasaran Leo Messi. Apalagi inilah momen Piala Dunia 2022 yang hampir bisa dipastikan menjadi yang terakhir dalam usia 35 Si Alien.</p>
<p>Berakhirkah semua perbincangan tentang &#8220;takdir&#8221; dan kelengkapan Lionel Messi? Agar dia tidak selalu dibanding-bandingkan dengan Diego Maradona, sang legenda?</p>
<p>Trofi apa pun sudah Messi miliki. Dari level liga bersama Barcelona dan Paris St Germain, Liga Champions, hingga Piala Dunia Antarklub. Dia juga membendaharakan Piala Dunia U20 pada 2005 dan medali emas Olimpiade 2008, lalu pada usia 34 meraih Copa America.</p>
<p>Tujuh kali penghargaan individu Ballon d&#8217;Or dia bukukan, melewati raihan pesepak bola mana pun. Rekor itu bertambah dengan menjadi Pemain Terbaik, dan dia menjadi satu-satunya manusia yang dua kali mendapatkan, setelah Piala Dunia 2014. Hanya, delapan tahun silam Argentina kalah di final dari Jerman.</p>
<p>Selama ini, Maradona dianggap &#8220;lebih besar&#8221;, karena mampu mempersembahkan Piala Dunia 1986, walaupun tidak meraih Copa America dan emas Olimpiade.</p>
<p>Semestinyalah, sejak sekarang tak ada lagi perdebatan tentang kelayakan penyejajaran Messi dengan Maradona.</p>
<p><strong>Siapa GOAT?</strong><br />
Pun, berakhirlah argumentasi: siapa yang lebih layak disebut sebagai GOAT &#8212; <em>Greatest of All Times</em> &#8211;, dia atau Cristiano Ronaldo. Dalam rentang lebih dari satu dekade, selalu muncul head to head dengan segala parameter dan subjektivitasnya.</p>
<p>Bisa saja diskusi tentang GOAT akan terus berdinamika sebagai bagian dari keasyikan mengisahkan Pele, Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Michael Platini, Diego Maradona, Ronaldo Luis Nazario, Zinedine Zidane, Ronaldinho, Cristiano Ronaldo, atau Lionel Messi. Hanya, sukses Messi di Qatar menciptakan perspektif lain pemetaan.</p>
<p>Di Qatar 2022, Messi tampak mengekspresikan semua pendaman bakat dan potensi dalam dirinya. Bagaimana unjuk &#8220;skill dewa&#8221; sebagai pembeda, melayani tim dengan umpan-umpan eksepsional, juga menunjukkan jiwa kepemimpinan yang kuat.</p>
<p>Elemen ketiga itu sering dimasalahkan, bahkan oleh Maradona dan sejumlah analis. Banyak yang menilai, salah satu pembeda dari Maradona adalah kekuatan karakter leadership.</p>
<p>Di Copa America 2021 dan Qatar 2022, Messi bertransformasi menjadi sosok yang lebih ekstrovert, juga meletupkan &#8220;sisi lain&#8221; yang tak biasa dia perlihatkan, yakni sikap &#8220;memberontak&#8221;, &#8220;melawan&#8221;, juga sedikit &#8220;berandalan&#8221;.</p>
<p>Pertunjukan di Piala Dunia penutupnya ini seakan-akan tuntas mempertontonkan Lionel Messi yang sejati. Dan, benar kata Rene Higuita, kita beruntung menjadi saksi momen dramatik itu.</p>
<p>Kita menikmati Messi menjemput takdir dengan akhir yang indah&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/19/drama-berliku-mengantar-messi-kepada-takdir">Drama Berliku Mengantar Messi kepada &#8220;Takdir&#8221;&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sepak Bola, dalam Cinta dan Ideologi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/12/03/sepak-bola-dalam-cinta-dan-ideologi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2022 10:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Armando Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Enzo Bearzot]]></category>
		<category><![CDATA[Eric Cantona]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Andres Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Sir Alex Ferguson]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=297564</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS ANDA temukan apakah di balik wajah para pujangga sepak bola? Terpancar aura loyalitas, jalan hidup, konfidensi, dan pilihan “cara”. Wajah-wajah yang memijarkan percik cahaya ide, ilmu pengetahuan, sikap, dan perilaku. Begitulah ketika menyimak ekspresi dan gestur seorang Eric Cantona pada era 1990-an, yang oleh Sir Alex Ferguson sering dipanggil dengan sebutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/03/sepak-bola-dalam-cinta-dan-ideologi">Sepak Bola, dalam Cinta dan Ideologi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-297566 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/12/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong>ANDA</strong> temukan apakah di balik wajah para pujangga sepak bola?</p>
<p>Terpancar aura loyalitas, jalan hidup, konfidensi, dan pilihan “cara”. Wajah-wajah yang memijarkan percik cahaya ide, ilmu pengetahuan, sikap, dan perilaku.</p>
<p>Begitulah ketika menyimak ekspresi dan gestur seorang Eric Cantona pada era 1990-an, yang oleh Sir Alex Ferguson sering dipanggil dengan sebutan “geniusku”.</p>
<p>“<em>L’enfant terrrible</em>”, dengan contoh perilaku tendangan kungfu ke suporter Crystal Palace yang legendaris itu, adalah orang yang mencintai sepak bola lebih dari apa pun. Dia mengekspresikannya dengan cara berbeda.</p>
<p>Katanya, “Saya mencoba menemukan cara berbeda untuk mengekspresikan diri. Tanpa itu, saya akan mati”.</p>
<p>Cantona menegaskan berhenti bermain sepak bola karena telah menemukan sebanyak yang dia bisa. Dia membutuhkan sesuatu yang mampu menggairahkannya, seperti halnya sepak bola membuatnya bersemangat.</p>
<p>Coba simaklah catatan Tony Robbins, dalam <em>Awaken the Greatness Within</em> tentang kompilasi pernyataan eksepsional para manusia sepak bola yang menginspirasi. Kadang kita menemukan narasi seperti <em>quotation</em> para filsuf, yang mengilustrasikan pandangan hidup yang mereka anut.</p>
<p>Sikap Cantona terasa sehaluan dengan pandangan Juergen Klopp. Pelatih Liverpool asal Jerman itu menyimpulkan, sepak bola terbaik selalu tentang ekspresi emosi.</p>
<p>Dia hadir sebagai “ideolog” <em>gegenpressing</em>, langgam bermain yang sukses didoktrinkan semasa menangani Bprussia Dortmund, dan belakangan menjadi <em>brand</em> Liverpool.</p>
<p>Daya hidup sepak bola dengan ekspresi rasa juga disampaikan oleh Lionel Andres Messi, pengoleksi tujuh trofi Ballon d’Or. “Anda bisa mengatasi berbagai masalah apa pun, Anda hanya cukup dengan mencintai sesuatu,” ucap La Pulga.</p>
<p>Dan, “sesuatu” itu, bagi Messi, apa lagi kalau bukan sepak bola?</p>
<p>Legenda Argentina yang digantikannya, Diego Armando Maradona punya pandangan serupa. Kata El Pibe de Oro, “Melihat bola, mengejarnya, menjadikanku orang paling bahagia di dunia&#8230;”</p>
<p><strong>Cinta dan Ide</strong><br />
Cinta, dalam sepak bola terungkap dalam loyalitas tanpa batas. Hingga akhir hayat, Johan Cruyff tak pernah berpaling dari “ideologi” tentang sepak bola ofensif. Kecintaan itu sering dia ungkapkan lewat narasi, bahwa sepak bola adalah tentang memiliki permainan menyerang terbaik.</p>
<p>“Saya selalu suka bermain sepak bola ofensif, dan tidak ada yang akan meyakinkan saya sebaliknya,” kata maestro <em>total football</em> dan peletak filosofi Akademi La Masia Barcelona itu.</p>
<p>Nyatanya, betapa tak mudah berpaling dari cinta. Anda ingat Enzo Bearzot? Tokoh penyempurna <em>catenaccio</em> lewat kejayaan Aquadra Azzurra di Piala Dunia 1982 itu pernah sempat merasa terpukul dengan performa Italia di Meksiko 1986. Dia lalu mencoba menyepi dan menyatakan membenci sepak bola; namun jejak eksepsional yang dia torehkan tetap menjadikannya sebagai referensi konsep serangan balik yang perfeksionis.</p>
<p>Seperti Vittorio Pozzo yang membawa Azzurri meraih trofi Jules Rimet pada 1934 dan 1938, Bearzot mengejawantahkan sikap halus perlawanan ala Italia, <em>furbizia</em>, yakni menemukan cara untuk mengakali keadaan dan meraih keuntungan maksimal. Arti “kasar” <em>furbizia</em> adalah “seni untuk berbuat curang”.</p>
<p>Ideologi sejatinya tak terpisahkan dari cinta, atau sebaliknya: cinta mengkreasi ide. Dan, ini bisa kita simak pada Tele Santana da Silva, arsitek Brazil di Piala Dunia 1982 dan 1986. Media melabelinya sebagai “romantis terakhir dari sepak bola Brazil, manajer paling relevan yang pernah bekerja untuk negeri itu”.</p>
<p>Selain sentuhannya untuk tim nasional Selecao, Santana juga menanamkan sikap serupa dengan kesetiaannya kepada <em>jogo bonito</em>, ke dalam permainan indah klub Sa Paolo 1992 dan 1993.</p>
<p>Pecinta sepak bola indah bakal merindukan romantisme tim Samba di Spanyol 1982 yang menderetkan barisan gelandang imajinatif Socrates, Zico, Cerezo Toninho, dan Falcao, yang lalu berlanjut di Meksiko 1986 dengan tokoh-tokoh yang sama plus Alemao.</p>
<p>“Tak perlu kecewa kita gagal pada 1982, karena seluruh dunia terpesona dengan cara kita memainkan sepak bola,” katanya.</p>
<p>Bukankah justifikasi itu adalah cinta dan loyalitas kepada iedologinya?</p>
<p>Santana punya banyak pemuja. Sama dengan Luis Cesar Menotti, <em>mastermind</em> yang mengantarkan Argentina meraih trofi World Cup 1978. “Sepak bola sayap kanan”, demikian dia melabeli gaya permainan timnya. “Artinya, hidup adalah perjuangan, yang menuntut kita berkorban. Kita harus menjadi kuat dan menang dengan metode yang indah,” ujar El Flaco.</p>
<p><strong>Perlawanan Sosial</strong><br />
Para penikmat sepak bola menyerang Belanda boleh jadi tak pernah menduga, betapa inovasi Rinus Michels yang dipertontonkan di Piala Dunia 1974 adalah bentuk “ijtihad” perlawanan sosial. Dengan ikon Johan Cruyff yang karismatis, cerdas, tampan, dan bervisi, <em>total football</em>-nya menjadi representasi sosial dan perlawanan politik lewat permainan indah.</p>
<p>Dengan menyerap ilmu Jack Reynolds dan Vic Buckingham, Rinus Michels meyakini ide bahwa menyerang adalah teknis bertahan terbaik, dengan bermain terbuka. Siap menyerang merupakan falsafah yang dianut The Spinx.</p>
<p>Sepak bola Inggris yang berkarakter<em> kick and rush</em> pernah menyebut tesis Vic Buckingham sebagai badut. Prinsip sepak bolanya memang mendekonstruksi “tendang dan serbu”. Dia mendoktrinkan keutamaan penguasaan bola sebagai segalanya, umpan-umpan pendek, dan terus bergerak dengan penetratif ke wilayah terbuka.</p>
<p>Cruyff menyempurnakan ide-ide Michels lewat sikapnya yang kukuh. Maestro yang dibesarkan oleh Ajax Amsterdam ini menyatakan, “Seperti segalanya dalam sepak bola dan kehidupan. Anda perlu melihat, Anda perlu berpikir, Anda perlu bergerak, Anda perlu menemukan ruang, Anda perlu membantu orang lain. Ini sangat sederhana pada akhirnya”.</p>
<p>“Sepak bola sekarang semuanya tentang uang. Ada masalah dengan nilai-nilai dalam permainan. Ini menyedihkan, karena sepak bola adalah permainan yang paling indah. Kita bisa memainkannya di jalan, bisa di mana saja&#8230;”</p>
<p>Begitu besar cinta Cuyff kepada permainan ini. Dia lalu menguatkannya ke dalam narasi ideologis, “Hasil tanpa kualitas itu membosankan. Kualitas tanpa hasil adalah omong kosong”.</p>
<p>Sir Alex Ferguson, legenda Manchester United dan pelatih paling sukses di Inggris juga menguatkan keyakinan ideologisnya, “Saya tidak pernah bermain untuk hasil imbang dalam hidup saya”.</p>
<p>Adapun pelatih yang dipandang paling genius saat ini, Pep Guardiola, menambahkan referensi ideologis tentang sepak bola pilihannya. <em>Tiki-taka</em> Barcelona, pada masanya adalah keyakinan hidup. “Saya memenangi 21 gelar dalam tujuh tahun. Tiga gelar per tahun. Dengan cara ini, maaf, saya tidak akan berubah”.</p>
<p>Sedangkan Jose Mourinho adalah contoh yang “menginspirasikan” ide-ide pragmatis betul-betul diterapkannya, seperti “menang walau dengan permainan membosankan”, “parkir bus” atau bahkan “parkir pesawat” untuk menghindari gol.</p>
<p>Dengan gaya bicara yang <em>low context communication</em>, dia tidak ragu untuk berisiko dengan segala macam reaksi terhadap pernyataan dan sikapnya.</p>
<p>Ya, sepak bola tidak mengubah keyakinan cinta para pelakunya, yang mentransformasi ke dalam gagasan yang tak jarang menjadi ideologi bermain.</p>
<p>Seperti kehidupan, seperti mata air yang mengalir. Dan, akankan kita mendapat sajian tentang cinta dan ideologi di Qatar 2022?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/12/03/sepak-bola-dalam-cinta-dan-ideologi">Sepak Bola, dalam Cinta dan Ideologi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sepak Bola, dalam Berjuta Rasa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/11/19/sepak-bola-dalam-berjuta-rasa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2022 10:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Albert Camus]]></category>
		<category><![CDATA[Bill Shankly]]></category>
		<category><![CDATA[duardo Galeano]]></category>
		<category><![CDATA[Eric Cantona]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Cruyff]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Luiz Cesar Menotti]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zlatan Ibrahimovic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=293746</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS SEPERTI apakah kita membelai sepak bola yang telah ikhlas membelai hidup kita? Dengan berjuta rasa, keindahannya berselimut misteri. Dengan berjuta rasa, kegagahannya bermata air cinta dan kelembutan. Dengan berjuta rasa, dia adalah elok puisi-puisi yang memancar dari luap kegembiraan, renik kesedihan, rumit kekecewaan, ungkapan kebahagiaan, atau ruap kemuraman&#8230; Dengan berjuta rasa, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/19/sepak-bola-dalam-berjuta-rasa">Sepak Bola, dalam Berjuta Rasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-294018 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/11/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><strong>SEPERTI</strong> apakah kita membelai sepak bola yang telah ikhlas membelai hidup kita?</p>
<p>Dengan berjuta rasa, keindahannya berselimut misteri.</p>
<p>Dengan berjuta rasa, kegagahannya bermata air cinta dan kelembutan.</p>
<p>Dengan berjuta rasa, dia adalah elok puisi-puisi yang memancar dari luap kegembiraan, renik kesedihan, rumit kekecewaan, ungkapan kebahagiaan, atau ruap kemuraman&#8230;</p>
<p>Dengan berjuta rasa, dia “makhluk” dengan sesederhana itu bentuk &#8212; bundar bulat &#8212; tetapi menyimpan energi hidup yang luar biasa.</p>
<p>Albert Camus, misalnya. Filsuf dan peraih Nobel Sastra 1975 itu membelai sepak bola dengan penuh respek. Segala sesuatu tentang moralitas dan kewajiban sebagai manusia, katanya, dia dapatkan dari sepak bola.</p>
<p>Atau Bill Shankly, tokoh legendaris Liverpool (1956-1974). Semboyan heroiknya banyak dikutip sebagai kampanye fanatisme yang provokatif, “Sepak bola lebih serius dari persoalan hidup dan mati”.</p>
<p>Begitu kuat nilai-nilai magnetis sepak bola. Coba simaklah satire ugal-ugalan Eduardo Galeano, wartawan dan novelis Uruguay (1940-2015) ini. Seorang pria, katanya, dapat mengubah istri, partai politik atau agama, tetapi dia tidak dapat mengubah tim sepak bola favoritnya.</p>
<p><strong>Kecerdasan Ekspresi</strong><br />
Sepak bola melahirkan berupa-rupa kecerdasan ekspresi anak manusia, baik para pelaku secara teknis, maupun mereka yang menikmati singgungan filosofis, historis, dan sosiologinya.</p>
<p>Maestro sepak bola Belanda Johan Cruyff menyebut sepak bola adalah permainan yang sederhana, namun hal tersulit dalam sepak bola adalah bermain sederhana.</p>
<p>Sama dengan Eric Cantona, yang menilai kejeniusan Lionel Messi terletak pada naluri bermain seorang kanak-kanak. “Biarkan dia bermain seperti bocah, dan kalian akan mendapatkan kehebatannya”.</p>
<p>Masih tentang Cruyff, yang memercayai bahwa gravitasi pikiran manusia sepak bola tak akan jauh-jauh dari pusaran magnetik “makhluk” itu. Suatu ketika, dia tahu pelatih sepak bola Irlandia, Jack Charlton ingin pensiun dan menghabiskan waktu untuk hobi memancingnya. Dengan tenang Cruyff berkomentar, “Bagaimana bisa dia meninggalkan sepak bola? Saat dia memancing pun, yang ada dalam pikirannya ya sepak bola&#8230;”</p>
<p>Pernak-pernik curah rasa, apakah itu kesombongan, arogansi, atau kerendahhatian menyertai beragam sikap pelatih dan pemain.</p>
<p>Jose Mourinho, arsitek asal Portugal yang berurutan menangani Porto, Chelsea, Internazionale Milan, Real Madrid, Manchester United, Tottenham Hotspur, dan AS Roma tanpa ragu menyebut diri sebagai The Special One.</p>
<p>Media dan pasar budaya pop dengan riuh menyambut “ketengilan” yang <em>quotable</em> itu. Nilai “market” ucapan itu tak kalah dari ketika pada 2018 Zlatan Ibrahimovic dengan pongah mengatakan, sebuah Piala Dunia takkan menjadi Piala Dunia bernilai tanpa kehadirannya.</p>
<p><strong>Filsafat Keunikan</strong><br />
Dari berjuta rasa itu, sepak bola adalah filsafat dalam ungkapan solidaritas, dan kemampuan mengendalikan ego-ego individual.</p>
<p>Kalau Anda menyimak kolektivitas permainan <em>tiki-taka</em> Barcelona misalnya, atau AC Milan di era The Dream Team, kita menemukan betapa banyak orang hebat yang mencurahkan kompetensi individualnya untuk loyal kepada sebuah sistem. Namun individu-individu hebat itu tidak kehilangan keunikannya.</p>
<p>Contoh Barca dan Milan dalam level tim nasional adalah Brazil 1970 dan 2002, Belanda 1974, Argentina 1986, atau Spanyol 2010.</p>
<p>Tim-tim itu adalah produk ijtihad yang tersimpulkan dalam cipta-karsa-karya berjuta rasa. Tak mungkin hanya produk pendekatan teknis, tetapi menyatu dengan landasan filosofis yang kuat.</p>
<p>Anda ingat “empu” sepak bola Argentina Luiz Cesar Menotti?</p>
<p>Suatu ketika, pelatih yang mempersembahkan Piala Dunia 1978 dan Piala Dunia Yunior 1979 itu menyatakan, tim sepak bola tanpa pemain bintang ibarat negeri tanpa penyair.</p>
<p>Dapat ditafsirkan, dalam pandangan Menotti, secara filosofis hingga teknis permainan sebuah tim membutuhkan imajinasi dan kekuatan ide.</p>
<p>Dengan segala keliaran ide, visi, dan imajinasi, elemen-elemen itulah yang akan membawa pengembaraan gagasan seorang pelatih hingga ke titik berjuta rasa.</p>
<p>Misteri yang terlipat dalam permainan sepak bola menjadi pancaran keindahan. Sedangkan keindahan yang terekspresi adalah kekuatan. Kekuatan yang terpancar adalah diksi-diksi yang dalam bahasa Albert Camus, Shankly, dan Galeano menarasikan penting dan sentralitas makna sepak bola&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/19/sepak-bola-dalam-berjuta-rasa">Sepak Bola, dalam Berjuta Rasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>