
Oleh : Ky Hisyam Zamroni
Mudik bukan sekadar migrasi tahunan atau fenomena kemacetan di jalur pantura. Ia adalah sebuah perjalanan “kepulangan” dalam makna yang paling purba: kembali ke asal-usul, kembali ke pelukan ibu, dan kembali mengenali diri sendiri yang mungkin sempat asing akibat hiruk-pikuk kota besar.
Secara etimologis, banyak yang menyebut mudik berasal dari bahasa Jawa “mulih dilik” (pulang sebentar) atau bahasa Betawi “menuju udik” (menuju hulu/kampung). Namun secara filosofis, mudik adalah mekanisme penyucian diri.
Di perantauan, manusia seringkali terfragmentasi oleh identitas profesional, status sosial, dan ambisi. Mudik meruntuhkan itu semua. Saat tiba di kampung halaman, seseorang kembali menjadi “anak si fulan” atau “cucu si anu”. Di sana, ego dilepaskan, dan jalinan silaturahmi mulai dirajut kembali.
Sillaturrahim: Menambal Retak, Mempererat Ikatan
Hari Raya Iedul Fitri menjadi momentum emas untuk memperbaiki social fabric atau kain sosial yang sempat robek. Pertama, sisi Horisontal (Sesama Manusia): Tradisi sungkeman dan saling memaafkan bukan sekadar formalitas. Ini adalah upaya psikologis untuk melepaskan beban dendam. Kedua, Vertikal (Ketuhanan): Sillaturrrahim dipercaya memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Dalam konteks ini, kebahagiaan orang tua adalah prioritas utama. Melihat senyum di wajah ibu dan ayah saat anak-cucunya berkumpul adalah puncak dari segala pencapaian materi selama setahun merantau.
Nyekar: Sillaturrahim Melampaui Dimensi
Salah satu tradisi paling mengharukan dalam rangkaian mudik adalah Nyekar (ziarah kubur). Jika sillaturrahim di rumah diperuntukkan bagi mereka yang masih bernapas, maka nyekar adalah cara kita merajut kasih dengan mereka yang telah berada di alam barzakh. Makna di Balik Taburan Bunga
Nyekar bukan sekadar ritual mistis, melainkan sebuah refleksi teologis yang dalam yaitu Ddialog Sunyi: Di depan nisan bapak, ibu, atau handai tolan, kita menyadari bahwa garis antara hidup dan mati begitu tipis.
Penghormatan Terakhir yang Berkelanjutan
Bakti kepada orang tua tidak putus hanya karena napas telah terhenti. Doa-doa yang dipanjatkan di pinggir pusara adalah “kawat penghubung” yang melintasi dimensi dunia dan akhirat.
Mengingat ‘Rumah’ Terakhir
Ziarah adalah pengingat bagi si peziarah bahwa suatu saat ia pun akan menempati ruang yang sama. Ini memberikan perspektif baru agar manusia tetap rendah hati dalam menjalani kehidupan.
Fenomena Sosial dan Budaya
Mudik juga merupakan penggerak ekonomi raksasa. Perputaran uang dari kota ke desa selama Lebaran memberikan nafas bagi UMKM di daerah. Namun lebih dari itu, mudik menjaga kelestarian adat istiadat. D
i meja makan saat lebaran, resep-resep warisan keluarga dihidangkan, dialek daerah kembali dituturkan, dan cerita masa kecil kembali dihidupkan.
Penutup : Lingkaran Kasih yang Tak Terputus
Mudik Iedul Fitri adalah sebuah lingkaran utuh. Dimulai dari niat untuk pulang, dilanjutkan dengan permohonan maaf kepada yang hidup, dan diakhiri dengan doa khusyuk bagi mereka yang telah mendahului di pemakaman.
Kita pulang untuk mengisi ulang “tangki spiritual” kita. Kita merajut silaturahmi agar jiwa tidak gersang. Dan kita nyekar agar kita tidak lupa dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.
Tradisi ini membuktikan bahwa kasih sayang manusia tidak dibatasi oleh jarak geografis, bahkan tidak pula oleh sekat kematian. Selama doa masih dipanjatkan dan langkah kaki masih menuju kampung halaman, jalinan itu akan tetap abadi.
Hisyam Zamroni; Sekretaris Pengurus Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman ) Kab. Jepara













