SALATIGA (SUARABARU.ID) – Untuk pertama kalinya, inovasi media pembelajaran karya mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) berhasil mencetak sejarah dengan meraih sertifikat Hak Cipta dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Tujuh karya inovatif berupa media pembelajaran tanpa gadget tersebut diserahterimakan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 12 Salatiga.
Media konvensional yang secara khusus dihibahkan meliputi karya MATUMBUH, Bio-Abio World, Si Mata Ceria, SENA Box, Jejak Indra, Rahasia Dua Sisi, dan Tumbilara.
Karya inovatif yang telah mendapatkan hak cipta tersebut merupakan output mata kuliah Inovasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Sekolah Dasar (SD).
Secara keseluruhan ada 14 karya inovatif yang terbagi menjadi tujuh media konvensional dan tujuh media digital berbasis 3D Augmented Reality (AR) yang menuai antusiasme luar biasa saat diujicobakan dalam Festival Sains yang diadakan mahasiswa di sekolah pada bulan Maret 2026.
Salah satu karya konvensional yang unik yaitu Rahasia Dua Sisi dan Jejak Indra. Rahasia Dua Sisi merupakan media berbentuk neraca keseimbangan sederhana yang mengajak anak menebak dan membuktikan sifat benda padat melalui eksperimen menimbang secara langsung. Sedangkan Jejak Indra sendiri berupa papan permainan interaktif bagi anak untuk berlomba mengelompokkan pin bergambar aktivitas sehari-hari ke area pancaindra yang tepat.
Siswa jadi lebih antusias
Kehadiran inovasi pembelajaran perdana berlisensi Hak Cipta ini disambut dengan rasa syukur dan apresiasi tinggi oleh pihak sekolah.
Kepala Sekolah SD Negeri 12 Salatiga, Syaroh, S.Pd., menyampaikan terima kasih karena alat peraga visual tersebut sangat membantu, membuat anak-anak jauh lebih antusias dan tidak mudah bosan dalam mempelajari literasi dan numerasi .
Sementara itu, Gamaliel Septian Airlanda, S.Pd., M.Pd., selaku Dosen Pengampu mata kuliah Inovasi Pembelajaran IPA SD menjelaskan bahwa media tersebut memang sengaja dirancang untuk menyulut semangat belajar siswa.
“Hal yang paling menarik adalah rekan-rekan mahasiswa mampu menggabungkan materi IPA dengan mata pelajaran yang lain, seperti matematika, kesenian, hingga bahasa Indonesia,” jelasnya, baru-baru ini.
Menurutnya, hal ini menjadi sebuah solusi edukatif yang cerdas agar anak-anak kelas satu dan dua mendapat pengalaman belajar secara holistik tanpa merasa bosan.
Gamaliel Septian Airlanda S.Pd., M.Pd., menegaskan, pencapaian pembuatan media yang memakan waktu pengerjaan selama satu semester penuh ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Pasalnya, ini adalah kali pertama inovasi pembelajaran dari para mahasiswa didaftarkan dan sukses meraih sertifikat Hak Cipta.
Melihat dampak nyata yang diberikan, Syaroh, S.Pd., sangat menaruh harapan besar agar sinergi dan kolaborasi pendidikan antara sekolahnya dan UKSW dapat terus berlanjut tanpa henti.
“Harapan kami kerja sama ini bisa terjalin lebih baik lagi ke depannya. Apabila ada media-media penciptaan baru lagi, semoga bisa terus diterapkan di SD Negeri 12 Salatiga, karena kami memang sangat membutuhkan inovasi seperti ini,” pungkasnya.
Pameran produk inovatif ini menandai bahwa UKSW terus berkomitmen menciptakan Creative Minority yang berkontribusi dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, ke-8 yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta ke-17 kemitraan untuk mencapai tujuan.
Selain itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UKSW yang selaras dengan Asta Cita ke-4 yaitu penguatan pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.
Ning S













