GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Dinas Kesehatan Grobogan mencatat angka kasus Tuberkolosis atau TBC hingga Juni 2026 mencapai 601 pasien.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 591 pasien masuk kategori sensitif obat dan 10 pasien lainnya tergolong resisten obat.
Masyarakat pun diimbau untuk mengenali TBC So dan Ro agar penanganan dapat dilakukan secara tepat.
Data Dinas Kesehatan Grobogan menunjukkan angka kasus Tuberkolosis masih menjadi perhatian serius di daerah tersebut.
BACA JUGA : Petekeyan Bentuk Desa Sehat Iklim, Hadi Sarwoko: Warga Pilar Utama Hadapi Dampak Perubahan Iklim
Selain memahami jumlah kasus yang ada, masyarakat juga perlu mengetahui perbedaan antara TBC So dan Ro sebagai bagian dari upaya pencegahan serta pengendalian penyakit menular tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko, menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara TBC sensitif obat dan resisten obat terletak pada kemampuan bakteri penyebab penyakit dalam merespons pengobatan.
“TBC So merupakan kasus dimana kuman TBC masih mempan atau sensitit terhadap obat standar. Sedangkan kasus TBC Ro dimana kuman sudah bermutasi dan kebal terhadap satu atau lebih obat anti TBC standar,” ungkap dr Djatmiko.
Menurutnya, pasien dengan kategori TBC So masih dapat menjalani terapi menggunakan obat-obatan standar yang selama ini digunakan dalam program pengobatan tuberkulosis nasional.
Pada kasus TBC So, proses pengobatan umumnya berlangsung selama enam hingga sembilan bulan. Selama masa terapi tersebut, pasien harus mengonsumsi kombinasi empat jenis antibiotik standar sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Sementara itu, pasien yang mengalami TBC Ro memerlukan penanganan yang lebih kompleks.
Selain jenis obat yang berbeda, durasi pengobatannya juga jauh lebih panjang dibandingkan pasien TBC sensitif obat.
BACA JUGA : Bupati Kudus Dorong Penguatan Satu Data dan DTSEN, Wujudkan Kebijakan Pembangunan Tepat Sasaran
Pasien TBC RO dapat menjalani pengobatan dalam rentang waktu sembilan hingga 24 bulan tergantung kondisi masing-masing pasien serta respons tubuh terhadap terapi yang diberikan.
Dr Djatmiko menuturkan bahwa perbedaan antara kedua jenis TBC tersebut tidak hanya terletak pada pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan penyebab munculnya penyakit tersebut.
“Selain perbedaan itu, berbeda juga dari sisi penyebab dan penularan TBC ini. TBC SO biasanya merupakan infeksi TBC awal yang belum pernah diobati sebelumnya,” jelas dr Djatmiko.
Ia menambahkan, untuk TBC RO umumnya disebabkan oleh riwayat pengobatan sebelumnya yang gagal, tidak teratur, atau terputus-putus, sehingga kuman menjadi kebal.
Ia menjelaskan, kasus TBC SO umumnya ditemukan pada pasien yang baru pertama kali terinfeksi dan belum pernah menjalani pengobatan tuberkulosis sebelumnya.
BACA JUGA : Sistem Kelistrikan Jawa Berangsur Pulih, PLN Sebut Pemadaman Bergilir Berhasil Diminimalisasi
Berbeda dengan TBC RO yang sering kali muncul akibat ketidakpatuhan pasien dalam menjalani terapi.
Pengobatan yang tidak tuntas atau sering terputus berpotensi membuat kuman menjadi kebal terhadap obat.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan tuberkulosis karena memerlukan metode terapi yang lebih panjang dan pengawasan yang lebih ketat.
Selain akibat kegagalan pengobatan, pasien TBC RO juga dapat muncul karena tertular langsung dari penderita lain yang telah membawa kuman tuberkulosis yang kebal terhadap obat.
Karena itu, upaya pencegahan dan pengendalian penularan tetap menjadi bagian penting dalam menekan angka kasus tuberkulosis di masyarakat.
Dinas Kesehatan Grobogan terus mendorong masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit TBC, seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, hingga demam yang tidak kunjung sembuh.
BACA JUGA : Tim PKM Fakultas Ekonomi USM Beri Pelatihan Literasi Akuntansi
Langkah deteksi dini dinilai sangat penting untuk mempercepat penanganan sekaligus memutus rantai penularan di lingkungan sekitar pasien.
Saat ini, ratusan pasien TBC yang terdata di Grobogan menjalani pengobatan secara rawat jalan di berbagai fasilitas kesehatan.
Tenaga kesehatan juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi pasien guna memastikan terapi berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Keberhasilan pengobatan tuberkulosis, menurut dr Djatmiko, sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani seluruh tahapan terapi hingga selesai.
Ia menegaskan bahwa pengobatan yang dilakukan secara teratur mampu meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus mencegah munculnya resistensi obat.
BACA JUGA : Kunker di Nusakambangan, Titiek Soeharto Apresiasi Keberhasilan Kemenimipas Bangun Kemandirian
“Kunci utamanya itu adalah disiplin dan tidak pernah bolos minum obat. Itu adalah kunci kesembuhan para pasien TBC, baik itu yang So dan Ro,” tambahnya.
Melalui edukasi yang terus dilakukan, Dinkes Grobogan berharap masyarakat semakin memahami angka kasus Tuberkolosis saat ini.
Dinas Kesehatan Grobogan optimistis upaya pengendalian angka kasus Tuberkolosis dapat berjalan lebih efektif dan angka kesembuhan pasien terus meningkat dari waktu ke waktu.
TYA WIDYA













