blank
Foto bersama para dewan juri FFAB 2026. Foto: Septi.

KUDUS (SUARABARU.ID) – Dari Kota Kudus, Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 yang digarap Garam serta Terang (GsT) Production tegaskan kebangkitan sineas muda nasional, Sabtu (20/06/2026).

Malam Anugerah FFAB 2026 bukan hanya menjadi penutup rangkaian festival, tetapi juga menjadi perayaan atas tumbuhnya semangat berkarya para sineas independen Indonesia.

Dari puluhan karya yang bersaing, sembilan penghargaan utama diberikan kepada film-film yang dinilai memiliki kualitas terbaik dari sisi penyutradaraan, akting, artistik hingga tata suara.

Puncak penghargaan malam itu menjadi milik film “Will Today Be A Happy Day” karya M. Kanz Daffa. Film tersebut sukses membawa pulang dua penghargaan paling prestisius, yakni Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.

Dua penghargaan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kekuatan sebuah film tidak hanya terletak pada kemegahan produksi, tetapi juga pada kemampuan sutradara meramu cerita yang jujur dan mampu menyentuh penonton.

Sorotan berikutnya tertuju pada film “Kotak Amal”. Film tersebut berhasil meraih dua penghargaan sekaligus, yaitu Artistik Terbaik dan Film Penghargaan Khusus.

Penghargaan itu menjadi pengakuan atas keberhasilan tim produksi menghadirkan visual yang kuat sekaligus menawarkan gagasan yang berbeda dibanding karya lainnya.

Sementara itu, film “Tutup Hari Kiamat” membuktikan kekuatan unsur teknis dalam sebuah film. Karya tersebut dinobatkan sebagai Penata Skoring Terbaik, sekaligus mengantarkan Putri Ramadhani meraih penghargaan Pemeran Pendukung Terbaik berkat penampilannya yang dinilai mampu menghidupkan cerita.

Di kategori penyuntingan, Charles E melalui film “The Grass and Not Very Grassy Kinda Thing It Does” memperoleh penghargaan Editor Terbaik. Ketelitian dalam menyusun ritme cerita menjadi salah satu alasan dewan juri menjatuhkan pilihan pada karya tersebut.

Adapun kategori pemeran utama dimenangkan Firman Marpaung melalui film Harun sebagai Aktor Terbaik, sedangkan Gendhis Maharany melalui “A Tale of Two Nomads” dinobatkan sebagai Aktris Terbaik setelah berhasil menampilkan emosi karakter secara kuat dan meyakinkan.

Namun, di balik sorak-sorai para pemenang, terdapat cerita panjang mengenai perjuangan panitia menyelenggarakan festival yang kini memasuki tahun kedua.

blank
Cornel Innos Direktur GsT menerima tumpeng dari Irianto Gunawan Komisaris Utama di Garam serta Terang Production (GsT) saat launching logo SINEA.ID yang merupakan satu rangkaian Malam Anugrah Film FFAB 2026. Foto: Septi.

Direktur Garam serta Terang (GsT) Production, Cornel Innos, mengaku perjalanan menuju malam puncak tahun ini jauh berbeda dibanding penyelenggaraan pertama.

“Pastinya penuh syukur kepada Tuhan atas berkat yang diberikan kepada kami semua, khususnya tim di balik layar yang sudah bersusah payah menyiapkan FFAB, terlebih Malam Anugerahnya. Selama proses dari pemilihan ide tema hingga puncak acara, saya merasa FFAB tahun ini dijalankan dengan jauh lebih siap. Berbeda dengan tahun lalu, saat semuanya terasa penuh keraguan karena kami baru pertama kali menyelenggarakannya,” ujarnya.

Menurut Cornel, pengalaman tahun pertama menjadi bekal penting untuk menyempurnakan pelaksanaan festival tahun ini. Koordinasi panitia menjadi lebih matang, pembagian tugas lebih jelas, hingga proses kurasi karya berlangsung lebih terstruktur.

Meski demikian, FFAB 2026 menghadapi tantangan tersendiri. Jumlah peserta memang mengalami penurunan. Jika pada tahun lalu panitia menerima 157 film, tahun ini jumlahnya menjadi 92 karya dan dikurasi lagi hingga menjadi 30 karya.

Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin dianggap sebagai kemunduran. Namun, Cornel justru melihatnya dari sudut pandang berbeda.

“Tahun lalu belum ada biaya pendaftaran, sedangkan tahun ini kami memberlakukan biaya registrasi. Mungkin itu yang membuat jumlah peserta berkurang. Tetapi justru karena ada biaya tersebut, para peserta lebih serius mempersiapkan filmnya. Tahun lalu cukup banyak karya yang dikirim sekadar mencoba. Tahun ini bobot film yang masuk jauh lebih baik,” jelasnya.

Ia menyebut, kebijakan biaya pendaftaran ternyata menjadi proses kurasi awal. Para sineas yang mengirimkan karya benar-benar mempertimbangkan kualitas film sebelum memutuskan mengikuti festival.

Perubahan lain yang cukup membahagiakan adalah persebaran asal peserta. Bila sebelumnya festival lebih banyak diikuti sineas dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, tahun ini wajah baru justru datang dari wilayah Pantura.

“Kami sangat senang karena film-film pendaftar tahun ini tidak lagi didominasi kota besar. Banyak karya berasal dari Kudus, Jepara, dan Pati. Ini menunjukkan bahwa Pantura atau Muria Raya juga memiliki potensi besar dalam industri kreatif,” katanya.

Fenomena tersebut menjadi sinyal positif bahwa geliat perfilman daerah mulai berkembang. Tidak hanya menjadi penonton, para anak muda di daerah kini mulai menjadi pembuat cerita yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Sebelum malam penghargaan digelar di Kudus, panitia terlebih dahulu menyelenggarakan berbagai kegiatan menuju festival. Salah satunya adalah pemutaran dan diskusi film di Kabupaten Jepara.

Agenda tersebut menjadi ruang bertemunya sineas, mahasiswa, komunitas film, hingga masyarakat umum untuk berdialog mengenai proses kreatif sekaligus membangun budaya apresiasi terhadap film lokal.

Bagi Innos, festival tidak berhenti pada pemberian piala. Lebih dari itu, festival merupakan ruang belajar bersama bagi para pembuat film.

Ia mengungkapkan bahwa dewan juri tidak semata-mata melihat kualitas teknis produksi, tetapi juga memperhatikan keutuhan cerita, keberanian bereksperimen, dan kejujuran para pembuat film dalam menyampaikan gagasan.

“Kami melihat film-film yang menjadi juara memiliki kekuatan pada keutuhan cerita. Produksinya juga menunjukkan kemauan untuk berkembang. Kami tidak menutup kemungkinan memberikan kesempatan kepada sineas baru, bahkan amatir, selama kami melihat ada kejujuran di dalam film tersebut,” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa FFAB bukanlah festival yang hanya memberi ruang bagi sineas berpengalaman. Justru festival ini berupaya menjadi tempat lahirnya talenta-talenta baru yang selama ini belum memiliki kesempatan menunjukkan karyanya. Masa depan perfilman daerah sangat bergantung pada kemauan para kreatornya untuk terus belajar.

“Saya melihat yang paling penting adalah kemauan untuk tumbuh. Dengan adanya festival ini, apakah kreator daerah mau berkembang bersama mengikuti perubahan zaman atau tidak,” katanya.

Di akhir wawancara, Innos menyampaikan pesan yang sederhana tetapi kuat bagi para sineas muda.

“Hal yang paling penting menurut saya adalah keberanian. Berani memulai, berani konsisten, dan bahkan berani gagal.”

Kalimat tersebut seolah menjadi benang merah seluruh perjalanan FFAB 2026. Sebab, setiap film yang diputar malam itu lahir dari keberanian seseorang untuk bercerita. Dari keberanian itulah industri kreatif daerah perlahan menemukan wajah barunya.

Ringkasan Sembilan Juara pada FFAB 2026 adalah:

  • Film Terbaik : Will Today Be A Happy Day – M. Kanz Daffa
  • Sutradara Terbaik : M. Kanz Daffa – Will Today Be A Happy Day
  • Artistik Terbaik : Kotak Amal
  • Film Penghargaan Khusus : Kotak Amal
  • Penata Skoring Terbaik : Tutup Hari Kiamat
  • Editor Terbaik : Charles E – The Grass and Not Very Grassy Kinda Thing It Does
  • Aktor Terbaik : Firman Marpaung – Harun
  • Aktris Terbaik : Gendhis Maharany – A Tale of Two Nomads
  • Pemeran Pendukung Terbaik : Putri Ramadhani – Tutup Hari Kiamat

Melalui penyelenggaraan tahun keduanya, FFAB tidak hanya melahirkan sembilan pemenang terbaik, tetapi juga memperlihatkan bahwa ekosistem perfilman di Pantura dan Muria Raya mulai tumbuh dengan optimisme baru.

Septiana W