blank
Diskusi bahaya tembakau digelar secara zoom meeting di Universitas Muhammadiyah Magelang, hari ini Kamis (22/1/26). Foto: dok

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) –Berdasarkan catatan Ketua Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma), Dr Retno Rusdjijati MKes, tingginya angka perokok di Indonesia masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang perlu segera diatasi. Menurut dia, berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia Report 2021, sebanyak 34,5% orang dewasa di Indonesia, atau sekitar 70,2 juta orang, menggunakan produk tembakau.

“Laporan GATS itu juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan terkait rokok elektrik. Penggunaan rokok elektrik meningkat 10 kali lipat dalam 10 tahun terakhir, dari hanya 0,3% pada 2011 menjadi 3% pada 2021,” tuturnya.

Temuan itu, lanjutnya, memperkuat kekhawatiran bahwa produk tembakau baru semakin menarik minat generasi muda. Di saat yang sama, Indonesia tengah menikmati bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif, terutama pemuda, yang lebih besar dibanding kelompok usia lain. Bonus itu seharusnya menjadi kekuatan ekonomi dan sosial bangsa.

“Namun dapat menjadi tantangan besar jika generasi muda tidak dilindungi dari risiko penggunaan tembakau,” tegasnya.

Merespons kondisi tersebut, jelasnya, MTCC Unimma  menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) Forum Pemuda Pengendalian Tembakau, hari ini (Kamis, 22/1/26). Diskusi tersebut melalui zoom meeting. “Pengendalian Tembakau; Pemuda Ambil Peran di Era Digital” menjadi tema diskusi tersebut.

blank
Peserta zoom meeting tentang bahaya tembakau di Unimma, hari ini (Kamis, 22/1/26). Foto: dok

Dijelaskan, kegiatan itu bertujuan memperkuat peran dan kapasitas pemuda dalam pengendalian tembakau melalui platform digital sebagai sarana edukasi, partisipasi, dan advokasi. FGD di Unimma itu diikuti oleh perwakilan pemuda dari Kabupaten Kudus, Jepara, Rembang, Grobogan, Kendal, Klaten dan Wonogiri.  Meliputi Pemuda Muhammadiyah, Karang Taruna, dan organisasi pemuda yang lain.

Dipaparkan, dalam acara FGD tersebut, peserta diajak untuk memahami dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi dari penggunaan tembakau, termasuk rokok dan rokok elektrik. Selain itu, para pemuda dilatih memanfaatkan literasi digital untuk membuat konten positif, serta kampanye kesehatan yang efektif di media sosial. Diskusi tersebut juga mendorong keterlibatan aktif pemuda dalam menyebarkan informasi pengendalian tembakau kepada teman sebaya dan masyarakat luas.

Selebihnya dituturkan, FGD itu diharapkan menjadi langkah awal pembentukan wadah partisipasi pemuda yang terorganisir, sehingga pesan kesehatan menjangkau lebih luas dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu, kegiatan tersebut membuka ruang untuk membangun jejaring dan kolaborasi antarpemuda, komunitas, dan pemangku kepentingan. Guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan ramah bagi generasi muda.

Menurutnya, upaya itu penting untuk menekan promosi produk tembakau di ruang digital dan mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup tanpa tembakau. “Melalui FGD Forum Pemuda Pengendalian Tembakau, diharapkan pemuda dapat menjadi pemimpin perubahan, sehingga potensi bonus demografi Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mewujudkan generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing,” harapnya.

Eko Priyono