JEPARA (SUARABARU.ID) — Tarian tradisional Ula-Ula khas Karimunjawa memukau penonton dalam Pembuka Acara Wilujengan Nagari, sebuah prosesi doa selamatan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Jepara ke-477, di Alun Alun Jepara 1, pada Minggu, 09 April 2026.
Tarian Ula-Ula dibawakan oleh delapan anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Tari Jaladri yang datang langsung dari Kecamatan Karimunjawa, Jepara. Dengan balutan kostum warna-warni, para penari tampil lincah dan penuh semangat, menghadirkan nuansa kehidupan masyarakat pesisir yang kental.

Pentas pertunjukan digelar di Alun-alun 1 kota Jepara ini menjadi simbol penghormatan terhadap kekayaan budaya pesisir sekaligus penanda dimulainya serangkaian acara lainnya.
Tarian ini dibawakan oleh siswi SMPN 1 Karimunjawa dan dan SMKN 1 Karimunjawa diantaranya: Ade Julya Chikal Negari, Indah Cahya Fitriya, Izza Nur Alfiah, Ennita, Sigit Wardhana, Rachel Greycia Mayhola, Nabila Putri Amelia, dan Zuwanita Oktaviani. Serta hadir Perangkat Desa Karimunjawa Stevani Bunga Pradisha yang juga turut menari.
Menurut Stevani Bunga Pradisha, tarian ini menggambarkan rutinitas remaja putri Suku Bajo yang beraktivitas di laut, bertandang sambil mengibarkan bendera ula-ula sebagai simbol kebahagiaan.
“Setiap warna pada bendera memiliki makna mendalam, yakni hitam dan putih melambangkan siang dan malam, keikhlasan serta tanggung jawab, merah melambangkan keberanian, dan kuning melambangkan kesaktian atau kebesaran,” ujarnya.

Menurut Pelatih Tari Tri Fatmawati, secara filosofis Tari Ula-Ula merupakan tarian khas yang mengangkat kehidupan masyarakat Suku Bajo dari Sulawesi Tenggara. Tarian Ula-Ula yang ditampilkan menjadi upaya menjaga eksistensi budaya Suku Bajo, yang merupakan salah satu dari enam suku yang mendiami Pulau Karimunjawa, yakni Jawa, Madura, Bajo, Bugis, Buton, dan Mandar.
Keunikan lain dari tarian ini terletak pada riasan penarinya yang menggunakan bedak yang terbuat dari beras uyah, yang berfungsi sebagai pelindung dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di lautan. Ini menggambarkan aktifitas yang sama seperti hampir seluruh masyarakat pesisir khususnya Karimunjawa.

Tri Fatmawati menyampaikan harapannya agar ke depan sanggar tersebut terus mendapat kesempatan tampil dalam berbagai event di Jepara.
“Karena dengan event seperti ini kami bisa punya pengalaman yang lebih dan bisa mengenalkan Karimunjawa ke dunia sebagai bagian dari Jepara meskipun jauh dari seberang lautan,” ujarnya Pelatih Tari Sanggar Jaladri yang datang langsung dari Karimunjawa.
Melalui penampilan ini, Sanggar Tari Jaladri Karimunjawa tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa misi pelestarian budaya.
Penampilan tari Ula-Ula pun ditutup dengan tepuk tangan meriah yang mencerminkan antusiasme masyarakat yang menyaksikan pertunjukan tersebut. Prosesi salam sungkem para penari pada Bupati dan Wakil Bupati beserta jajarannya juga dilakukan sebagai simbol silaturahmi yang terjaga.
Acara Wilujengan Nagari sendiri ini merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat atas perjalanan panjang Kabupaten Jepara yang telah mencapai usia ke-477 tahun. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sarana pelestarian budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Septiana W – Diyan













