blank
Kinanti Sekar Rahina yang dikenal sebagai seorang koreografer, penari dan pengajar tari. Foto: Dok Pribadi

YOGYAKARTA (SUARABARU.ID) -Kinanti Sekar Rahina adalah seorang koreografer, penari dan pengajar tari yang lahir di Yogyakarta. Ia adalah putri tunggal dari seniman dan Maestro Pantomime Indonesia, Jemek Supardi dan Ibu seorang pelukis. Threeda Mayrayanti.

Kinanti Sekar Rahina memulai karir kesenimanannya sejak usia 5 tahun dan memutuskan untuk menggeluti dunia tari dan memilih untuk menempuh Pendidikan Seni Tari di SMKI, S-1 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan S2 di Pascasarjana Institut Seni Indonesi Yogyakarta.

Setelah itu, Kinanti Sekar Rahina aktif menggarap beberapa karya tari baik yang bersifat individu, kolaborasi dan kolosal. Beberapa karyanya merupakan karya-karya yang kental dengan filosofi Jawa dan mengandung unsur spirittual, magis seperti tari Pandonga, Mitoni dan Serat Nitipraja dan membuat karya tari kreasi modern yang digunakan untuk entertaiment.

Ia juga meluangkan waktu untuk mengajar di beberapa sekolah dan mendirikan Sanggar Seni Kinanti Sekar sebagai tempat pelatihan tari untuk anak-anak hingga dewasa. Untuk menciptakan karya tari sebagai bahan pembelajaran di sanggar tarinya,  Kinanti Sekar telah melahrkan karya  Padhang Bulan, Jampi Gugat, Nyawiji, Jaranan, Gelegar Nusantara, Istimewa Jogja, Angguk Fungky dan tari tari kreasi anak lainnya.

Kinanti Sekar Rahina juga beberapa kali terlibat dalam pementasan di dalam maupun luar negeri serta berkolaborasi dengan komunitas-komunitas seni budaya untuk membuat karya bersama, karya drama, pantomime, tari kreasi tradisi dan kontemporer.

Menurut Kinanti Sekar  Tari baginya  bukan sekadar gerak dan pameran erotisme tubuh belaka.  “Tarian adalah  bahasa. Saat dunia terlalu berisik dengan banyak perintah, kata-kata dan suara, saya berbicara melalui tarian. Gerak tubuh dalam tari merupakan bahasa tubuh. Ekspresi tubuh akan menggantikan huruf. Teks, dan bunyi suatu kata sebagai tanda yang tersirat di dalamnya. Ia tidak bersifat tunggal tetapi multitafsir,” tuturnya

 

Bagi Kinanti Sekar Rahina melalui tarian ia  ingin mengungkapkan semua yang di alami dalam hidup bersama keluarga, sahabat, dan alam semesta kepada publik. “Tubuh perempuan seringkali dianggap sebagai objek pemuas laki-laki, sebagai satu-satunya wujud kecantikan seksual,” ujarnya geram

Karena itu tari merupakan bentuk pembebasan atau pemberontakan terhadap stereotipe yang dijalankan dalam masyarakat patriarki bahwa perempuan adalah makhluk lemah dan saling melengkapi dengan kehadiran laki-laki.

“Melalui tari, saya ingin menunjukkan bahwa perempuan juga punya ide, impian, dan pemberontakan dalam hidup. Bahwa wanita mempunyai peranan penting dalam kehidupan, bagi diri sendiri, keluarga, kekasih, sahabat dan masyarakat,” terangnya

Beberapa tarian yang diturunkan berjudul Nitipraja, Pandonga, Donga Dropadi, Jampi Gugat dan tarian lainnya. “Saya orang Jawa, orang Indonesia. Akar kebudayaan saya adalah kebudayaan Jawa. Tentu saja saya sangat bangga disebut orang Jawa. Saya mempunyai prinsip dalam berkarya, yaitu tidak mencabut “akar” (budaya) tetapi membentuk “akar” tersebut agar menjadi unik dan menyatu dalam tubuh, kesenian tradisi ini masih mengalir dalam tubuh penarinya,” pungkasnya

Hadepe – Asa Jadmiko