Oleh: Amir Machmud NS
// keindahan sepak bola/ terbalut dalam teka-tekinya/ misteri yang menutup eksakta/ dia bukan matematika/ karena tak pernah ada yang pasti/ kadang ada noda/ saat kuasa mengotori/ saat nafsu menguasai//
(Sajak “Misteri Sepak Bola”, 2026)
MAKIN ke sini, Piala Dunia makin menimbulkan teka-teki. Takkan pernah terjawab pasti, siapa yang akan menjadi pemenang dan mengangkat trofi. Prediksi pun berkembang dari berbagai sisi.
Para pandit berhak menganalisis, lalu memprediksi. Para ahli boleh mengalkulasi, lalu berkesimpulan untuk menjawab teka-teki. Para pelatih membuat kalkulasi, lalu menjabarkannya ke skema taktik dan strategi. Namun, bukankah keserbasamaran dan ketidakpastian itulah yang sejatinya paling pasti?
Di sebagian perkiraan bisa muncul kesimpulan: oh, ternyata benar. Tetapi pada sebagian lain prediksi bisa berlaku sebaliknya: oh, benar-benar di luar dugaan. Itulah mengapa, sepak bola sering disebut bukan matematika, tidak eksak, yang justru menjadi daya tarik dan membuat hasilnya serbatidak ternyana.
Adu taktik adalah produk ikhtiar, siapa mengantisipasi dengan cara apa, dan bagaimana hasilnya. Inilah tesis, antitesis, dan sintesis yang berlaku dalam keilmiahan kreativitas konsep. Setiap pertandingan sepak bola di ajang setinggi Piala Dunia pasti mengetengahkan sikap-sikap demikian.
Prancis Konsisten
Spanyol melaju ke semifinal untuk kali pertama setelah juara pada 2010, untuk menantang Prancis yang — oleh Supercomputer Opta — kini difavoritkan meraih trofi. Lagi-lagi, Mikel Merino yang menjadi penentu dalam kemenangan 2-1 atas Belgia. Sebelumnya, dia juga mencetak gol melawan Portugal.
Sedangkan sebelumnya, Prancis sesuai “skenario” juga melenggang, walaupun Maroko semula diperkirakan bakal menyulitkan dan punya peluang sama. Hasil ini mengulang semifinal Piala Dunia 2022, dan menunjukkan Kylian Mbappe dkk menapak langkah menjadi tim yang konsisten memenangi semua laga sejal fase grup.
Menghadapi Spanyol di semifinal nanti, tak ada kalkulasi yang menjamin, apakah Prancis bisa lolos ke partai puncak 20 Juli nanti.
Kapten Mbappe bisa dibilang menjadi gantungan tim, namun tak bisa pula diabaikan peran Ousman Dembele, Michel Olise, dan Desire Doue. Sedangkan Spanyol mengandalkan Mikel Oyarzabal, Mikel Merino, Dani Olmo, Lamine Yamal, juga Pedri.
Skenario semifinal lain menunggu hasil 8 besar Inggris vs Norwegia dan Argentina vs Swiss.
Brazil Tersisih
Mari kita merunut fase sebelumnya. “Hukum” sepak bola di babak 16 besar dimulai dengan ketersisihan Brazil 1-2 dari Norwegia. Erling Burt Haaland menjadi kunci dengan dua golnya, membuktikan sistem pertahanan Selecao yamg dirancang pelatih Carlo Ancelotti tak mampu menghentikan striker tinggi besar itu.
Misteri bisa dirunut dari kegagalan Bruno Guimaraes menuntaskan penalti, karena sukses diantisipasi kiper Orjan Nyland. Brace Haaland untuk kemenangan Norwegia itu menegaskan, kini tim-tim non-mainstream bisa menyulitkan, bahkan menundukkan tim unggulan.
Carlo Ancelotti mengakui, Haaland sangat ditakuti bek lawan. Kelebihan striker Manchester City itu bukan kecepatan dan kekuatannya, tetapi pada timing untuk mencetak gol.
Pada Piala Dunia edisi-edisi sebelumnya, ketika tim-tim seperti Brazil, Belanda, atau Uruguay terhenti, aura turnamen seolah-olah menyuram. Akan tetapi tim-tim kejutan menghadirkan eksotika tersendiri. Penampilan Tanjung Verde, Republik Demokratik Kongo, dan Mesir misalnya, bisa menjadi contoh.
Maroko tak lagi masuk kategori tim kejutan, karena kini menjadi salah satu kekuatan elite. Ini patut dilihat sebagai lompatan kemajuan Afrika. Empat tahun lalu di Qatar, Singa-singa Atlas menempati urutan keempat. Kini mereka terhenti oleh Prancis di 8 besar.
Inggris lolos ke 8 besar setelah berjuang melewati perlawanan sengit Meksiko dengan 3-2. Bermain dengan 10 pemain karena Jarrell Quansah dikartu merah, Hary Kane dkk menahan gempuran lawan hingga laga berakhir. Duel ini disebut-sebut sebagai salah satu partai terbaik Piala Dunia 2026, menyajikan adu kekuatan mental.
Argentina untuk kali kedua harus berjuang berat untuk lolos. Perlawanan luar biasa Mesir yang bahkan unggul sampai dua gol, mengulang lagi drama seperti saat menghadapi Tanjung Verde di 32 besar.
Kemenangan 3-2 setelah tertinggal 0-2 menjadi comeback yang membutuhkan mental kuat. Ada momen kegagalan Lionel Messi dalam menuntaskan penalti karena ditepis kiper Mostafa Shobeir yang tampil gemilang, namun kapten Albiceleste itulah yang kemudian menyamakan skor 2-2 sebelum Enzo Fernandez menciptakan keunggulan 3-2.
Hasil ini mengundang kecaman pelatih Mesir Hossam Hassan. Dia menyebut timnyalah yang seharusnya memenangi laga, andai wasit tidak “berpihak” untuk meloloskan Argentina.
Pada sisi lain, pelatih Argentina Lionel Scaloni mengaku merinding melihat etos kerja Messi. “Mungkin penaltinya gagal, Anda bisa fokus ke sana. Kami hendak tersingkir, mereka sempat unggul dua gol. Tetapi lalu Messi meminta bola lagi, dan dia mencoba lagi, dan lagi,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.
“Saya yakin dia bermain sepak bola untuk momen-momen seperti ini. Dia mencintai sepak bola. Dan, perasaan emosional di tahap ini dalam kariernya, sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.” (detik.com, 8 Juli 2026).
Noda Skandal
Termasuk eksotikakah — tetapi pasti bukan misteri — yang memancarkan keindahan, ketika “intervensi” politik merambah ke sepak bola?
Selain tudingan bahwa wasit membantu Argentina dan Lionel Messi, simak pulalah apa yang diputuskan FIFA menjelang laga Belgia vs Amerika Serikat.
Lobi Presiden Amerika Donald Trump ke Presiden FIFA Gianni Infantino, membuat badan tertinggi sepak bola dunia itu membatalkan kartu merah pemain AS, Folarin Balogun dari laga 32 besar melawan Bosnia & Herzegovina. Balogun dikeluarkan karena menendang Tarik Muhamirovic.
Balogun akhirnya tetap diperbolehkan bermain melawan Belgia. Keputusan FIFA itu dikecam oleh berbagai kalangan. UEFA dan Belgia, terutama, menyesalkan kejadian tersebut. Toh, Balogun tak mampu menolong Amerika. Romelu Lukaku dkk menang 4-1.
Ini mengulang sejarah buruk Piala Dunia 1962, ketika campur tangan Presiden Chile Jorge Alessandri dan Presiden Peru Manuel Prado Ugarteche membatalkan kartu merah untuk penyerang sayap Brazil Mane Garrincha. Hukuman itu diterima Garrincha di semifinal melawan Chile karena menendang kaki pemain lawan.
Keduanya menyampaikan petisi ke FIFA. Presiden Prado menelepon wasit asal Peru Arturo Yamasaki untuk membatalkan kartu merah Garrincha, dengan alasan publik ingin menyaksikan aksi-aksi Si Burung Kenari Kecil itu di final melawan Cekoslovakia.
Bukankah ini mengulang skandal yang menodai independensi olahraga, dan akan dikenang selamanya sebagai noda sepak bola, noda Piala Dunia?
— Amir Machmud NS, Wartawan Suarabaru.Id —













