PURWOREJO (SUARABARU.ID)-
Berawal dari budaya halal bil halal warga perantauan dan diaspora serta embrio ide genial bahwa ada segmentasi pasar yang belum tersentuh. Segmen pasar yang belum tersentuh itu tak lain adalah para perantau yang rindu dengan segala sesuatu berbau tanah kelahiran.
“Ini potensi dan peluang bisnis yang strategis buat para pelaku UMKM lokal untuk berbisnis menjual Rasa Rindu! ” kata Andy Setyawan aktifis Cah Perantauan Purworejo kepada SUARABARU.ID.
Semua itu di tangkap dan direspon dengan cepat oleh semua pihak terkait yang masing-masung eksis dibidangnya jadilah Festiku (Festival Kutoarjo) yang bertransformasi menjadi kultur positif tahunan mengikat erat silaturahmi sekaligus memberi asa para pelaku UMKM.
Andy Setyawan bergerak cepat melakukan koordinasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, sekaligus menjadi koordinator pemasaran forum UMKM kab. Purworejo, periode 2021 – 2026 SK. Bupati.

Foto : age
Dan impian merealisasikan semua itu terwujud dalam momen bernama Festiku 2026. Sekitar 40 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari 16 kecamatan se-Kabupaten Purworejo hadir meramaikan acara Festival Kutoarjo (Festiku) 2026 yang berlangsung di Gedung Pewayangan Kautaman TMII, Jakarta, pada Minggu (19/04/2026).
Festiku 2026 adalah festival satu hari yang diinisasi oleh Paguyuban Wong Thorjo (Pakutho) untuk mempertemukan UMKM, budaya, dan jejaring diaspora dalam satu ruang yang hangat, hidup dan penuh peluang. Mengusung semangat “Go Digital, Go Global”, Festiku 2026 menjadi ajang promosi, edukasi, silaturahmi dan kolaborasi Wong Thorjo lintas generasi.
Dalam festival ini, juga dilaksanakan peluncuran website Pakutho, sebagai media promosi, untuk mendukung usaha anggota, membuka jejaring, dan memperkuat kolaborasi ekonomi kreatif berbasis digital. Selain itu juga dilakukan MoU antara Pakutho dan Forum UMKM Kabupaten Purworejo sebagai langkah awal kolaborasi berkelanjutan dalam pengembangan UMKM.
Bupati Purworejo Yuli Hastuti SH, yang menyambut baik dan mengapresiasi pelaksanaan Festiku 2026. Menurutnya Festiku tak sekadar wadah berkumpul dan bersilaturahmi saja, namun memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis potensi daerah.
“Festival ini bukan hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga momentum penting untuk mengenalkan produk unggulan UMKM Purworejo serta memperkuat identitas budaya daerah,” katanya optimis.
Dikatakan Bupati, Pemkab Purworejo, terus berkomitmen mendorong UMKM agar berkembang, naik kelas, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas melalui inovasi dan kolaborasi.
“Inisiatif Paguyuban Wong Thorjo, seperti peluncuran website dan kerja sama UMKM, merupakan langkah konkret dalam mendukung pengembangan usaha ke depan,” tambahnya.
Ketua Pakutho, Pratomo Setyohadi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Festiku merupakan transformasi dari kegiatan halalbihalal yang telah berlangsung sejak tahun 2008. Seiring waktu, kegiatan tersebut berkembang menjadi festival yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui UMKM.
“Tahun ini kami kembali mengangkat tema UMKM dengan semangat Go Digital, Go Global. Ini bukan sekadar slogan, tetapi arah dan komitmen bersama dalam mengembangkan UMKM agar mampu menembus pasar yang lebih luas,” jelas Pratomo.
Ketua Forum UMKM Kabupaten Purworejo, Hesti Respati Ningsih,
menjelaskan bahwa kerja sama yang dijalin diharapkan dapat memperkuat digitalisasi UMKM serta memperluas akses pasar, termasuk menjangkau masyarakat Purworejo di perantauan.
Untuk hiburan didatangkan khusus dari Bagelen yakni para seniman muda penari Jaran Bolong.
Aneka kuliner khas asal Kutoarjo seperti Clorot, Bolu Emprit, Lanting, Geblek, Sate Winong, Peyek Kacang, Sagon, Galundheng-Untir untir, Sengkulun, Kupat Tahu, , Cucur, minuman Dhawet Ireng, Kopi Pamriyan, Gula Aren hari itu seolah menerbangkan semua peserta Festiku ke tanah kelahiran tercinta.
Semua yang ada dalam acara tahunan ini terangkum dalam Desain Kaos berwarna Beige merepresentasikan semangat FESTIKU 2026 sebagai simbol kebangkitan UMKM Kutoarjo menuju era digital dan global. Ilustrasi dua figur di tengah pasar menggambarkan interaksi antara pelaku dan konsumen yang kini bertransformasi melalui transaksi digital—menegaskan tagline “Go Digital, Go Global.”
Tokoh laki-laki dengan batik khas Kutoarjo dan Dawet Hitam melambangkan kekayaan budaya lokal yang tetap dijaga, sementara tokoh perempuan dengan kebaya ecoprint mencerminkan inovasi berkelanjutan (sustainable fashion) yang mulai berkembang di kalangan UMKM.
Latar pasar tradisional dan modern menjadi simbol transisi—dari cara konvensional menuju ekosistem bisnis yang lebih maju dan terhubung secara global. Aksen digital pada desain memperkuat pesan bahwa UMKM Kutoarjo siap beradaptasi, berkembang, dan bersaing di pasar dunia tanpa meninggalkan identitas lokalnya.
“Kuliner, kesenian-budaya, Kaos, Totebag, Topi dan semua pernak pernik berbau tanah kelahiran menjadi obat rasa rindu terjual laris manis di Festiku 2026! ” kata Tommy, Wakil Ketua Panitia.
Dirinya yang juga mendisplay kaos dengan brand Rockskulls menyatakan optimis bahwa Festiku 2026 salah satu alternatif dan momentum terbaik untuk memberi asa para pelaku UMKM lokal.
Dukungan penuh dari Anthony Steven Hambali (PO Sumber Alam) memperlancar perjuangan para pelaku UMKM lokal dan Seniman bertemu dengan para penikmat kuliner dan seni dalam Festiku 2026. Sebuah kolaborasi lengkap dan nyaris sempurna di semua lini. (age)













