WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Wakil Ketua Umum DPP Garuda Asacita Nusantara (GAN) Mayjen (Purn) TNI Tri Martono, SIP MIP MSi meminta tanaman kopi yang baru saja ditanam terus dirawat, dijaga dan dipelihara.
“Jika tanaman kopi yang ditanam terus dirawat dan dipelihara pasti akan tumbuh dengan baik. Buah kopi punya nilai ekonomi yang tinggi dan akarnya bisa menahan erosi dan bencana tanah longsor,” katanya.
Dia mengatakan hal itu saat hadir dalam acara “Puncak Musim Tanam 2026, Penanaman Kopi Nusantara” yang dilakukan Jagat Tunas Bumi (Jatubu) di Desa Kupangan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Kamis (25/2/2025).
Penanaman pohon tersebut dilakukan Jatubu, Pemkab Wonosobo, LMDH, PC GP Ansor, dan sejumlah pelajar SD dan SMP di Kecamatan Sukoharjo. Penanaman pohon kopi dilakukan sebagai ikhtiar menjaga alam dan merawat bumi nusantara.
Menurut Tri Martono, ketika berada di kawasan Dieng, pihaknya melihat langsung tidak ada pohon di wilayah pegunungan tersebut. Kondisi itu tentu sangat berbahaya bagi kelestarian alam di masa mendatang.
“Maka perlu sinergi antara pemerintah daerah dan steakholder yang lain untuk menghijaukan kawasan pegunungan. Jika semua lereng gunung jadi lahan pertanian, itu sangat berbahaya. Sebab bisa memicu bencana alam tanah longsor dan banjir bandang,” tegasnya.
Gerakan penanaman pohon, imbuh mantan Staf Khusus Kasad TNI AD itu, punya dua kepentingan. Yakni keamanan nasional dan kesejahteraan masyarakat. Alam yang hijau dan lestari akan menghindarkan dari bencana. Pohon yang ditanam bisa berdampak ekonomi bagi madya,” tandasnya.
Pihaknya berharap kegiatan penanaman pohon tidak berhenti pada acara ceremonial. Tetapi didasari bentuk kesadaran bersama akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian lingkungan. Dampak perubahan iklim, pemanasan global, ancaman erosi, banjir dan tanah longsor sudah semakin nyata.
Alam Rusak

Ketua Jatubu, Mantep Abdul Ghoni, menegaskan bahwa gerakan tersebut lahir dari kegelisahan melihat kondisi hutan Wonosobo yang semakin gundul dan cukup mengkhawatirkan.
“Sebagian besar wilayah hutan di Wonosobo sudah dalam situasi gundul. Contohnya lahan tanaman pinus jadi lahan pertanian kentang. Malah ada beberapa lahan yang sudah jadi hak milik pribadi. Hal seperti itu kan harus jadi perhatian bersama,” katanya.
Dia menyebut, longsor yang terjadi di sejumlah wilayah di daerah ini bukan lagi kejadian biasa, melainkan peringatan serius dari alam. Dampak alam rusak tidak sampai menunggu anak-cucu tapi, tapi sekarang saja sudah nyata terjadi. Musti ada langkah mitigasi untuk menghindari bencana alam.
“Yang hari ini bisa lihat sama-sama bagaimana Gunung Kembang longsor 14 hektare. Kemarin Patakbanteng longsor 1,5 hektare. Itu kan alarm. Alarm dari alam. Jangan sampai ada peristiwa pray for Wonosobo. Alam daerah kita harus diselamatkan bersama,” miris dia.
Menurutnya, bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di kawasan Telaga Menjer hingga luapan Sungai Wangan Aji menjadi bukti bahwa kerusakan lingkungan sudah menimbulkan dampak nyata bagi masyarakat. Bila hal itu dibiarkan akan menjadi dampak yang lebih besar.
“Apakah kita menunggu sampai ada bencana alam, lalu baru saja berbuat. Bukankah lebih baik mencegah dari pada mengatasi. Melalui penanaman bibit pohon, kami memilih berkontribusi secara langsung meski dimulai dari langkah kecil,” tegasnya.
Mantep menyebut, keterlibatan anak-anak menjadi bagian penting dalam membangun budaya menanam sejak dini. Bila anak sejak dini sudah dibiasakan untuk menanam dan merawat pohon, maka ketika besar nanti pasti akan punya kepedulian pada kerusakan alam.
“Ini yang kita tanamkan ke anak-anak kita bahwa menanam itu sebenarnya kewajiban semua umat manusia untuk menjaga alam. Alam yang hijau dan lestari akan menghindarkan dari musibah bencana tanah longsor maupun banjir bandang di daerah pegunungan,” ucapnya.
Muharno Zarka













