MANA lebih mengganggu; klilip di mata, atau slilit di gigi? Sulit memilih jawabannya kecuali mengatakan: dua-duanya sangat mengganggu. Debu atau serpihan kecil sampah masuk ke mata, klilip, ………duhhhhh bikin mata terasa pedes, tidak mudah melek, dan bisa jadi terasa ada yang mengganjal di pelupuk mata.
Sangat berbahaya jika klilip itu masuk justru di dalam perjalanan bersepeda motor atau pun mobil. Sedang berjalan kaki pun berbahaya; maka sebaiknya minggir pelan-pelan mencari tempat yang aman.
Beda klilip, beda pula slilit. Jika kita sliliten, memang mengganggu sih, namun tidak berbahaya. Jika sedang dalam perjalanan, wong sliliten biasanya hanya sibuk cari-cari benda (apa pun) yang dapat digunakan untuk pertolongan emergency mengambil slilit itu. Kertas secuil pun mungkin akan dipergunakan.
Baca juga (Guyonan) Dadi Tangisan
Bisa-bisa memotong ranting pohon. Jika masih berada di warung makan dan sudah terasa sliliten, nahh…………pasti minta atau cari-cari tusuk gigi.
Dadi slilit
Apa itu slilit? Sebenarnya pertanyaan ini tergolong “pertanyaan bodoh” karena tidak perlu dipertanyakan pun semua orang tahu berhubung pasti pernah merasakan/mengalaminya. Meski begitu, biar tulisan ini terasa agak panjang sedikit, perlu dijelaskan bahwa slilit itu, ialah turahaning pangan (daging, lsp) sing sumlempit ing sela-selaning untu.
Ada serpihan atau potongan sangat kecil dari makanan yang kita santap, terselip di antara gigi-gigi kita, dan “menetap” di situ. Nah itulah slilit. Potongan sayur kangkung yang menjadi penghuni tetap (namun sementara karena harus segera dicongkel) di sela dua gigi itu pasti terasa mengganggu kenyamanan.
Ungkapan khas dalam bahasa Jawa terkait peristiwa itu ialah sliliten, wuihhh…… ganjel, bikin tidak nyaman dan perlu segera diadakan “operasi senyap” atasnya jika ingin segera bisa tidur, atau ngobrol, atau beraktivitas lain.
Siapa pun dan di mana pun seseorang terkena sliliten, saat itu pula secepatnya dia pasti bergerak cepat melakukan “operasi senyap” tadi. Jika kesempatan untuk melakukan operasi senyap sulit, lidahlah yang mogal-mogel ke kiri, kanan, atas bawah; sesekali ujung jari tangan dimasukkan mulut.
Dari slilit atau sliliten berkembang menjadi ungkapan dadi slilit, salah satu dari ratusan contoh tembung entar. Dari fakta ada slilit, digabung dengan kata dadi sehingga terbentuklah ungkapan dadi slilit. Dan saat itu pula ungkapan itu berubah, menjadi bermakna kiasan.
Bukan fakta sebenarnya lagi yang kini terungkap, melainkan melukiskan sesuatu atau lebih-lebih seseorang yang sangat mengganggu kenyamanan umum, Contoh, beberapa waktu lalu katanya ada aparat cowok dan cewek yang bekerja di instansi yang sama, punya jabatan lagi, ketahuan selingkuh.
Pasti hebohlah, dan untuk instansinya pasti dadi slilit juga. Hanya mereka berdua itukah yang selingkuh, kemungkinan tidak; namun karena mereka berdua itu konangan, ketahuan, nah………dadi slilit.
Mangsa dadia slilit
Lanjutan dari dadi slilit, ada juga ungkapan mangsa dadia slilit. Serpihan makanan yang tertambat di sela-sela gigi itu memang sangat kecil, ora mingsra, sangat tidak berharga sama sekali. Tetapi, ganjelnya itu lho…………., sangat tidak mengenakkan, mau tidak mau pemilik slilit pasti berusaha “mencongkelnya.”
Baca juga Dadi Sawalang-walang
Contoh pegawai yang selingkuh tadi, atau contoh lain pegawai yang terkena OTT karena korupsi; mungkin saja dianggap sebagai “serpihan” belaka bagi suatu instansi. Mungkin saja kelakuan oknum itu dianggap ora mingsra dan masalah kecil saja (karena sebenarnya ada yang lebih besar lagi, hehehe); demikian juga jika anggapan sebagai masalah kecil itu ternyata berlaku umum di mana-mana; maka ungkapannya mangsa dadia slilit, sihhhh?
Tegasnya, karena kasus semacam itu dianggap terjadi di mana-mana serta merambah semua lapisan masyarakat, ungkapan untuk menyederhanakan persoalan: mangsa dadia slilit, mana mungkin kejadian begitu-begitu saja bikin porak-poranda?
Sikap atau pun pola pikir mangsa dadia slilit semacam itu, -ini peringatan untuk kita semua- , jika terus berkembang akan menjadikan kepekaan nurani siapa pun tergerus perlahan-lahan. Lalu semakin tumpul.
Bisa menjadi tragis manakala setiap kali ada kasus, setiap kali pula orang berkata mangsa dadia slilit, sihhh, ini kan masalah kecil saja; biarkan saja nanti akan menguap dan hilang sendiri. Jangan. Jangan ada sikap seperti itu berkembang biak ke mana-mana dan di mana-mana. Ayo, tetap berusaha memertajam kepekaan nurani.
Ada cerita menarik sebagai berikut. Peronda yang diupah oleh suatu kampung, pada suatu malam bermaksud melakukan tes apakah warga kampung tetap peka terhadap kepentingan rasa amannya.
Ketika malam mulai senyap, tiba-tiba ia berteriak: “Harimau……harimau…..harimau…….” Sejumlah bapak dan orang muda di kampung itu bergegas keluar rumah, dan segera menemui peronda itu. Agak cengengesan peronda itu menjawab berbagai pertanyaan, dan ketika agak tersudut tidak dapat memberi jawaban serta bukti, ia berkata: “Saya melihat sorot mata kucing di kegelapan. Saya takut dan mengira itu harimau.”
Warga kembali ke rumah masing-masing untuk meneruskan tidur. Selang dua jam kemudian, peronda itu berteriak-teriak lagi: “Maling…… maling….. maling…..” sambil pukul kenthongan bertalu-talu. Beberapa warga mendengar, tetapi malas bangun dan mendiamkan saja teriakan itu.
Esok harinya, Pak Dhadhap Waru laporan ke warga bahwa tiga dari empat burung piaraannya hilang digondol maling. Warga hanya saling bertatap muka merasa bersalah, mengapa tadi malam tidak terbangun ketika penjaga malam berteriak “maling….maling….maling.” Pak Suta Naya minta maaf: “Saya mendengar jelas peronda itu berteriak, tetapi saya malas bangun karena mengira peronda itu iseng-iseng lagi.”
Intinya, hanya berselang beberapa jam saja, kepekaan nurani bisa menumpul seperti dialami Pak Suta Nayak arena berfikir: “Ahhh……… mangsa dadia slilit, sihhhh, teriakan biasa peronda itu?”
JC Tukiman Taruna Sayoga, pengamat masalah pendidikan dan kebudayaan Jawa













