PURWOREJO (SUARABARU.ID)— Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat portofolio destinasi pariwisata kawasan dengan secara resmi mengembangkan atraksi wisata berbasis sejarah, budaya, dan alam bertajuk Land & Legacy Gladhen Jemparingan di Zona Otorita Borobudur Highland. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat implementasi prinsip pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) sekaligus memicu akselerasi kunjungan wisatawan di kawasan pariwisata lintas kabupaten yang mencakup Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo.
Kehadiran Land & Legacy Jemparingan menjadi komitmen nyata BPOB setelah sebelumnya sukses menghadirkan dan mengembangkan wellness tourism “Moekti Diri” sejak tahun 2025 lalu. Melalui konsep anyar ini, BPOB memadukan keindahan alam perbukitan, kekayaan nilai sejarah Perang Jawa, aktivitas fisik tradisional, serta pemberdayaan masyarakat lokal dalam satu kesatuan pengalaman wisata yang utuh dan bernilai tambah tinggi.
Jemparingan merupakan seni panahan tradisional gaya Mataraman yang dilakukan dengan posisi duduk bersila, bukan sekadar olahraga fisik semata. Aktivitas ini sangat selaras dengan prinsip wisata ramah lingkungan (ecotourism) karena diselenggarakan langsung di tengah keasrian lanskap hutan Zona Otorita Borobudur Highland. Lebih dari itu, jemparingan mengusung nilai wellness yang mendalam karena menuntut penyelarasan antara olah rasa, ketenangan pikiran, konsentrasi emosi, dan ketangkasan tubuh pengolahnya.
Penetapan pelaksanaan kegiatan pada bulan Juli dipilih secara khusus untuk memperingati momentum bersejarah dimulainya Perang Jawa pada tahun 1825. Kegiatan ini juga dirangkaikan secara khidmat dengan haul Pangeran Diponegoro sebagai bentuk penghormatan mendalam terhadap rekam jejak perjuangan, keteguhan hati, serta keteladanan pahlawan nasional tersebut dalam melawan ketidakadilan colonial. Perbukitan Menoreh tempat Borobudur Highland berdiri memiliki keterikatan historis yang sangat kuat sebagai markas pertahanan dan basis gerilya Pangeran Diponegoro beserta para pengikutnya selama kurun waktu 1825–1830.
Dalam rangkaian agenda utama tersebut, BPOB bersama pemangku kepentingan setempat turut menggelar syukuran pembentukan Paseduluran Jemparing Gagak Roban yang bertempat di Nglinggo, Desa Pagerharjo, Samigaluh wilayah yang menjadi zona penyangga utama kawasan Borobudur Highland. Komunitas lokal ini dilibatkan secara langsung dalam rangkaian pelatihan utama sebagai bagian dari strategi pengembangan wisata bersama masyarakat di sekitar kawasan penyangga Borobudur Highland guna memastikan manfaat ekonomi pariwisata berputar di tingkat tapak.
Atraksi ini diikuti oleh 30 pemanah lintas daerah dari berbagai komunitas jemparingan kenamaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Pengurus Paseduluran Jemparing Langenlastro, Agung, menyatakan antusiasmenya terhadap langkah BPOB yang memfasilitasi ruang pelestarian budaya secara inklusif dan berkelanjutan.
“Sebanyak 30 peserta dari berbagai komunitas jemparingan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Ini momentum penting bagi kami para pelestari tradisi untuk mengenalkan olah jiwa jemparingan kepada masyarakat luas dan wisatawan dalam ekosistem kawasan yang terkelola secara profesional,” ungkap Pengurus Paseduluran Jemparing Langenlastro, Agung kepada SUARABARU.ID.
Inisiasi dan pengembangan atraksi jemparingan di Borobudur Highland terlaksana berkat kolaborasi lintas sektor yang solid. Upaya ini melibatkan Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Pemerintah Desa Wisata Nglinggo, Dukuh Nglinggo Timur, Dukuh Nglinggo Barat, Sanggar Ndalem Tanu, serta konsorsium komunitas jemparingan seperti Paseduluran Jemparing Langenlastro, Trajumas, dan Teratai Kota.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Sutarman, menekankan pentingnya sinergi multifaset ini untuk menjamin keberlanjutan daya tarik destinasi di perbatasan wilayah.
“Kolaborasi menjadi bagian penting dari pengembangan Land & Legacy Jemparingan sebagai atraksi wisata yang berbasis pada potensi lokal, pelestarian budaya, sejarah, dan alam, serta keterlibatan aktif masyarakat. Sinergi antara pemerintah, desa wisata, komunitas, dan pelaku budaya diharapkan dapat menciptakan atraksi wisata yang menarik, berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar,” papar Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman.
Pengembangan ragam destinasi tematik di Borobudur Highland merupakan bagian integral dari upaya BPOB untuk menghadirkan variasi aktivitas wisata yang memiliki karakter, nilai edukasi, dan keunikan tersendiri. Dengan mengoptimalkan potensi alam perbukitan, kekayaan budaya, serta narasi sejarah kawasan, pengembangan ini diharapkan mampu memperkuat daya tarik destinasi, memperpanjang lama tinggal (length of stay), serta meningkatkan rerata pembelanjaan wisatawan.
BPOB meyakini bahwa semakin beragamnya atraksi wisata di Borobudur Highland dapat mendukung percepatan pengembangan ekosistem pariwisata regional di Kabupaten Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo. Dampak domino dari kehadiran aktivitas wisata berbasis komunitas ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas melalui peningkatan aktivitas pariwisata, penciptaan peluang usaha baru di sektor UMKM dan akomodasi, serta penyerapan tenaga kerja di sektor pariwisata beserta industri turunannya.
Direktur Destinasi Pariwisata Badan Pelaksana Otorita Borobudur, Neysa Amelia, menegaskan komitmen BPOB untuk terus mengawal pengembangan destinasi secara inklusif dan berkelanjutan.
“Melalui pengembangan atraksi yang mengangkat kekayaan alam, budaya, dan sejarah, BPOB terus berkomitmen mendorong terwujudnya kawasan pariwisata Borobudur yang berkelanjutan, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami ingin memastikan Borobudur Highland berkembang sebagai pusat wisata berkualitas tinggi yang menjaga warisan leluhur sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal secara adil,” pungkas Direktur Destinasi Pariwisata BPOB, Neysa Amelia.
Melalui integrasi antara sejarah Perang Jawa, keasrian Perbukitan Menoreh, dan keterlibatan aktif komunitas lokal, BPOB optimistis pengembangan Land & Legacy Jemparingan dapat menjadi ikon wisata budaya baru yang memperkokoh daya saing pariwisata Indonesia di kancah nasional maupun internasional.(age).













