Oleh Eko G.W. Pramukawati
BERBICARA tentang pangan, sebagian orang pada umumnya langsung tertuju pada kegiatan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Itu lantaran pangan merupakan salah satu program dari PKK khususnya Kelompok Kerja (Pokja) III dengan tugasnya antara lain memantapkan Gerakan Halaman, Asri, Teratur, Indah dan Nyaman. Lain halnya saat berbicara terkait Proklim yaitu Program Komunitas untuk Iklim, fikiran sebagian orang pada umumnya terkait lingkungan.
Sementara itu kalau kita mencermati komponen Program Komunitas untuk Iklim (Proklim), maka berbicara pangan akan mengerucut pada kegiatan “Adaptasi Perubahan Iklim” yaitu upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim dan kejadian iklim ekstrim.
Beberapa kegiatannya antara lain terkait; “Pengendalian kekeringan, banjir dan longsor; Peningkatan ketahanan pangan; Penanganan atau antisipasi kenaikan muka laut, rob, intrusi air laut, abrasi, ablasi atau erosi akibat angin, gelombang tinggi; serta Pengendalian penyakit terkait iklim”.
Peningkatan Ketahanan Pangan
Dalam hal “Peningkatan Ketahanan Pangan” menjadi bagian dari kegiatan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian. Saat ini adaptasi tersebut menjadi semacam keharusan. Hal tersebut antara lain disebabkan karena pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim.
Berbagai komponen sektor pertanian dalam proklim antara lain terkait “Sistem pola tanam seperti pollybag, hydroponik; Sistem irigasi/drainase; Praktek pertanian terpadu (integrated farming/mix farming); dan Pengelolaan potensi lokal” dengan memadukan kegiatan perikanan, peternakan dan perkebunan di satu lokasi. Dengan demikian limbah pertanian/peternakan dapat digunakan untuk pemupukan.
Komponen lainnya adalah “Penganekaragaman tanaman pangan; Sistem dan teknologi pengelolaan lahan dan pemupukan; Teknologi pemuliaan tanaman dan hewan ternak sehingga menghasilkan varietas unggul; serta Pemanfaatan Tanah/lahan Pekarangan (PTP) untuk penanaman tanaman produktif, seperti sayur, buah dan pembenihan ikan. Tidak kalah penting adalah diversifikasi tanaman pangan.
Terkait hal tersebut, maka tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim, salah satunya adalah menyesuaikan waktu tanam dengan musim hujan pertama. Selanjutnya adalah memilih dan menanam varietas tanaman pangan yang tahan terhadap suhu ekstrim, serta memperbaiki sistem irigasi yang lebih mampu menampung air. Hal demikian dimaksudkan agar saat musim kemarau panjang, ketersediaan cadangan air untuk tanaman adalah nyata adanya.
B2SA Dengan PTP dan Hidroponik
Kita perlu bersyukur, bahwa dalam perkembangan jaman seperti sekarang ini, sebagian masyarakat telah tumbuh kesadaran untuk mengkonsumsi makanan tercakup bahan pangan yang Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA), serta sumber protein.
Mewujudkan harapan tersebut, maka penerapan sistem pertanian perkotaan yang tidak membutuhkan lahan luas dan air berlimpah menjadi alternatif solusi. Salah satu contohnya adalah hidroponik baik yang tersistem maupun sederhana.
Tersistem dimaksudkan dengan membuat kerangka bertingkat dengan sumber air dari kolam sehingga sekaligus untuk perikanan. Terkait sederhana antara lain meletakkan pralon berlubang untuk pot penanaman di atas atau ditempel pada pagar atau dinding/tembok dengan sumber air dari aquarium atau kolam ikan.
Mendukung penganekaragaman pangan, maka pemilihan jenis tanaman untuk hidroponik bisa berupa tanaman sayur, seperti seledri, loncang, kucai, sawi, pokcai, dan sebagainya. Demikian pula bagi yang memiliki lahan atau tanah meski sepetak, maka bisa mengoptimalkan Pemanfaatan Tanah Pekarangan (PTP) untuk budidaya tanaman pangan dan tanaman produktif bernilai ekonomi bagi keluarga, seperti tomat, terong, jipang, kubis, dsb. Kalau memungkinkan disertai juga dengan perikanan terpadu atau bahkan peternakan.
Meski tampaknya sederhana, optimalisasi lahan pekarangan sebagaimana tersebut di atas, adalah bagian dari gerakan percepatan keanekaragaman konsumsi pangan guna mendukung ketersediaan bahan pangan aman. Muaranya mendorong konsumsi makanan yang Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA), dengan makanan sumber protein baik telur ayam maupun pangan lokal lainnya. Termasuk di dalamnya adalah sumber pangan dari ikan, guna mendukung konsumsi sumber protein berbasis sumber daya lokal dan potensi daerah.
Melalui padu padan atau mengkombinasikan budidaya tanaman semusim dengan kegiatan perikanan, peternakan dan perkebunan atau bahkan kehutanan dalam 1 (satu) lokasi (integrated farming/mix farming) sebagaimana program kampung iklim, maka bahan pangan aman akan terwujud nyata, mendukung kesehatan prima.***
Dra. Eko Gustini Wardani Pramukawati, Pengurus Daerah Wirawati Catur Panca Wanita Pejuang 45 Provinsi Jawa Tengah, Ketua Program Kampung Iklim Purwokeling RW.10 Purwoyoso Ngaliyan Kota Semarang, Berttrofi Proklim Lestari KLHK RI 2024 – Salah satu tugas Kader Pangan Aman BPOM












