blank
Ilustrasi. Reka: sb.id

blank

SEKADAR mencatat saja, -dan tidak bermaksud menyindir siapa pun- , akhir-akhir ini satu dua tiga empat pejabat tampak ada yang suka marah-marah; atau setidaknya kata-kata atau ungkapannya menunjukkan ketersinggungan bin kejengkelannya.

Ada yang berkata: “Kita ini kurang apa; bayangkan saja baru satu setengah tahun sudah banyakkkkkkk sekali kemajuan.”  Ada juga yang berkata: “Mengajak diskusi, ayoooo, saya ladeni; tetapi jangan kami diusir…..” Tak kurang yang lebih berapi-api bernada tegang, bilang: “program nasional itu prinsip, dan yang namanya prinsip itu harus dipegang teguh, tanpa kompromi.”

Itulah yang disebut runtik, dan karena yang disebutkan sebagai contoh di atas tadi satu dua pejabat, maka ungkapan lebih tepatnya: Pejabate runtik. Dan masih terkait contoh di atas, siapa yang menjadikan pejabate runtik; tidak lain mereka yang disebut-sebut suka mengritik, suka bikin serik.

Baca juga (Sepele) Dadi Gawe

Mereka itulah golongan kang kalebu gawe runtik; kelompok yang disebut-sebut sering bikin marah. Pertanyaannya: Begitukah?

Runtik

Runtik itu bahasa Kawi, dalam bahasa Jawa diungkapkan dengan runtyaka, yang artinya ada dua; yaitu (1) serik, sakit hati, jengkel, dan (2) nepsu, marah. Dalam fakta hidup sehari-hari, orang yang sedang sakit hati, tersinggung atau pun jengkel, sikap ikutannya ya marah (marah).

Apakah hanya pejabat yang bisa jengkel dan marah-marah; pasti tidaklah. Semua orang dapat saja (tiba-tiba) tersinggung lalu marah-marah. Tukang sayur keliling pun bisa saja marah ketika kentang dagangannya yang relatif kecil-kecil disindir calon pembeli: “Kentang sakupil-upil kok didol larang” kentang kecil-kecil begini (maaf, sebesar upil) dijual mahal. Apa jawaban si tukang sayur: “Weleh Bu, irunge kebo niku!!” hidung kerbau itu, Bu.

Orang marah (marah) sangatlah mungkin diawali oleh karena serik, sakit hati bin jengkel. Bayangkan saja, sudah merasa bekerja keras melembur terus, tetapi hasilnya justru dijadikan bahan ejekan atau sindiran, dipaido terus. “Wajar kan kalau saya serik, sakit hati?? Jangankan para professor, anak kecil saja sarannya saya dengarkan, kok.”

Orang serik bukan saja karena jerih payahnya tidak diakui, disindir,  atau bahkan diejek; serik bisa tumbuh bahkan karena “luka lama terkorek kembali” bahkan sengaja dikorek-korek lagi. Atau karena ada sikap tidak sopan, tidak bersahabat dari pihak/orang lain terhadap saya. Dan hal-hal seperti itulah yang gawe runtik.

Gawe runtik

Tembung gawe memang memiliki arti pakaryan utawa kewajiban sing ditindakake; yaitu suatu pekerjaan atau tugas kewajiban yang dilakukan. Namun, kata gawe ini akan semakin bermakna jika diikuti oleh kata lain seperti gawe runtik ini.

Begitu ada kata lain disandingkan dengan gawe, serta merta maknanya ialah membikin, membuat, menjadi(kan) atau bahkan ada. Gawe runtik artinya membuat/membikin marah, tersinggung, menjadikan seseorang marah karena tersinggung.

Terkait dengan contoh pejabate runtik yang disebut-sebut di awal tulisan ini, di pihak warga masyarakat memang ada pendapat: Gelem dadi pejabat, kudune gelem/saguh dipaido; jika bersedia menjadi pejabat, seharusnya siap dikritik, dipaido, dituntut pemenuhan janjinya.

Baca juga Dadi Wong  

Namun, dari sisi pejabat, entah karena merasa levelnya naik, entah pula karena merasa sudah berjerih-payah bekerja, sikap dan ungkapannya lalu berujung pada kata-kata ini: “Kami bukannya anti kritik, tetapi mbok sing sopan.” Ada juga yang berkilah: “Sampaikanlah kepada kami data dan fakta,” padahal senyatanya yang diungkapkan dalam kritik itu pasti data dan fakta meski dari sisi lain.

Seorang petani sangat rajin setiap pagi-pagi mengikuti ibadat di rumah ibadat terdekatnya. Pagi itu hujan amat lebat, dan ia yang  datang satu-satunya. Pimpinan ibadat mendekati dia dan bertanya, apakah sebaiknya ibadat dibatalkan saja.

Petani ini menjawab: “Saya tidak tahu dibatalkan atau tidak, saya hanyalah petani sederhana yang siap memberi makanan sapi-sapiku sekali pun hujan amat lebat.” Pimpinan ibadat itu agak marah namun segera memimpin ibadat pagi itu, bahkan kotbahnya dibuat lebih berkepanjangan.

Segera setelah selesai ibadat, ditemui lagi si petani ini, dan berkata: “Bagaimana, puas kan?” Sambil menundukkan badan petani itu permisi seraya berkata: “Saya tidak tahu puas atau tidak; saya hanya petani sederhana yang pasti memberi makan sapi-sapiku secukupnya, tanpa perlu banyak diberi khotbah.”

Simpulannya, siapa pun bisa dan boleh marah (marah) apalagi jika tersinggung; namun pemimpin ibadat tadi sebaiknya janganlah ditiru, lebih-lebih dalam hal banyak berkhotbahnya.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah Pendidikan dan kebudayaan Jawa tinggal di Ungaran