JEPARA (SUARABARU.ID)– Peringatan Hari Kartini di SMA Negeri 1 Tahunan (SMANSTAR) tahun ini berlangsung meriah sekaligus penuh makna. Tidak hanya berfokus pada semangat emansipasi wanita, kegiatan ini juga dirangkai dengan peringatan Hari Jadi Kota Jepara dan Hari Bumi. Berbagai lomba digelar untuk menghidupkan suasana, di antaranya lomba dolanan Jepara, duta Gen Z, hingga bedah surat Kartini.
Dalam wawancara bersama Kepala Sekolah SMANSTAR, Ida Fitriningsih, S.Pd., M.Pd., terungkap bahwa pemilihan lomba dolanan Jepara yang terdiri dari lomba dakon dan sawatan batok dipilih bukan tanpa alasan. “Kami memilih lomba dolanan Jepara, khususnya sawatan batok karena kami ingin mengenang masa kecil R.A. Kartini. Permainan tradisional seperti ini sangat dekat dengan kehidupan anak-anak pada zamannya,” jelasnya.

Dengan menghadirkan permainan tersebut, sekolah berharap siswa dapat merasakan kembali nilai-nilai kesederhanaan dan kebersamaan yang dulu hidup di tengah masyarakat.
Sawatan batok sendiri merupakan permainan tradisional dari salah satu daerah di Jepara yaitu Suwawal. Permainan ini menggunakan batok kelapa sebagai alat utama dan dimainkan secara berkelompok. Dalam permainan ini, batok disusun sebagai bentuk pertahanan yang harus dijaga oleh satu tim, sementara tim lainnya berusaha menjatuhkannya menggunakan bola takraw. Permainan berlangsung dinamis karena setiap pemain dituntut untuk sigap bergerak, menyusun strategi, serta menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan.
Selain memiliki nilai historis, sawatan batok juga mengandung makna bagi pembentukan karakter siswa-siswi. Saat ditanya mengenai tantangan dalam lomba ini, Ida Fitriningsih menambahkan, “Permainan ini membutuhkan kekompakan dan kekuatan fisik. Siswa harus bekerja sama, menjaga batok agar tidak terkena bola lawan, dan saling mendukung agar pertahanan tidak runtuh.” Dari sini terlihat bahwa kekuatan tidak hanya berasal dari individu, tetapi juga dari kebersamaan yang terjalin di dalam tim.

Menariknya, lomba sawatan batok juga memiliki keterkaitan dengan peringatan Hari Bumi. “Bagi kami, sawatan batok juga bermakna dalam peringatan hari bumi, bahan yang digunakan berasal dari alam, yaitu batok kelapa. Ini menjadi pengingat bahwa kita harus bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam,” ujarnya. Melalui permainan sederhana ini, siswa diajak menyadari bahwa apa yang berasal dari alam dapat menjadi bagian penting dalam kehidupan, selama dijaga dan dimanfaatkan dengan penuh tanggung jawab.
Tak hanya itu, siswa juga diajak memaknai Hari Jadi Jepara ke-477 sebagai bagian dari identitas daerah. “Hari jadi Jepara adalah momentum untuk mengenal dan mencintai budaya sendiri. Generasi muda harus menjaga warisan budaya agar tetap hidup,” tambahnya
Sementara itu, lomba dakon menghadirkan nuansa permainan tradisional strategi, pemilihan duta Gen Z menjadi ajang bagi siswa-siswi menunjukkan potensi diri di era serba digital ini, dan bedah surat Kartini membuka ruang refleksi terhadap pemikiran-pemikiran beliau yang masih relevan hingga saat ini.
Melalui rangkaian kegiatan ini, SMA Negeri 1 Tahunan berhasil menghadirkan perayaan yang tidak hanya meriah, tetapi juga bernilai edukasi. Dari kekompakan dalam permainan, kesadaran akan pentingnya alam, hingga upaya melestarikan budaya, seluruh kegiatan ini menggambarkan bagaimana kekuatan manusia dan lingkungan saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Sawatan batok pun menjadi simbol sederhana yang merepresentasikan hal tersebut, bahwa dari hal kecil, lahir makna besar tentang kebersamaan, keberlanjutan, dan harapan untuk masa depan Indonesia emas 2045
JUARA LOMBA DAKON
Juara 1 : Xl-1
Juara 2 : Xl-5
Juara 3 : Xl-2
JUARA LOMBA SAWATAN BATOK
Juara 1 : XI-3
Juara 2 : XI-10
Juara 3 : XI-4
JUARA LOMBA BEDAH SURAT
Juara 1 : X-5
Juara 2 : XI-1
Juara 3 : X-9
Hadepe – Humas Smantar













