Oleh: Akhmad Faozan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi perbincangan di kalangan orang tua, guru, dan siswa. Tidak sedikit yang memandangnya sebagai bentuk “ujian baru” yang akan menambah beban psikologis peserta didik. Kekhawatiran ini wajar, mengingat sejarah panjang pendidikan kita yang sering menempatkan ujian sebagai penentu segalanya. Namun, benarkah TKA perlu ditakuti?
Seakan begitu deras berita-berita di medsos, yang pro dan kontra. Ada sebagian dari mereka yang menampakkan sedang terjangkiti perasaan khawatir berlebihan. Namun tidak sedikit yang dengan sadar bahwa betapa pentingnya TKA ini untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar anak mereka. Mereka yang kontra, sebagian besar mengkritisi dampak dan tataran tekhnis. Namun, perbincangan dan diskusi hangat terkait TKA pada akhirnya muaranya pada kesepakatan untuk mengikuti ketentuan.
Perlu ditegaskan sejak awal bahwa TKA bukan penentu kelulusan dan bukan syarat masuk perguruan tinggi. Kebijakan ini membedakannya secara mendasar dari ujian nasional pada masa lalu. TKA tidak dimaksudkan untuk “menghakimi” siswa, apalagi menentukan masa depan mereka dalam satu hari pengujian.
Sebagaimana dalam berita resmi laman Kemendikdasmen, Menteri Mu’ti menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA tahun 2025 untuk jenjang SMA, SMK, MA, dan Paket C diselenggarakan pertama kali pada tahun ini dan bersifat tidak wajib. Meski demikian, tingkat partisipasi tercatat sangat tinggi, mencapai 3,56 dari 4,1 juta murid SLTA yang terdaftar. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan media, atas dukungan serta sosialisasi yang masif sehingga pelaksanaan TKA memperoleh respons positif secara nasional. https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14445-kemendikdasmen-tekankan-tka-jadi-instrumen-pemetaan-capaian-,
TKA lebih tepat dipahami sebagai alat pemetaan mutu pendidikan. Ia bekerja seperti cermin: memantulkan kondisi nyata proses pembelajaran di sekolah. Dari hasil TKA, dapat terlihat:1) sejauh mana kemampuan literasi siswa berkembang, 2) bagaimana penguasaan numerasi, 3) serta kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Pemetaan kualitas pembelajaran dapat dilihat dari situasi kondisi satuan pendidikan dalam pembelajaran lewat TKA, bila polesan yang diberikan kepada murid itu baik atau penanganan murid dilakukan dengan baik, maka output atau outcomenya pun akan dapat dirasakan dengan hasil yang baik pula.
Apa manfaat TKA bagi guru dan murid?
Dari mindset positif yang dibangun serta nalar logis yang terus dipupuk, maka TKA Bagi satuan pendidikan memiliki pengaruh dan dampak positif ke depannya. Sehingga dari sini data TKA sesungguhnya sangat strategis. Ia akan dapat menjadi dasar untuk:
Mengevaluasi metode pembelajaran. Karena metode pembelajaran terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Melaksanakan perbaikan strategi mengajar guru. Guru dalam mengajar selalu berhadapan dengan tantangan, maka perbaikan demi perbaikan harus terus dilakukan. Bukan merasa cukup atau bahkan sudah merasa baik dalam menghadapi proses pembelajaran.
Mengambil langkah penyusunan program peningkatan mutu, yang pada akhirnya
Daya dukung dalam pengajuan sarana dan pelatihan yang efektif bagi sekolah, utamanya bagi guru.
Tanpa data objektif, peningkatan kualitas pendidikan sering berjalan berdasarkan asumsi, bukan kebutuhan nyata.
KKG bagi guru kelas SD atau MGMP bagi guru mata pelajaran, yang telah dijalankan menjadi bagian langkah dan ikhtiar perbaikan. Bila hanya berjalan secara rutin saja, tak akan berdampak positif. Nah dari sini, ketika data hasil TKA dapat ditelusuri maka akan dapat menjadi pijakan dalam mengambil langkah perbaikan proses pembelajaran.
### Paragraf 5 – Menggeser paradigma evaluasi
Selama ini, evaluasi pendidikan sering berorientasi pada ranking dan kompetisi. TKA menawarkan pendekatan berbeda: diagnostik, bukan kompetitif. Yang dinilai bukan siapa terbaik, tetapi bagian mana yang perlu diperbaiki. Perubahan paradigma ini penting agar sekolah tidak lagi terjebak pada budaya mengejar angka, melainkan fokus pada proses belajar yang bermakna.
Meski demikian, keberhasilan TKA sangat bergantung pada cara hasilnya digunakan. Jika data hanya disimpan dalam laporan tanpa tindak lanjut, maka TKA akan kehilangan maknanya. Pemerintah, dinas pendidikan, dan sekolah harus memastikan bahwa pemetaan ini benar-benar diikuti dengan kebijakan konkret.
Sehingga langkah-langkah yang konstruktif perlu diambil oleh pemerintah dalam rangka memberikan jaminan kualitas kepada masyarakat yang dibarengi dengan perhatian nyata dan apresiasi bagi para pemangku amanah, khususnya di tingkat bawah yaitu satuan pendidikan. Dapat dalam bentuk memberikan pelatihan yang tepat dan peningakatan tunjangan bagi sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan peningkatan kualitas yang baik.
Pada akhirnya, TKA tidak seharusnya menjadi sumber kecemasan baru dalam dunia pendidikan. Ia justru dapat menjadi kompas yang menuntun perbaikan mutu sekolah secara sistematis dan berkelanjutan. Justru yang perlu kita khawatirkan bukanlah adanya TKA, melainkan jika kita berhenti belajar dari hasilnya.
Panulis adalah Kepala SD Muhammadiyah Jepara dan Penulis buku Everythings Begins With Love













