blank
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Mikro (Dinkop UKM) Provinsi Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramiyanto, di sela Workshop Media bertajuk Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna di Kota Semarang, belum lama ini. (Foto: Diaz A Abidin)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) Provinsi Jawa Tengah menyebut, sebanyak 6.271 telah beroperasi di wilayah tersebut.

Artinya sekitar 73 persen koperasi dari total 8.523 koperasi yang berbadan hukum di Jawa Tengah sudah resmi beroperasi.

Kepala Dinkop UKM Jateng, Eddy Sulistiyo Bramiyanto, mengatakan, terus mengyoayakan seluruh Koperasi Merah Putih yang ada bisa segera aktif 100 persen hingga akhir tahun 2026.

“Tahun ini kalau bisa 100 persen. Kami terus mengoptimalkan pengurus-pengurus yang masih dalam tahap perencanaan agar segera menjalankan operasionalnya,” katanya dalam Workshop Media bertajuk Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna di Kota Semarang, belum lama ini.

Lebih lanjut, terkait modal yang terhimpun saat ini mencapai Rp34,6 miliar, bersumber dari simpanan pokok dan wajib para anggota.

Sektor Produktif 

Bram mengatakan, para pengurus koperasi didorong untuk memulai bisnis di sektor produktif atau sektor riil daripada sekadar simpan pinjam, karena perputaran uangnya jauh lebih cepat.

Dia mencontohkan keberhasilan beberapa koperasi yang tumbuh pesat dari modal minim. Seperti Koperasi Dadapsari yang memulai dari Rp500 ribu kini asetnya menembus Rp450 juta.

“Kami dorong mereka bergerak di sektor riil. Setiap hari berproduksi, barang keliling ke anggota, dan sore hari uang sudah kembali. Inilah yang membuat koperasi bisa mandiri dan tumbuh cepat,” katanya.

Selain itu, untuk memperkuat likuiditas, Dinkop UKM mendorong skema kemitraan dengan koperasi yang sudah mapan (existing).

Skema yang ditawarkan adalah penyuntikan modal kerja, misalnya sebesar Rp25 juta, untuk dikelola menjadi produk riil dengan pembagian keuntungan 70 persen untuk koperasi Merah Putih dan 30 persen untuk mitra penyuntik modal. (*)

Diaz A Abidin