blank
Wahyu Widodo, Paguyuban Pengusaha Mitra MBG Kabupaten Kudus. Foto: ist

KUDUS (SUARABARU.ID) – Kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang menghentikan sementara pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah menuai beragam tanggapan dari para mitra penyelenggara program. Meski mengaku kecewa karena berdampak pada sisi ekonomi dan investasi, para pengusaha yang tergabung dalam ekosistem MBG menyatakan tetap mendukung kebijakan pemerintah tersebut..

Penghentian sementara MBG tertuang dalam Surat Edaran (SE) Kepala BGN Nomor 12 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada periode hari libur dalam rangka penyelenggaraan Program MBG Tahun Anggaran 2026. Dalam surat edaran yang diterbitkan pada 17 Juni 2026 itu, operasional MBG dihentikan selama masa libur sekolah, yakni mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk optimalisasi tata kelola operasional, efisiensi sumber daya, serta standardisasi pelaksanaan program MBG di seluruh Indonesia. Selama masa penghentian, SPPG yang tidak beroperasi juga tidak menerima insentif operasional.

Koordinator Paguyuban Mitra SPPG, Wahyu Widodo, mengaku memahami alasan pemerintah melakukan penyesuaian tersebut. Namun di sisi lain, ia tidak menampik bahwa keputusan tersebut menimbulkan kekecewaan di kalangan mitra yang telah berinvestasi besar untuk membangun dapur SPPG.

“Tentunya kami dan anggota yang tergabung dalam paguyuban sedikit kecewa dengan keluarnya surat edaran tersebut. Karena dari sisi ekonomi dan investasi sangat merugikan,” ujarnya.

Menurut Wahyu, para mitra telah menggelontorkan modal yang tidak sedikit untuk membangun sarana dapur, peralatan, hingga menyiapkan tenaga kerja guna mendukung program MBG. Saat penghentian MBG selama libur sekolah, para mitra juga masih menanggung biaya operasional lainnya seperti listrik, air, perawatan alat dapur, kendaraan, IPAL hingga keamanan.

Meski demikian, pihaknya tetap menghormati keputusan pemerintah. Sebagai mitra pelaksana program strategis nasional, mereka memilih untuk patuh dan memahami langkah yang diambil BGN.

“Bagaimanapun juga kami sebagai mitra pemerintah harus tetap patuh dan bisa memahami kondisi negara saat ini yang sedang berusaha memperbaiki tata kelola menuju arah yang lebih baik,” katanya.

Wahyu berharap evaluasi dan penataan yang dilakukan pemerintah selama masa libur sekolah benar-benar menghasilkan perbaikan sistem yang berdampak positif bagi seluruh pihak, termasuk mitra penyedia layanan MBG.

“Kami hanya berharap tata kelola yang baru nanti bisa memberikan angin segar kepada kami sebagai mitra yang sudah susah payah membangun dapur SPPG dengan modal yang tidak sedikit. Ke depan semoga semua SPPG bisa beroperasi normal seperti biasa dan semakin bermanfaat bagi para penerima manfaat,” tambahnya.

Suplier Sayuran Mengeluh

Dampak penghentian MBG ternyata tidak hanya dirasakan pengelola dapur SPPG. Rantai pasok bahan pangan yang selama ini menopang program tersebut juga ikut terkena imbas.

Agus Sulistiyanto, salah satu pemasok sayuran selada hidroponik untuk sejumlah dapur MBG, mengaku kini harus bekerja ekstra mencari pasar baru untuk menyerap hasil panennya.

Selama ini, dapur-dapur MBG menjadi salah satu pelanggan utama yang secara rutin menyerap produksi selada hidroponik miliknya. Ketika operasional dapur dihentikan sementara, permintaan pun langsung turun drastis.

“Saat ini harus mencari resto atau rumah makan yang mau beli,” ujarnya.

Menurut Agus, sayuran hidroponik memiliki masa simpan yang terbatas sehingga harus segera dipasarkan agar tidak mengalami kerugian. Kondisi tersebut membuat para petani dan pemasok bahan baku harus bergerak cepat mencari pembeli alternatif selama program MBG belum kembali berjalan.

Sementara itu, BGN menjelaskan bahwa penghentian sementara MBG selama libur sekolah dimanfaatkan untuk melakukan audit dan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh dapur SPPG. Langkah tersebut dilakukan agar ketika siswa kembali masuk sekolah, pelaksanaan MBG dapat berjalan lebih baik, tertata, dan sesuai standar yang telah ditetapkan. ([detikfinance][2])

Bagi para mitra SPPG dan pelaku usaha yang selama ini bergantung pada program MBG, masa libur sekolah tahun ini menjadi tantangan tersendiri. Mereka berharap proses evaluasi yang dilakukan pemerintah dapat segera selesai sehingga operasional dapur MBG kembali normal dan roda ekonomi yang telah terbentuk di sekitar program tersebut dapat kembali bergerak.

Ali Bustomi