Oleh: Tri Indo Setiawan
JEPARA (SUARABARU.ID) – Sebanyak 760 murid SMP Negeri 5 Jepara mengikuti Sosialisasi Pengenalan Pendidikan Inklusi bagi Murid dan Guru yang diselenggarakan pada Selasa (21/7/26).
Kegiatan yang dilaksanakan dalam dua sesi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman seluruh warga sekolah tentang pendidikan inklusif, membangun budaya sekolah yang ramah, serta mencegah segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah.

Sesi pertama dilaksanakan di halaman lapangan upacara dan diikuti seluruh murid kelas VII, VIII, dan IX yang berjumlah sekitar 760 murid. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Jepara, yaitu Dian Tanjung Kartikasari, S.Psi., M.M., Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Kabupaten Jepara.
Dalam paparannya, Dian menegaskan pentingnya menghargai setiap individu tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang. Ia mengingatkan seluruh murid agar tidak melakukan perundungan dalam bentuk apa pun.

“Tidak boleh ada bully, apalagi bullying fisik, karena semua adalah ketetapan dari Tuhan. Sayangi teman apa adanya,” pesannya kepada ratusan murid.
Selain penyampaian materi, narasumber juga memberikan gambaran melalui materi dan praktik mengenai berbagai tindakan yang sering tidak disadari termasuk bentuk perundungan maupun perilaku yang melanggar batasan terhadap lawan jenis. Melalui simulasi tersebut, murid diajak memahami pentingnya menghormati hak, batasan pribadi, dan kenyamanan setiap orang.
Sementara itu, sesi kedua berlangsung di aula sekolah dan diikuti seluruh guru SMP Negeri 5 Jepara. Kepala SMP Negeri 5 Jepara, Edy Suyanto, S.Pd., M.Pd., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh murid.
“Sekolah adalah tempat yang aman untuk siapa pun,” tegasnya. Pada sesi untuk guru, Dian kembali menekankan makna pendidikan inklusif. “Sekolah inklusif bermakna bahwa setiap anak berhak belajar dan setiap guru mampu mengajar,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan pendidikan inklusif adalah kemampuan sekolah dalam mengembangkan kemampuan sosial seluruh warga sekolah. Ia juga mengingatkan bahwa guru tidak dituntut menjadi sosok yang sempurna.
“Guru tidak harus sempurna. Guru hanya perlu mau mengenali, mau memahami, dan mau menyesuaikan. Karena tidak ada anak yang gagal belajar, yang ada adalah anak yang belum mampu menemukan cara belajar yang tepat,” jelasnya.
Pada sesi diskusi, Aryo Susanto, Guru IPS sekaligus pelatih atletik SMP Negeri 5 Jepara, turut berbagi pengalaman mendampingi murid dengan berbagai karakter dan kebutuhan belajar. Menurutnya, murid yang memiliki kebutuhan khusus maupun kondisi yang berbeda tetap memiliki peluang besar untuk berkembang apabila memperoleh kesempatan dan pendampingan yang tepat.
“Mereka yang spesial juga mampu berkembang, salah satunya melalui bidang olahraga, khususnya atletik,” ungkap Aryo.
Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 5 Jepara menegaskan komitmennya dalam mewujudkan sekolah yang inklusif, ramah anak, bebas dari perundungan, serta memberikan kesempatan yang setara bagi setiap murid untuk belajar, berkembang, dan meraih prestasi sesuai dengan potensi yang dimiliki.













