blank
Hindun Anisah. Foto: Dok. Pri.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Sosok Raden Ajeng Kartini kini tidak lagi dibicarakan sebagai figur sejarah yang statis dalam bingkai foto kuno. Bagi Dr. Hj. Hindun Anisah, Anggota DPR RI Fraksi PKB, ide-ide Kartini adalah api yang selalu hidup, melintasi sekat zaman, dan tetap relevan menghantam tembok tantangan modern.

Menjelang peringatan Hari Kartini yang ke-147, perempuan kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1974 ini membedah bagaimana semangat sang pahlawan wanita yang seharusnya didekonstruksi oleh generasi muda. Terutama, dalam menghadapi wajah baru patriarki yang kini bersembunyi di balik layar digital.

blank
Hindun Anisah saat memberi materi pada seminar Kartini. Foto: Dok. Pri.

Salah satu poin krusial yang ditegaskan Hindun adalah pandangannya mengenai asal-usul budaya patriarki di tanah Jawa. Ia menegaskan bahwa budaya Jawa asli sebenarnya tidak sepenuhnya meminggirkan peran perempuan.

Di jantung budaya Jawa seperti Solo dan Yogyakarta, adalah hal yang lumrah sejak dulu melihat kaum ibu menjadi penggerak ekonomi di pasar tradisional, sementara kaum bapak tidak canggung menggendong anak di rumah. Hindun berargumen bahwa sifat patriarki yang kaku, seperti membatasi ruang gerak dan melarang pendidikan bagi kaum hawa, merupakan produk dari “Kolonial”.

blank
Hindun Anisah (tengah) berfoto bersama setelah sesi seminar. Foto: Dok. Pri.

“Penjajah sengaja memframing seolah-olah budaya Jawa itu patriarkhis, padahal mereka yang melarang perempuan pribumi bersekolah” ungkapnya.

Kartini, menurut Hindun, adalah sosok cerdas yang menggunakan strategi politik melalui tulisan. Surat-suratnya yang tajam sebenarnya ditujukan untuk menyindir kaum kolonialis yang merasa paling berperadaban namun bertindak diskriminatif terhadap kaum pribumi, khususnya perempuan.

Meskipun akses pendidikan kini terbuka lebar, Hindun menyoroti bagaimana ancaman terhadap perempuan kini bergeser ke ranah digital. Ia mengkritik keras maraknya konten media sosial yang secara tidak sadar terus melanggengkan budaya patriarki melalui balutan komedi atau video pendek.

“Saya jengkel melihat konten lucu-lucuan seperti ‘suami takut istri’ atau narasi yang menyebut perempuan bekerja keras hanya karena tidak laku atau tidak ingin menikah. Itu sebenarnya konten patriarkis yang dikonsumsi setiap hari,” tegas politikus perempuan tersebut.

Selain itu, ia juga menyoroti berbagai kasus di institusi pendidikan tinggi sebagai bukti bahwa ruang akademik pun belum sepenuhnya memberikan rasa aman bagi perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa pengarusutamaan gender masih menjadi pekerjaan rumah yang besar di berbagai lini kehidupan.

Dr. Hj. Hindun Anisah membongkar sekat-sekat pemikiran lama yang masih membelenggu perempuan Indonesia. Baginya, meneladani Kartini di abad ke-21 bukan lagi soal seberapa anggun seseorang berkebaya, melainkan seberapa tajam ia mengasah kualitas diri untuk menghadapi dunia yang kian kompetitif.

Meneladani perjuangan Kartini di masa kini, menurut Hindun, berarti terus mengasah kualitas diri. Ia menitipkan beberapa pesan penting bahwa perempuan tidak boleh distigmakan sebagai makhluk yang hanya mengandalkan perasaan. Sudah saatnya stigma tersebut harus dipatahkan. Pelatihan daya nalar dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving) menjadi harga mati agar perempuan mampu berdiri sejajar di meja-meja pengambilan keputusan strategis.

Selanjutnya, ia membawa konsep kemandirian yang utuh ke tengah diskusi. Menjadi perempuan yang serba bisa dan mandiri secara ekonomi maupun mental adalah kunci untuk menentukan arah hidup. Tanpa kemandirian, perempuan rentan terjebak dalam penyesalan masa depan karena tidak memiliki kuasa atas pilihannya sendiri.

Tak kalah penting, Hindun memberikan peringatan keras mengenai martabat kemanusiaan dalam sebuah hubungan. Ia mengajak para perempuan muda untuk memiliki keberanian mutlak dalam menolak hubungan toksik. Perempuan tidak boleh hanya dipandang sebagai pelengkap atau “pajangan,” apalagi bertahan dalam relasi yang merendahkan martabatnya sebagai manusia.

Hindun berpesan agar generasi muda tidak pernah surut langkahnya hanya karena mendengar cibiran atau perkataan orang-orang yang meremehkan potensi mereka.

Harapan besarnya adalah melihat perempuan Indonesia yang fokus pada tujuan hidup dan terus meningkatkan kualitas diri melalui jalur pendidikan serta literasi informasi yang sehat. Di tengah gempuran konten digital, kemampuan memilah informasi yang benar menjadi fondasi kemajuan.

Tidak hanya itu, ia menitipkan pesan tentang pentingnya solidaritas sesama perempuan. Baginya, kemajuan perempuan tidak akan pernah tercapai jika satu sama lain masih saling menjatuhkan. Solidaritas harus terus digalang sebagai kekuatan kolektif untuk saling menguatkan, memastikan bahwa setiap perempuan memiliki pundak untuk bersandar dan tangan untuk ditarik menuju kesuksesan bersama.

Hadepe  – Eky Putri