blank
Foto Lomban tahun 1970-an,

Oleh : Hadi Priyanto

Lomban Jepara telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Prosesi budaya yang unik ini bermula dari kisah dua pejabat kadipaten Jepara yang mendapatkan tugas dari Adipati Tjitrosomo VII untuk mengunjungi Karimunjawa. Adipati ingin mengetahui  kondisi masyarakat  di kepulauan tersebut.

Adipati Tjitrosomo VII  adalah putra ke –  2  Adipati Tjitrosomo VI. Sebelum menjabat sebagai bupati menggantikan ayahandanya,  ia bernama R.M. Sudargo Tjitro Wikromo dan kemudian menjabat sebagai Adipati Jepara tahun 1836 – 1857 dan sekaligus bupati Jepara terakhir yang menggunakan gelar Tjitrosomo.

Kedua pejabat ini kemudian naik perahu dari Teluk Jepara pada pagi hari dengan harapan sore hari telah sampai Karimunjawa.  Namun setelah berlayar beberapa waktu, datang badai yang sangat besar hingga membuat perahu mereka terombang-ambing dan bahkan nyaris tenggelam.

Beruntung Ki Ronggo dan Encik Lanang yang tinggal disekitar Teluk Jepara mengetahui peristiwa tersebut. Kedua orang tokoh yang dikenal memiliki kemampuan “linuwih” ini segera memberikan pertolongan. Tanpa memperhatikan keselamatannya sendiri, kedua orang ini segera naik perahu untuk menolong kedua pejabat tersebut. Mereka berhasil diselamatkan dari amukan badai.

blank

Ki Ronggo menurut cerita tutur masyarakat diyakini sebagai salah satu pimpinan pasukan Mataram. Ia memilih tinggal di Jepara, sebab ia memiliki sejumlah kerabat yang tinggal di kota ini saat Mataram berkuasa. Sedangkan Encik Lanang konon adalah orang Melayu yang tinggal di Pulau Kelor yang sekarang dikenal sebagai Pantai Kartini. Ia seorang pedagang dan memperoleh ijin dari Pemerintah Hindia Belanda untuk menempati   pulau tersebut karena jasanya membantu Belanda pada perang Bali.

Dari peristiwa itu, kemudian pejabat kadipaten yang hampir tenggelam bersama Ki Ronggo dan Encik Lanang membuat acara syukuran. Mereka juga mulai membuat sesaji yang dilarung kelaut. Tentu dengan ijin Adipati Jepara Citrosomo VII. Sesaji tersebut semula dimaksudkan sebagai ucapan syukur dua pejabat yang telah selamat dari badai.

blank

Selanjutnya, mereka memilih waktu untuk larungan yaitu tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Kuat dugaan larungan pertama kali diadakan adalah setelah Hari Raya Idul Fitri tahun 1855,  saat kedua pejabat tersebut nyaris tenggelam. Ucapan syukur dua pejabat tersebut kemudian terus dilakukan setiap tahun hingga saat ini.

Catatan Tertua Lomban Jepara

Catatan tentang kemeriahan kegiatan yang dilaksanakan tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri tersebut ditulis dalam Jurnal Hindia Belanda Tijdschrif voor Nederlandsch-Indie tahun 1868 dengan judul Het Loemban Feest Te Japara (Kegiatan Pada Lomban di Jepara ) tahun 1868.

Catatan sejarah tersebut diungkapkan oleh DR Alamsyah, M.Hum, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip Semarang dalam penelitian Budaya Syawalan atau Lomban Jepara : Studi Komparasi Akhir Abad ke-19 dan tahun 2013.

Dalam jurnal Tijdschrif voor Nederlandsch-Indie juga diungkapkan bahwa pesta lomban ini tidak ada ditempat lain di pesisir pulau Jawa. Ini berarti pesta lomban di Jepara adalah satu-satunya saat itu. Lomban tahun 1868 juga telah diikuti pengunjung dari Demak, Semarang, Rembang dan Juana yang datang dengan menaiki perahu.

Kini Lomban Jepara telah menjadi  even budaya terbesar di Jepara dan menjadi puncak Pekan Syawalan Jepara. Lomban juga telah mengalami perubahan ritusnya, termasuk larungan kepala kerbau yang baru dimulai tahun 1920 an. Juga  sajian baru, Festival Kupat Lepet yang baru dimulai tahun 2006 saat Hendro Martojo menjabat Bupati Jepara. Sedangkan Hadi Priyanto menjadi Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten  Jepara. Sementara kreatornya adalah  seniman Jepara yang aktif di DKD Jepara kala itu.

Penulis adalah Wartawan Suarabaru.id dan Pegiat Budaya Jepara