MAGELANG (SUARABARU.ID) –
Wakil Sekretaris Jenderal PKB, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, mengingatkan bahwa rakyat tidak memilih yang paling pandai bicara. Tapi yang paling terasa manfaatnya.
Dia yang mewakili Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, mengatakan hal itu ketika membuka Muscab PKB Kabupaten Magelang, di Atria Hotel, Sabtu (18 April 26) malam. Karena itu, lanjutnya, Muscab tidak boleh dianggap sebagai rutinitas belaka. “Ini bukan sekadar memilih pengurus. Ini adalah proses menentukan siapa yang benar-benar siap bergerak dan siap bekerja. Kalau kita isi struktur dengan orang yang tidak bergerak, itu sama saja kita sedang menggali kuburan kita sendiri,” katanya.
Selebihnya dia mengingatkan, kita juga harus meluruskan cara pandang tentang kekuatan partai. “Kekuatan PKB bukan di pusat, bukan juga di provinsi. Kekuatan PKB itu ada di bawah, ada di ranting, ada di PAC dan di DPC,” tuturnya.
Dalam acara yang dihadiri pengurus DPW PKB, tokoh PKB, Bupati Grengseng Pamuji, unsur Forkompinda, dan pengurus beberapa partai lain, menurut dia, kalau struktur bawah hidup, partai akan kuat. Tetapi kalau bawah tidak bergerak, pusat tidak akan berarti. “Karena itu ukuran kader harus diubah, bukan siapa yang paling sering hadir di acara-acara, tetapi siapa yang paling sering hadir menyelesaikan persoalan rakyat,” tandasnya.
Pada forum itu dia juga menyinggung bahwa kondisi dunia tidak sedang baik-baik saja. Ketegangan geopolitik termasuk juga konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat situasi global memanas. Dampaknya langsung terasa pada ekonomi dunia.
Harga energi bergejolak, distribusi juga terganggu, dan ketidakpastian meningkat. “Dampaknya sampai ke desa, bahkan sampai ke dapur kita semuanya. Harga kebutuhan bisa naik, biaya hidup terasa lebih berat, dan ruang ekonomi masyarakat juga semakin sempit. Dalam situasi seperti ini, rakyat tidak menunggu penjelasan panjang. Mereka ingin tahu satu hal sederhana. Siapa yang hadir membantu mereka,” tuturnya.
Menurutnya, di tengah tekanan global, yang dicari rakyat bukan penjelasan, tetapi kehadiran. “Dalam kondisi seperti ini, politik diuji secara nyata, bukan dari seberapa bagus kita berbicara. Tetapi dari seberapa nyata kita bekerja. Kita harus jujur melihat kenyataan ini,” imbuhnya.

Solid
Bupati Grengseng Pamuji yang hadir dalam acara itu mengatakan, Muscab menjadi ruang dalam memperkuat kembali kebersamaan para pengurus dan kader di PKB. Dia berharap, ke depan PKB tetap solid dan menghadapi tantangan ke depan bersama-sama.
Semua partai hampir sama dinamika internalnya dan tikungan-tikungan di dalam berorganisasi. Salah satunya adalah perubahan struktur kepengurusan partai. Setiap partai punya kulturnya sendiri dalam berdinamika.
Menurut Bupati, dinamika di setiap internal menjadi ruang baru bagi partai untuk membuat suasana baru, suasana yang segar, yang tentu akan menjadi energi bagi partai ke depannya.
Dia berharap, semoga kepengurusan yang baru bisa mendedikasikan sepenuhnya untuk kepentingan partai. Selanjutnya bersama-sama untuk memajukan Kabupaten Magelang, mengabdi kepada masyarakat setempat.
“Saya mengajak seluruh kader PKB untuk berkontribusi bersama untuk pembangunan Kabupaten Magelang,” ajaknya.
Di sisi lain, melihat proses Muscab PKB itu cukup ketat. Diawali laporan
pertanggungjawaban dan penilaian kinerja DPC masa bakti 2021-2026. Lalu menetapkan pokok program kerja DPC PKB masa bakti 2026-2031. Tahap selanjutnya menetapkan bakal calon ketua DPC PKB masa bakti 2026-2031.
Pada Muscab itu sidang pertama membacakan tata tertib. Kemudian sidang kedua laporan pertanggungjawaban. Lalu penetapan pokok program kerja lima tahun ke depan.
Selanjutnya penyampaian bakal calon hasil pemetaan yang dilakukan oleh DPP PKB, melalui DPW PKB yang sudah dilakukan sejak sekitar satu bulan lalu.
Kalau peserta Muscab memandang perlu ada tambahan bakal calon, maka sidang dapat menampung aspirasi.
Setelah Muscab akan dilakukan uji kompetensi oleh DPP PKB. Yakni melalui uji kelayakan dan kepatutan. Selanjutnya yang menetapkan calon ketua terpilih adalah DPP PKB.
Eko Priyono













