blank
Adegan Ratu Kalinyamat dan prajurit Kalinyamatan. Foto: Dok Panitia

JEPARA (SUARABARU.ID) – Jepara kembali meneguhkan jati dirinya sebagai kota tradisi dan peradaban budaya melalui Festival Budaya Tradisi Baratan Kalinyamatan 2026 yang digelar pada Minggu, 1 Februari 2026. Perhelatan tahunan yang sarat nilai religius, historis, dan kearifan lokal ini dipusatkan di Masjid Baitul Izzah Bandungrejo dan dilanjutkan di Lapangan Bandungrejo berhasil memukau ribuan warga yang antusias menyemarakkan malam Nisfu Sya’ban.

Rangkaian acara Baratan sejatinya telah dimulai sejak Sabtu, 31 Januari 2026, dengan berbagai lomba khas tradisi Baratan, yakni lomba Tumpeng Puli, Impes, dan Tong Tek.

Puli adalah makanan berbahan dasar Ketan yang merupakan makanan khas Desa Kalinyamatan yang memiliki makna persatuan dan gotong royong. Serta merupakan hidangan Khas saat perayaan Baratan.

blank
Sendratari Sang Teladan Ratu Kalinyamat berhasil memulai ribuan penonton. Foto: Dok Panitia

Impes, yang kerap disamakan dengan lampion, merupakan sebutan khas Jepara. Impes memiliki filosofi unik: kembung dan kempes, menggambarkan dinamika kehidupan yang kadang berada di atas, kadang di bawah. Sementara Tong Tek adalah musik tradisional pengantar sahur, selaras dengan semangat Baratan yang bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban, malam purnama di bulan Sya’ban sekaligus penanda bahwa bulan suci Ramadan tinggal menghitung kurang dari lima belas hari lagi.

Memasuki puncak acara pada Minggu malam, kegiatan dibuka dengan Istighosah pukul 19.30 WIB di Masjid Baitul Izzah. Suasana religius terasa khidmat ketika warga bersama-sama memanjatkan doa.

blank
Adegan peperangan prajurit Kalinyamat dengan pasukan Postugis. Foto: Dok Panitia

Pukul 20.00 WIB, Camat  Kalinyamatan Jepara Umrotun  menyampaikan sambutan pembuka, yang mengapresiasi kekompakan warga dan panitia dalam melestarikan tradisi budaya yang telah turun-temurun dijaga. Selanjutnya sambutan dari Bupati Jepara yang diwakili Asisten I Sekda  Diyar Susanto yang menekankan pentingnya pelestarian tradisi Baratan sebagai identitas budaya Jepara yang memiliki daya tarik wisata sekaligus nilai religius yang kuat.

Festival ini juga dihadiri oleh para kepala desa se-Kecamatan Kalinyamatan, yang menunjukkan dukungan penuh pemerintah desa terhadap pelestarian tradisi budaya Baratan sebagai warisan leluhur yang harus terus dijaga bersama. Tepat pukul 20.30 WIB, dilakukan pelepasan arak-arakan Ratu Kalinyamat, yang menjadi ikon utama Festival Baratan. Arak-arakan ini menjadi daya tarik tersendiri, menampilkan sosok Ratu Kalinyamat beserta pengiringnya dalam balutan busana tradisional yang memukau.

Acara kemudian berlanjut di Lapangan Bandungrejo dengan sajian utama pada pukul 21.00 WIB, yakni Pementasan Kolosal Sendratari “Sang Teladan Ratu Kalinyamat” yang dipersembahkan oleh Sanggar Kreatif Kalinyamat.

Sendratari kolosal ini digarap dengan serius oleh tim kreatif yaitu Naskah: Nur Huda Tauchid, Sutradara: Asy’ari Muhammad, Asisten Sutradara: Roy, Koreografer: Maul, Musik: Sugiarto bersama Karawitan Among Jiwo SMK Kedung Jepara.

Sebagai sutradara, Asy’ari Muhammad menyampaikan bahwa pementasan ini dirancang bukan hanya sebagai hiburan visual, tetapi sebagai media edukasi sejarah dan nilai keteladanan.

“Kami ingin penonton tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi merasakan ruh perjuangan, kebijaksanaan, dan keteguhan Ratu Kalinyamat sebagai pemimpin perempuan Jepara,” ujarnya. Sebagai ketua Panitia, Asy’ari Muhammad juga menyampaikan,“Baratan adalah warisan yang harus terus kita jaga. Melalui sendratari dan seluruh rangkaian acara, kami ingin menghadirkan kembali keteladanan Ratu Kalinyamat agar dapat menginspirasi generasi hari ini,” lanjutnya.

Meski acara sempat mengalami keterlambatan karena hujan yang turun, antusiasme warga tidak surut. Mereka tetap bertahan menyaksikan seluruh rangkaian kegiatan hingga akhir.

Pada pukul 22.15 WIB, diumumkan para pemenang lomba, dilanjutkan dengan foto bersama pukul 22.20 WIB sebagai penutup rangkaian Festival Baratan 2026.

Festival ini tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan. Baratan adalah perwujudan harmoni antara tradisi, sejarah, dan spiritualitas masyarakat Kalinyamatan dalam menyambut datangnya Ramadan. Nilai kebersamaan, doa, serta pelestarian budaya lokal berpadu indah dalam satu perayaan yang sarat makna.

 

Hadepe – ratuandayani