SEMARANG (SUARABARU.ID) – Kinerja pengelolaan sektor pariwisata di Provinsi Jawa Tengah dinilai masih belum konsisten dalam memperbaiki kualitasnya.
Hal itu dikatakan Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jawa Tengah, Sudarsono. Dia menilai, kinerja pariwisata di provinsi ini dalam mendatangkan wisatawan masih bersifat musiman.
“Belum mampu menarik wisatawan secara konsisten sepanjang tahun. Masih bergantung pada momentum tertentu seperti libur Lebaran dan Tahun Baru,” katanya melalui keterangan tertulis, di Kota Semarang, Selasa, 1 April 2026.
Kondisi tersebut, kata dia menjadi catatan penting hasil reses anggota fraksi di berbagai daerah pemilihan (dapil), khususnya di sektor pariwisata.
Dari hasil peninjauan langsung ke sejumlah destinasi, Sudarsono mengatakan, menemukan beragam persoalan pariwisata di Jawa Tengah. Mulai dari pengelolaan yang belum optimal hingga kurangnya inovasi dalam menarik minat wisatawan.
Untuk itu, dia meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jatrng) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola objek pariwisata di wilayah tersebut.
“Di sektor pariwisata, kami memandang perlu adanya evaluasi mendalam terhadap tata kelola objek wisata agar mampu bersaing dalam jangka panjang,” katanya.
Pendapatan Daerah
Sudarsono mengatakan, pariwisata termasuk salah satu sektor yang penting dalam meningkatkan pendapatan daerah Provinsi Jawa Tengah. Selain itu sebagai penggerak Ekonomi daerah.
“Begitulah realita yang kami dapatkan di lapangan, perlu ada pembenahan (sektor pariwisata). Apalagi kita tahu bahwa pengembangan wisata sangat penting dalam menyumbang pendapatan daerah,” kata Anggota Komisi C DPRD Jawa Tengah itu.
Berdasarkan data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah, jumlah kunjungan wisatawan pada momen libur Lebaran 2026 mencapai 687.470 orang. Artinya meningkat 5,25 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 653.178 kunjungan.
Akan tetapi, Sudarsono mengingatkan, peningkatan itu dinilai belum mencerminkan keberlanjutan kunjungan wisata sepanjang tahun. Dia menilai, tanpa pembenahan tata kelola yang serius, potensi besar sektor pariwisata Jawa Tengah belum dapat dimaksimalkan sebagai penggerak ekonomi daerah.
“Objek wisata tidak boleh hanya ramai saat momen tertentu, tetapi harus mampu menciptakan kunjungan berkelanjutan melalui manajemen promosi yang cerdas dan terintegrasi,” ucapnya.
Selain aspek promosi, Fraksi Gerindra juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas layanan di destinasi wisata, mulai dari kebersihan, keramahan, hingga penguatan narasi budaya yang menjadi daya tarik khas daerah.
“Belajar dari pengelolaan pariwisata di DIY, Jawa Tengah perlu mengedepankan kebersihan, keramahan, dan kreativitas narasi budaya agar memiliki daya saing yang kuat,” katanya.
Lebih lanjut, dia meminta Pemprov Jateng untuk memperkuat dukungan dan pembinaan terhadap pelaku pariwisata, khususnya desa wisata. Tujuannya agar mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
“Desa wisata memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi lokal sekaligus menjadi ujung tombak pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Jawa Tengah,” ucapnya. (*)
Diaz A Abidin













