SALATIGA (SUARABARU.ID) – Tarian Kabasaran dari Minahasa, Sulawesi Utara, dan Tari Ya’ahowu dari Nias menjadi bagian dari penyambutan raja, sultan, pemangku adat, dan tokoh budaya dari berbagai daerah di Nusantara hingga mancanegara dalam acara “Royal Dinner dan Festival Putri Keraton” di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Sabtu (25/7/2026) malam.
Berlangsung di Balairung UKSW, penampilan kedua tarian tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Adat Budaya Nusantara VII yang untuk pertama kalinya digelar di Salatiga.
Warna merah menyala para penari Kabasaran berpadu dengan kostum kuning-merah penari Tari Ya’ahowu. Dengan gerakan tegas, hentakan kaki yang gagah, serta santi dan wengkow, Tarian Kabasaran yang dibawakan mahasiswa UKSW yang tergabung dalam etnis Pinaesaan (Rukun pelajar dan mahasiswa etnis Minahasa di Salatiga) menghadirkan semangat keberanian dan kehormatan masyarakat Minahasa.
Tarian yang dahulu dibawakan para prajurit untuk menjaga tanah leluhur ini kini juga menjadi bentuk penghormatan dalam penyambutan tamu kehormatan.
Semangat penyambutan juga hadir melalui Tari Ya’ahowu dari Nias. Dibawakan oleh tujuh mahasiswa UKSW yang tergabung dalam IKAONI (Ikatan Keluarga Ono Niha Salatiga), tarian ini memadukan unsur Tari Moyo, Tari Maena, dan Tari Tuwu yang menggambarkan rasa syukur, kegembiraan, dan kebersamaan.
“Kami berlatih sekitar satu minggu dua hari untuk tampil di acara ini,” kata Reminis Triani Zega, salah satu penari Tari Ya’ahowu.
Selain Tari Kabasaran dan Tari Ya’ahowu, mahasiswa UKSW yang tergabung dalam Perwasus (Persatuan Warga Sumba di Salatiga) juga menampilkan Tari Kataga dalam rangkaian pertunjukan seni budaya pada Royal Dinner dan Festival Putri Keraton.
Ketiga tarian tersebut merupakan penampilan kelompok etnis mahasiswa UKSW yang dikoordinasikan oleh Direktorat Kemahasiswaan UKSW.
Saat ini, UKSW menjadi ruang perjumpaan bagi mahasiswa dari 23 etnis. Keberagaman tersebut tidak hanya hadir dalam kehidupan akademik dan kemahasiswaan, tetapi juga dirayakan melalui berbagai kegiatan kebudayaan.
Setiap tahun, kelompok-kelompok etnis mahasiswa UKSW secara rutin menggelar Indonesian International Culture Festival (IICF) sebagai ruang untuk memperkenalkan dan merayakan kekayaan budaya Indonesia serta budaya dari berbagai negara.













