JEPARA (SUARABARU.ID) – Pendopo R.A. Kartini Jepara kembali menunjukkan fungsinya bukan sekadar pusat pemerintahan, melainkan ruang bersama bagi seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama.
Hal itu terlihat saat Pemerintah Kabupaten Jepara menggelar peringatan Sannipata Waisak 2570 Tahun Buddhis/2026 Masehi, Minggu (21/6/2026), yang dihadiri sekitar 1.500 umat Buddha dari berbagai wilayah di Kabupaten Jepara.
Momentum tersebut menjadi penegasan komitmen Pemerintah Kabupaten Jepara dalam merawat keberagaman sebagai modal utama pembangunan daerah. Di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, pemerintah ingin memastikan setiap warga memiliki ruang yang sama untuk menjalankan keyakinan sekaligus berpartisipasi dalam pembangunan.

Bupati Jepara H. Witiarso Utomo, yang mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting, menegaskan bahwa Pendopo Kabupaten merupakan rumah besar bagi seluruh masyarakat Jepara tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun latar belakang.
“Pendopo ini dan Kabupaten Jepara secara utuh adalah rumah besar milik kita bersama. Di rumah ini, semua warga dirangkul, semua diemong, dan semua dilayani tanpa sekat perbedaan. Setiap warga Jepara memiliki ruang dan hak yang setara untuk berpartisipasi aktif dalam memajukan daerah yang kita cintai ini,” ujar Witiarso.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya diukur dari berdirinya infrastruktur fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang beragam. Karena itu, nilai religius menjadi salah satu pilar dalam visi pembangunan Jepara MULUS (Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius).
Ia menjelaskan, aspek religius dalam visi tersebut diwujudkan melalui komitmen pemerintah untuk memberikan rasa aman kepada seluruh umat beragama dalam menjalankan ibadah, memperkuat toleransi, serta menjaga kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Pembangunan bukan hanya soal jalan, jembatan, atau gedung. Yang tidak kalah penting adalah membangun kehidupan masyarakat yang rukun, saling menghormati, dan hidup berdampingan dalam keberagaman,” katanya.
Peringatan Waisak tahun ini mengusung tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”. Menurut Bupati, tema tersebut mengandung pesan yang sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana perdamaian dunia berawal dari kedamaian dalam diri setiap individu, kemudian tumbuh di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Ia mengajak seluruh umat Buddha untuk terus mengamalkan nilai-nilai Dharma melalui sikap cinta kasih, welas asih, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
“Ketika umat Buddha di Jepara terus memancarkan cinta kasih tanpa batas, maka kedamaian akan semakin kokoh berakar di Bumi Kartini ini. Kedamaian dan toleransi inilah modal dasar yang sangat berharga untuk terus bergotong royong mewujudkan Jepara yang makmur dan sejahtera,” ujarnya.
Witiarso juga menyampaikan apresiasi kepada umat Buddha yang selama ini ikut menjaga kondusivitas daerah serta berkontribusi dalam pembangunan Kabupaten Jepara. Ia berharap semangat kebersamaan yang terbangun selama ini terus dipelihara sebagai kekuatan menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
“Keberagaman bukanlah sesuatu yang memisahkan kita. Justru keberagaman adalah kekayaan yang harus kita rawat bersama agar menjadi energi positif dalam membangun Jepara,” tuturnya.
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala perangkat daerah, tokoh lintas agama, serta para Bhikkhu, Romo, Ramani, dan Pandita dari berbagai majelis agama Buddha.
Suasana peringatan berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Kehadiran ribuan umat Buddha bersama unsur pemerintah dan tokoh lintas agama memperlihatkan bahwa toleransi di Kabupaten Jepara tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan melalui ruang-ruang perjumpaan yang mempererat persaudaraan.
Melalui peringatan Sannipata Waisak 2570 Tahun Buddhis ini, Pemerintah Kabupaten Jepara kembali menegaskan bahwa menjaga kerukunan antarumat beragama merupakan investasi sosial yang tidak kalah penting dibanding pembangunan fisik. Sebab, dari masyarakat yang rukun akan lahir rasa aman, semangat gotong royong, dan partisipasi bersama untuk mewujudkan Jepara yang inklusif, damai, dan sejahtera.
Septiana W – Diskominfo













