KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Desa Kawedusan, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, terus tumbuh berkembang dari aspek sosial, ekonomi, pendidikan dan keagamaan.
Di bidang sosial keagamaan, Desa Kawedusan sejak dahulu dikenal sebagai desa kaum santri dan banyak tokoh ulama di Kebumen. Kini memiliki empat masjid, dua di antaranya masjid Jamik atau untuk Salat Jumat dan salat jamaah lima waktu, serta dua masjid di lokasi lembaga pendidikan.
Bahkan Desa Kawedusan yang berpenduduk sekitar 2.500 jiwa kini memiliki musala unik yang berdiri megah di tengah sawah bernama Musala Al Hasyim.
Musala tersebut telah diresmikan secara sederhana namun khidmat dengan among-among dan Yasin Tahlil oleh warga RT 03, 04, dan 05, RW 1 Desa Kawedusan
Bahkan bersamaan 10 Muharram 1448 H atau Minggu sore 28 Juni 2028 dilakukan tahlil serta kultum singkat di Musala Al Hasyim. Menurut inisiator pembangunan Musala Al Hasyim, Edi Purnomo (61), dirinya tergugah membangun musala setelah setiap hari menjumpai petani, buruh tani dan pekerja sawah di Desa Kawedusan kesulitan saat tiba waktu salat.

Akibatnya para petani dan buruh tani menunaikan salat lima waktu, terutama Duhur dan Asar, di tempat seadanya. Fenomena tersebut menggugah Edi Purnomo membangun musala di tengah sawahnya yang bisa dipakai untuk salat bagi petani dan siapa pun yang ada di sekitar area sawah Desa Kawedusan.
Kini Musala Al Hasyim yang berdiri di atas tanah sawah seluas 19 ubin atau setara 266 meter persegi itu telah berdiri rapi, dengan luas bangunan, termasuk teras serta kamar mandi, sekitar 10 x 8 meter persegi.
Jalan Mulus Dicor
Untuk ukuran bangunan tergolong luas dan bagus, bersih serta benar-benar mewah alias mepet sawah atau dikeliling persawahan. Lantainya granit, dinding bercat cokelat muda cerah dan jendela sangat lebar.
Bahkan telah dilengkapi kamar mandi dan tempat wudlu serta ruangan untuk keperluan jamaah. Kebetulan akses jalan ke area persawahan dan Musala Al Hasyim itu juga telah mulus dicor Pemerintah.

Edi pun telah merencanakan mewakafkan tanah dan bangunan Musala Al Hasyim melalui saluran resmi Kemenag Kebumen.
”Kami sudah berkonsultasi dengan aparat dan semoga nanti lancar dan musala ini bermanfaat bagi jamaah dan warga sekitar,”ujar Edi yang mengambil nama musala dari nama ayahnya, alm H Hasyim, pernah 40 tahun mengabdi sebagai perangkat desa, carik dan pj kades Kawedusan di masa lalu.
H Fatakhul Chusen, tokoh agama Desa Kawedusan yang juga Kepala KUA Pejagoan dan didapuk memberi ular-ular mengapresiasi niat Edi Purnomo membangun musala di tengah sawah, sekaligus akan mewakafkan ke jamaaf. Niat baik tersebut patut dihargai. Apalagi yang memanfaatkan Musala Al Hasyim adalah para petani dan buruh tani yang bekerja di sawah.
“Luar bisa di Desa Kawedusan yang kecil ini memiliki empat masjid. Dua masjid Jamik dan dua masjid di lokasi pendidikan, serta ada sejumlah musala dan dua pondok pesantren. Kita sambut dengan baik niat Pak Edi, semoga menjadi amal jariyah, dan tempat ibadah ini semakin ramai oleh para jamaah,”tandas Fatah.
Sementara itu tokoh agama Desa Kawedusan yang juga guru di MAN 1 Kebumen KH Masrukhin SAq menilai, membangun musala di tempat sepi seperti di tengah sawah tetaplah baik dan tidak masalah. Yang perlu dipikirkan adalah siapa yang harus merawat dan mengelola musala tersebut.
Tahlil peresmian Musala Al Hasyim itu dipimpin KH Masruri HS dan doa oleh KH Muhdi Ali. Acara dihadiri mantan Kades Kawedusan H Muhajir, serta Kasi Bimas Islam Kemenag Kebumen Dr H Maruf Widodo MPdI yang kebetulan juga tokoh warga Kawedusan.
Hadir pula sejumlah tokoh agama dan masyarakat Desa Kawedusan. Antara lain H Romelan SAg mewakili tuan rumah, H Moh Solekhan SAg MPdi (pendidik), Pengasuh Ponpes dan Musala Al Ghozali Kawedusan Kidul Gus Akhsani Taqwim dan Akrom Murtadlo serta segenap Perangkat Desa Desa Kawedusan.
Komper Wardopo













