JEPARA (SUARABARU.ID) – Diantara seniman ukir, maestro ukir, dan puluhan artisan pengukir dan asisten pengukir yang mendapatkan apresiasi dari Bupati Jepara Witiarso Utomo karena kontribusinya dalam Pameran Tatah 2026. Dalam penghargaan itu, terdapat empat pengukir perempuan.
Penyerahan penghargaan berlangsung pada acara Malam Apresiasi Seniman Ukir Tatah 2026 di Pendapa R.A. Kartini Kabupaten Jepara, pada Senin malam (27/07/2026).

Disamping sambutan Ketua HIMKI Jepara Hidayat Hendra Sasmita dan Bupati Jepara Witiarso Utomo, acara sarasehan juga digelar dengan meriah, dipandu oleh Direktur Tatah 2026, Veronika.
Hadir pula dalam acara ini Wakil Bupati Jepara M. Ibnu Hajar, Sekda Ary Bachtiar, dan sejumlah kepala OPD serta para seniman ukir yang tergabung dalam pameran Tatah 2026 yang telah berlangsung di Museum Nasional Indonesia di Jakarta, April-Juli kemarin.
” Sampai saat ini pameran dihadiri 68.000 pengunjung. Ini membuktikan bahwa Jepara masih Kota Ukir dan menunjukkan ukir Jepara masih terbaik di Indonesia, ” ujar Bupati Jepara Witiarso Utomo dalam sambutannya yang memberikan apresiasi terhadap Pameran Tatah 2026.

Sementara pengukir perempuan yang mendapatkan penghargaan adalah Rumini, Sri Mariyati, Maskamah dan Sulistiyani yang saat ini aktif di Paguyuban Pengukir Perempuan R.A.Kartini Jepara.
Disamping pernah meraih juara ukir kategori perempuan, mereka juga aktif sebagai instruktur pada kelas Pelajar Mengukir di Jepara Wood Carving Gallery di Pantai Kartini Jepara.
Sedangkan tokoh ukir lain yang mendapatkan penghargaan adalah Sutrisno, Wafi Setyawan dan Roni untuk ketegori Seniman Desainer, Maestro Ukir Suhartono Kasari, Suhud / Agus Riyadi, Zabidhi, Alm. M. Chody dan Alm. Sukarno.
Untuk kategori Artisan Pengukir diberikan kepada Widodo, Mugiyono, Ali Ghufron, Nur Qomar, Madi, Trisno, Saniman, Rokhani, Sariyono, Kasrum, dan Rosid Sukrisno.
Sementara untuk kategori Asisten Pengukir penghargaan diberikan kepada Abdul Kadir, Sarno, Hery Prasetyo, Sutrismiyanto, Sofi’i, Rif’an, dan Sumani Sumbang.
Reda dan Terang
Keempat perempuan pengukir ini mengerjakan ukiran karya instalasi berupa tiang ukiran kayu dan hiasan lampion impes berwarna-warni. Karya ini didasarkan pada konteks masih banyaknya kekerasan, penindasan terhadap hak dan martabat perempuan sampai saat ini.
“Karya ini menjadi cara kami mengekspresikan, menyuarakan aspirasi dan harapan kami untuk kehidupan yang lebih baik bagi perempuan,” ujar Direktur Tatah Veronika.
Menurutnya, upaya ini akan dilakukan sampai kapanpun saat meredanya kabar duka bagi perempuan, hadirnya ketenangan, serta kehidupan yang layak dan setara bagi semua perempuan. Selanjutnya Veronika menjelaskan, saat ini para perempuan pengukir masih menghadapi berbagai situasi sulit
“Meskipun begitu mereka tetap memiliki kebanggaan dan kecintaan terhadap seni ukir kayu Jepara. Mereka tetap bertahan, dengan terus menjalani profesinya sebagai pengukir meskipun banyak keterbatasannya,” pungkasnya.
Hadepe












