blank
Ustaz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., M.E., saat menyampaikan khutbah yang mengangkat tema “Idulfitri dan Jihad Ekonomi: Menjadikan Kemenangan Spiritual sebagai Fondasi Ketahanan Umat”.. Foto: Manan

JEPARA (SUARABARU.ID)  — Momentum Idulfitri 1447 H tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan spiritual, tetapi juga sebagai titik awal membangun ketahanan ekonomi umat. Pesan ini disampaikan dalam khutbah Salat Idulfitri di Masjid Syifaul Jinan, RSI Sultan Hadlirin Jepara, Sabtu (21/3/2026).

Salat yang digelar di kawasan rumah sakit, tepatnya di depan IGD, diikuti oleh karyawan, keluarga pasien, serta masyarakat sekitar. Bertindak sebagai imam dan khatib, Ustaz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., M.E., mengangkat tema “Idulfitri dan Jihad Ekonomi: Menjadikan Kemenangan Spiritual sebagai Fondasi Ketahanan Umat”.

Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa capaian Ramadan tidak boleh berhenti pada dimensi ibadah personal semata. “Kita kembali ke fitrah, tetapi kemenangan spiritual ini tidak boleh membuat kita menutup mata dari realitas,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global masih penuh tantangan. Meski tingkat optimisme konsumen pada awal 2026 tercatat cukup baik, tekanan geopolitik dan fluktuasi harga energi mulai berd. ampak pada harga pangan.

“Apa arti kemenangan spiritual jika tidak melahirkan ketangguhan sosial?” tegasnya.

blank
Ustaz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., M.E., saat menyampaikan khutbah yang mengangkat tema “Idulfitri dan Jihad Ekonomi: Menjadikan Kemenangan Spiritual sebagai Fondasi Ketahanan Umat”. Foto: Manan

Tiga Pilar Jihad Ekonomi

Menurutnya, Islam tidak memisahkan kesalehan ritual dan kesalehan finansial. Idulfitri justru menjadi momentum mencanangkan jihad ekonomi sebagai ikhtiar membangun kemandirian umat.

blank

“Jihad ekonomi bukan untuk mengejar dunia, tetapi agar umat tidak terhimpit kemiskinan dan ketergantungan,”  tutur Ustaz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., M.E. Ia kemudian menguraikan  tiga pilar utama:

Pertama, jihad mengendalikan konsumsi.

Ramadan telah melatih pola hidup sederhana. Tantangan muncul pasca-Ramadan ketika budaya konsumtif kembali menguat. “Oleh karena itu, umat perlu menerapkan sullam al-aulawiyyat sebagaimana dijelaskan oleh Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Awlawiyyat,” ungkapnya

blank

Menurut Ustaz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., M.E,  prioritas kebutuhan dibagi menjadi tiga yaitu   Dharuriyyat (primer): sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, Hajiyyat (sekunder): pelengkap yang tidak sampai mengancam kehidupan, dan  Tahsiniyyat (tersier): kemewahan yang berpotensi menjerumuskan pada pemborosan

“Ketahanan ekonomi keluarga dimulai dari kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan. Jihad ekonomi dimulai dari hal sederhana, bahkan dari meja makan kita,” tandasnya.

Kedua, jihad ta’awun melalui takaful sosial.

Umat diajak memperkuat solidaritas ekonomi dan memastikan lingkungan sekitar juga sejahtera, terutama dengan mendukung UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi. Mengutip Ibnu Hazm, ia menegaskan, “Jika ada yang kelaparan di suatu kampung, maka harta orang mampu wajib mencukupinya,” tegasnya. Kemenangan Idulfitri menuntut kita naik dari kesalehan individu menuju kesalehan komunal, tambahnya.

blank

Ketiga, jihad filantropi Islam sebagai jaring pengaman sosial.

Zakat, infak, dan sedekah ditegaskan sebagai instrumen strategis dalam menjaga keseimbangan ekonomi umat.

Data Pusat Kajian Strategis BAZNAS menunjukkan potensi zakat nasional mencapai lebih dari Rp 327 triliun. Mengacu pada pemikiran Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh az-Zakat, ia menjelaskan bahwa zakat bukan sekadar amal, tetapi hak mustahik yang harus ditunaikan.

“Zakat fitrah adalah simbol kepedulian, tetapi zakat dan sedekah produktif sepanjang tahun adalah napas kehidupan ekonomi umat.”

Menutup khutbahnya, ia mengajak jemaah menjadikan Idulfitri sebagai titik balik kebangkitan ekonomi umat.

“Jika pengendalian konsumsi adalah manajemen diri, ta’awun adalah aksi sosial, maka filantropi adalah sistem  berupa tindakan sukarela untuk kepentingan publik dan pelayanan sosial. Ketiganya harus berjalan bersama.” urai Ustaz Ahmad Fajar Inhadl

“Kemenangan Ramadan tidak akan sempurna tanpa ketangguhan ekonomi. Inilah saatnya umat bangkit—mandiri, berkeadilan, dan saling menguatkan,” pungkasnya.

Hadepe – Manan