blank

JEPARA (SUARABARU.ID) – Ratu Kalinyamat bagi masyarakat Jepara bukan hanya sebagai pahlawan nasional bangsa Indonesia, tetapi telah menjadi kekuatan kultural yang memberdayakan. Hal tersebut diungkapkan Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten  Jepara, Drs Junarso dalam wawancara khusus dengan SUARABARU.ID, Kamis (9/4-2026) di sekretariat partai berlambang banteng moncong putih tersebut.

Menurut Junarso, potensi ukir Jepara yang demikian besar tak dapat dilepaskan dari peran Ratu Kalinyamat. “Artefak ukiran tertua Jepara terdapat di dinding masjid Mantingan yang dibangun oleh Ratu Kalinyamat tahun 1559. Ini menjadi bukti bahwa seni ukir yang menjadi kekuatan ekonomi dan budaya  Jepara, dimulai pada masa pemerintahannya,” ujar Junarso

Ia juga mengungkapkan, disamping dikenal sebagai  penguasa perempuan yang antikolonialisme, Ratu Kalinyamat juga dikenal sebagai seorang Ratu yang memiliki peran besar dalam syiar Islam. “Masjid yang dibangun beliau  tercatat merupakan  salah satu masjid tertua di Indonesia dan menjadi salah satu obyek kunjungan wisata religi yang ramai di kunjungi wisatawan ,” ungkap Junarso yang juga menjadi Wakil Ketua DPRD Jepara

blank

Karena itu menurut Junarso, keberadaan Ratu Kalinyamat memberikan kontribusi terhadap pencapaian masyarakat Jepara hingga saat ini. “ Salah satu parameter yang paling mudah untuk mengukur kemajuan tersebut dapat dilihat dari capaian beberapa indikator makro. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi tahun 2024 yang tercatat 4,22 persen, pada triwulan III 2025 naik ke angka 5,91 persen,”  terang Junarso

Sebaliknya, angka kemiskinan menurun dari 6,09 persen menjadi 5,79 persen.  “Ini sesuai jumlah absolut penurunan penduduk miskin dari 80,84 ribu menjadi 77,67 ribu. Selain efektivitas bansos, tentu ada faktor perluasan akses pelayanan dasar masyarakat dan terbukanya banyak lapangan pekerjaan,” kata Junarso.

Hal itu selaras dengan indikator makro lain, yaitu tingkat pengangguran terbuka yang menurun dari 3,34 persen menjadi 3,30 persen.

Ia juga mengungkapkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Jepara juga meningkat dari angka 74,32 ke angka 74,9. “Tentu peningkatan diraih karena faktor-faktor kunci pembentuk IPM, seperti kesehatan dan pendidikan meningkat. Di dibidang kesehatan ada perbaikan akses layanan kesehatan serta perbaikan gizi dan lingkungan. Dan di bidang pendidikan ada upaya penanganan anak putus sekolah serta peningkatan akses pendidikan,” lanjut Junarso.

Sementara terkait isu pembangunan yang paling banyak dilihat langsung masyarakat dalam bidang infrastruktur, kualitas jalan kabupaten juga mengalami kemajuan. Pada tahun pertama pemerintahan daerah menjalankan visi Jepara Mulus, panjang jalan yang berhasil dipelihara, dibangun, dan ditingkatkan mencapai 421,84 kilometer. Rinciannya, 355 kilometer dikerjakan dengan klinik jalan dan 66,84 kilometer melalui pekerjaan peningkatan jalan.

Dalam konteks peringatan hari jadi Jepara, kemajuan itu tentu sesuai dengan cita-cita yang ingin diwujudkan Ratu Kalinyamat, yang pada masa perjuangannya diwujudkan dengan sikap anti kolonialisme. “Muara yang ingin diwujudkan dalam perjuangan penguasa Jepara abad XVI itu, tentu kesejahteraan rakyat dan terbebas dari penjajahan,” terang Junarso

“Dalam konteks sekarang, pewarisan semangat perjuangan itu bisa kita lakukan dengan meningkatkan partisipasi dalam pembangunan daerah,” pungkasnya

Hadepe