blank
Kepala SMK Muhammadiyah 01 Keling, Rahmat Taufiq Isnaini, membuka kegiatan utama MPLS dengan sebuah prosesi budaya: mengangkat keris pusaka.. Foto: Kusnitah

JEPARA (SUARABARU.ID) – Ada pemandangan yang tidak biasa sekaligus sarat makna dalam pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Muhammadiyah 01 Keling, Jepara, Jawa Tengah, Senin 13 Juli 2026. Mengawali tahun ajaran baru 2026/2027, sekolah ini memilih cara yang sangat unik untuk menyambut siswa baru kelas 10, sekaligus menyatukan kembali semangat siswa kelas 11 dan 12 beserta seluruh bapak dan ibu guru.

Bukan sekadar potong pita atau menerbangkan balon ke udara, Kepala SMK Muhammadiyah 01 Keling, Rahmat Taufiq Isnaini, membuka kegiatan utama MPLS dengan sebuah prosesi budaya: mengangkat keris pusaka.

Prosesi ini seketika menyedot perhatian seluruh peserta upacara bendera. Banyak yang penasaran, mengapa sekolah Islam modern di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah menggunakan simbol senjata tradisional Jawa ini?

Jauh dari Mistis, Ini Tafsir Islami dan Edukatif di Balik Angkat Keris.

Kepala Sekolah menegaskan bahwa pengangkatan keris pusaka ini sama sekali tidak berkaitan dengan unsur mistis. Sebaliknya, ini adalah wujud akulturasi dakwah kultural—memadukan nilai Islam, pendidikan modern, dan kearifan lokal Jepara.

Berikut adalah filosofi mendalam di balik simbolis angkat keris pada pembukaan MPLS SMK Muhammadiyah 01 Keling:

  1. Simbol Jati Diri & Kepemimpinan yang Berwibawa

Dalam budaya Jawa, keris adalah pusaka yang melambangkan kehormatan, tanggung jawab, dan amanah seorang pemimpin. Saat keris ini diangkat oleh kepala sekolah, tersirat pesan kuat: “Kami siap menerima amanah untuk mendidik anak-anak dengan penuh kewibawaan dan kasih sayang, bukan dengan kekerasan.”

  1. Keris Terhunus: Semangat Melawan Kebodohan dan Dekadensi Moral

Mata keris yang menghadap ke atas menjadi simbol ketegasan untuk menegakkan kebenaran (amar ma’ruf nahi munkar). Melalui simbol ini, siswa baru diajak untuk “menghunus” semangat juang dalam menuntut ilmu, sekaligus memerangi rasa malas, bahaya narkoba, tindakan bullying, serta penurunan akhlak.

  1. Filosofi Anatomi Keris dan Tri Prasetya Pelajar Muhammadiyah

Secara fisik, keris memiliki tiga bagian utama yang didekatkan dengan napas perjuangan pelajar Muhammadiyah:

Wilah (Bilah Tajam): Melambangkan pikiran siswa yang harus tajam, kritis, cerdas, dan inovatif.

Gandar (Pegangan): Melambangkan fondasi akhlak mulia dan iman yang kuat sebagai pegangan hidup agar tidak mudah goyah.

Warangka (Sarung Keris): Melambangkan kedisiplinan dan aturan sekolah yang berfungsi sebagai pelindung diri siswa agar tetap berada di jalur yang benar.

  1. Dakwah Kultural: Islam Berkemajuan yang Merawat Budaya

Berlokasi di tanah Jawa, tepatnya di wilayah ukir Jepara, SMK Muhammadiyah 01 Keling menunjukkan wajah Islam berkemajuan yang tidak anti terhadap kebudayaan lokal. Selama tidak melanggar syariat, kearifan lokal justru dirawat sebagai identitas nasional yang memperkaya khazanah bangsa.

Pesan Mendalam untuk Siswa Baru: “Jadilah Seperti Keris”

Saat keris pusaka tersebut diangkat tinggi di hadapan ratusan siswa, sebuah pesan pembakar semangat ditekankan kepada para siswa baru:

“Anak-anakku, inilah bekal kalian. Jadilah seperti keris: memiliki karakter yang lurus, pikiran yang tajam, memiliki wibawa, dan hanya menunjukkan taji serta kemampuan kalian demi menebar kebaikan.”

Melalui prosesi simbolis angkat keris ini, MPLS SMK Muhammadiyah 01 Keling tahun ajaran 2026/2027 resmi dimulai. Selama tiga tahun ke depan, para siswa baru tidak hanya akan dibekali keahlian vokasional yang siap kerja, tetapi juga akan “ditempa” layaknya sebilah keris pusaka agar menjadi generasi penerus bangsa yang tegas, kokoh, berilmu, dan berakhlakul karimah.

Hadepe  – Kusnitah