blank
Situasi pembelajaran di LPKS Bina Muda Wolo Penawangan, Foto: Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Penurunan minat masyarakat untuk bekerja di Korea Selatan mulai dirasakan sejumlah LPKS Korea di Kabupaten Grobogan.

Penurunan peminatan masyarakat untuk bekerja di Korea Selatan itu berdampak langsung terhadap jumlah siswa yang mendaftar di lembaga pelatihan kerja.

Kondisi tersebut membuat beberapa LPKS Korea di Grobogan mengalami penurunan jumlah peserta pelatihan cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Berkurangnya kuota G to G menjadi faktor yang utama.

BACA JUGA : Menteri Maruarar Puji Lompatan Program Perumahan Jateng

Salah satu yang berdampak yakni LPKS Bina Muda Wolo Penawangan. Pengelola LPKS Bina Muda Wolo, Ali Mashudi mengatakan, permintaan tenaga kerja dari perusahaan di Korea Selatan tahun ini menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan, jika sebelumnya kebutuhan tenaga kerja dari perusahaan Korea Selatan mencapai 7.000 orang, kini hanya sekitar seribu orang.

“Mungkin karena kondisi ekonomi di sana (Korea Selatan) lagi tidak baik-baik saja. Mudah-mudahan ini bisa baik di tahun selanjutnya. Sangat berpengaruh sekali dan semua LPKS Korea juga berdampak,” jelas Ali.

BACA JUGA : Balai Bahasa Jateng Gelar Bimtek Guru Utama Pelindungan Bahasa Daerah Jenjang SMP

Menurut Ali, kondisi tersebut langsung memengaruhi jumlah siswa yang mengambil pendidikan di lembaga pelatihan miliknya.

Ia mengungkapkan, pada tahun-tahun sebelumnya jumlah pendaftar dalam satu gelombang selalu melebihi target hingga harus membuka gelombang tambahan.

“Dulu satu gelombang saja yang mendaftar melebihi target sehingga harus dibuka gelombang selanjutnya, ya satu gelombang kapasitasnya 60 orang.Sekarang jadi 20-25 orang,” tambah Ali.

BACA JUGA : Viral di Kudus! Video Geng Remaja Bersenjata Tajam Geruduk Perumahan, Warga Resah

Penurunan jumlah siswa itu juga berdampak pada operasional lembaga pelatihan. Ali mengaku baru kali ini harus merumahkan sejumlah tenaga pengajar.

Ia menyebut, jika kuota kerja ke Korea Selatan terus berkurang pada tahun depan, maka dampaknya akan semakin luas terhadap guru maupun karyawan lembaga pelatihan.

Kebijakan Baru Berpengaruh

Kondisi serupa juga terjadi di LPKS Koreaindo Pulokulon. Pemilik LPKS Koreaindo, Suwarno mengaku jumlah siswa yang masuk mengalami penurunan cukup tajam.

Biasanya, kata Suwarno, jumlah siswa baru yang masuk bisa mencapai 60 hingga 70 orang dalam satu periode. Namun saat ini, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 20 hingga 25 orang saja.

Suwarno menilai penurunan kuota program G to G menjadi salah satu penyebab utama turunnya peminat.

BACA JUGA : Seorang Calon Haji Asal Blora Meninggal di Medan, Bupati Sampaikan Duka Cita

Ia mengatakan, kebijakan perpanjangan kontrak pekerja Korea dari lima tahun menjadi sepuluh tahun turut memengaruhi regenerasi calon pekerja migran baru.

“Di luar kuota G to G pengaruhnya karena adanya perekrutan dari P to P dan program kuliah sambil kerja dengan kuota 300 ribu mahasiswa asing, jadi justru sangat berdampak bagi LPKS kami,” tambah Suwarno.

blank
Para peserta pendidikan di LPKS Koreaindo Pulokulon sedang menyimak pembelajaran yang diberikan tutor. Foto: Tya Widya/dok.

Meski menghadapi kondisi sulit, Suwarno berharap kuota G to G kembali diperbesar agar minat masyarakat mengikuti pelatihan kerja ke Korea Selatan meningkat lagi.

“Harapannya ya kuota G to G bisa dibuka lebih banyak lagi sehingga juga berdampak pada peminatan siswa untuk masuk ke LPKS Korea Selatan sebagai persiapan mereka berangkat ke sana,” harap Suwarno.

Tanggapan Disnakertrans

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Grobogan, Teguh Harjokusumo membenarkan adanya penurunan kuota kerja ke Korea Selatan tahun ini.

Menurut Teguh, kuota yang tersedia saat ini hanya sekitar seribu orang dan tidak sebanding dengan jumlah lulusan pelatihan dari LPKS Korea.

Ia menjelaskan, kebijakan visa bagi PMI berpengalaman yang dapat diperpanjang membuat kebutuhan tenaga kerja baru menjadi berkurang.

“Karena kebijakan visa bagi PMI yang berpengalaman alias bisa diperpanjang ini, maka regenerasi untuk calon PMI baru ke Korea Selatan menjadi berkurang. Sudah saya koordinasikan dengan semua LPKS Korea di Grobogan, rata-rata penurunan mencapai 50-70 persen,” ungkap Teguh, Senin (11/5/2026).

BACA JUGA : Semarak Interhash 2026, Kota Magelang Kian Bergaung di Kancah Dunia

Selain itu, Teguh menyebut meningkatnya pembukaan kuota P to P di BKLN maupun program TG Jepang juga ikut memengaruhi minat calon pekerja migran ke Korea Selatan.

“Meskipun di Grobogan belum begitu marak karena kurang familiar, tetapi kita menyarankan LPK Korea sendiri mereka lebih mencoba untuk meningkatkan kualitas siswanya agar bisa lulus ujian,” tambah Teguh.

Disnakertrans Grobogan juga meminta LPKS Korea mulai melihat peluang pasar kerja domestik dengan memperkuat pelatihan bahasa asing aktif bagi para siswa.

BACA JUGA : Pansus IV DPRD Kota Tegal Sidak Tempat Hiburan Malam dan Penjualan Minol Temukan Pelanggaran

Menurut Teguh, kemampuan bahasa Korea saat ini cukup dibutuhkan sejumlah perusahaan untuk posisi penerjemah maupun tenaga kerja lainnya.

“Pelatihan percakapan aktif bahasa Korea bisa dimaksimalkan di LPKS Korea karena sekarang banyak perusahaan membutuhkan translator atau pegawai yang menguasai Bahasa Korea,” papar Teguh.

Ia juga menyarankan agar sejumlah LPKS menambahkan program pelatihan Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris. Menurut Teguh, penambahan program tersebut dibutuhkan karena lebih banyak jalur bagi siswa tersebut seperti TG, SO atau P to P ata visa kerja mandiri.

TYA WIDYA