blank

Oleh: Ky. Hisyam Zamroni

Pendahuluan

Membaca Jejak di Pesisir Utara, Jepara bukan sekadar titik koordinat di peta Jawa Tengah. Ia adalah sebuah ideologi ketahanan ekonomi yang telah diuji oleh waktu. Memasuki usia ke-477, Jepara berdiri di atas pundak raksasa sejarah: *Ratu Shima* yang disiplin,*Pate Unus* yang pemberani, dan *Ratu Kalinyamat* yang visioner.

Bagi Generasi Z, merayakan hari jadi Jepara berarti membedah genetik “Entrepreneurship” yang sudah ada jauh sebelum istilah itu populer.

Fondasi Hukum dan Etika: Warisan Kerajaan Kalingga (Ratu Shima)

Jauh di abad ke-7, I-Tsing dan kronik Dinasti Tang mencatat sebuah kerajaan bernama Ho-ling (Kalingga). Ratu Shima meletakkan batu pertama karakter masyarakat Jepara yaitu  *Integritas.*

Perspektif Sejarah Tiongkok, Dalam Hsin-tang-shu, dicatat bahwa kejujuran di Kerajaan  Kalingga begitu ekstrem hingga pundi-pundi emas yang tergeletak di jalan tidak ada yang berani menyentuh.

Di era digital yang penuh disrupsi, nilai “Integritas Shima” adalah modal utama dalam ekonomi kepercayaan (trust economy).

Supremasi Maritim: Pate Unus dan “The Knight of Java”

Abad ke-16 menyaksikan Jepara sebagai pangkalan militer laut terkuat di Nusantara. Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512-1515) memberikan kesaksian luar biasa tentang kekuatan ini. Kekuatan Armada

Pate Unus (Yat Sun) memimpin armada besar menyerang Portugis di Malaka. Sejarawan Portugis, *João de Barros*, mencatat bahwa kapal-kapal Jawa (Junque) jauh lebih besar dan kuat dibandingkan kapal-kapal Portugis saat itu.

 

Tome Pires mencatat dalam bukunya Summa Oriental bahwa Pate Unus adalah orang yang paling berani di antara semua orang Jawa. Ia membangun armada besar untuk menjadi penguasa laut.

Salah satu alasan mengapa Pate Unus mampu mengancam kedudukan Portugis adalah “tehnologi kapal Jung”. Dalam laporan Relacion de Las Islas Filipinas (1550) sejarawan Spanyol membandingkan  bahwa pertama, berbeda dengan pembuatan  kapal kapal eropa yang menggunakan paku paku besi, sedangkan Jung Jepara menggunakan pasak kayu dan tehnis berlapis bahkan sampai empat (4) lapis.

Kedua, terdapat catatan mengenai interaksi perdagangan antara pelaut Jepara yang membawa komoditas hingga ke kepulauan utara. Hal ini menunjukan bahwa memiliki jangkauan navigasi perdagangan melalui kapal yang luar biasa.

Kenyataan ini membuktikan bahwa leluhur  Jepara adalah insinyur kapal hebat sekaligus  memiliki pelabuhan besar yang sangat mungkin untuk direkonstruksi sekarang ini untuk membangun pelabuhan Jepara yang besar  sebagai tempat perdagangan internasional.

Ratu Kalinyamat: Arsitek Ekonomi Kerakyatan dan Poros Maritim

Jika Pate Unus adalah pedang, maka Ratu Kalinyamat adalah otaknya. Sejarawan Portugis, *Diogo do Couto, menjulukinya *”Rainha de Japara, senhora poderosa e rica” (Ratu Jepara, wanita yang berkuasa dan kaya).

Couto juga memberikan keterangan secara detail dan spesifik mengenai “perang dagang atau ekonomi” yang dilakukan oleh Ratu Kalinyamat, yaitu; pertama, Strategi Embargo. Ratu Kalinyamat tidak hanya mengirim pasukan fisik ke malaka tahun 1551 & 1557, tetapi juga melakukan embargo logistik. Beliau memutus rantai pasokan beras dan rempah rempah dari pelabuhan pelabuhan yang dibawah pengaruhnya.

Kedua, Kedaulatan Ekonomi. Ratu Kalinyamat adalah simbol “Protectionisme” yang cerdas. Beliau memastikan  bahwa setiap kapal yang melintas di perairan laut Utara Jawa harus memberikan penghormatan atau berdagang dengan aturan Jepara. Hal ini, boleh jadi, sekarang ini,  di tiru oleh Iran sang penguasa selat Hormuzt.

 

Diplomasi dan Perdagangan

Ratu Kalinyamat mengubah Jepara menjadi pelabuhan transit internasional. Beliau memahami bahwa kedaulatan politik hanya bisa dicapai melalui kemandirian ekonomi. Inilah cikal bakal *Ekonomi Kerakyatan* yang kita lihat hari ini.

Pilar Ekonomi: Dari Ukir Hingga Tenun (Masa Lalu ke Masa Depan)

Seni Ukir adalah “The World’s Carving Center”. Ukiran Jepara bukan sekadar hobi, melainkan ekspor budaya. Sejarawan Belanda, *H.J. de Graaf*, mencatat bagaimana pengaruh seni hias dari Mantingan menjadi standar estetika Jawa.

Ke depan, seni ukir membutuhkan transformasi ke desain minimalis-modern dan penggunaan teknologi CNC tanpa meninggalkan ruh pahatan tangan, sehingga seni ukir Jepara akan tetap up date melintasi zaman.

Disisi lain, Jepara memiliki Tenun Ikat Troso sebagai  Simbol Ketangguhan.  Tenun Troso adalah salah satu produk kebutuhan pokok “fashion”  manusia yang memiliki akar budaya lokal yang kuat sehingga dapat “hidup dan menghidupi” kebutuhan fashion global. Hal ini sebagai  bukti adaptasi masyarakat Jepara terhadap permintaan pasar   tanpa kehilangan identitas. Ke depan,  Tenun Troso harus terus menerus  menjadi fashion statement global yang tetap membudaya.

Dunia mengakui bahwa Kerajinan Rotan dan Mebel

Jepara adalah pusat logistik mebel dunia. Referensi dari laporan-laporan VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) sering menyebut kayu jati dari pedalaman Jawa dialirkan melalui Jepara karena keahlian tukangnya.

Jepara memiliki juga Sumberdaya Alam yang melimpah seperti Pertanian, Perikanan, dan Pariwisata sebagai  Ekologi yang Menghidupi

Jepara yang  dikaruniai garis pantai yang panjang dan tanah yang subur di lereng Gunung Muria.

Perikanan adalah potensi laut yang dulu dikuasai armada Kalinyamat kini menjadi lumbung protein bagi Jawa Tengah. Sedangkan  Pariwisata Jepara Dari Karimunjawa, Pantai Kartini hingga Benteng Portugis adalah “The Hidden Gem” yang membutuhkan sentuhan digital marketing agar bisa  mendunia.

 

Pesan untuk Generasi Z: Menjadi Ratu Kalinyamat Modern

Gen Z Jepara tidak perlu mengangkat senjata ke Malaka, namun mereka harus mengangkat “senjata” kreativitas dan teknologi. Ada tiga (3) hal yang perlu dirumuskan bersama sebagai sebuah tantangan masa depan. Pertama, Digitalisasi UMKM dimana digitalisasi ini harus mampu  membawa produk produk UMKM Jepara seperti; ukiran, tenun, rotan dan kerajian lainnta menuju  ke platform blockchain atau NFT.

Kedua, Sustainability dalam  Mengembangkan industri mebel dan lainnya yang ramah lingkungan (Green Industry).

Ketiga, Global Mindset, yaitu Sumberdaya Jepara harus terus menerus  belajar dari kegigihan Ratu Shima, Pate Unus dan Ratu Kalinyamat  yang berani menantang hegemoni global demi kedaulatan ekonomi Jepara.

Catatan Akhir: Transformasi Ekonomi Kerakyatan: Dari Pelabuhan ke Bengkel Seni dan Sebaliknya Dari Bengkel Seni ke Pelabuhan Kembali

Menarik sekali pola perkembangan Jepara, sebagaimana pendapat sejarawan belanda; F. De Haan dalam Oud Batavia mengenai perpindahan fokus ekonomi saat VOC mulai memperketat kontrol pelabuhan di abad 17 dan 18 M yang juga berdampak kepada Jepara  yang bermula Jaya di bidang Maritim menjadi Jaya di bidang Ukiran. Dampak dari kebijakan ini memberika pengaruh yang signifikan terhadap Jepara. Pertama, pengalihan Pelabuhan Besar Jepara ke Semarang. Kedua, Adapsi Perajin. Ketika akses laut dibatasi, energi kreatif masyarakat Jepara bergeser ke pedalaman yaitu mengolah kayu jati yang melimpah menjadi komoditas seni.

Ketiga, Seni Ukir Sebagai Protes. Ukiran ukiran pada relief  Masjid Mantingan pada hakekatnya adalah mengandung “simbolisme perlawanan” dan identitas ke Jepara – an yang tidak bisa dihapus oleh kolonialisme.

Ke-empat, secara sosiologis, ini adalah bentuk “pivot business” dalam sejarah Jepara. Kemampuan berubah dari jiwa  pelaut menjadi jiwa pemahat adalah bentuk “resiliensi mental”.

 

Sekarang ini, kesadaran sejarah Jepara sebagai “kekuatan maritim” menemukan momentumnya, di mana Mas Wiwit Bupati Jepara dengan sekuat tenaga bercita cita mengembalikan Jepara yang secara historis adalah berakar Jiwa Maritim. Hal ini adalah bentuk “perlawanan” terhadap kebijakan VOC di masa lalu yang menghapus Pelabuhan Jepara dengan memindahkannya ke Semarang. Perlawanan mas Wiwit  ini secara Ilmiyah disebut “Postkolonial” yaitu merekonstruksi sejarah Maritim  Jepara dengan Membangun Kembali Pelabuhan Besar Jepara yang telah dihapus oleh  Kebijakan VOC dengan memindahkan  Pelabuhan Jepara ke Semarang.

Selamat Hari Jadi Jepara ke 477.

Semoga Pelabuhan Besar Jepara secepatnya terwujud. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin

Referensi:

  1. *Pires, Tomé.* (1515). The Suma Oriental of Tomé Pires: An Account of the East, from the Red Sea to Japan. (Catatan tentang kekuasaan Pate Unus dan Pelabuhan Jepara).
  2. *Do Couto, Diogo.* (1778). Da Asia: Dos feitos, que os Portuguezes fizeram no descubrimento, e conquista dos mares, e terras do Oriente. (Deskripsi tentang kekayaan dan armada Ratu Kalinyamat).
  3. *De Graaf, H.J. & Pigeaud, Th.G.Th.* (1974). De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. (Analisis sejarah perkembangan Islam dan ekonomi pesisir Jawa).
  4. *Barros, João de.* (1552). Décadas da Ásia. (Catatan militer Portugis mengenai ukuran kapal-kapal dari Jawa/Jepara).
  5. *Groeneveldt, W.P.* (1880). Notes on the Malay Archipelago and Malacca Compiled from Chinese Sources. (Referensi Kerajaan Kalingga/Ho-ling berdasarkan sumber Dinasti Tang).
  6. *Raffles, Thomas Stamford.* (1817). The History of Java. (Catatan mengenai kualitas kayu dan pertukangan di wilayah pesisir utara).

Penulis adalah  Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara