blank
Tangkapan layar akun Instagram @demakhariini yang memperlihatkan tumpukan sampah tersangkut di Jembatan Desa Bulusari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Selasa, 10 Februari 2026. (Dok Instagram @demakhariini)

DEMAK (SUARABARU.ID) –  Tumpukan bermacam jenis sampah membuat aliran air sungai terganggu di Jembatan perempatan Desa Bulusari, Kecanatan Sayung, Kabupaten Demak.

Lokasi tepatnya di sungai sisi jalur alternatif Kecamatan Mranggen menuju Onggorawe, Kecamatan Sayung.

Hal itu tampak dalam unggahan akun Instagram @demakhariini, Selasa, 10 Februari 2026. Tumpukan sampah menghambat aliran air, dan kerap meluber ke jalan.

Salah satu titik banjir yakni jalan di Desa Waru, yang terletak di Selatan Desa Bulusari. Hal itu kerap terjadi bila hujan deras, atau kiriman dari wilayah hulu.

Pantauan di lapangan, sungai sepanjang puluhan kilometer itu memang telah menjadi lokasi pembuangan sampah oleh masyarakat.

Dari sisi hulu, salah satu titiknya yakni di tepi Barat luar Pasar Mranggen. Di lokasi ini menjadi hal biasa membuang sampah, baik plastik, sisa sayur, dan lain sebagainya. Meskipun telah disediakan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di area pasar tersebut.

Minim TPS

Akan tetapi, permasalah utamanya yakni ketersediaan TPS yang minim di Kota Wali itu. Pada akhirnya, masyarakat membuang sampah di sungai atau membakarnya.

“Akses bak sampah dan TPS itu ada di daerah pusat dan sekitar kota. Di desa pinggiran itu sangat minim,” kata Ina, salah satu warga Demak.

Dia mengatakan, belum tentu satu desa menyediakan layanan TPS untuk masyarakat. Bilamana ada, juga belum tentu itu akan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Banyak juga yang dibakar di TPS,” ucapnya.

Untuk masyarakat yang sadar pengelolaan sampah, mereka membayar iuran mandiri untuk jasa penjemputan sampah. Hal ini biasanya dilakukan warga yang tinggal di perumahan-perumahan.

Abi, warga Demak lainnya juga menyoroti pengelolaan layanan TPS untuk sampah yang minim di Demak.

Warga Kecamatan Karangtengah itu, bahkan harus jauh-jauh ke Desa Katonsari di dekat Polres Demak untuk menempatkan sampahnya.

“Sering juga saya mencangking sampah ke TPS di Kota Semarang sekalian berangkat kerja,” katanya.

Adapun, Nur, salah seorang yang tinggal di Kecamatan Mranggen, berharap agar pemerintah daerah mulai dari tingkat desa masing peduli dengan permasalahan layanan sampah di wilayah masing-masing.

“Kalau setiap desa ada TPS dan terintegrasi ke TPA, maka Demak akan bebas sampah. Masyarakat tinggal di edukasi dengan memberikan pilihan layanan pembuangan sampah yang dekat,” katanya. (*)

DA