JEPARA (SUARABARU.ID) — Di balik megahnya industri ukir dan mebel Jepara yang menembus pasar dunia, ada ribuan pekerja yang selama ini menjadi tulang punggung produksi. Pemerintah Kabupaten Jepara kini mulai memberi perhatian lebih serius kepada mereka melalui program Kartu Mebel Jepara.
Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan, keberadaan kartu tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pekerja mebel memperoleh hak sosial yang layak di tengah besarnya kontribusi industri mebel terhadap perekonomian daerah.
Hal ini diungkapkan saat Penyerahan Kartu Mebel secara simbolis tang langsung diserahkan oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo di Galery Wood Carving Jepara, Senin (22/6/2026).

Bukan hanya kartu identitas pekerja biasa, program tersebut dirancang menjadi pintu akses perlindungan sosial, layanan kesehatan, hingga bantuan pendidikan bagi keluarga pekerja mebel. Hingga Juni 2026, sebanyak 850 pekerja telah menerima Kartu Mebel Jepara dari total 1.500 kartu yang disiapkan pemerintah daerah.
“Kegunaan Kartu Mebel Jepara ini untuk memastikan para pekerja tercover BPJS, baik BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan maupun jaminan hari tua. Dengan begitu mereka tidak kesulitan dan mendapatkan hak yang sama,” ujar Witiarso.
Tidak berhenti pada perlindungan tenaga kerja, kartu tersebut juga mulai diintegrasikan dengan program pendidikan. Anak-anak pekerja mebel diprioritaskan mendapatkan akses bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Program Indonesia Pintar (PIP).
Pemkab Jepara bahkan menyiapkan skema prioritas bagi keluarga pekerja dari kelompok ekonomi rentan agar bisa masuk Sekolah Rakyat mulai jenjang SD hingga SMA.

“Untuk jenjang SD, SMP hingga SMA, terutama bagi keluarga yang masuk kategori desil 1 dan 2, akan kami prioritaskan untuk masuk Sekolah Rakyat sehingga akses pendidikan bagi anak-anak pekerja mebel semakin terbuka,” katanya.
Langkah tersebut menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah terhadap industri mebel Jepara. Selama ini, industri mebel lebih sering dipotret dari sisi nilai ekspor dan kejayaan ukirannya. Kini, kesejahteraan pekerja mulai ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan industri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekonomi Jepara dengan kontribusi mencapai 33,61 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada 2025.
Pertumbuhan ekonomi Jepara juga meningkat menjadi 5,41 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 4,26 persen. Sektor industri tercatat menyerap sekitar 338.799 tenaga kerja, menjadikannya sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di Jepara.
Khusus sektor furniture, terdapat 892 perusahaan dengan nilai investasi lebih dari Rp1,17 triliun dan menyerap sedikitnya 8.259 pekerja. Produk furniture kayu Jepara juga telah dipasarkan ke 114 negara dengan nilai ekspor mencapai sekitar 197 juta dolar AS atau setara Rp3,29 triliun sepanjang 2025. Nilai tersebut menyumbang sekitar 34,5 persen dari total ekspor Jepara.
Namun bagi Witiarso, keberhasilan industri mebel tidak cukup hanya dilihat dari tingginya nilai perdagangan internasional. “Bagi saya, kemajuan industri mebel tidak hanya diukur dari nilai ekspor, tetapi juga dari kesejahteraan para pekerja yang berada di belakang setiap produk yang dihasilkan,” tegasnya.
Selain memperkuat perlindungan pekerja, Pemkab Jepara juga terus mendorong peningkatan kualitas industri melalui pelatihan inovasi produk berbasis ornamen ukir dan pemanfaatan limbah kayu.
Pelatihan tersebut diarahkan agar pelaku industri mampu menjawab perubahan pasar global yang semakin menuntut produk kreatif, bernilai budaya, sekaligus ramah lingkungan.
“Jepara dikenal berbagai penjuru dunia sebagai the world carving center. Tapi jangan kemudian terlena hanya dengan menjaganya. Kita juga harus terus mengembangkannya agar mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Witiarso.
Sejumlah program unggulan lain juga mulai disiapkan pemerintah daerah melalui visi Jepara Mulus, mulai Festival Ukir Internasional, pengembangan Museum Ukir Nusantara, Pasar Mebel Jepara, hingga program UMKM Naik Kelas.
Di saat industri mebel dunia menghadapi tantangan perubahan pasar dan persaingan global, Jepara tampaknya mulai menegaskan satu hal: menjaga kejayaan ukir tidak cukup hanya lewat produk, tetapi juga lewat perhatian terhadap manusia yang mengerjakannya.
Hadepe – Septiana W













