JEPARA (SUARABARU.ID) – Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Jepara masih menjaga erat tradisi lokal yang sarat makna spiritual dan budaya.
Salah satunya adalah tradisi Gong Senen, yakni penabuhan gong yang dilakukan secara rutin setiap hari Senin di Kopleks Kabupaten Jepara, Yang juga ditabuh pada momen-momen khusus yahni 1 Suro dalam kalender Jawa dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H pada hari Sabtu pagi lepas Shalat Id, 21 Maret 2026.

Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jepara. Setiap hari Senin, suara gong ditabuh sebagai penanda waktu sekaligus pengingat akan nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas. Dentuman gong yang khas dipercaya membawa energi positif serta menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Selain rutinitas mingguan, penabuhan Gong Senen juga memiliki makna lebih mendalam saat dilakukan pada sore hari tanggal 1 Suro yang dalam tradisi Jawa dianggap sebagai waktu sakral untuk refleksi diri dan doa. Pada momen tersebut, masyarakat biasanya berkumpul untuk mengikuti rangkaian ritual yang berlangsung khidmat.

Hal serupa juga terjadi saat Hari Raya Idul Fitri. Setelah umat Islam melaksanakan salat Id, penabuhan gong menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur sekaligus penanda kebahagiaan atas datangnya hari kemenangan dilanjutkan dengan tradisi selametan untuk mendoakan keselamatan seluruh masyarakat serta seluruh kota Jepara.

Pembina Paguyuban Pradonggo Birowo yang merupakan para penabuh, Bambang menyebutkan bahwa tradisi Gong Senen bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga media untuk mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Ini warisan leluhur yang harus terus dijaga. Di balik bunyi gong yang berbunyi ada nilai kebersamaan dan pengingat agar kita tetap selaras dalam kehidupan,” ujarnya Bambang yang juga bercerita tentang bagaimana dinamakan Gong Senen.

Dulu jaman Adipati Citrosumo yang juga dikenal sebagai Ki Adipati Tjitrosomo, seorang pemimpin yang menjadi cikal bakal pemimpin di Jepara. Pada setiap bulan diada pertemuan para petinggi desa di Jepara. Sehingga kenapa dinamakan Gong Senen, karena waktu itu di setiap petinggi bersama beberapa punggawanya diminta menabuh gong tersebut.
“Yang mana yang paling enak didengar adalah dari Petinggi Senenan yang membawa para warganya untuk menabuh,” terang Bambang.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan Gong Senen yang telah berusia lebuh dari 450 tahun ini menjadi bukti bahwa masyarakat Jepara tetap berupaya menjaga keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman. Tradisi ini pun diharapkan dapat terus dilestarikan oleh generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
“ Diharapkan Pemda lebih perhatian karena Gong Senen ini juga merupakan bagian dari Sejarah Jepara sehingga perlu ada perawatan yang lebih baik untuk menjaga tetap baik dan tidak ada kerusakan,” ujar Beje, penulis Jepara yang juga perwakilan pengelolaan dari Paguyuban Pradonggo Birowo.
Septiana W.













