blank
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, menggelar kirab pusaka yang menyertakan kebo (kerbau) bule (albino) Kiai Slamet, Tanggal 1 Sura Tahun Be 1960 pada malem Rabu Kliwon (17/6/26).

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Dalam paham Kejawen, hari jatuhnya Tanggal 1 Sura, dapat dijadikan pedoman untuk memprediksi banyak sedikitnya hujan dalam setahun mendatang. Kali ini, Tanggal 1 Sura Tahun Be 1960 Kurup (siklus) Asapon (Tahun Alip Selasa Pon), jatuh Hari Rabu Kliwon dan memiliki sebutan Buda Mahesaba. Artinya, Buda (Rabu) Mahesaba (Sapi) atau Tahun Sapi. Prediksinya, dalam setahun mendatang tidak banyak hujan.

Lain halnya dengan setahun kemarin, yang Tanggal 1 Sura Tahun Dal 1959 jatuh pada Hari Jumat Kliwon. Itu disebut sebagai Sukra (Jumat) Mangkara (Udang) atau Tahun Udang, yang menjadikan tahun banyak hujan. Kenyataannya, dalam kurun waktu setahun, curah hujan cukup melimpah. Para petani dapat bersawah sampai tiga kali.

Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, prediksi atau ramalan mengenai banyak sedikitnya hujan berkait dengan Tanggal 1 Sura, itu merupakan local wisdom atau kearifan lokal. Pranoto yang Adi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta, menyebutkan, itu layaknya kaum nelayan sebagai insan bahari, saat memahami keberadaan bintang di langit sebagai tanda alam dan menjadi pedoman untuk mengatur jadwal melaut.

Terkait hari jatuhnya Tanggal 1 Sura yang dikaitkan dengan prediksi banyak sedikitnya hujan dalam setahun, itu dimuat dalam Kitab Betal Jemur Adammakna pada halaman 217. Juga dituliskan dalam Buku Horoskop Jawa Misteri Pranata Mangsa di halaman 621.

Kitab Betaljemur Adammakna dihimpun oleh R Soemodidjaja dari babon (induk) aseli kagungan dalem (milik) Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat. Yang dikeluarkan oleh Buyut Dalem Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat, yakni Ny Siti Woerjan Soemadiyah Noeradyo, dengan penerbit Soemodidjojo Mahadewa di Praja Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat. Kemudian Buku Horoskop Jawa Misteria Pranata Mangsa, ditulis oleh Ki Hudoyo Doyodipuro Occ (Penerbit Dahara Prize Semarang).

Strategi

Dari referensi Kitab Betaljemur Adammakna, menyebutkan, manakala Tanggal 1 Sura jatuh Hari Rabu, maka memiliki sebutan Buda Mahesaba. ”Wis ngarani udan daweg tanduran tan tulus” (diprediksi hujan deras di awal musim rendengan, membuat tanaman gagal panen). Penjelasan lebih tegas, dituliskan dalam Buku Horoskop Jawa, bahwa Buda Mahesaba merupakan Tahun Sapi, yang diprediksi dalam setahun mendatang air hujan kurang.

Mencermati prediksi curah hujan yang kurang dalam setahun mendatang, ini menjadi isyarat bagi petani untuk mengupayakan strategi dalam melaksanakan budidaya tanaman. Pilih tanaman yang tidak banyak memerlukan air, supaya tidak gagal panen. Strateginya, tidak memilih tanam padi, padi dan padi. Alternatifnya, musim tanam pertama tanam padi, kemudian musim tanam kedua dan ketiga ganti palawija yang tidak butuh banyak air.

Sesuai keberadaan hari ada tujuh (Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu), maka prediksi banyak sedikitnya hujan yang dikaitkan dengan Hari Tanggal 1 Sura, juga ada tujuh sebutan pemilahan tentang ramalan cuaca mengenai banyak dan sedikitnya hujan.

Dari tujuh hari tersebut, dipilah menjadi dua mengenai prediksi banyak sedikitnya hujan. Untuk prediksi tahun banyak hujan ada empat dan yang kurang hujannya ada tiga. Tahun banyak hujan, manakala Tanggal 1 Sura jatuh pada Hari Minggu, Senin, Selasa dan Jumat. Yang masing-masing memiliki sebutan Dite (Minggu) Kenaba (Kelabang), Soma (Senin) Werjitra (Cacing) dan Anggara (Selasa) Rekhata (Kepiting) dan Sukra (Jumat) Mangkara (Udang).

Kemudian untuk tiga prediksi tahun kurang hujan, bila Tanggal 1 Sura jatuh pada Hari Rabu, Kamis dan Sabtu. Yang masing-masing memiliki sebutan Buda (Rabu) Mahesaba (Sapi), Respati (Kamis) Mintuna (Mimi) dan Tumpak (Sabtu) Menda (Kambing).(Bambang Pur)