GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Grobogan mengeluarkan rilis resmi terkait hasil tes laboratorium mengenai penyebab keracunan yang terjadi di Kecamatan Gubug.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Satgas MBG Grobogan Sugeng Prasetyo yang didampingi Sekda Grobogan Anang Armunanto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Suwarno dan Kepala Dinas Kesehatan Grobogan dr Djatmiko, Rabu (21/1/2026).
Dalam kesempatan itu, Sugeng Prasetyo yang juga Wakil Bupati Grobogan, menjelaskan beberapa hal inti terkait penanganan terhadap keracunan yang terjadi di Kecamatan Gubug, pada Sabtu (10/1/2026) lalu.
Menurut Sugeng Prasetyo, Pemerintah Kabupaten Grobogan melalui Dinas Kesehatan Grobogan langsung melakukan Penyelidikan Epidemilogi (PE) dan mengambil sampel makanan yang terdapat pada menu MBG yang disantap ratusan siswa yang terdampak keracunan.
BACA JUGA : Siapa Pengganti Bupati Pati Sudewo yang Ditangkap KPK? Wagub Jateng Taj Yasin Titip Pesan
Sampel makanan berupa nasi kuning, telur, timun, dan selada serta tempe keripik kemudian dikirimkan ke Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Tengah.
Selang tujuh hari setelah dikirimkan, hasil tes laboratorium tersebut keluar. Sugeng Prasetyo menjelaskan, pada sampel makanan tersebut terkandung bakteri Escherichia Coli (E Coli).
“Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan telah melakukan penyidikan epidemilogi (PE) dan investigasi, serta pengambilan sampel makanan dan air minum untuk pemeriksaan laboratorium, hasilnya ada kontaminasi bakteri E Coli pada sampel air minum serta beberapa menu makanan yaitu nasi kuning, lalapan selada, timun dan tempe kripik,” jelas Sugeng Prasetyo.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, sebanyak 804 siswa dari berbagai sekolah di Desa Trisari, Glapan, Penadaran dan Ngroto mengalami muntah, diare, pusing dan lemas pada Sabtu (10/1/2026).
Keluhan yang dialami ratusan siswa tersebut terjadi usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron, di Kecamatan Gubug.
BACA JUGA : Polytron Luncurkan Program UMKM Naik Level bareng Polytron, Workshop di 5 Kota Lebih
Ratusan siswa ini mendapatkan penanganan intensif ke fasilitas kesehatan yakni Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah.
Sugeng Prasetyo menegaskan, hasil tes laboratorium tersebut akan diserahkan kepada Badan Gizi Nasional untuk dilakukan kajian lebih mendalam lagi.
“Terkait kapan SPPG Kuwaron ini boleh beroperasional lagi, menunggu hasil kajian dan izin baru dari BGN,” tambahnya.
Sugeng Prasetyo juga menjelaskan guna mengantisipasi adanya kejadian tersebut nantinya Satgas MBG akan melakukan pembinaan dan pengawasan higienis sanitasi pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kuwaron.
Pembinaan dan pengawasan tersebut akan dilakukan secara berkala sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang berlaku.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko mengungkapkan dari 804 penerima manfaat yang mengalami mual, muntah, diare dan lemas tersebut, 116 orang diantaranya menjalani perawatan di Puskesmas dan Rumah Sakit.
BACA JUGA : Bincang Budaya untuk Mengingatkan Adanya Ikatan Desa Kalisalak dan Borobudur
Terkait hasil laboratorium yang menyatakan adanya kandungan bakteri E Coli, dr Djatmiko menerangkan hal itu terjadi karena sanitasi yang kurang higienis.
“Higien sanitasi yang belum baik. Hasil laboratorium yang sudah keluar ini untuk kajian BGN dalam pertimbangan,” pungkasnya.
TYA WIDYA












