blank
Ratusan guru dan tokoh pendidikan bertemu aula SMAN 1 Jepara pada Sabtu (4/7), menandai puncak acara Temu Pendidik Nusantara (TPN) ke-13 tingkat Kabupaten Jepara.

JEPARA (SUARABARU.ID)  – Semangat kolaborasi dan kemandirian pendidik Nusantara kembali bergema di Bumi Kartini. Ratusan guru dan tokoh pendidikan tumpah ruah memenuhi halaman dan aula SMAN 1 Jepara pada Sabtu (4/7), menandai puncak acara Temu Pendidik Nusantara (TPN) ke-13 tingkat Kabupaten Jepara. Suasana hangat kekeluargaan terasa sejak pagi, saat para guru dari berbagai penjuru Jepara saling menyapa dan bertukar cerita sebelum acara dimulai.

Tahun ini, forum yang murni digagas secara swadana oleh para guru itu mengangkat tema besar: “Cita-cita Kolektif Kewargaan Desa Dunia.” Sebuah tema yang mengajak setiap pendidik untuk berpikir jauh melampaui ruang kelasnya sendiri, namun tetap berpijak pada aksi nyata di tingkat lokal. Forum ini menjadi ajang urun rembuk sekaligus wahana peningkatan kompetensi tenaga pendidik dalam menghadapi tantangan pendidikan yang kian global.

blank
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Baznas Kabupaten Jepara, M. Nasrullah Huda, menyerahkan bantuan beasiswa pendidikan kepada 7 murid kurang mampu.

Ketua Panitia TPN ke-13 Jepara, Ninok Eyiz Sumianingrum, melaporkan bahwa antusiasme peserta tahun ini kembali melampaui ekspektasi, dengan lebih dari 350 peserta yang hadir memadati lokasi acara.

“Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kabupaten Jepara dengan berbagai rangkaian acara, mulai dari bincang pendidikan, kelas pendidik, kelas pemimpin, kelas kompetensi, pameran karya murid, cerdas cermat guru, hingga penyerahan beasiswa pendidikan,” ujarnya.

Rangkaian acara yang padat itu dirancang bukan sekadar seremoni, melainkan ruang belajar bersama yang hidup — tempat guru saling berbagi praktik baik, memamerkan karya murid-muridnya, dan mengasah kembali semangat mengajar yang terkadang luntur di tengah rutinitas.

blank

Tahun ini, forum yang murni digagas secara swadana oleh para guru itu mengangkat tema besar: “Cita-cita Kolektif Kewargaan Desa Dunia.” Sebuah tema yang mengajak setiap pendidik untuk berpikir jauh melampaui ruang kelasnya sendiri, namun tetap berpijak pada aksi nyata di tingkat lokal.

Perwakilan Guru Belajar Foundation, Najla Hanisa Firzana, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya tema yang diusung tahun ini. Ia mengajak para pendidik untuk memandang dunia sebagai satu desa besar, di mana setiap tindakan lokal yang dilakukan guru di sekolahnya masing-masing dapat memberikan dampak secara global. Pesan ini seolah menegaskan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari kebijakan tingkat tinggi, melainkan bisa dimulai dari langkah kecil seorang guru di ruang kelas sederhana di pelosok Jepara.

Senada dengan gagasan tersebut, Kepala SMAN 1 Jepara, Puji Rahayu, selaku tuan rumah menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi dan semangat kemandirian para guru yang tergabung dalam KGBN. Ia menyoroti perlunya pergeseran paradigma mengenai peran guru di era digital saat ini.

Dengan analogi yang menggugah, ia menegaskan, “Di masa sekarang, guru tidak lagi hanya sebagai penyalur ilmu atau sekadar pelita. Guru harus menjadi seperti ‘Wi-Fi’ yang koneksinya kuat, menyambung ke seluruh sisi, agar anak-anak dapat terhubung, belajar, dan bertumbuh dengan masa depannya.”

Analogi ini menjadi salah satu momen yang paling membekas dalam forum, mengingatkan para hadirin bahwa peran guru kini bukan lagi sekadar berdiri di depan kelas, melainkan menjadi penghubung yang memastikan setiap anak tetap terkoneksi dengan ilmu, nilai, dan harapan masa depannya.

Momentum TPN ke-13 juga dimanfaatkan sebagai ruang berbagi kepada sesama. Dalam kegiatan tersebut, Ketua Baznas Kabupaten Jepara, M. Nasrullah Huda, menyerahkan bantuan beasiswa pendidikan kepada 7 murid kurang mampu. Total beasiswa yang diserahkan mencapai Rp2.900.000 — sebuah bukti kecil namun bermakna bahwa gerakan pendidikan yang digagas secara swadana ini juga peduli pada pemerataan kesempatan belajar bagi anak-anak Jepara yang membutuhkan.

Melalui rangkaian acara yang padat makna ini, TPN ke-13 Jepara sekali lagi menegaskan bahwa perubahan pendidikan yang besar selalu bermula dari kolaborasi kecil dan konsisten para guru — warga dari “desa dunia” yang sama, dengan cita-cita yang satu.

Indria Mustika